
Sekar memperhatikan setiap interaksi antara putranya dengan gadis kecil bernama Chilla. Terlihat raut bahagia dari sang putra menemani anak kecil itu bermain. Sangat akrab.
"Ayo, Om, kejar Chilla," seru anak kecil itu. Terus berlari supaya Aksa menangkapnya.
"Aduh ... aduh ... aduh ...."
Chilla yang tadinya lari menjauh, menoleh dan melihat Aksa yabg sudah duduk terjatuh. "Om ...." Anak kecil itu kembali dan menghampiri Aksa.
"Om, baik-baik saja, kan?" Terdengar kepanikan dalam nada suara Chilla.
Di luar dugaan Chilla jika semua yang Aksa lakukan hanyalah kebohongan untuk bisa menangkap gadis kecil itu. Sebab ketika Chilla mendekat Aksa langsung meraih gadis itu dalam pelukannya dan berseru, "Dapat!"
"Ish ... OM, curang!" pekik Chilla meronta, tapi Aksa terus memeluk Chila gemas.
Dari tempatnya berdiri sekarang pandangan Sekar tak beralih. Pikirannya membawanya pada kenyataan yang tak sesuai keinginannya. Berkali-kali ia mencoba mencarikan jodoh untuk putra semata wayangnya. Jodoh yang dirasa pas dan akan cocok mendampingi Aksa sebab wanita yang ia pilih selalu ia pertimbangkan bibit, bebet, dan bobotnya. Menyesuaikan kasta yang disandang keluarga besarnya.
Namun, apa yang terpampang dihadapannya saat ini seolah bertolak belakang dengan semua yang ia inginkan. Putranya jatuh cinta pada seorang janda beranak satu. Hal yang tak pernah terbersit dalam angannya apa lagi pikirannya.
Sekarang, ia melihat sendiri senyum bahagia Aksa ketika bersama anak kecil dari sang janda. Kebahagiaan Aksa saat ini seolah mengoyak mimpinya bermenantukan putri dari pengusaha kaya yang sederajat dengannya.
"Mama lihat, kan, betapa bahagianya Aksa bersama dengan anak itu?" ujar Dewa yang berdiri di samping sang istri. Sama-sama memperhatikan sikap Aksa yang tak biasa. "Baru kali ini Papa melihat Aksa bisa menyukai seorang anak kecil bahkan bisa membaur tanpa canggung sama sekali. Dia sudah dewasa, Ma. Sudah saatnya kita melepas Aksa untuk bisa menentukan apa yang ia inginkan. Sekretarisnya dan juga putrinya telah menjadi pilihan Aksa. Ki _____"
Dewa tidak jadi melanjutkan kalimatnya ketika tangan Sekar memberi isyarat suaminya itu untuk berhenti bicara. Wanita yang sudah setia mendampinginya selama lebih dari tiga puluh tahun itu menarik napas panjang. Mengatur napas juga emosi yang bisa meledak kapan saja.
"Papa jangan bikin tekanan darah Mama naik deh, Pa. Tanpa Papa bicara, Mama sudah bisa melihat semuanya."
Dewa tersenyum menatap sang istri. "Bagus kalau begitu, tinggal kita berikan restu kita saja agar Aksa bisa secepatnya meminang sekretarisnya."
"Pa ...!" pekik Sekar.
Dewa langsung tertawa sembari meraih bahu Sekar dan membawanya ke dalam pelukan pria berumur lebih dari setengah abad itu. Ia mengusap lembut lengan istrinya sebagai tanda ia hanya bercanda. Di umur yang tak lagi muda ini, Dewa sangat tahu bagaimana memperlakukan istrinya. Sikap Dewa bahkan masih bisa dibilang romantis dalam memperlakukan Sekar.
"Silakan, Mbak, Mas Aksa ada di dalam," ujar Mbok Yam mengantar Alle masuk untuk bertemu dengan Aksa juga Chilla.
Mendengar suara asisten rumah tangganya yang berbicara dengan seseorang, Dewa dan Sekar saling melepaskan pelukan dan sama-sama menoleh untuk melihat siapa yang datang.
"Selamat malam, Bu, Pak," sapa Alle dengan hormat pada kedua orang tua bosnya.
"Oh, Alleyah ... sini. Mau jemput Chilla, ya?" tanya Dewa.
"Iya, Pak."
__ADS_1
"Itu, lagi main sama Aksa." Dewa menunjuk arah di mana Aksa dan Chilla kini sedang asik bermain tebak-tebakan.
Alle langsung mengarahkan pandangan yang ditunjukkan oleh Dewa. Melihat keakraban putrinya dengan sang bos membuat Alle menatap canggung pada kedua orang tua Aksa. Rasanya malu sekali jika mereka mensalahartikan semua ini. Terutama Sekar. Alle sangat takut jika ibu dari bosnya tersebut menuduhnya telah memanfaatkan Chilla untuk merebut perhatian Aksa.
"Maaf, Pak, Bu, jika anak saya sudah merepotkan. Saya akan segera membawanya pulang."
"Lho, kenapa buru-buru ... kami senang Chilla ada di sini," ujar Dewa tapi ditangkap sebagai ungkapan basa-basi oleh Alle.
Melihat raut wajah Sekar, Alle sangat tahu jika wanita itu kurang menyukai keberadaan Chilla.
"Terima kasih, Pak, tapi ini sudah malam saya takut mengganggu istirahat Bapak dan juga Ibu."
"Mama ...," teriak Chilla begitu melihat mamanya.
Anak kecil itu berlari menghampiri. "Ma, ruman Om bos besar banget, ya. Lebih besar dari rumah papa ternyata," celoteh anak itu begitu ada di hadapan Alle.
Bingung harus menanggapi apa yang putrinya ucapkan, Alle hanya hanya bisa tersenyum sembari mengusap kepala Chilla.
"Semua orang di sini baik, beda sama di rumah papa," sambung Chilla. "Chilla, suka ada di sini ...."
"Chilla, kita pulang, ya. Sudah malam, biar Om bos istirahat," ujar Alle mengehentikan celoteh Chilla.
"Nanti kita _____"
"Benar, Chilla belum makan. Tadi kan Eyang sudah janji mau kasih es krim dan ayam goreng sama Chilla. Itu, semua sudah disiapin sama Simbok. Ayo, kita makan dulu!" ajak Dewa. Memotong ucapan Alle.
"Mbok, semua sudah siap, kan?" tanya Dewa pada Mbok Yam.
Mbok Yam yang sedari tadi masih berdiri di sana langsung menjawab, "Sudah, Tuan. Semua sudah Siap."
"Nah, itu ... ayo!" Dewa segera menggandeng tangan kecil Chilla, diikuti oleh Sekar di belakangnya.
Sedangkan Alle hanya bergeming melihat bagaimana Dewa memperlakukan putrinya.
"Kenapa bengong, nggak mau ikut makan?" tanya Aksa yang ada di samping Alle.
"Maaf, Pak." Alle menunduk malu pada atasannya itu.
"Untuk apa?"
"Maaf, kalau saya dan Chilla sudah merepotkan Bapak dan keluarga Bapak." Sekali lagi Alle menunduk.
__ADS_1
"Benar, kamu dan Chilla sudah membuat saya dan orang tua saya repot. Apa lagi itu." Aksa menunjuk ke arah meja makan. Chilla terlihat antusias dengan menu yang tersaji di atas meja.
Alle pun tentu mengikuti ke mana jari Aksa menunjuk.
"Kamu tahu, saat tadi baru tiba, Chilla sudah bilang ke Papa kalau dia ingin es krim dan juga ayam goreng seperti yang ada di mall."
Hal itu membuat rasa malu Alle semakin bertambah.
"Bukankah itu merepotkan."
"Iya, Pak, saya tahu. Nanti saya akan tegur Chilla. Tidak seharusnya dia meminta sesuatu kepada Bapak. Saya mohon maaf sekali lagi." Lagi-lagi Alle menunduk malu.
"Itu tidak akan jadi masalah karena ternyata Papa senang direpotkan Chilla, yang jadi masalah itu kalau Chilla pulang dan membuat rumah ini kembali sepi. Harusnya Chilla tinggal di sini."
Sontak Alle mendongak. "Maksud Bapak, apa?" tanya Alle kaget.
Aksa lebih mendekat. Ia meraih tangan Alle dan menggenggamnya. "Kenapa tidak kamu terima saja lamaranku. Kurasa Chilla menyukai aku untuk jadi papanya."
Alle langsung menoleh ke arah meja makan, takut jika apa yang Aksa lakukan saat ini dilihat oleh Sekar dan Dewa. Ternyata benar dugaan Alle. Sorot tajam terlihat jelas di mata Sekar, sedangkan Dewa berekspresi biasa saja.
Meskipun begitu, Alle segera menghentakkan tangan Aksa. "Jangan konyol, Pak," lirih Alle tak ingin di dengar orang tua Aksa.
Aksa membuang napas kasar. "Berapa kali harus aku bilang kalau aku serius, atau kamu ingin melihat keseriusanku dengan cara ekstrim?"
"Sudah tidak usah bahas itu lagi, Pak. Saya mau ajak Chilla pulang saja." Alle berlalu meninggalkan Aksa dan menuju meja makan. Mengabaikan lagi keseriusan Aksa untuk membina hubungan baru dengannya.
Melihat mamanya datang menghampiri, Chilla langsung berkata, "Ma, lihat ... Eyang beliin semua ini buat Chilla." Anak kecil itu menunjuk banyaknya makanan di atas meja. "Eyang baik banget, kan, sama Chilla," sambung anak itu.
Dengan senyum yang seolah dipaksakan, Alle berusaha membujuk putrinya. "Chilla, kita pulang yuk. Ini sudah malam, besok kan harus sekolah."
"Iya, tapi sebentar dulu. Chilla habisin makan Chilla dulu. Kata Mama kalau makan harus habis, kita nggak boleh buang-buang makanan. Mubazir itu temennya setan."
Alle meringis saja menanggapi apa yang Chilla ucapakan. Anak ini pintar sekali bicara.
"Benar, biarkan saja dulu Chilla menghabiskan makanannya. Baru nanti diantar Aksa pulang."
"Ti-tidak usah, Pak. Kami akan naik taksi saja," sahut Alle cepat.
"Tidak bisa begitu, Aksa yang membawa Chilla ke mari, dia juga yang harus bertanggung jawab mengantarkan Chilla pulang. Kecuali kalau kalian mau tinggal di sini."
Bukan hanya Alle yang kaget dengan ucapan Dewa, Sekar pun sama terkejutnya. Tidak menyangka jika Dewa akan selugas mengatakan persetujuannya pada hubungan Aksa dan sekretarisnya.
__ADS_1