Pesona Sekretaris

Pesona Sekretaris
Bab.44 Keinginan Mira


__ADS_3

Marini dan Sofyan keluar dari kamar mereka saat mendengar jerit kesakitan Chilla. Raut terkejut tak dapat mereka sembunyikan kala melihat cucu satu-satunya menangis memohon ampun pada menantu yang ia bangga-banggakan.


"Mira!" teriak Marini lagi. Wanita tua itu sedikit berlari menghampiri sang menantu. Diikuti Sofyan di belakangnya. Segera ia menarik Chilla menjauh dari Mira. Membawanya dalam dekapan.


Mengusap kepala Chilla dan berusaha menenangkan anak kecil itu dari tangis yang dibuat Mira.


"Kenapa kamu keterlaluan seperti ini, Mira. Kalau Fadil tahu kamu pasti akan kena marah," ujar Marini.


Mira justru menatap sinis pada mertuanya. Seakan tidak takut pada apa yang baru saja Marini katakan.


"Chilla ini anak Fadil, berarti anak kamu juga. Harusnya kamu perlakukan dia dengan baik bukan malah menyiksanya dengan kasar. Fadil sedang berusaha memperoleh hak asuh Chilla, tapi kalau kelakuan kamu seperti ini justru akan membuat rencana Fadil gagal." Marini terus berbicara meski Mira tak menanggapinya serius, apa lagi merasa bersalah.


Mira melengos. Malas kalau harus berdebat dengan mertuanya ini. Moodnya sedang tidak baik, kalau ia meladeni omongan Marini sudah barang tentu mertuanya itu akan ia lahap mentah-mentah.


"Ibumu benar, Mira. Harusnya kamu perlakukan Chilla dengan baik. Bukankah Fadil melakukan semua ini juga demi kamu, demi rumah tangga kalian," sambung Sofyan.


"Bapak bilang apa? demi aku? rumah tanggaku? Aku tidak pernah menginginkan anak Mas Fadil dari wanita lain. Kalian saja yang selalu berusaha memaksakan keinginan kalian. Sebenarnya aku dan Mas Fadil sudah bahagia meski tanpa anak, tapi demi membahagiakan kalian, Mas Fadil mau tak mau harus mengambil hak asuh anak ini. Seharusnya kalian berdua itu sadar, kalau kalian itu merepotkan aku dan Mas Fadil," jawab Mira sinis.


Marini dan Sofyan saling melempar pandang. Apakah selama ini keinginannya memiliki cucu salah. Mereka hanya dua manusia yang semakin renta. Berharap di usia senja bisa melihat anak dan cucu bisa kumpul bersama. Karena Mira tak bisa memberikan cucu, sementara Fadil sendiri pernah memiliki anak dari pernikahan sebelumnya, Sofyan dan Marini ingin bisa dekat dengan cucu kandung mereka.


"Mira, kamu sadar nggak sama ucapan kamu. Kamu itu Mandul. Kalau kamu bisa memberikan kami cucu, tentu kami tidak akan meminta Fadil untuk mengambil Chilla dari Alleyah. Harusnya kamu yang sadar diri!" Marini tak terima dengan tuduhan Mira.


"Apa, aku yang harus sadar diri." Mira menunjuk dirinya sendiri. "Pak, Buk ... coba ingat-ingat lagi, siapa yang sudah membantu kalian selama ini. Aku ... aku yang mandul ini, yang telah membiayai kehidupan kalian, dari pengobatan Bapak sampai biaya hidup kalian, aku yang menanggungnya." Amarah Mira tak lagi terbendung. Ia ingin menunjukkan siapa dirinya.

__ADS_1


"Kalau kalian tidak suka dengan wanita mandul seperti ku, dan inginkan cucu seperti anak nakal ini, silakan saja angkat kaki dari rumah ini!" usir Mira tanpa peduli lagi dengan siapa yang ia ajak berbicara.


Sofyan dan Marini semakin tidak percaya akan pengusiran yang terlontar dari bibir menantunya.


"Mira!" Fadil yang baru saja masuk terkejut mendengar ucapan istrinya. Terlebih kalimat tersebut tertuju pada kedua orang tuanya. "Ada apa ini, kenapa kamu berbicara seperti itu pada Bapak dan Ibu?"


"Mas tanya saja pada mereka, kenapa sampai aku mengusirnya. Semua karena anak nakal ini." Mira menunjuk Chilla.


Fadil mengernyit heran. "Chilla?" lirihnya.


"Iya, kalau bukan karena anak nakal ini tidak menjatuhkan guci kesukaanku, aku tidak akan marah dan Ibumu tidak akan mengungkit tentang diriku yang mandul."


Fadil menatap kedua orang tuanya. Mencari kebenaran tentang apa yang Mira tuduhkan. Namun, Sofyan dan Marini justru tertunduk, seolah menjadi jawaban jika ucapan Mira benar.


Sebelumnya Fadil memang pernah mewanti-wanti kedua orang tuanya agar tak menyinggung soal kondisi Mira yang tak bisa punya anak. Bagaimanapun mereka masih membutuhkan Mira untuk bergantung hidup.


Ia bahkan rela meninggalkan Alleyah demi bisa bersama wanita yang berjanji akan menjamin hidupnya dan orang tua. Namun, rumah tangga yang ia bangun beberapa tahun tak kunjung menghasilkan keturunan hingga Fadil dan Mira melakukan cek kesehatan dengan hasil Mira dinyatakan mandul.


Walaupun sangat terpukul mendengar kenyataan itu, Fadil tetap berusaha bertahan. Ia pun menenangkan Mira dengan mengatakan jika ia bisa menerima Mira apa pun keadaan wanita itu.


Sampai orang tuanya mendesak menginginkan cucu. Mau tak mau, jalan satu-satunya adalah mengambil hak asuh Chilla, sebab tidak mungkin ia meninggalkan Mira demi memiliki seorang anak.


Fadil tidak siap kembali ke masa susah hidupnya. Begitu pun dengan orang tuanya. Sebab itulah, mereka lebih memilih menjaga perasaan Mira dengan tidak mengungkit tentang kondisi mandul Mira.

__ADS_1


"Maafkan Bapak dan Ibu, Mira. Mungkin mereka tidak bisa memahamimu. Maafkan Chilla juga, dia pasti tidak sengaja menjatuhkan guci itu." Fadil tidak mau ambil resiko. Ia tahu benar perangai Mira, kalau sedang marah wanita itu tak bisa berpikir panjang. Bisa-bisa apa yang tadi ia ucapkan untuk mengusir orang tuanya jadi kenyataan. Fadil tidak inginkan hal itu terjadi. Ia lebih memilih untuk mengalah.


Mira menatap kesal pada orang tua Fadil juga Chilla. Kemudian pergi meninggalkan mereka semua.


"Tolong jaga Chilla dulu, Bu." Fadil berlari mengejar Mira ke kamar. Ia harus segera menenangkan wanita itu.


"Sayang ...." Fadil duduk di samping Mira yang tengah merajuk. Ia ambil tangan Mira dan menggenggamnya. "Jangan di ambil hati, mereka hanya orang tua yang mengikuti insting mereka membela cucunya."


Mira menatap Fadil dengan sorot tajam. Ia marah bukan hanya karena ucapan mertuanya tapi juga marah dengan Fadil.


"Aku memang mandul, Mas. Aku memang tidak bisa memberikan keturunan untuk kamu, tapi kita pernah membicarakan semua ini sebelumnya dan kamu mau menerimaku. Lalu kenapa sekarang ini diungkit. Kamu bahkan tahu aku tidak pernah setuju kalau kamu ingin anak kamu tinggal bersama kita.


Kamu sangat tahu alasannya. Chilla akan selalu mengingatkanmu pada mantan istrimu, dan aku tidak inginkan itu!" ujar Mira dengan nada tegas.


"Iya, aku tahu. Kamu juga tahu kan kenapa aku melakukan semua. Aku hanya ingin berbakti pada orang tuaku. Chilla adalah satu-satunya cucu mereka."


"Baktimu itu menyakiti hatiku, Mas!"


Fadil bingung dengan situasinya saat ini. Di satu sisi ia hanya ingin mengikuti apa yang orang tuanya katakan, di sisi lain ia tak ingin membuat Mira merasa sedih dan marah.


"Lalu aku harus bagaimana?"


Mira memutar tubuhnya agar bisa menghadap Fadil. "Seperti kataku dulu, kalau harus ada anak di antara kita, aku hanya mau anak adopsi. Aku tidak ingin ada anak kamu karena aku tidak mau kamu terus mengingat mantan istri kamu." Semua keputusan Mira didasarkan rasa cemburunya yang besar.

__ADS_1


Fadil semakin bimbang. Keinginan Mira membuat ia gamang untuk memutuskan. Jujur saja, ia pun inginkan Chilla karena dalam diri anak itu ada darahnya. Namun ia tak bisa mengabaikan Mira dan keinginannya begitu saja.


"Bagaimana, Mas. Mas setuju kan dengan keinginanku?"


__ADS_2