
Semalam ketika Alle tiba di rumahnya, sudah ada Fadil yang menunggunya dengan Chilla. Mantan suaminya itu menepati janji untuk memulangkan Chilla minggu malam.
Alle menangkap jelas tatapan tajam Fadil pada Aksa ketika wanita itu turun dari mobil bosnya. Aksa sendiri tidak turun tapi ia bisa melihat jika ada tamu yang Aksa yakini sebagai mantan suami sekretarisnya itu.
"Mama," teriak Chilla memanggil Alle yang baru saja turun.
Alle langsung memeluk Chilla yang berlari ke arahnya. Menggendong anak kecil itu dan menciuminya.
"Mama kangen," lirih Alle masih terus mengecup wajah putrinya.
"Chilla juga."
"Hai, Chilla," sapa Aksa dari dalam mobil dengan melambaikan tangannya.
"Hai, Om," jawab Chilla.
"Gimana kabar kamu?"
"Baik, Om."
Aksa melirik Fadil yang tengah memperhatikannya, terlihat jelas raut tidak suka dari mantan suami sekretarisnya itu. "Om pamit, ya," ujar Aksa selanjutnya. Ia tak mau berlama-lama membuat hati orang kepanasan karena tak suka dengan kehadiran dirinya.
Chilla mengangguk dalam gendongan Alle. Anak kecil itu melambaikan tangan pada Aksa.
Setelah mobil Aksa tak terlihat lagi dari depan rumahnya, Alle menuju teras di mana masih ada Fadil di sana.
"Terima kasih sudah mengantar Chilla pulang sesuai janji," ujar Alle pada Fadil.
"Iya, sama-sama. Aku mau langsung pulang saja." Fadil beralih menatap Chilla yang berada dalam gendongan Alle. "Chilla, Papa pulang dulu, ya?"
Chilla mengangguk malas. Sementara Fadil mengulurkan tangannya pada Chilla. Anak kecil itu cuma memandang tanpa menyahut uluran tangan papanya.
"Salim dong, Sayang," ujar Alle.
Akhirnya dengan terpaksa Chilla mengambil tangan Fadil dan menciumnya. Tak ada senyum di bibir anak kecil itu.
"Ayo, kita masuk," seru Alle setelah Fadil meninggalkan rumahnya.
Ibu satu anak itu dengan bahagia menggendong Chilla sembari menciumi wajah putri semata wayangnya. Tidak bertemu sehari saja membuat Alle begitu rindu akan gadis kecilnya.
__ADS_1
"Sekarang anak mama berat banget, ya. Mama gendong sampai sini saja, Mama udah pegel," ujar Alle yang membawa Chilla ke kamar.
"Ini pasti karena Chilla kebanyakan makan coklat dan es krim makanya jadi gendut kayak gini." Alle mencubit gemas pipi Chilla.
Tak ada respon dari anak itu. Chilla hanya diam saja tak menanggapi candaan Mamanya seperti biasanya.
"Chilla kenapa, kok diam saja?" tanya Alle yang merasa ada yang berbeda dengan Chilla.
"Chilla ngantuk, Ma. Chilla pengen tidur," jawab Chilla khas anak kecil.
"Oh ...." Alle mengangguk paham. "Ya udah, gosok gigi dulu terus cuci kaki, Ok."
"Boleh nggak malam ini Chilla nggak gosok gigi dulu, Chilla capek banget," jawab Chilla lesu.
Melihat raut tak bersemangat Chilla, Alle merasa kasihan. "Malam ini aja ya, besok-besok harus gosok gigi dulu."
"Hmmm." Chilla mengangguk. Anak itu bahkan tak mengganti bajunya lebih dulu. Ia langsung berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Memunggungi Alle yang masih berdiri di tepi ranjang.
Alle hanya menatap heran dengan Chilla saat ini, tapi ia rasa ini bukan saat yang tepat untuk mencari tahu. Ia biarkan dulu anaknya itu merasa tenang.
******
"Chilla, kok bisa ke sini!" seru Aksa tepat di depan Alle. Sengaja untuk membuat wanita itu kaget.
Benar saja, Alle langsung melihat ke arah pintu masuk untuk melihat kedatangan anaknya. Sedetik kemudian ia kecewa karena tak melihat siapa pun yang masuk. Tentu saja Chilla tidak mungkin datang ke tempat ini, bagaimana mungkin ia bisa percaya akan apa yang Aksa katakan.
Melihat kebingungan sekaligus kekecewaan di wajah sekretarisnya malah membuat Aksa tertawa. "Mudah banget sih ditipu."
Alle menatap kesal pada bosnya. Bibirnya mencibir melihat keisengan Aksa. Betapa tidak tahunya pria ini jika ia sedang mengkhawatirkan Chilla. Sejak semalam anak itu jadi pendiam dan pagi ini ketika ia mencoba mencari tahu Chilla masih saja bersikap sama. Tak mau bicara banyak. Alle sudah memancing anak itu dengan candaan-candaan receh yang biasanya ampuh untuk membuat anak kecil itu tertawa dan berceloteh riang, tapi kali ini respon yang diberikan Chilla tidak seperti biasanya.
Malahan cenderung tak menanggapi apa yang Alle tanyakan. Chilla lebih memilih diam dan mengatakan jika ia sedang tidak ingin banyak bicara.
"Nggak lucu tau, Pak!" Alle mencebik kesal.
"Lagian, siapa juga yang ngelawak. Aku tuh cuma pengen ngetes konsentrasi kamu saja. Nyatanya kamu memang sedang nggak fokus. Kalau kamu fokus kamu nggak akan percaya sama apa yang aku ucapakan tadi. Mana bisa Chilla datang ke sini, itu logikanya."
Alle benar-benar tertohok oleh ucapan Aksa. Ia memang tidak dalam kondisi yang sedang berkonsentrasi.
"Kamu pasti tidak tahu kan, kapan Pak Rendra berpamitan?" tanya Aksa.
__ADS_1
Alle langsung gelagapan mencari keberadaan Pak Rendra juga asistennya yang tadi duduk dengannya juga Aksa. Alle membuang napas perlahan, menampilkan raut penuh sesal karena ia tak bisa bekerja dengan baik.
"Maaf, Pak," ujar Alle.
"Bukankah dulu kamu sudah berjanji akan bekerja sebaik mungkin dan tidak akan mengulangi perbuatanmu membuang banyak waktu untuk melamun, lalu kenapa sekarang kamu justru melamun sampai-sampai tidak tahu dengan apa yang terjadi di sekelilingmu."
"Maaf, Pak. Saya salah." Tentu Alle harus mengakuinya karena memang apa yang Aksa katakan benar.
"Mikirin apa sampai nggak konsen begitu?" tanya Aksa yang masih ingin duduk di restoran itu.
"Ehm ... itu, Pak." Alle ragu apa harus bercerita atau tidak.
"Kakatakan saja."
"Itu, Chilla, Pak."
"Chilla, kenapa?" Aksa sedikit kaget.
"Dari semalam sejak pulang dari rumah papanya malah jadi murung dan pendiam. Saya jadi bingung dengan keadaannya. Kok bisa Chilla berubah dalam satu hari tinggal bersama mas Fadil."
"Kamu udah tanya Chilla ada apa?"
"Sudah, Pak, tapi Chilla bilang tidak ada apa-apa. Ia hanya capek saja."
"Bisa saja benar, mungkin memang karena capek. Siapa tahu Chilla diajak papanya jalan-jalan kemarin jadi sekarang ia belum bersemangat lagi karena kecapekan. Coba kamu bawa Chilla ke tempat massage untuk anak-anak biar Chilla kembali fresh lagi dan ceria lagi," ujar Aksa.
Tempat massage anak?
Apa perlu Alle mencobanya, selama ini Chilla memang anak yang jarang sekali dipijat.
"Apa itu efektif?"
"Bisa jadi," jawab Aksa singkat. Kemudian kembali menyesap cappuccino miliknya.
"Bagaimana, kamu sudah memikirkan jawabannya belum?"
"Apa?" tanya Alle tak mengerti.
"Aku ingin jadi papanya Chilla."
__ADS_1
Alle langsung tersedak lemon tea yang ia minum. Ia bahkan belum memikirkannya sama sekali karena melihat Chilla yang berubah sikap, dan sekarang pria ini justru meminta jawaban.