
"Berengsek! Apa yang lo lakuin pada Alle, hah!" Aksa berteriak murka. Ia terus memanggil-manggil nama sekretarisnya tapi tak ada reaksi apa pun.
Bianca yang panik karena salah sasaran jadi takut sendiri melihat sikap Aksa yang tak biasa.
"All ... Alle." Aksa terus menepuk pipi sekretarisnya agar terbangun.
Matanya tajam menatap mantan kekasihnya. "Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Alle, aku nggak akan lepasin kamu!" ancam Aksa. Ia kembali memanggil nama Alle agar bangun.
"Sa ... Sayang." Bianca ketakutan.
"Diam, kamu!" sentak Aksa yang masih terus berusaha membangunkan Alle.
Tak tahan melihat kepanikan Aksa yang berlebihan Bianca berteriak. "Tidak akan terjadi apa pun dengannya. Aku hanya memasukkan obat tidur dalam minuman yang harusnya kamu minum!" Bianca mengaku. Sebab ia tidak mau juga dituduh macam-macam oleh Aksa. Belum lagi ancaman pria itu.
Bianca memang punya rencana jahat untuk pria yang telah memutuskannya secara sepihak. Tak terima dengan keputusan Aksa tersebut, Bianca membuat rencana. Ia sengaja menyiapkan minuman yang sebelumnya sudah ia campur dengan obat tidur.
Ia menjebak Aksa dengan cara yang licik. Namun, ketika Aksa datang dengan sekretarisnya membuat ia tidak suka tapi tak urungkan niatnya untuk melanjutkan rencana jahatnya.
Ia pikir setelah nanti Aksa pingsan karena obat yang ia berikan, Bianca akan mengusir sekretaris kekasihnya itu dan melanjutkan aksi jahatnya. Siapa sangka jika Aksa justru menukar minuman tersebut. Membuat semuanya jadi berantakan.
Mendengar pengakuan Bianca, mata Aksa mendelik tajam. Ia ingin memaki mantan kekasihnya tersebut tapi rasanya tak ada gunanya. Ia hanya melontarkan ancaman. "Aku akan buat perhitungan jika apa yang kamu katakan adalah bohong!"
Aksa mengangkat tubuh Alle yang lemah tak sadarkan diri. Ia membawa sekretarisnya tersebut keluar dari gedung apartemen Bianca. Tak lagi membuang waktu, Aksa segera membawa Alle pulang. Jika benar apa yang dikatakan Bianca jika itu hanya karena efek obat tidur, Alle akan segera sadar.
Aksa mengarahkan mobilnya menuju perumahan milik Alle. Sampai di sana, ia menggendong Alle keluar dari mobil.
Pintu rumah Alle yang terbuka memudahkan Aksa untuk segera masuk setelah mengucapkan salam.
"Mama." Chilla terperanjat melihat mamanya yang digendong oleh Om bos. Anak kecil itu berdiri menghampiri.
"Om, Mama kenapa?" tanya Chilla takut.
"Mama nggak apa-apa, Chilla. Di mana kamar mama?"
Chilla dengan sigap menunjukkan kamar mereka. Aksa terus mengikuti langkah Chilla dan mengabaikan orang yang ada di ruang tamu sekretarisnya.
Mbak Imas yang muncul dari dapur kaget melihat Alle yang digendong oleh pria yang tak ia kenal.
"Alle, kamu kenapa?" Mbak Imas menyusul masuk ke kamar. "All ...," panggilnya lagi.
"Dia nggak apa-apa, cuma ketiduran," jawab Aksa setelah merebahkan Alle ke atas ranjang.
Mbak Imas sedikit bingung dengan jawaban pria di depannya.
"Om, mama kenapa?" tanya Chilla lagi. Anak kecil itu juga ingin tahu.
Aksa berjongkok agar sejajar dengan tinggi Chilla. "Mama nggak apa-apa, Chilla. Mama cuma ketiduran. Nanti juga bangun. Chilla jaga mama, ya. Om, mau pulang dulu." Aksa mengusap rambut anak itu.
"Maaf, Bapak ini siapa, ya?" tanya Mbak Imas sebelum Aksa keluar.
"Saya Aksa, teman sekantornya Alle."
__ADS_1
"Saya Imas, saya pengasuhnya Chilla. Kalau boleh tahu apa yang terjadi dengan Alle kenapa dia bisa ketiduran seperti ini."
"Tidak apa-apa, mungkin dia kelelahan. Tolong jaga dia, ya, saya pulang dulu."
Aksa pun keluar dari kamar Alle, di ruang tamu ia melihat pria yang sama ketika ia masuk. Merasa tak kenal, Aksa hanya bersikap tak acuh.
"Alle kenapa?" tanya Fadil ketika Mbak Imas keluar kamar.
"Kecapekan, jadi pingsan."
Fadil ragu dengan jawaban Mbak Imas tapi ia mengangguk saja.
"Mas Fadil, sebaiknya Mas Fadil pulang. Alle sedang tidak bisa diajak bicara saat ini. Lain kali saja Mas Fadil kembali," ujar Mbak Imas.
Merasa apa yang Mbak Imas katakan benar, Fadil pun berpamitan pada Chilla. Ia berjanji akan kembali lagi nanti.
______________________
Sepanjang perjalanan, Aksa memikirkan apa yang tadi Bianca katakan. Ia bisa menangkap maksud Bianca dengan memberikan obat tidur pada minumannya. Segera ia mengetikkan pesan untuk wanita itu.
[Jangan pernah ganggu aku lagi, atau aku akan melakukan sesuatu yang tak pernah kamu duga!"]
Pesan terkirim. Namun tak ada balasan sama sekali.
Aksa masih memegang ponsel di tangannya ketika mendapat panggilan dari papanya. Orang tua Aksa itu meminta putranya untuk pulang malam ini karena permintaan dari istrinya.
Untung saja Aksa belum sampai ke apartemennya hingga ia segara memutar haluan ke rumah orang tuanya. Sampai di sana, ia segara naik ke kamar mamanya. Dilihatnya Sekar yang sedang terbaring di atas ranjang. Ada papanya juga yang menemani.
"Mama kenapa, Pa?" tanya Aksa begitu melihat mamanya yang sedang terlelap.
"Sudah panggil dokter?"
"Sudah, tadi habis minum obat makanya bisa tidur."
Aksa mengangguk paham.
"Sa, Papa ingin bicara." Pria yang rambutnya sudah banyak ditumbuhi uban itu menuntun Aksa untuk duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang.
"Bagaimana bisnismu, lancar?" Papa Aksa nampak berbasa-basi.
"Seperti yang Papa lihat, semua berjalan baik." Tentu saja Papanya tahu, karena meski tak lagi aktif di kantor, pria yang pertama kali membangun Bumi Sentosa Damai tersebut masih mendapatkan laporan rutin perusahaan.
"Apa kamu serius dengan sekretaris kamu itu?"
Aksa sedikit tersentak dengan pertanyaan papanya.
"Maksud, Papa?"
"Banyak kabar beredar di kantor soal hubungan kalian. Itu juga yang membuat mamamu tensinya jadi naik. Kamu tahu sendiri lah, mamamu seperti apa."
Aksa memang mendengar kabar itu dari Silvi tapi Aksa abaikan. Toh, ia dan Alle tak menjalin hubungan seperti kabar burung yang beredar.
__ADS_1
"Aksa nggak ada hubungan apa pun dengan Alle, Pa, selain hubungan kerja. Setidaknya untuk saat ini."
"Jadi kamu punya niat untuk menjalin hubungan dengan sekretarismu?"
Aksa menggedikkan bahunya.
"Untuk saat ini belum."
"Lalu, bagaimana dengan gosip itu? Tidak akan ada asap jika tidak ada api. Tidak akan ada berita itu jika sikap yang kamu tunjukkan tak mencerminkan demikian."
"Mereka hanya melihat, mereka tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi sebenarnya. Yang menjalani itu Aksa, sampai detik ini Aksa belum berpikir ke arah sana, tapi bukan berarti itu tidak akan terjadi, kan."
Parabu nampak tenang mendengar penjelasan putranya. Sebagai seorang ayah ia tahu seperti apa karakter putranya.
"Papa sendiri yang bilang, Sebagai manusia, jalani saja hari ini dan tidak usah merisaukan hari esok. Karena hidup ini bukan hanya soal apa yang kita mau, tapi ada yang mengatur.
Hari ini Mungkin Aksa tak menaruh perasaan kepada Alle, tapi siapa yang tahu tentang esok hari."
Prabu kembali tersenyum. Aksa persis seperti dirinya. Ia tak pernah mengambil pusing dengan omongan orang. Ia hanya harus menjalani apa yang harus ia jalani. Sisanya serahkan pada Sang Pemilik kehidupan, karena hidup ini tak lepas dari pengaturannya.
"Jika Alle memang jodoh Aksa. Siapa yang bisa menolak." Tawa renyah langsung terdengar dari bibir keduanya. Bapak dan anak itu begitu terlihat begitu akrab. Mereka bahkan tidak sungkan membicarakan apa pun termasuk soal hubungan antara pria dan wanita.
"Kalau sudah nggak ada yang mau dibicarakan, Aksa mau turun. Mau ambil minum."
Prabu mengangguk memberi ijin.
Di dapur, Aksa mengambil minumannya sendiri. Ia membawanya keluar ke taman belakang. Dilihatnya Edi yang sedang menyeruput kopi di sana.
"Mas Aksa." Edi sedikit kaget melihat anak majikannya. Ajudan mamanya itu langsung menepuk-nepuk sisi kosong di sampingnya agar bisa diduduki oleh Aksa.
Pria itu tersenyum sebagai ucapan terima kasih. Ia meletakkan gelasnya di dekat cangkir milik Edi, lalu mengeluarkan rokok dari saku celananya. Menawarkannya pada pegawai orang tuanya tersebut.
Aksa juga mengambil sebatang dan menyulutnya. Aksa memulai obrolan dari hal remeh seperti kapan terakhir kali Edi pergi memancing sebab Aksa tahu supir mamanya itu gemar sekali mancing.
Hingga pertanyaan tentang ke mana saja Edi mengantar mamanya pergi hari ini.
"Ehm ... Ehm ...." Edi gelagapan dengan pertanyaan Aksa. Bingung harus menjawab apa.
"Kenapa, apa ada yang kamu tahu dan aku tidak boleh tahu?" todong Aksa.
"Ehm, itu Mas ...." Edi menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bingung harus bagaimana bercerita.
"Apa?" tanya Aksa dengan nada halus tapi mengandung intimidasi.
"Ehm ... itu ... tadi siang Nyonya bertemu dengan Mbak Alle, sekretaris Mas Aksa."
Raut kaget tercetak jelas di wajah Aksa. Ia tetap diam ingin mendengar kelanjutan cerita dari Edi.
"Nyonya meminta Mbak Alle menjauhi Mas Aksa, juga meminta Mbak Alle untuk keluar dari pekerjaannya." Edi tak mampu lagi berbohong. Ia lebih takut pada Aksa dari pada Sekar. Lebih tepatnya ia segan jika harus berbohong pada anak majikannya tersebut. Aksa sudah banyak membantunya tanpa sepengetahuan Sekar.
"Mama melakukan itu?"
__ADS_1
Edi mengangguk.
Aksa mengembuskan napas kasar. Seakan tak percaya jika mamanya termakan gosip begitu mudahnya. Bahkan berani meminta Alle untuk berhenti kerja tanpa sepengetahuannya.