Pesona Sekretaris

Pesona Sekretaris
Bab.7 Mulai Ada Gosip


__ADS_3

Hari ini fokus Alle tak sebaik biasanya. Beberapa kali ia salah menyiapkan dokumen untuk Aksa. Pikirannya masih pada kejadian semalam, saat Mbak Imas menyapanya dalam ketakutan. Kemudian mengadu tentang sikap suaminya yang berubah seratus delapan puluh derajat.


Pengasuh Chilla tersebut mengatakan pada Alle jika akhir-akhir ini Mas Dito—suami Mbak Imas—sering minum-minuman keras, juga sering berlaku kasar pada istrinya. Hal yang kemarin membuat Mbak Imas pergi dari rumah dan memilih menginap di rumah Alle karena perlakuan pria itu sudah tidak bisa ditolerir lagi. Dito berlaku kasar di depan Chilla, pria yang sekarang merupakan pengangguran itu berani menampar Imas di depan putri kecil Alle yang berusia belum genap enam tahun. Semua karena hal sepele, hanya karena Mbak Imas lupa menambahkan gula pada kopi buatannya.


Pria itu mendadak naik pitam dan berteriak murka di depan Chilla. Tak sampai di situ, ketika Mbak Imas menanggapi kemarahan suaminya, pria itu justru semakin tersulut emosi dan menuduh Mbak Imas sudah berani melawan suami. Lalu, satu tamparan melayang ke pipi pengasuh Chilla tersebut.


Hal tak pantas itu disaksikan Chilla yang kala itu sedang bermain di ruang tamu milik Mbak Imas. Karena tidak ingin membuat Chilla menyaksikan kejadian tak pantas itu lagi, Mbak Imas membawa Chilla pulang dan mengunci pintu rumah Alle. Tak ingin bertemu dengan suaminya untuk sementara ini.


Dito juga menuduh jika pekerjaan istrinya itulah penyebab berubahnya sikap Mbak Imas. Terlalu sibuk dengan Chilla hingga lupa pada kewajibannya melayani suami.


Alle sendiri jadi tidak enak hati. Bahkan semalam ia menawarkan pada Mbak Imas agar berhenti saja dari menjaga Chilla. Supaya Mbak Imas bisa fokus pada sang suami dan keinginan mereka untuk memiliki keturunan, jika memang kesibukannya menjaga Chilla justru memperkeruh masalah rumah tangganya.


"Jangan Al, kalau aku nggak kerja jaga Chilla aku malah akan susah sendiri. Nanti siapa yang akan biayai hidup kami. Belanja, bayar listrik, belum lagi rokok Mas Dito. Siapa yang mau bayarin itu semua kalau aku nggak jagain Chilla, sementara Mas Dito sendiri nganggur." Begitu jawab Mbak Imas semalam saat Alle meminta Mbak Imas berhenti kerja.


Sebagai orang terdekat Mbak Imas saat ini, Alle menawarkan kalau sekedar buat makan Alle masih bisa membantu. Bagaimanapun Alle tidak akan lupa pada jasa Mbak Imas selama ini. Berkat wanita itu, Alle bisa tenang bekerja dan bisa menghidupi diri sendiri juga Chilla dari uang hasil jerih payahnya.


Tak apa jika harus berbagi rejeki dengan Mbak Imas. Ia bisa mencari pengasuh yang bisa tidur di rumah kecilnya dan sebagai gantinya ia bisa ambil kerjaan lembur agar memiliki uang tambahan untuk gaji pengasuh baru Chilla. Namun, Mbak imas menolak. Wanita itu tetap ingin menjaga Chilla, ia tak mau diberi uang cuma-cuma tanpa bekerja.


Hal itu membuat Alle berada dalam dilema. Di satu sisi ia tidak ingin rumah tangga Mbak Imas yang sudah ia anggap seperti saudara itu hancur seperti rumah tangganya, yang disebabkan karena kesibukan Mbak Imas menjaga Chila. Di sisi lain ia juga ingin membantu Mbak Imas secara ekonomi.


"Hei!"


Alle terlonjak kaget saat melihat Aksa tengah berdiri di depannya sembari menggebrak meja. Menyadarkan Alle dari segala lamunan tentang kejadian semalam.


"I-iya, Pak," jawab Alle terbata sebab gugup.


"Kamu tidak dengar bunyi interkom?" Nada marah terdengar dari pertanyaan Aksa.


"Maaf Pak, saya tidak dengar," jawab Alle jujur.

__ADS_1


Aksa mendelik tajam. Memasang raut murka pada apa yang baru saja sekretarisnya katakan. Bisa-bisanya pegawainya itu tidak mendengar panggilannya.


"Sekarang kamu bereskan barang-barang kamu!" titah Aksa.


"Maksud, Bapak, apa? saya, dipecat?" tanya Alle heran.


"Jangan banyak tanya, bereskan barang-barang kamu sekarang juga!" titahnya sekali lagi.


"Tapi, Pak, saya bisa memperbaiki kesalahan saya. Tidak perlu bapak sampai memecat saya."


Aksa semakin geram karena sekretarisnya terus membantah. "Bereskan barang-barang kamu dan segera ke dokter THT. Kamu butuh periksa!" ujarnya dengan murka, lalu kembali masuk ke ruangannya sendiri dengan membanting pintu.


Spontan, Alle memegangi dadanya sebab kaget. Kemudian buru-buru menyusul bosnya tersebut masuk ke dalam. Berkali-kali Alle meminta maaf atas kecerobohannya hari ini. Tidak seharusnya ia melamun dan mengabaikan tugas di kantor.


"Maaf Pak, saya janji saya tidak akan lagi mengulangi semua ini," mohon Alle. Namun tak digubris oleh atasannya.


Aksa menatap tajam skeretarisnya. "Keluar kamu sekarang!"


"Pak, jangan begitu. Saya akan bekerja dengan baik," Alle semakin memohon.


"Keluar!" Bentak Aksa.


Saking takutnya dengan raut sang bos, Alle segera keluar sesuai perintah. Dalam hatinya ia terus berdoa semoga Aksa tidak memecatnya.


Tak ada yang bisa Alle lakukan untuk meluluhkan hati bosnya saat ini. Ia hanya bisa menunggu sampai pria itu sendiri yang akan memanggilnya.


Alle semakin bingung ketika waktu terus berjalan tapi tidak ada panggilan dari Aksa untuk dirinya. Pria itu benar-benar mengabaikannya. Sementara Alle sendiri tidak berani untuk masuk dan mengajak atasannya berbicara.


Bukannya menjadi fokus dalam bekerja, pikiran Alle semakin berkelana. Masih tentang Mbak Imas dan Chilla, sekarang ditambah lagi nasib akan pekerjaannya.

__ADS_1


Jam pulang kantor sudah tiba dan Alle tak berani meminta ijin pulang. Pria itu pun tak kunjung keluar dari ruangannya.


Jadilah ia kembali menunggu pria itu. Sebab mau menghubungi saja Alle teramat sungkan.


Beberapa teman yang melewati meja kerja Alle pun menegur. "Kamu nggak pulang, Al?" tanya Dewi.


"Enggak, nanti aja bareng sama Pak Aksa. Beliau belum pulang soalnya. Masih ada kerjaan," kilah Alle.


"Oh ...."


Bukan hanya Dewi, Bu Silvi pun menegur Alle kenapa belum pulang dan Alle menjawab hal yang sama seperti apa yang ia katakan pada Dewi sebelumnya.


Selama ini, Alle selalu pulang setelah mendapat ijin dari Aksa. Tidak jarang pria itu meminta Alle untuk lembur demi menyelesaikan pekerjaan.


Tak disangka jika hal tersebut menimbulkan gonjang-ganjing pada teman-teman sekantornya. Bahkan muncul rumor kedekatan antara Alle dan bos mereka.


Seperti Dewi dan Lili saat ini. "Eh, lo percaya nggak kalau Alle beneran lembur. Gue denger dari satpam mereka sering pulang bareng, kadang sampe malam banget. Terus pulangnya Alle diantar sama Pak Aksa pakai mobil pribadinya gitu. Ada juga yang pernah lihat kalau Alle diajak ke apartemen Si bos. Pulang hampir tengah malam, yakin gak kalau itu lembur," ujar Lili.


"Yakinlah."


Lili kaget mendengarnya.


Lalu Dewi segera menyusuli omongannya. "Yakin kalau mereka lemburnya di kasur." Tawa mereka berdua langsung meledak.


"Ya, iya lah, siapa juga yang mau nolak cowok kayak Pak Aksa, dan lagi si Alle itu kan janda pasti dia kesepian juga dan butuh belaian." Lili menambahi. Kemudian mereka semakin tertawa. Makin asik mereka menggunjing Alle di belakang.


Sementara itu, Alle yang masih setia di meja kerjanya dikagetkan oleh sosok yang berdiri angkuh di depannya. Jarinya mengetuk meja agar Alle menyadari kehadirannya. Ketika pandangan mereka bersirobok, Alle terkesiap.


Tak bisa berkata-kata.

__ADS_1


__ADS_2