
"Chilla, tunggu!" Mira berteriak memanggil anak tirinya yang berlarian sejak tadi. Kalau bukan karena anak ini adalah anak dari suaminya, sudah barang tentu Mira akan mengusir anak yang merepotkan ini.
Sejak kedatangannya, rumah ini tidak ada tenangnya sama sekali. Chilla terus saja berlarian ke sana ke mari dan berteriak sesuka hati. Membuat emosi Mira meninggi.
Salahnya juga tadi, kenapa bersedia dititipi Chilla saat Fadil berpamitan untuk pergi keluar sebentar. Tapi nyatanya sebentar itu sudah lewat dari setengah hari. Mertuanya juga sedang pergi dengan teman-temannya. Tinggallah Mira dengan Chilla dan pembantu rumah tangga.
"Ayo Tante, kejar!" Chilla terus berlari menaiki anak tangga. Ia masuk ke sebuah kamar yang sangat luas dan mewah. Mata kecil Chilla menatap kagum melihat kamar sebesar ini. Luasnya mungkin tiga kali dari ukuran kamar Chilla di rumah mamanya.
"Wah, gede banget," gumam Chilla. Ucapan yang sama yang Chilla ucapkan ketika ia baru sampai tadi. Chilla jadi percaya jika papanya memanglah orang kaya. Buktinya sang papa memiliki rumah yang besar dan mewah. Begitupun kamar yang ia masuki ini. Sangat bagus.
Anak kecil yang masih mengangumi kemegahan kamar ini pun membuka pintu penghubung ke balkon. Di sana ia bisa melihat pemandangan di bawah juga jalanan. Saat matanya menangkap sebuah mobil yang seakan tak asing baginya, Chilla mulai menatapnya lekat.
Ada sosok yang ia kenali di dalam mobil tersebut. "Mama ... Om bos," gumam Chilla. Ia terus menatap ke arah mobil tersebut untuk meyakinkan dirinya jika ia tak salah lihat. Setelah merasa yakin Chilla berlari lagi dari kamar itu. Di depan pintu kamar, ia menabrak ibu tirinya.
"Chilla, hati-hati!" teriak Mira karena hampir terjatuh ditabrak Chilla.
"Maaf, Tante, Chilla cuma mau ketemu mama," jawab Chilla.
"Apa maksud kamu?"
"Iya, Tante, ada mama di bawah sana. Ayo kita temui." Chilla justru mengajak ibu tirinya untuk menemui mamanya.
"Jangan ngaco kamu ya, Chilla. Mana ada mama kamu di sini." Mira menyangkal.
"Ada, Tante, kalau nggak percaya ayo Chilla tunjukkan."
Chilla menggeret tangan ibu tirinya dan membawanya kembali ke balkon. Dari atas lantai kamarnya, Mira bisa melihat jelas jika apa yang dikatakan Chilla benar adanya. meski belum pernah berkenalan sebelumnya tapi Mira tahu persis jika yang ada di dalam mobil sana memanglah mantan istri dari suaminya.
"Sudah ayo masuk." Mira mengajak Chilla masuk dan menutup pintu ke balkon. Ia juga menutup gorden agar chilla tak lagi bisa melihat mamanya.
"Kenapa ditutup, Tante?"
"Sudah, kamu nggak usah lagi lihat mama kamu!" jawab Mira ketus.
"Kenapa?"
"Karena Tante nggak mengijinkan!"
__ADS_1
"Tapi Chilla mau ketemu mama."
"Sudah diam!" Mira keluar dan mengunci Chilla di dalam kamar sendirian.
"Tante kenapa dikunci? buka, Tante." teriak Chilla menggedor-gedor pintu.
"Tante, Chilla mau ketemu mama."
Mira tak menggubris. Wanita itu segera pergi dan mengabaikan anak tirinya. Ia pergi ke kamar sebelah. Dari balkon kamar sebelah, Mira mengamati mobil di mana ada mantan istri Fadil.
Sementara itu di dalam mobil yang sejak tadi diamati oleh Mira. Alle sedang menatap Aksa dengan serius. Ingin mendengar apa yang bosnya itu inginkan sebagai imbalan untuk membantunya.
Senyum yang tersungging di bibir bosnya sangat mencurigakan.
"Memangnya imbalan apa yang sanggup kamu berikan?" Aksa justru balik bertanya dengan congkaknya.
"Maksudnya?" Alle bertambah bingung.
"Iya, kalau aku membantumu untuk mencarikan pengacara yang akan membela kamu. Kamu punya apa untuk kamu jadikan imbalan?"
Alle mencebik, memikirkan apa yang Aksa ucapkan. "Lebih baik tidak usah, Pak. Terima kasih atas tawarannya. Saya tidak akan mampu membalas kebaikan Bapak," ujar Alle pada akhirnya.
Aksa malah tertawa. "Makanya, jangan tanya aku mau imbalan apa, karena kalau aku sudah meminta kamu pasti nggak akan sanggup memberikannya."
Alle mencibir. "Iya ... iya, saya tahu. Saya nggak akan mampu dan juga nggak akan mau memberikan separuh gaji saya untuk membayar pengacara yang Bapak tunjuk. Karena pastinya pengacara yang Bapak tunjuk bayarannya sangat mahal."
"Tapi ...." Aksa sedikit memutar tubuhnya agar bisa menatap sekretarisnya itu dengan leluasa. "Kalau aku membantumu secara cuma-cuma tanpa imbalan, apa kamu mau?"
Meski sedikit terkejut, Alle tetap bertanya. "Jangan bercanda, Pak. Tidak ada alasan untuk Bapak membantu saya menyewa pengacara. Lagi pula bayaran pengacara tidak semurah memborong bakso satu gerobak. Saya yakin Bapak tidak akan mau keluar uang cuma-cuma."
"Kalau begitu, berikan aku kesempatan untuk memiliki alasan membantumu dengan cuma-cuma," jawab Aksa terdengar asal.
"Maksud, Bapak?" Tentu Alle bingung.
"Misalnya, jadikan aku papanya Chilla, dengan begitu aku punya hak dan alasan untuk mempertahankan Chilla bersamamu."
Alle tertegun dengan ucapan Aksa. Kenapa harus sefrontal ini. Tanpa basa-basi. Tanpa rasa sungkan. Bosnya ini mengungkapkan apa yang ingin ia ungkapkan begitu saja.
__ADS_1
"Bagaimana, itu alasan yang sangat masuk akal bukan untuk membayar pengacara untukmu."
Alle bingung harus bereaksi seperti apa. Ingin tertawa tapi tak kuasa meluapkannya. Akhirnya hanya senyum tertahan yang ia perlihatkan.
"Jangan bercanda, Pak. Ini tidak lucu."
"Apa aku terlihat bercanda?"
Alle tertawa lagi sampai-sampai ia memukul lengan bosnya berkali-kali. "Tentu saja, mana mungkin saya dan Bapak ...." Alle tak melanjutkan tapi ia kembali memukul lengan bosnya.
Aksa yang melihat ulah Alle memukuli lengannya bukannya marah tapi justru tersenyum. Baru kali ini ia merasa sedekat ini dengan sekretarisnya.
Menyadari jika apa yang ia lakukan diperhatikan betul-betul oleh bosnya. Alle segera menghentikan tingkah konyolnya dan buru-buru minta maaf.
"Ma-maaf, Pak. Saya tidak ada maksud ...." Alle tak lagi memukuli lengan Aksa, tapi berganti dengan mengusap-usapnya.
"Maaf, Pak, maaf," ujar Alle berkali-kali.
Sangat lucu melihat sekretarisnya salah tingkah begini. Aksa mencekal tangan Alle yang terus mengusap lengannya.
"Hentikan," ujar Aksa dengan pandangan yang tak lepas dari manik hitam sekretarisnya.
Mata Alle menatap malu karena telah berbuat lancang. Mendadak debar jantungnya menjadi tak biasa karena tatapan Aksa.
"Pak, tolong lepaskan." Alle menarik tangannya yang sedari tadi dalam genggaman Aksa.
Alle langsung memutar tubuhnya dan menatap lurus ke depan. Mencoba mendistrak sesuatu yang tak bisa ia artikan. Mengatur napas untuk mengembalikan debaran di dadanya untuk bisa kembali normal.
"Sebaiknya kita pulang, Pak," ujar Alle pada akhirnya. Ia harus menyudahi ini kalau tidak ingin semua berada di luar kendali.
"Ke mana?"
Alle kembali menoleh. Pertanyaan macam apa ini.
"Tentu saja ke rumah kita masing-masing, Pak," jawab Alle kesal.
Di mana pikiran bosnya ini berada sekarang. Sampai-sampai pertanyaannya tidak masuk akal.
__ADS_1
Aksa tersenyum melihat raut kesal bercampur salah tingkah yang terlihat jelas di wajah sekretarisnya.