
Bukan hanya Alle, Aksa pun berlari cepat menuju lokasi orang tenggelam. Tanpa pikir panjang pria itu langsung menceburkan diri ke dalam kolam ketika melihat Chilla yang menjadi korban. Meraih Chilla yang sedari tadi berjuang.
Berusaha secepat mungkin, Aksa membawa Chilla naik. Alle segera menggendong Chilla ke pinggir dan membaringkan tubuh mungil Chilla di lantai pinggir kolam renang. Mengamati pernapasan Chilla. Ia sedikit menaikkan kepala Chilla.
"Chilla, Sayang ...," panggil Alle dengan takutnya.
Untunglah Chilla masih dalam keadaan sadar karena cepat mendapat pertolongan. Anak itu memuntahkan air yang tak sengaja masuk ke dalam tubuhnya dan terbatuk-batuk sesudahnya.
Alle yang panik langsung membangunkan tubuh Chilla dalam posisi duduk. Ia usap punggung Chilla dengan hati-hati. Setelah berhasil muntah, Chilla menangis dengan keras memanggil Alle. "Mama ...."
"Iya, Sayang, ini Mama." Alle memeluk Chilla. Mengusap punggung putrinya untuk menenangkan.
Tak lama petugas keamanan kolam datang untuk mengurai kerumunan. Kejadian tenggelamnya Chilla memang menarik perhatian pengunjung lain hingga membentuk kerumunan yang ingin melihat Chilla.
"Bagaimana kondisinya, Bu?" tanya petugas keamanan yang mendekati Chilla.
Alle tak mampu berkata-kata sebab ia masih dalam fase syok melihat apa yang baru saja terjadi.
"Mari kita bawa ke klinik saja," ujar petugas keamanan.
Aksa menyetujuinya karena dirasa itu adalah pilihan terbaik.
"Ayo, Chilla." Aksa mengangkat tubuh kecil Chilla dan mengikuti petugas keamanan itu. Alle yang masih tak percaya hanya diam mengikuti di belakang Aksa.
Klinik perawatan tersebut masih berada dalam lokasi wisata. Ada dokter di sana yang memeriksa keadaan Chilla.
Bersyukur, semua kondisi Chilla dalam keadaan baik-baik saja. Hanya menyisakan syok pada anak kecil itu.
Alle tak lepas dari menenangkan Chilla. Ia membisikkan kata-kata untuk bisa membuat Chilla lebih tenang. Usai mengganti baju Chilla dengan baju kering, serta dirinya juga sudah berganti baju, Alle memutuskan untuk mengakhiri liburan hari ini. Mereka pulang dengan diantarkan oleh Aksa.
Chilla duduk di belakang dipangku oleh Alle yang seakan tak rela membiarkan putrinya itu sendirian. Ia terus mendekap Chilla dalam pangkuannya. Keheningan mengisi perjalanan mereka. Tak lagi ceria seperti ketika mereka berangkat tadi.
Chilla yang merasa tenang dalam dekapan ibunya langsung terlelap. Sementara Alle masih dikuasai ketakutan.
__ADS_1
Perasaan bersalah menyeruak memenuhi benak Alle. Ada hal yang ia sesalkan kenapa kejadian tadi bisa terjadi. Harusnya ia lebih waspada lagi dalam menjaga Chilla. Harusnya ia tak teledor hingga membuat Chilla seperti ini.
Semua harusnya itu menjejal dalam otak. Membuat Alle semakin merasa bersalah.
"Kita sudah sampai," ujar Aksa yang menoleh ke bangku penumpang memberitahu. Pria itu, sejak tadi juga tak bersuara. Ia membiarkan Alle dalam kebisuan karena ia tahu betapa panik dan takutnya wanita itu mendapati putrinya tenggelam. Aksa hanya ingin memberi ruang tenang tanpa mengganggunya.
Pria itu segera turun dan membuka pintu untuk Alle dan putrinya.
"Terima kasih," ujar Alle lesu. Ia membawa Chilla masuk dengan menggendongnya. Seakan tak ingin terpisah.
Aksa membantu menurunkan barang bawaan Alle tadi. Ia meletakkan tas-tas Alle di atas meja di ruang tamu. Kemudian pamit. Saat ini, Alle pasti hanya ingin berdua dengan Chilla.
"Aku pulang dulu," pamit Aksa. Tak ada jawaban dari Alle karena wanita itu langsung masuk ke kamar. Aksa keluar dan menutup kembali pintu rumah sekretarisnya.
Di dalam kamar, Alle menidurkan Chilla ke atas ranjang. Ia pun turut berbaring di sana sembari mendekap anak itu erat. Mengusap kepala Chilla berkali-kali.
Ucapan maaf tak henti-hentinya mengalir dari bibir wanita itu. Perasaan bersalah membuatnya tak mampu lagi membendung air mata yang menggenang di pelupuk.
"Maafin, Mama, Sayang," lirih Alle.
"Maaf, Chilla ...." Alle mengecup kening putri semata wayangnya.
*****
Keesokan paginya, Aksa mengirimkan pesan untuk Alle agar ia tidak masuk hari ini. Bosnya itu memberikan cuti agar Alle bisa merawat Chilla lebih dulu.
Membaca pesan dari atasannya membuat hati Alle merasa tenang. Setidaknya untuk hari ini ia bisa membersamai Chilla. Sebab itu yang ia mau.
Mbak Imas yang baru saja datang dan mendapati Alle menangis di ruang tamu tak pelak menanyakan tentang apa yang terjadi. Tidak biasanya ia melihat Alle menangis seperti ini.
Alle bercerita terus terang pada Mbak Imas. Ia juga mengungkapkan perasaan bersalahnya pada putri semata wayangnya.
Mbak Imas yang kaget dengan cerita Alle langsung memeluk wanita yang sudah ia anggap seperti saudara itu. Tak lupa ia memberi dukungan untuk Alle agar berhenti menyalahkan dirinya.
__ADS_1
"Aku bukan ibu yang baik buat Chilla, Mbak."
"Sttt ... jangan bicara sepeti itu, All. Tidak ada ibu yang tidak baik. Semua ibu pasti melakukan yang terbaik untuk anaknya. Kemarin itu musibah, kita tidak bisa menghindarinya," ujar Mbak Imas menenangkan.
Alle semakin sesenggukan. "Kalau aku nggak terlalu asyik dengan diriku sendiri tentunya Chilla nggak akan seperti ini," sesal Alle.
"Mama ...." Chilla muncul dari dalam kamar. Anak itu baru saja bangun tidur. Ia berjalan ke arah Alle yang menangis dipeluk oleh Mbak Imas.
"Sayang," Alle langsung melepaskan diri dari Mbak Imas dan memeluk Chilla yang menghampirinya.
"Kenapa Mama nangis?" Chilla menatap wajah sembab Alle.
"Mama nggak nangis, Sayang. Mama cuma. ..." Alle tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Air mata justru kembali mengalir di kedua pipinya.
"Chilla baik-baik saja, kok, Ma. Mama jangan sedih lagi," ujar Chilla mengusap air mata mamanya.
"Kemarin Chilla nggak hati-hati, jadi kepleset. Mama juga jangan nyalahin Om bos, dia nggak salah. Semua karena Chilla sendiri yang nggak nurut kata Mama untuk nggak jauh-jauh tapi Chilla malah pergi nggak pamit."
Pengakuan Chilla semakin membuat hati Alle mencelos. Anak kecil itu benar-benar memiliki hati yang bersih. Bahkan ketika ia hampir mejadi korban keteledoran mamanya, Chilla tetap tidak ingin mamanya merasa bersalah. Ia justru mengakui jika semua adalah salahnya sendiri.
Alle berusaha tersenyum dengan apa yang Chilla ucapakan meski air matanya tak mau berhenti mengalir. Malah semakin menderas. Ia mengecup kepala Chilla berkali-kali. Meminta maaf atas kesalahannya kemarin.
"Maafin, Mama, Sayang," lirih Alle. Kembali memeluk Chilla.
"Chilla." Suara dari ambang pintu mengalihkan semua perhatian Alle, Chilla juga Mbak Imas.
Mereka semua menatap Fadil yang berdiri menatap mereka.
"Papa!" seru Chilla dan berlari menghampiri Fadil.
"Kamu baik-baik saja, kan, Sayang," ujar Fadil mengusap kepala Chilla. "Bagaimana, apa ada yang sakit. Kalau ada bilang, Sayang. Nanti Papa bawa ke dokter," sambung Fadil.
Ada yang aneh dari pertanyaan Fadil. Apa Fadil tahu kalau Chilla kemarin hampir tenggelam.
__ADS_1