
"Pak, tunggu," sergah Alle sebelum bosnya itu masuk mobil.
Aksa menoleh. "Kenapa?"
"Bolehkah saya ikut mobil Bapak, paling tidak sampai perempatan di depan sana," ujar Alle.
Perkataan Aksa soal dia sudah punya pilihan membuat Alle penasaran. Ia tertarik sekali untuk tahu siapa pilihan Aksa. Rasanya berita ini akan jadi berita bagus untuk Sekar jika benar Aksa sudah punya pilihan. Setidaknya jika Sekar tahu putranya sudah punya pilihan, wanita itu tidak akan lagi mengusik pekerjaannya.
"Hanya sampai depan, Pak," ulang Alle.
Aksa tak menjawab, pria itu justru berlalu dan masuk ke sisi kemudi. Walau demikian pria itu tetap mengijinkan Alle untuk ikut dengan mobilnya. Buktinya, Aksa membuka pintu untuk sekretarisnya.
Melihat pintu depan dibuka untuknya, Alle tersenyum dan masuk ke sisi penumpang. "Terima kasih, Pak."
Setelah melihat Alle selesai memasang sabuk pengaman Aksa menjalankan mobilnya. Awalnya mereka saling terdiam, hingga Alle membuka percakapan di antara mereka.
"Bapak benar-benar tidak tertarik dengan putri Pak Dirga?" pancing Alle.
Aksa menoleh sekejap tapi tak menanggapi.
"Kalau Bapak mau, saya bisa kirimkan foto putri dari Pak Dirga ke ponsel Bapak. Bapak boleh lihat dulu, siapa tahu saja Bapak berubah pikiran," sambung Alle.
Masih sama. Aksa tak menggubris.
"Namanya Claudia, Pak. Usia dua puluh enam tahun, tinggi badan 173cm, berat badan 55kg. Lulusan terbaik seangkatannya dari National University of Singapore. Saat ini sedang menggeluti bisnis di bidang kuliner bersama rekan satu kampusnya dulu. Sudah memiliki tiga outlet restoran jepang dan tahun ini berencana akan membuka outlet terbarunya di Jakarta."
Masih fokus dengan kemudinya Aksa menyempatkan diri untuk melirik sekretarisnya. "Nampaknya kamu sudah menyelediki tentang anaknya Pak Dirga. Apa ini juga bagian dari rencanamu dengan mama?"
Mendapat tuduhan seperti itu, Alle buru-buru mengelak. "Tidak, tidak ada rencana apa pun di antara saya dengan Ibu Sekar. Ini semua inisiatif saya sendiri untuk mencari tahu tentang putrinya Pak Dirga."
Aksa hanya tersenyum sinis. Tak percaya dengan yang sekretarisnya katakan.
Mereka kembali terdiam. Alle jadi takut untuk mencari informasi tentang wanita pilihan bosnya. Mungkin harus pelan-pelan, tidak bisa gegabah dan membuat semua jadi kacau.
Mobil terus melaju, hingga melewati perempatan yang Alle maksud sebelumnya. Begitu tersadar jika perempatan sudah terlewat, Alle pun membuka suara. "Pak, perempatannya sudah terlewat." Alle menoleh ke belakang memastikan jika benar perempatan yang ia maksud sudah terlewat.
__ADS_1
"Terus kenapa?" jawab Aksa santai.
"Harusnya kan Bapak menurunkan saya di situ tadi, Pak."
"Aku antar kamu sampai rumah. Kurang baik apa coba aku sebagai bos kamu." Aksa membanggakan diri.
"Aduh, Pak, ini bukannya baik tapi malah bikin saya repot."
"Memang kenapa, aku antar kamu sampai rumah kok repot. Harusnya kamu berterima kasih."
Alle menepuk jidatnya sendiri. "Pak saya nggak mau pulang, saya ada urusan yang berlawanan arah dengan rumah saya. Kalau tadi Bapak menurunkan saya di perempatan, dari sana saya bisa naik taksi atau ojek ke rumah Mas Fadil."
Mendengar nama Fadil di sebut Aksa langsung meminggirkan mobilnya untuk berhenti.
"Lho kenapa berhenti di sini, Pak?" Alle semakin bingung.
"Siapa Fadil?"
Alle merasa aneh dengan ekspresi wajah Aksa yang menanyakan tentang nama mantan suaminya tapi ia jawab juga pertanyaan itu. "Mas Fadil itu mantan suami saya, Pak."
"Apa?" Aksa terlihat sangat kaget. "Untuk apa kamu ke rumah mantan suami kamu. Kamu mau rujuk?"
"Jadi kalau mantan suami kamu bercerai dengan istrinya yang sekarang kamu mau balikan sama dia?" Aksa terlihat tegas menanyakan ini.
"Tentu saja tidak, Pak."
"Terus, untuk apa kamu ke rumah mantan suami kamu?"
"Chilla ada di sana, Pak. Saya cuma ingin melihat saja."
"Chilla?"
"Iya, Pak. Tadi pagi Mas Fadil membawa Chilla ke rumahnya. Untuk menginap satu malam di sana. Tapi, baru juga setengah hari, saya sudah ingin melihat Chilla."
"Oh ...." Aksa paham sekarang. "Baiklah, aku antar kamu ke rumah mantan suami kamu itu. Di mana alamatnya?"
__ADS_1
Alle mengambil selembar kartu nama yang ia simpan di dalam tasnya. Ia membacakan alamat rumah Fadil yang tertera pada kartu tersebut.
Hanya butuh waktu sebentar bagi Aksa untuk menentukan ke arah mana jalan yang harus ia ambil menuju rumah mantan suami sekretarisnya itu. Ia pun kembali menjalankan mobilnya.
Sampai di depan sebuah rumah yang terlihat megah dari luar tersebut, Aksa mematikan mesin mobilnya.
"Kamu, mau masuk?"
Alle menggeleng. "Enggak, Pak. Saya cukup melihat dari sini saja."
Aksa membuka jedela mobilnya. Melihat ke arah bangunan bercat hijau dengan gerbang berwarna hitam. "Memangnya kelihatan kalau lihat dari sini?"
Aksa sendiri tidak yakin bisa melihat Chilla dari posisinya sekarang.
"Tidak apa, Pak. Saya cukup tahu di mana Masa Fadil tinggal selama ini hingga ia melupakan kewajibannya sebagai seorang ayah." Terdengar nada yang serius dari ucapan sekretarisnya.
"Kalau boleh tahu, kenapa dulu kalian bercerai?" Selama ini Aksa tidak tahu dan tidak mau tahu urusan pribadi sekretarisnya. Ia pun belum pernah menanyakan alasan kenapa wanita itu berpisah dari mantan suaminya.
"Dari pernyataan Mas Fadi di pengadilan dulu, dia menceraikan saya karena kami sudah berbeda cara pandang tentang rumah tangga hingga menimbulkan pertengkaran setiap harinya. Dan hal itu tidak akan baik untuk anak kami yang masih kecil. Sebab itulah Mas Fadil memilih menceraikan saya," jawab Alle seraya mengingat bagaimana dulu sidang perceraiannya berlangsung. Kala itu Alle ingin membantah semua alasan Fadil menceraikan dirinya, tapi karena melihat Fadil selalu datang bersama wanita yang kini menjadi istri dari pria itu, Alle terima saja apa pun alasan Fadil.
Yang membuatnya setuju untuk segera bercerai adalah Fadil tidak menuntut hak asuh anak. Hal itu membuat Alle ingin segera memutuskan hubungannya dengan Fadil dan hidup berdua dengan Chilla.
"Lalu, untuk apa sekarang mantan suami kamu muncul dan mengajukan hak asuh atas Chilla. Apa ada sesuatu yang terjadi dalam pernikahannya saat ini?" tanya Aksa.
Alle tak bisa lagi menghindar sebab bosnya ini sudah membaca surat gugatan peralihan hak asuh anak. "Istri Mas Fadil yang sekarang tidak bisa memberikan keturunan, sebab itu Mas Fadil inginkan hak asuh atas Chilla."
Aksa mengerti sekarang. "Apa kamu sudah punya pengacara?"
Alle menggeleng.
"Aku akan bantu kamu," ujar Aksa.
Bukannya bahagia mendengar bantuan yang Aksa tawarkan Alle justru bingung.
"Kenapa?" tanya Aksa yang menangkap kebingungan Alle.
__ADS_1
"Imbalan apa yang Bapak minta untuk membantu saya?" todong Alle seketika.
Aksa justru tersenyum tipis. Sekretarisnya ini memang sangat mengenal dirinya.