
Dalam bimbang yang melanda, Fadil harus mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Pada akhirnya ia memilih untuk tidak lagi menuntut hak asuh anak atas Chilla.
Semua ia lakukan demi Mira. Jujur sangat berat memilih antara istri dan anak. Namun, Mau bagaimana lagi. Ia tidak bisa kehilangan Mira begitu saja. Bayangan hidup susah tak mengijinkan ia melepas Mira.
Biarlah Chilla tetap bersama ibu kandungnya. Toh selama ini juga demikian. Mungkin nanti sesekali ia bisa menjenguk anaknya itu tanpa sepengetahuan Mira.
Fadil segera menghubungi pengacara agar membuat laporan pencabutan tuntutan hak asuh anak. Ia sudah pasrah dan mengikuti semua keinginan Mira.
"Terima kasih, Mas," ujar Mira memeluk Fadil selepas suaminya itu menelepon pengacara.
Fadil menarik sudut bibirnya ke atas. Sebuah senyum yang ia paksakan demi kebahagiaan Mira.
"Sayang, malam ini biarkan aku mengantar Chilla pulang, ya. Aku juga akan bilang pada Alle kalau aku akan menghentikan tuntutan hak asuh Chilla. Aku tidak akan mengusik mereka lagi."
"Aku temani Mas."
Fadil mengangguk pasrah. Mereka kembali berpelukan. Setelah ini Mira berharap tidak ada lagi yang akan mengusik rumah tangganya perihal anak.
Sebelum mengantar Chilla, dengan berat hati Fadil harus menceritakan semua keputusan yang diambil bersama Mira. Baik Sofyan maupun Marini membeliak tak percaya mendengar penuturan putra tunggalnya itu.
"Kamu sudah pikirkan baik-baik, Fadil? Bagaimanapun hanya Chilla pewarismu. Dia penerus garis keturunanmu, dia darah dagingmu," ujar Marini setengah emosi. Ia ingin anaknya itu membuka mata pada kenyataan jika ia tidak mungkin bisa punya anak lagi kalau masih beristrikan Mira. Hanya Chilla satu-satunya biologis Fadil.
"Kalau anak adopsi, ke mana kita akan mencari anak itu? Panti asuhan?" Marini benar-benar tak habis pikir dengan keputusan Fadil.
__ADS_1
"Kalau dari panti asuhan, apa kamu yakin kalau anak itu berasal dari bibit yang baik? Kita tidak tahu dari mana mereka berasal. Bahkan sering kali anak yang dibuang itu adalah anak hasil Zina. Kamu mau membesarkan anak yang lahir dari hubungan dosa. Bagaimana nanti sifatnya? Ibu khawatir jika anak hasil Zina itu akan menuruni sifat buruk orang tuanya," tutur Marini panjang lebar. Berharap Fadil mengubah keputusan.
"Apa kamu siap dengan semua itu?"
Kekhawatiran Marini begitu besar akan bibit dari anak adopsi. Jujur ia masih berharap pada Chilla yang merupakan cucu kandungnya, yang sudah jelas bibitnya. Pun kehadiran Chilla adalah hasil dari hubungan saklar pernikahan.
"Bu, Fadil tidak mau lagi membahas apa pun tentang Chilla. Keputusan Fadil dan Mira sudah bulat. Fadil akan mengembalikan Chilla pada Alle dan tidak akan lagi mengusik kehidupan mereka. Kalau ibu nanti kangen ibuk dan Bapak bisa menjenguk Chila di rumahnya."
"Apa, Mas, menjenguk?" Mira menyela ucapan Fadil dengan cepat.
Mencuri perhatian semua yang ada di ruang tengah milik Mira.
"Setelah hari ini aku ingin pindah. Aku tidak mau lagi melihat atau mendengar ada hubungan lagi dengan Chilla atau mantan istrimu itu. Aku ingin hidup baru dengan kamu. Kalau orang tua kamu tidak mau ikut dengan kita, aku tidak akan memaksa."
Marini dan Sofyan semakin tidak percaya. Mira benar-benar ingin memisahkannya dengan Chilla.
Fadil memotong ucapan Marini dengan cepat. "Sudah, Buk, Fadil mau berangkat. Fadil harap tidak ada lagi pembahasan soal Chilla."
Semua harus Fadil lakukan. Agar Mira tidak lagi semakin meradang. Perangai Mira yang emosional bisa menyulitkan Fadil dan keluarganya jika ia tidak segera menyudahi dan mengalah.
"Fadil, kamu tidak bisa begitu. Jangan nurut saja sama istrimu. Kamu itu laki-laki. Pemimpin kelu____"
"Sudah, Buk ... sudah, Fadil sudah memutuskan dan Ibu harus terima keputusan Fadil."
__ADS_1
Marini masih ingin mendebat, tapi urung karena Fadil lebih dulu memanggil Chilla yang sejak tadi menunggu di kamar neneknya.
"Ayo Chilla, pamit sama Nenek juga Kakek. Papa akan antar kamu pulang."
Anak kecil itu menurut dan patuh. Ia segera menghampiri Marini dan Sofyan. Mencium tangan kedua kakek dan neneknya. Mengucapkan salam perpisahan.
"Chilla pamit dulu, ya, Nek."
Mata Fadil memanas melihat pemandangan itu. Air mata seolah berdesakan ingin keluar. Namun, ia tak ingin terlihat oleh Mira.
Dipendamnya sesak dalam dada sendirian. Fadil, kini menerima semua karma yang dulu ia lakukan.
Fadil bisa merasakan kepedihan kedua orang tuanya, tapi tak mampu berbuat apa pun karena dirinya sendiri tidak berdaya.
"Chilla pulang dulu, ya Kek, Nek." Berulang kali Marini menciumi pipi Chilla. Ia tidak tahu kapan lagi akan bertemu cucu kandungnya itu.
Ada sesal yang menyeruak di dada ketika melihat Chilla melangkah keluar. Demi harta dan status sosial, dulu Marini mendukung hubungan Fadil dengan Mira bahkan setuju ketika Fadil meninggalkan Alleyah begitu saja.
Menantu yang dulu ia idam-idamkan ternyata tidak ada dalam diri Mira. Anak orang kaya itu tidak pernah benar-benar hormat padanya. Sering kali Mira berani membantah ucapannya.
"Alleyah, maafkan Ibu. Tuhan sudah menunjukkan semuanya. Mira tidak sebaik kamu rupanya," batin Marini berucap diiringi tangis yang keluar.
"Sudah, Bu, ini sudah takdir kita. Dulu kita tidak menasehati anak kita ketika ia berbuat salah. Kita justru mendukung semua kesalahan itu dan ikut menikmati apa yang Fadil usahakan dari menyakiti istrinya. Sekarang kita terima saja apa yang dulu kita tanam. Kita harus banyak-banyak memohon ampun agar di akhir hayat hidup kita nanti tidak semakin menderita," ujar Sofyan merangkul Marini.
__ADS_1
"Pak, nanti kalau kita benar akan pindah dari sini kita harus minta maaf dulu pada Alleyah. Dulu kita telah menyakitinya."
Sofyan mengangguk setuju.