Pesona Sekretaris

Pesona Sekretaris
Bab.21 Rencana


__ADS_3

Sejak kejadian dulu yang diceritakan Mbak Imas tentang kepulangannya dalam kondisi tak sadar, juga kedatangan Fadil yang dirasa untuk mencari perhatian dari Chilla. Alle semakin rajin bekerja.


Ia sudah mulai ambil ancang-ancang jika mantan suaminya benar-benar menggugat hak asuh Chilla. Ia sudah harus siap dengan semua, termasuk kondisi finansial. Sebab membayar pengacara tidaklah murah.


Mbak Imas juga memberikan dukungan penuh pada Alle agar Alle mempertahankan Chilla. "Pokoknya aku akan dukung kamu, All. Kalau harus jadi saksi nanti di pengadilan aku juga siap. Aku nggak rela kalau Fadil si pengkhianat itu mau ambil Chilla dengan seenak jidatnya," ujar Mbak Imas waktu itu.


Demi itu semua, Alle abaikan semua gosip tentang dirinya. Juga sindiran-sindiran dari rekan sekantor yang menyebutnya 'janda gatel'. Ia terus berjalan dalam koridornya sebagai seorang sekretaris dan ibu dari seorang anak.


Membiarkan mereka yang ingin mengumbar gosip tentang dirinya lelah dengan sendirinya. Ia tak peduli dan tak ingin ambil pusing.


Bahkan, ketika ada beberapa teman pria yang terang-terangan menggoda serta mengajak berkencan, Alle tolak dengan halus tapi tegas. Ia tidak mau memberi celah bagi pria yang ia lihat hanya punya niat bermain-main dengannya.


Seperti beberapa hari yang lalu, ketika Fery —seorang manajer pemasaran yang terkenal genit—menyatakan perasaannya dan mengajak Alle berkencan untuk lebih saling mengenal.


Dengan tegas Alle menolak.


Belum lagi dengan pria-pria di kantornya yang mengirim pesan tak senonoh. Seolah ingin menguji Alle. Tak sama sekali Alle hiraukan.


Alle seolah kebal dengan pria-pria di kantornya. Termasuk Aksa.


Ia sangat tahu batasan untuk tidak membuat gosip semakin panas. Perlahan Alle berusaha menjaga jarak meski sulit dilakukan. Sebab Aksa menunjukkan hal yang berbeda. Pria itu justru semakin menunjukkan keanehan-keanehan sikap pada Alle. Perhatian yang dulu tak pernah Alle dapat kini Aksa menunjukkannya.


Dari hal remeh seperti menanyakan makan atau kadang menelepon untuk bertanya kabar tentang Chilla. Juga, seperti beberapa waktu lalu. Ketika mereka melihat hasil pembangunan sebuah tower apartemen. Aksa diam-diam selalu memperhatikan Alle. Pria itu mencuri-curi pandang ketika Alle berbicara pada rekan bisnis mereka.


Bukannya Alle tidak sadar, Alle tahu tapi berpura-pura tidak tahu. Sebisa mungkin ia menghindari kedekatan dengan atasannya.


Jujur saja, perintah Sekar untuk ia keluar dari perusahaan selalu terngiang di ingatannya. Atas dasar itu juga, ia ingin membuktikan jika dirinya dan atasannya tidak ada hubungan apa pun.


Itulah kenapa saat ini Alle bertemu kembali dengan ibu dari atasannya ini. Pertemuan ketiga ini berlangsung di rumah pribadi Sekar. Tidak seperti pertemuan pertama yang berada di ruang tamu, kali ini Sekar mengajak Alle untuk bicara secara santai di taman belakang rumahnya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan. Kenapa sampai sekarang kamu belum juga keluar dari kantor Aksa?" tanya Sekar sembari menata bunga-bunga yang baru ia petik ke dalam vas.


"Maafkan saya, Bu, saya tidak bisa keluar dari pekerjaan saya," jawab Alle tetap sama.


"Iya, tapi apa alasan kamu?" Sekar menatap Alle dengan sorot tajamnya meski hanya beberapa detik sebab fokusnya kembali pada bunga-bunga di depannya.


"Saya sangat membutuhkan pekerjaan saya ini untuk bisa bertahan hidup." Biarlah Alle dianggap berlebih-lebihan. Sebab benar adanya, jika ia tak bekerja bagaimana ia akan memenuhi kebutuhan dirinya dan Chilla. Itu artinya bertahan hidup bukan?


"Apa kamu sedang menunggu aku memberikanmu uang agar meninggalkan Aksa seperti drama-drama sinetron itu? jangan berharap itu akan terjadi. Aku tidak akan memberikanmu uang sepeser pun untuk pergi dari hidup Aksa. Karena aku punya cara lain yang tidak akan pernah kamu duga." Sekar tersenyum menyeringai.


"Apa tidak ada cara lain supaya saya bisa tetap bekerja. Ibu tahu kalau saya seorang janda, hanya saya yang menjadi penopang perekonomian bagi anak saya. Masak Ibu tega membiarkan saya dan anak saya kelaparan?" Alle membela diri.


"Aku juga seorang Ibu, yang tidak suka anaknya dekat dengan wanita yang tidak sederajat." Ucapan Sekar begitu lugas. Ia bahkan tak memikirkan perasaan lawan bicaranya ketika membicarakan kasta.


"Saya sadar diri jika saya tidak pantas untuk Pak Aksa, sebab itulah saya tidak pernah punya niatan menggodanya. Saya hanya ingin bekerja, Bu, tidak lebih. Atau ibu mau memberikan saya pekerjaan baru jika saya berhenti menjadi sekretaris Pak Aksa."


"Kamu!" Sekar mulai memegangi kepalanya kembali. Sungguh sekretaris anaknya ini pandai sekali bicara hingga menyudutkannya. Tidak mungkin ia memberikan Alle pekerjaan baru.


"Diam, kamu!" sentak Sekar.


Butuh beberapa menit untuk wanita yang sudah berumur itu menenangkan diri dan kembali seperti sebelumnya. Alle yang tak ingin menambah sakit kepala Sekar hanya melihat wanita itu merangkai bunganya ke dalam vas.


"Bagaimana jika saya membantu Pak Aksa lebih dekat dengan Mbak Laura, apakah Ibu masih ingin saya berhenti bekerja?" ujar Alle spontan.


Sekar menghentikan aktifitasnya sejenak. Menatap Alle yang ada di depannya.


"Kalau bicara yang jelas," ujar Sekar sinis. Padahal wanita itu sangat senang dengan gagasan Alle.


"Saya akan mengatur rencana kencan untuk Pak Aksa dan Mbak Laura, agar hubungan mereka menjadi lebih dekat. Kalau perlu kita jadwalkan rutin pertemuan mereka sebelum Mbak Laura kembali ke Amerika. Bagaimana menurut Ibu?"

__ADS_1


Sekar mengehentikan gerakan menata bunga. Tatapannya tertuju pada Alle. "Bagaimana jika Aksa menolak?"


"Pak Aksa tidak akan menolak, semua biar saya yang atur." Alle berusaha meyakinkan.


Sekar sedikit yakin akan apa yang Alle katakan. Sebab wanita ini yang bertanggung jawab mengatur jadwal putranya. Entah bagaimana caranya tapi Sekar menyetujui ide Alle.


"Jadi kalau saya berhasil membuat Pak Aksa dan Mbak Laura bersatu saya tidak harus keluar dari kantor kan, Bu?"


"Semua tergantung usahamu. Kalau kamu gagal, kamu harus segera keluar. Aku tidak mau lagi lihat mukamu!"


Alle mengulas senyum. "Itu tidak akan terjadi, saya akan berusaha sekuat yang saya bisa. Lagi pula sekarang ini Pak Aksa tidak sedang dekat dengan siapa pun sejak putus dari Mbak Bianca."


"Aksa sudah putus dari model murahan itu?" Sekar nampak antusias.


Alle mengangguk tegas.


Baguslah kalau begitu. Aksa sedang sendiri, akan mudah bagi Laura masuk dalam hati putranya. Semoga impiannya untuk segera menikahkan Aksa segera terwujud.


"Bu ... Ibuk," panggil Alle karena melihat Sekar senyum-senyum sendiri.


"Apa!" jawab Sekar ketus. Ia hanya tak ingin wibawanya jatuh karena ketahuan senyum-senyum sendiri.


"Tidak, hanya ingin memberitahu rencana saya."


"Katakan!"


Alle mengatakan rencana yang ia susun mendadak. Bagaimana ia akan menjebak Aksa agar mau mengikuti apa yang menjadi keinginan ibunya.


Sekar sendiri sampai manggut-manggut mendengar rencana yang dituturkan oleh Alle. Ia seakan yakin jika rencana ini akan berhasil.

__ADS_1


"Bagaimana, rencana yang bagus kan, Bu?" Alle sedikit membanggakan diri.


__ADS_2