Pesona Sekretaris

Pesona Sekretaris
Bab.29 Jauh Dari Chilla


__ADS_3

Alle tak punya pilihan lain selain mengijinkan Fadil membawa Chilla untuk menginap di rumah mantan suaminya itu. Meski ada rasa ketakutan jika nantinya Fadil mengambil kesempatan ini dan tak lagi mengembalikan Chilla padanya, tapi Alle lebih takut jika penolakannya akan Fadil jadikan senjata di pengadilan untuk memperoleh hak asuh sepenuhnya atas Chilla.


Sebab itulah, memberi ijin adalah pilihan bijaknya untuk saat ini. Ia juga meminta Fadil menepati janji untuk membawa Chilla pulang di hari minggu sore.


"Hati-hati ya, Sayang," ujar Alle melepas kepergian Chilla bersama mantan suaminya.


"Ok, Mama." Chilla menautkan jarinya membentuk tanda ok.


"Baik-baik ya di sana, jangan ngerepotin Papa juga Kakek dan Nenek."


"Siap, Ma," jawab Chilla dengan gayanya yang sok tegas menanggapi pesan mamanya.


"Bye ... bye ... Ma, sampai jumpa besok." Chilla melambaikan tangannya dari kaca jendela yang terbuka. Perlahan mobil Fadil pun melaju meninggalkan perumahan Griya Asri.


Alle menatap mobil Fadil yang mulai menjauh dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sudah, nggak usah nangis. Chilla akan baik-baik saja." Mbak Imas merangkul Alle dan mengusap lengan wanita itu untuk menenangkan.


"Aku takut, Mbak. Aku takut jauh dari Chilla."


Sebelumnya, Alle pernah meninggalkan Chilla untuk tugas luar kota selama beberapa hari, tapi perasaannya tak setakut sekarang ini. Mungkin karena dulu ia merasa Chilla adalah miliknya seorang, jadi ia tidak takut meninggalkan Chilla di rumah hanya dengan pengasuhnya. Sementara saat ini putrinya itu pergi bersama Fadil, yang saat ini sedang menggugat hak asuh atas Chilla. Alle sangat takut jika Fadil tak mau mengembalikan Chilla padanya.


"Jangan berpikir berlebihan, mending sekarang kamu siap-siap kerja. Nanti bos ganteng kamu marah, lho," goda Mbak Imas.


Bos ganteng. Marah. Aksa memang tengah marah dengannya saat ini. Sejak hari di mana Alle bersikap kasar pada pria itu dan menganggap ungkapan perasaannya sebagai perkataan sembarangan, Aksa bersikap sangat berbeda dari sebelumnya. Seakan menjaga jarak dari dirinya.


"Sudah, sana berangkat." Mbak Imas mendorong tubuh Alle.


Alle pun mengambil tas kerja yang sudah ia siapkan di sofa ruang tamu lalu mengambil ponsel untuk memesan taksi online. Hanya butuh beberapa menit untuk Alle menunggu kedatangan taksi yang ia pesan.

__ADS_1


"Aku berangkat ya, Mbak," pamit Alle ketika taksi pesanannya sudah datang.


"All, mumpung Chilla sama papanya manfaatkan kesempatan ini untuk berkencan."


Alle mengernyit. "Ngomong apa sih, Mbak. Aku nggak punya pacar, mau kencan sama siapa?"


"Sama bos ganteng kamu lah," seloroh Mbak Imas.


"Mimpi kali, Mbak." Alle dan Mbak Imas sama-sama tertawa. "Dah, ah ... aku berangkat dulu."


"Saat Alle masuk ke dalam mobil, supir langsung menyebutkan ke mana tujuan Alle. Mobil pun melaju, ke lokasi yang Alle inginkan.


Hari ini ia tidak pergi ke kantor melainkan langsung ke lokasi proyek pembangunan perumahan bersubsidi yang dulu pernah ia tinjau bersama dengan Aksa dan Pak Dirga selaku mitra pengembang dalam proyek ini. Jika dulu Aksa mengajaknya berangkat bersama, tidak dengan kali ini. Aksa yang meminta Alle agar datang ke lokasi ini dan mereka akan bertemu di sana.


Rupanya Alle datang terlebih dahulu dari pada Aksa maupun Pak Dirga. Kesempatan ini Alle gunakan untuk meninjau lokasi terlebih dahulu, jika nanti ada pertanyaan dari bosnya ataupun Pak Dirga ia sudah siap dengan jawabannya.


Ia Kembali melanjutkan melihat-lihat sisi lain bangunan tatkala ponselnya berdering. Aksa rupanya.


"Iya, Pak," sapa Alle.


"Baik, Pak, saya akan segera ke sana." Alle mengakhiri panggilan teleponnya dan pergi menjemput Aksa juga Pak Dirga yang ternyata sudah sampai dan menunggu di depan lokasi proyek.


Mereka pun melanjutkan tur yang dipimpin oleh Alle juga mandor proyek tersebut. Banyak hal yang mereka bicarakan tentang kemajuan proyek baru mereka ini.


"Jika proyek ini berhasil, aku akan membangun proyek semacam ini di daerah asalku sana," ujar Pak Dirga. "Pasti di sana prospeknya akan sangat bagus karena daerah asalku merupakan kawasan industri yang mana banyak karyawan yang membutuhkan tempat tinggal semacam ini," sambung Pak Dirga.


"Tentu saja, Pak. Saya yakin proyek ini akan berkembang dengan baik, jadi Pak Dirga harus siapkan dana mulai dari sekarang karena tidak sampai tiga tahun kita akan menandatangi projek yang baru."


Aksa dan Pak Dirga sama-sama tertawa. Meski ucapan mereka terdengar seperti gurauan tapi tersimpan harapan di dalamnya.

__ADS_1


Usai dari lokasi proyek, mereka lanjut untuk makan siang di sebuah rumah makan yang tak jauh dari lokasi. Tentu semua sudah Alle atur.


Senyum ramah Pak Dirga membuat Alle merasa lega.


Aksa juga Alle mengantar pengusaha yang usianya sudah setara dengan orang tua Aksa itu sampai ke mobilnya. Pak Dirga tak henti-hentinya memuji Aksa dengan segala prestasi pria itu.


"Dewa pasti sangat beruntung memiliki putra sepertimu, hingga di usianya sekarang ia sudah bisa pensiun. Sementara aku masih harus bekerja keras karena belum menemukan pengganti yang cocok untuk menggantikanku."


Aksa menanggapinya dengan senyum.


"Baiklah, aku pulang dulu. Aku serahkan semua padamu." Pak Dirga menepuk pundak Aksa sebagai tanda ia bangga.


"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak," ujar Aksa sebelum Pak Dirga masuk ke mobil.


"Pak Dirga hanya memiliki satu putri yang saat ini menetap di Singapura," ujar Alle ketika mobil Pak Dirga sudah pergi. "Saya dengar putri semata wayang Pak Dirga sangatlah cantik, tapi sayangnya dia belum berminat menggantikan posisi papanya untuk mengurus semua bisnis Pak Dirga di sini. Sebab itulah Pak Dirga sedang mencari menantu yang cakap untuk bisa menggantikan posisinya," sambung Alle.


Aksa yang berdiri di sampingnya hanya menoleh pada sekretarisnya itu. Ia menatap sinis pada Alle yang baru saja memberikannya informasi. "Aku tidak bertanya."


"Saya hanya memberikan informasi, mungkin Bapak berpeluang untuk menjadi kandidat menantu yang Pak Dirga inginkan. Saya lihat beliau sangat menyukai Anda dan juga cara kerja Anda," jawab Alle dengan senyumnya.


Hal itu justru semakin membuat Aksa kesal. "Aku tidak butuh bantuanmu untuk mencari jodoh. Lagi pula, aku sudah menentukan pilihanku sendiri jadi tidak usah repot-repot membantuku!" Aksa mengambil kaca mata hitam dari dalam saku jasnya kemudian mengenakannya di depan Alle.


"Pulanglah, tugasmu sudah selesai!"


Alle tak percaya ini. Aksa masih saja marah padanya. Bahkan setelah ia berbaik hati memberitahu tentang putri dari seorang Dirgantara. Pria itu tidak tertarik sama sekali dan mengatakan jika sudah punya pilihan sendiri.


Siapa?


Bagaimana mungkin Alle tidak tahu siapa wanita yang sedang dekat dengan bosnya ini.

__ADS_1


__ADS_2