Pesona Sekretaris

Pesona Sekretaris
Bab.43 Tak Bisa Menolak Lagi


__ADS_3

"Bapak yakin dengan keputusan Bapak?" Alle menatap serius pada Aksa. Setelah tadi Sekar memberikan restunya untuk sang anak menjalin hubungan dengan janda seperti dirinya. Ia harus memastikan kembali jika pria itu tak berubah pikiran.


Di sini, di sebuah cafe berkonsep out door Alle menunggu jawaban dari pria di hadapannya. Ia sudah menyiapkan hatinya untuk menerima apa pun jawaban bosnya. Sedari awal ia tak pernah melambungkan angan untuk bisa bersanding dengan pria seperti Aksa.


Alleyah sadar betul akan dirinya juga statusnya.


"Apa pertanyaan itu masih harus aku jawab setelah Mamaku sudah mengatakan akan datang melamarmu?"


"Tentu saja. Saya harus mendapat kepastian dari pria yang berniat serius pada saya. Saya harus tahu apa motif dia memilih saya, karena saya bukan lagi remaja yang akan bahagia hanya karena ucapan cinta. Pernah gagal, membuat saya harus lebih berhati-hati."


"Kehati-hatianmu sampai menutup hati dan matamu."


Ucapan Aksa sangat menohok. Namun benar adanya. Pengkhianatan Fadil membuat Alle tak berniat menjalin hubungan baru dengan lawan jenis. Ia cenderung menutup hati dan matanya bagi pria yang akan mendekatinya.


"Tentu, karena saya tidak ingin jatuh ke lubang yang sama. Kalau hanya bermodal cinta, itu tidak cukup bagi saya."


Aksa tertawa di ujung kalimat Alle.


"Apa ada yang lucu?"


Aksa menggeleng pelan.


"Mungkin Anda menganggap ini lucu karena tidak pernah berada pada posisi saya. Tapi saya mengalaminya, bahkan menjadi korban dari cinta itu sendiri. Pernikahan pertama saya juga terjadi berdasarkan cinta. Namun nyatanya, cinta tak menjamin kelanggengan rumah tangga saya." Alle menarik napas dalam. Mengisi rongga paru-parunya degan oksigen. Berusaha menguatkan hati untuk kembali mengingat perih yang telah terkubur lama.


"Cinta yang saya miliki pada suami saya dulu tak mampu menghentikannya berpaling dari wanita lain. Apa yang saya yakini kuat ternyata begitu rapuh. Dulu saya pikir cinta akan membuat suami saya bertahan meski apa pun keadaan kami. Tapi saya salah, kesulitan ekonomi dan juga penampilan saya yang tak lagi menarik membuat Mas Fadil memilih untuk pergi," sambung Alle.


"Banyak aspek yang akan kita hadapi dalam rumah tangga, karena di dalamnya tidak melulu soal cinta. Kalau motif Anda memperistri saya hanya karena penasaran atau mungkin menganggap saya sebuah tantangan yang bisa Anda taklukkan, pernikahan itu tak akan bertahan lama. Rasa puas akan menaklukkan sesuatu sering kali menimbulkan kebosanan." Alle menatap tegas mata pria itu. Ingin melihat apakah responnya.

__ADS_1


"Baiklah, kalau kamu sangat ingin tahu alasanku menikahimu ...." Aksa menjeda ucapannya. Ia balik menatap serius wanita yang sangat menanti-nantikan jawaban darinya itu.


"Alasanku ingin menikah denganmu tak luput dari cinta. Yah ... aku jatuh cinta padamu tanpa tahu apa alasannya. Namun ada hal yang membuatku ingin menjaga dan melindungimu juga Chilla. Sebuah dorongan rasa yang aku sendiri tak bisa mendeskripsikannya. Jadi jangan tanya lagi apa alasanku."


Alle membeliak. Jawaban dari Aksa di luar prasangkanya.


"Bagaimana jika saya tidak mencintai Bapak?"


"Tidak masalah," jawab Aksa santai. "Untuk saat ini cukup aku yang mencintaimu. Biar aku tunjukkan bagaimana aku akan menumbuhkan rasa dalam hatimu. Dan jika saat itu tiba, kamu tidak boleh mengikarinya."


Alle tak mampu lagi berkelit. Kata-kata Aksa membuatnya bungkam. Sorot matanya menatap tak berdaya pada atasannya. Pria yang mengaku jatuh cinta padanya ini membuatnya tak bisa menolak lagi.


*****


Di tempat lain, di rumah Fadil tepatnya. Chilla merasa tenang tanpa adanya Mira. Sejak datang tadi ia hanya bermain dengan kakek dan neneknya saja. Hingga menjelang malam, baik ibu tiri maupun papanya belum juga pulang.


"Memangnya papa kerja apa sih, Kek?" tanya Chilla karena sebelumnya sang kakek bercerita tentang masa kecil hingga papa Chilla bisa sukses seperti sekarang.


"Chilla pernah kok ke mall sama mama kalau mama libur," jawab anak kecil itu polos.


"Kalau tinggal sama papa Fadil Chilla bisa ke mall setiap hari. Nanti Nenek dan Kakek yang antar pakai mobil. Terus nanti Chilla juga bakal dibuatkan kamar yang gede dan banyak bonekanya," bujuk Marini.


Anak kecil nan polos itu terlihat mencerna ucapan neneknya. Tawarannya begitu menggiurkan, tapi jika mengingat tentang Mira, semua keinginan Chilla langsung sirna. Tak ingin ia tinggal bersama wanita galak itu.


"Bagaimana Chilla," desak Marini.


"Bu, sudah ... Chilla masih kanak-kanak, jangan berikan pilihan yang sulit untuknya." sela Sofyan melihat kebingungan cucunya.

__ADS_1


"Sudah, Chilla main saja. Tidak usah didengarkan omongan Nenek. Chilla boleh tinggal dengan mama atau papa fadil secara bergantian. Semua orang tua Chilla."


Marini yang berada tepat di depan Sofyan langsung mendelik tajam. Tidak suka dengan sikap suaminya yang tak mendukungnya. Padahal ia sedang berusaha untuk Fadil agar mendapatkan hak asuh Chilla, jika anak kecil itu bisa dirayu.


Menuruti kata kakeknya, Chilla memilih keluar untuk bermain. Di dalam kamar kakeknya cukup lama membuatnya bosan.


Baru saja keluar, Chilla mendapati ada kucing berbulu lebat nan cantik berwarna putih. Tanpa pikir lagi, anak itu menghampiri. Niat mengajak bermain, tapi si kucing justru kaget dan lari.


Tidak ingin kehilangan jejak kucing itu, Chilla berlari mengejarnya. Dengan panggilan manis dan membujuk Chilla memanggil-manggil kucing cantik itu.


"Pussss, ayo sini," panggil Chilla sembari menunduk melihat kucing yang bersembunyi di bawah bufet. Tangannya terulur, mencoba meraih kucing berbulu putih yang sangat ingin ia gendong.


Rupanya kucing itu justru kembali takut ketika tangan kecil Chilla hendak meraihnya. Alhasil si kucing kembali berlari, dan disusul Chilla yang kadung ingin memegang kucing itu.


Tidak berhati-hati ketika lari membuat Chilla tanpa sengaja menyenggol sebuah guci yang berdiri di sudut ruangan. Bunyi nyaring karena pecahnya benda antik itu membuat mata Chilla membelalak lebar.


Bersamaan dengan itu, Mira baru saja tiba. Betapa terkejutnya ia mendengar bunyi benda pecah. Lebih terkejut lagi ketika mendatangi sumber suara. Guci antik koleksinya sudah hancur berserakan.


Seketika emosinya memuncak, melihat ada anak tirinya berdiri dekat dengan puing-puing yang berhamburan. Matanya melotot tajam hampir keluar, menatap Chilla yang langsung ketakutan.


Tidak ada basa-basi lagi. Tanpa bertanya kenapa barang kesukaannya bisa sampai hancur tak berbentuk, Mira mendatangi anak tirinya.


"Ini pasti ulah kamu, kan!" tuduhnya begitu saja. "Dasar anak nakal!" Tangannya tidak tahan untuk tidak menjewer telinga anak kecil itu.


"Ampun, Tante, sakit," pekik Chilla.


Bukannya berhenti, Mira justru semakin ganas melihat tangis kesakitan Chilla. Ia semakin menggila dengan amarah yang menguasai hatinya. Tak lagi sekadar menjewer, Mira pun mencubit lengan juga paha Chilla sebagai pengajaran agar anak itu tak kembali berulah.

__ADS_1


Teriakan kesakitan dan minta ampun tak menggoyahkan hatinya sedikit pun. Tangannya terus terulur demi menambah rasa sakit dari sang anak tiri.


"Mira!"


__ADS_2