
Tak ada kegembiraan sama sekali di wajah Chilla ketika anak itu sampai di rumah besar papanya. Sangat kontras dengan kedatangan pertamanya dulu.
"Ayo, Sayang, kita masuk. Kakek sama Nenek pasti sudah nggak sabar ketemu Chilla," ujar Fadil yang membuka pintu belakang mobil.
Chilla menatap rumah besar itu dengan rasa takut yang terpendam. Pun ketika pandangannya bertemu dengan ibu tirinya, sontak anak itu menunduk. Chilla terlihat pasrah ketika Fadil menuntunnya untuk keluar dari mobil dan membawa putri semata wayangnya itu untuk bertemu orang tuanya.
"Chilla, cucu Kakek," seru Sofyan bersemangat ketika melihat Chilla masuk ke kamarnya. Pria yang terbaring lemah itu berusaha untuk duduk demi menyambut sang cucu.
"Assalamualaikum," sapa Chilla mendekati kakek dan neneknya. Anak itu mencium tangan Sofyan dan Marini secara bergantian.
"Sini, Nak, duduk dekat Kakek." Sofyan menepuk sisi ranjangnya yang kosong.
Sebelum menuruti apa yang Sofyan katakan, Chilla menatap papanya.
"Ayo, kakek kangen Chilla," ujar Fadil. Menuntun Chilla untuk naik ke atas ranjang.
"Chilla baru pulang sekolah, ya?" tanya Marini dan ditanggapi Chilla dengan anggukan.
Melihat orang tuanya yang begitu antusias pada Chilla, Fadil memilih untuk meninggalkan anaknya itu di kamar orang tuanya. "Chilla di sini sama kakek dan nenek dulu, ya. Papa mau minta bibi buat siapin makan Chilla."
Pria itu lantas keluar, diikuti Mira di belakangnya. Fadil memanggil asisten rumah tangganya dan meminta untuk memasak makanan yang enak untuk Chilla. Setelahnya ia pamit pada Mira untuk kembali ke kantor.
"Aku titip Chilla, tolong jaga dia baik-baik. Jangan sampai ia merasa tidak nyaman di rumah ini. Bagaimanapun ini adalah salah satu cara untuk mengambil hati Chilla agar kita bisa memperoleh hak asuh atasnya," pesan Fadil pada istrinya.
"Hmmm." Mira hanya menanggapi sekedarnya, ia justru sibuk memperhatikan kuku-kuku panjangnya.
Fadil tak mampu berbuat apa pun pada sikap istrinya itu. Ia pun lebih memilih untuk mencium pipi Mira dan segera pergi. Ia juga berpesan agar mengatakan pada Chilla jika dirinya kembali ke kantor dan akan pulang nanti malam.
Seolah tak menggubris pesan Fadil, Mira justru mengambil ponsel di dalam tasnya dan menghubungi seseorang kemudian pergi meninggalkan rumah itu. Tak lama setelah mobil Fadil keluar dari gerbang pintu rumahnya.
Di kamar orang tua Fadil, Sofyan terus mengajak Chilla berbicara agar ia menjadi lebih akrab dengan cucu satu-satunya itu. Chilla yang tadinya nampak takut, mulai bisa tersenyum karena Sofyan begitu ramah dalam pandangan Chilla.
__ADS_1
"Chilla sudah lapar, belum?" tanya Marini.
Anak kecil itu menggeleng.
"Tapi Chilla haus, kan? Nenek ambilkan minum, ya?" Tanpa menunggu jawaban Chilla, Marini langsung keluar. Ia menuju dapur dan meminta pembantu untuk menyiapkan jus untuk Chilla.
Melihat rumah yang sepi, Marini pun bertanya, "Apa Fadil dan Mira pergi?"
"Iya, Nyonya. Saya dengar tadi Tuan pamit kembali ke kantor. Kalau Nyonya Mira saya tidak tahu ke mana, tapi saya dengar tadi dia menelepon seseorang."
Marini mengangguk paham. Menantunya itu memang selalu sibuk dengan teman-temannya. Entah itu teman arisan atau teman-teman nongkrongnya. Bahkan karena kesibukannya dengan teman-temannya itu, Mira sering kali abai dengan tanggung jawabnya sebagai istri.
Putranya—Fadil—sering kali tak diperhatikan. Dari segi makan atau pun yang lain. Walaupun begitu tidak ada satu orang pun di rumah ini yang berani menegur Mira, termasuk Fadil—sang suami.
"Bik ... nanti antarkan jus dan juga camilan ke kamar, ya, buat Chilla."
"Iya, Nyonya."
Sekar yang baru saja tiba di ruangan putranya langsung terhenyak mendengar apa yang baru saja Aksa katakan.
"Mama?" Spontan Aksa menoleh ke arah pintu di mana mamanya berdiri sembari memegang kepalanya. Ekspresi kaget jelas terlihat di wajah wanita sosialita itu. Melihat semua itu, Aksa langsung berdiri menghampiri Sekar begitu pun dengan Alle.
"Duduk dulu, Ma." Aksa membawa mamanya duduk di sofa di mana tadi ia bekerja bersama sekretarisnya.
Sedangkan Alle langsung keluar untuk mengambil air putih dan segera memberikannya pada ibu dari bosnya tersebut. "Silakan, Bu."
Aksa yang menerima gelas dari Alle lalu menjulungkannya pada Sekar.
"Ada perlu apa Mama ke sini? sidak?" tanya Aksa gamblang.
Tentu pertanyaan Aksa langsung mendapatkan hadiah tatapan tajam dari sang mama.
__ADS_1
"Ma, Aksa bukan anak kecil yang harus dipantau," protes Aksa, sebab ia tahu benar apa tujuan mamanya datang ke kantor.
Melihat situasi antara ibu dan anak itu, Alle memutuskan untuk pamit. Ia tidak mau terlalu ikut campur, meski ia tahu dirinya lah yang menjadi masalah di antara keduanya.
"Tunggu!" sergah Sekar ketika Alle akan keluar dari ruangan bosnya. "Duduk!"
Alle yang sudah memegang handle pintu pun urung keluar dan kembali duduk sesuai perintah Sekar. Ia tak berani bicara apa pun sebelum Sekar yang memulai.
Ibu dari bosnya tersebut tidak lantas bicara. Sekar justru menatap Alle dengan seksama. Mencari di mana kelebihan wanita itu hingga membuat putranya tergila-gila.
Bahkan menurut laporan dari orang kepercayaannya, Aksa ikut membantu sekretarisnya itu untuk mempertahankan hak asuh anak dari mantan suaminya.
"Saya rasa Pak Aksa sudah banyak berubah, Bu. Sejak mendekati Mbak Alleyah, saya tidak pernah lagi mendapati Pak Aksa berkencan dengan wanita-wanita yang ibu anggap sembarangan." Begitu laporan dari orang kepercayaan Sekar yang selama ini ia perintahkan untuk mengawasi setiap gerak Aksa.
Sekar bukan orang yang tidak tahu apa pun. Dengan siapa pun putranya itu menjalin hubungan, ia selalu tahu. Tapi lebih memilih pura-pura tidak tahu dan mengikuti alur yang Aksa ciptakan.
Ibunya itu tahu benar jika apa yang selalu ia tanyakan pada sekretaris putranya tentang para wanita yang sedang dekat dengan Aksa selalu dijawab bohong. Sekar pun tak mempermasalahkannya, karena sejujurnya semua itu hanyalah caranya untuk terlihat bodoh di depan Aksa.
Namun, umur dan pengalaman tak bisa membohongi semuanya. Terlebih ia seorang ibu. Ia tahu persis apa yang harus ia lakukan untuk memantau putranya. Putra semata wayang yang ia gadang-gadang akan menjadi penerus tahta kerajaan bisnis suaminya.
Maka dari itu, Sekar tidak boleh tidak tahu dengan siapa Aksa berkencan. Karena ia ingin pasangan hidup putranya harus sebanding dengan keluarganya. Sampai-sampai ia ingin mengatur jodoh Aksa.
Semua rencananya buyar ketika ia merasa kecolongan. Putranya telah jatuh cinta pada wanita yang tak pernah masuk dalam katagori wanita yang ia anggap berbahaya.
"Ma ...," panggi Aksa. Pria itu dibuat bingung dengan bungkamnya sang mama sejak tadi.
Sudah dipanggil pun, Sekar masih saja diam seribu bahasa. Tatapan wanita itu tak lepas dari sekretaris Aksa yang duduk bersebrangan dengannya.
Aksa yang bukan merupakan objek tatapan Sekar saja bingung dengan sikap Sekar, apa lagi Alle. Sekretaris Aksa itu hanya mampu mematung menerima setiap hunjaman tajam sorot mata Sekar.
"Kapan keluarga kami boleh datang untuk melamarmu secara resmi?"
__ADS_1
Alle yang sedari tadi menunduk sontak mendongak menatap Sekar. Begitupun dengan Aksa. Mereka berdua saling pandang, seolah saling bertanya tentang apa yang baru mereka dengar.