Pesona Sekretaris

Pesona Sekretaris
Bab.41 Aku Mau Kamu


__ADS_3

Sepulang dari rumah orang tua Aksa dulu, Chilla jadi sering bertanya tentang bos mamanya itu. Entah sekadar bertanya bagaimana kabar dari om bos-nya atau bertanya kapan mamanya akan mengajak Chilla untuk berkunjung kembali ke rumah besar milik orang tua Aksa. Yang pasti anak kecil itu bilang ia menyukai kebaikan Aksa juga keluarganya.


Alle sampai bingung sendiri bagaimana harus menjawab setiap pertanyaan Chilla tentang Aksa. Ia juga bingung bagaimana harus membalas kebaikan bosnya tersebut. Bantuan pengacara yang diberikan Aksa sangat membantu Alle dalam persidangan hak asuh atas Chilla walaupun hingga kini belum juga ada putusan.


Ternyata sidang peralihan hak asuh anak yang diajukan oleh Fadil tidak bisa berjalan cepat. Sudah sidang kedua, tapi belum ada titik temu juga.


Alle dibantu oleh pengacaranya mengajukan bukti-bukti yang menyangkal tuduhan Fadil tempo dulu. Ia pun menyertakan bukti jika selama ini Fadil ingkar akan janjinya memenuhi nafkah untuk Chilla.


Meskipun begitu, hakim tak lantas memutuskan kepada siapa hak asuh atas Chilla diberikan. Sebab Fadil dan pengacaranya punya berbagai cara untuk tetap memojokkan Alle. Hingga sidang kembali akan digelar pada pertemuan berikutnya yakni satu minggu ke depan.


******


Hari ini, Fadil meminta ijin pada Alle untuk menjemput anak itu ke sekolah. Ingin mengajak Chilla ke rumahnya karena Sofyan—ayah Fadil—sedang sakit dan ingin melihat cucu satu-satunya itu.


Alle pun tak bisa menghalangi karena ia takut Fadil akan menjadikan ini sebagai alasan untuk memojokkannya dalam sidang nanti. Kemarin saja ketika Chilla tidak mau ikut dengan pria itu dan justru memilih ikut dengan Aksa, Fadil memasukkannya dalam bukti di pengadilan dengan tuduhan jika Alle memanipulasi Chilla untuk menjauhkan anak itu dari papa kandungnya, dan mencuci otak anak itu untuk bisa lebih dekat dengan kekasihnya.


Hal yang disangkal tegas oleh Alle dan pengacara, tapi cukup ampuh untuk membuat keputusan hakim tertahan. Fadil terus saja menggulirkan isu jika Alle bukanlah ibu yang baik dengan segala berita miring tentang hubungannya dengan Aksa.


Tak ingin itu terjadi, Alle pun menghubungi guru sekolah Chilla untuk memberitahu bahwa hari ini putrinya akan dijemput oleh papanya.


Fadil bersama dengan Mira sudah menunggu sejak lima belas menit sebelum jam pulang sekolah. Di dalam mobil, Fadil sedikit cemas membayangkan jika anaknya itu menolak ikut dengannya. Sementara Mira sejak tadi hanya sibuk merias diri, membuat Fadil hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Sayang," panggil Fadil.


"Hmm." Mira tak beralih sedikit pun dari cermin di tangan kiri dan kuas blush on di tangan kanan.


"Nanti kalau bertemu dengan Chilla tolong jangan galak-galak, ya."


Mira langsung menoleh dan menatap Fadil tajam. "Mas pikir aku pernah galak sama Chilla!"


Fadil menggeleng keras. "Aku tahu kamu baik, jadi aku hanya mengingatkan saja," ujar Fadil sedikit takut dengan mata Mira yang mendelik.


Melihat ketakutan suaminya, Mira hanya mencebik dan kembali melanjutkan memoles wajahnya. Tepat ketika wanita itu selesai merias diri terdengar bel sekolah berbunyi. Fadil terlihat bersemangat untuk turun.


"Sayang, kamu di sini saja. Biar aku yang jemput Chilla ke dalam," sergah Fadil ketika Mira akan turun.


Wanita itu pun hanya menurut tanpa bantahan.

__ADS_1


Fadil merapikan penampilannya sebelum masuk ke dalam sekolah putrinya. Ia bertanya pada penjaga sekolah di mana kelas Chilla berada.


"Selamat siang, Bu," ujar Fadil begitu menemukan kelas Chilla.


"Selamat siang, Pak. Papanya Chilla, ya?" tebak Bu guru begitu melihat Fadil.


"Iya, Bu."


"Ayo Chilla, sudah dijemput papa ini," panggil Bu guru.


Chilla tak langsung berdiri. Anak kecil itu justru menatap papanya seolah malas.


"Ayo, Chilla sini. Kan tadi Bu guru sudah bilang kalau hari ini yang jemput Chilla adalah papa."


Karena sudah dipanggil untuk kedua kalinya Chilla pun berjalan menghampiri. Langkahnya tidak bersemangat pun dengan senyum di bibirnya. Tidak ada sama sekali.


"Terima kasih, Bu," ujar Fadil begitu Chilla berdiri di depannya.


"Sama-sama, Pak."


"Ayo, Sayang." Fadil menggandeng Chilla untuk keluar dari sekolah.


"Ayo, Sayang, Tante Mira sudah nunggu, tuh," ajak Fadil.


Chilla menatap ke arah papanya tapi tak berkata apa pun. Ia hanya tak bergerak ketika Fadil mengajaknya untuk jalan kembali.


"Chilla, ayo, kakek sama nenek sudah menunggu Chilla di rumah. Mereka kangen sama Chilla. Chilla juga, kan?" Rupanya Fadil tak mampu menangkap rasa enggan Chilla untuk pulang bersama. Pria itu kembali mengajak Chilla untuk berjalan.


Saat masuk ke mobil, Chilla hanya bisa menunduk. Takut untuk menatap Mira secara langsung.


"Ok, kita berangkat," seru Fadil. Sedangkan Chilla diam tak menanggapi.


*****


"Sedang mikirin apa?" tanya Aksa yang menangkap kegelisahan sekretarisnya. Sejak selesai makan siang tadi, Alle nampak tidak tenang.


Alle hanya tersenyum sembari menggeleng.

__ADS_1


"Bukan soal sidang kemarin, kan? Kalau soal sidang itu, kamu jangan khawatir. Pak Henry akan mengupayakan yang terbaik. Aku juga yakin kalau kamu pasti akan mendapatkan hak asuh atas Chilla."


"Terima kasih atas dukungan Bapak selama ini."


"Aku tidak butuh ucapan terima kasih kamu, yang aku mau kamu mengiyakan lamaranku," ujar Aksa jujur.


Alle langsung memutar bola matanya malas sembari mencebik kesal mendengar apa yang Aksa ucapkan.


"Kenapa?" Aksa mempertanyakan sikap Alle menanggapi ucapannya. "Kamu pikir aku bercanda?"


"Pak, Nanti kalau masalah saya sudah selesai dan Ibu Sekar sudah memberikan restunya, baru saya pertimbangkan keinginan Bapak," jawab Alle agar pria itu tak mengungkit masalah lamaran.


Aksa justru tertawa. "Kamu jangan terlalu lama jual mahal, di luar sana banyak yang antri nunggu lamaranku."


"Ya sudah, kenapa Bapak repot-repot nungguin saya. Harusnya Bapak lamar itu wanita-wanita yang selalu mengidolakan Bapak."


Aksa langsung menaruh berkas di tangannya. Ia beralih menatap sekretaris yang sejak tadi menemaninya bekerja. "Kalau saja aku bisa, aku pasti tidak memilih untuk jatuh cinta pada wanita keras kepala sepertimu."


Sontak Alle tertegun mendengar ucapan Aksa. Ini sindiran atau pujian.


"Aku belum pernah menyukai wanita seperti aku menyukaimu. Bahkan untuk pertama kalinya aku terang-terangan mengatakan pada orang tuaku jika aku mencintai seorang wanita dan ingin menikahinya. Tapi sayangnya, kamu terlalu keras kepala," sambung Aksa.


Tak ingin pembicaraan ini terus berlangsung dan akan membuat Alle terjebak dalam kalimat-kalimat Aksa, ia pun memutuskannya dengan berkata, "Kita lanjutkan kerja kita, Pak."


Aksa mengembuskan napas kasar. Selalu berakhir seperti ini. Tapi kali ini ia tak mau membuang lagi kesempatan. Ia ambil berkas di tangan sekretarisnya, dan meletakkannya asal di atas meja.


"All, tatap aku!" pintanya dengan tegas. Aksa meraih tangan Alle agar fokus padanya. "Apa yang kurang dari ku hingga kamu terus menolakku?"


Alle bergeming.


"Aku tahu kamu pasti bisa menangkap keseriusanku, karena kita kenal sudah cukup lama. Lalu apa lagi yang membuatmu ragu, hah?"


Alle berusaha melepaskan tangan yang Aksa genggam, tapi kembali diraih oleh pria itu.


"Bapak berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari pada seorang janda seperti saya," ujar Alle pada akhirnya, karena sejujurnya status jandanya menjadi salah satu alasan Alle minder menerima Aksa.


"Aku tidak mau yang lebih baik, karena aku cuma mau kamu. Aku mau kamu jadi istriku."

__ADS_1


"Aksa!"


Bukan hanya Alle yang kaget dengan sikap bosnya, tapi seseorang yang baru saja membuka pintu dan mendapati Aksa sedang melamar Alle ikut terperangah juga.


__ADS_2