Pesona Sekretaris

Pesona Sekretaris
Bab. 6 Berpikir Macam-macam


__ADS_3

Melihat tingkah sekretarisnya yang aneh, Aksa kembali berseru. "Kenapa diam saja, buruan buka!"


"Tapi, Pak?"


Aksa menggeleng kesal. "Kamu pikir apa, buka pintunya sekarang!"


Mendengar permintaan Aksa, barulah Alle sadar jika ia terlalu bodoh untuk berpikir macam-macam. Ia tersenyum malu dengan apa yang ia pikirkan sebelumnya.


"Maaf, Pak, saya sedang tidak fokus," ujarnya mencari alasan.


Aksa membuang napas kasar sekaligus menahan kesal karena ulah sekretarisnya.


Melihat sorot kemarahan di mata bosnya, Alle segera membuka pintu apartemen milik bosnya tersebut. Alle memang merupakan salah satu dari beberapa orang yang tahu tentang kode akses masuk ke apartemen Aksa.


Setelah masuk, Aksa langsung menuju ke ruang kerjanya. "Buatkan kopi!"


Tak lagi membantah, Alle segera meletakkan tasnya di sofa dan bergegas menuju pantry demi membuatkan kopi untuk Aksa.


"Ini, Pak, kopinya," ujar Alle, meletakkan kopi tepat di meja kerja Aksa.


"Pulanglah, tugasmu sudah selesai."


"Bapak nggak mau dibantu?" Alle merasa tak enak hati juga melihat Aksa yang sibuk dengan berkas di mejanya. Dia akan dibayar lembur untuk membantu menyelesaikan pekerjaan Aksa, jadi kalau mendadak disuruh pulang bisa gagal dapat uang lemburnya.


"Kamu mau bantu aku memeriksa laporan ini sampai selesai?"


"Ehm ...." Ragu Alle menjawab, kalau dipikir-pikir bisa sampai tengah malam atau bahkan sampai pagi untuk bisa menyelesaikan memeriksa laporan ini. Terus, bagaimana dengan Mbak Imas, tidak enak hati juga kalau harus membuat Mbak Imas menjaga Chilla sampai larut malam.


"Sudah, pulang sana. Anak kamu sudah nunggu!" titah Aksa yang menyadari ke mana pikiran sekretarisnya.


Merasa tak enak hati karena takut tidak jadi dapat bonus lembur, akhirnya Alle berkata, "Bagaimana kalau saya bantu memeriksa setengah laporannya, jadi Bapak cukup bayar upah lembur saya setengah."

__ADS_1


Tidak mau rugi, sudah sampai sini masak iya tidak dapat apa pun. Walau cuma setengahnya, tidak mengapa asal tetap dapat uang.


Aksa mendongak, menatap sekretarisnya kesal. Pria itu tahu benar apa yang Alle pikirkan. Pasti uang. Ia menutup berkasnya kemudian.


"Pulanglah, aku tetap akan membayar upah lemburmu meski hanya membuat kopi."


Ucapan Aksa yang seperti sindiran membuat bibir Alle menarik garis lurus. "Maaf," ujar Alle yang tahu diri.


"Sudah pulang sana, atau kau mau menemaniku sampai pagi?"


Secepat kilat Alle menggoyangkan tangannya di depan dada sebagai tanda penolakan. "Ti-tidak, Pak."


"Ya, sudah pulang sana! atau ...." Aksa memotong kalimatnya. Ia menatap Alle dari atas sampai bawah.


"Atau ...." Alle melanjutkan.


"Atau kau mau menemaniku di kamar sebelah," ujar sang bos tanpa beralih perhatian.


Masih dari singgasana kerjanya, Aksa menatap sekretarisnya dengan senyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebelumnya tak pernah ia berpikir menggoda sekretarisnya tersebut, tapi kali ini membuat sekretarisnya kabur ternyata seru juga.


Pria itu bahkan tak pernah berpikir jika Alle akan setakut itu dengan gurauannya. Padahal kalau dipikir-pikir, sekretarisnya itu bukanlah gadis remaja lagi. Namun tingkahnya bak perawan saja. Ketakutan ketika digoda soal urusan ranjang.


Alle terus berlari sampai ia menemukan mobil Aksa. Untung saja, supir sang bos tersebut selalu pengertian. Setiap kali Alle bekerja lembur, sang supir selalu sigap mengantar Alle pulang.


Sampai di komplek perumahan, Alle langsung menuju rumah Mbak Imas. Biasanya Chilla dibawa pulang ke rumah pengasuhnya itu sampai Alle pulang ke rumah.


Sangat hati-hati Alle mengetuk pintu rumah yang memiliki ukuran yang sama dengan rumah Alle tersebut. Tidak seperti biasanya, kali ini sedikit lebih lama mbak Imas membukakan pintu. Sampai Alle harus mengulang mengetuk pintu bercat abu-abu tersebut.


"Siapa?" Sahut orang dari dalam.


"Ini, aku, Alle, Mbak," jawab Alle.

__ADS_1


Tak lama setelah orang dari dalam rumah menjawab, pintu pun terbuka. Sedikit tersentak ketika bukan Mbak Imas yang membuka pintu. Hal yang lebih membuat Alle kaget adalah penampakan Mas Dito. Matanya merah menyala dan aroma mulutnya berbau alkohol yang sangat kuat.


"Maaf, Mas. Mbak Imasnya, ada?" tanya Alle sopan.


"Oh, janda baru. Nyariin bini gue, lu. Bini gue minggat! Ini semua gara-gara anak sialan lo itu. Tiap hari ngrepotin bini gue mulu, sampe-sampe dia nggak punya waktu buat gue. Nggak bisa ngelayanin gue. Alesannya capek mulu. Kalau kayak gitu terus gimana gue bisa punya anak sendiri, hah!" sentak pria yang sangat jelas sudah kehilangan separuh kesadarannya itu.


"Jadi Mbak Imas sekarang pergi ke mana, Mas?" tanya Alle sedikit mengabaikan ocehan Dito.


"Lo budeg ya, gue kan udah bilang bini gue minggat!"


Alle jadi takut kalau Mbak Imas benar-benar minggat. Ke mana wanita itu pergi membawa Chilla. Bagaimanapun ia tidak mau kehilangan putri semata wayangnya.


Ketika Alle sibuk memikirkan kemungkinan ke mana Imas pergi, pria yang masih berdiri di ambang pintu dalam keadaan mabuk itu terus memperhatikan Alle. Wajahnya sangat jelas memperlihatkan ketertarikan akan fisik Alle.


Menyadari dirinya ditatap oleh pria bak predator sedang menginginkan mangsa, Alle bergegas pamit. "Ka-kalau begitu, saya pamit dulu, Mas," ujar Alle balik badan.


"Tunggu!" Dito mencekal tangan Alle. Menahan wanita itu agar tetap di tempat.


Hati Alle mulai berdebar kencang. Ia punya firasat tak baik akan sikap Dito kali ini. Perlahan-lahan, Alle memutar tubuhnya. "Ada apa, Mas?" tanya Alle takut.


"Kalau diperhatikan, lo cantik juga. Bahkan lebih cantik dari bini gue." Dito tersenyum nakal pada Alle. Membuat Alle semakin waspada.


Tangan yang tadi mencekal Alle, kini berani menyentuh dagu Alle dengan senyum menggoda. Tentu saja tangan Dito langsung Alle tepis dengan kasar. Meski begitu pria itu tidak marah, ia justru semakin menunjukkan ketertarikannya pada Alle. "Istri gue terlalu sibuk sama anak lo, sampai nggak punya waktu buat gue. Gimana kalau sebagai balas budi lo pada gue dan bini gue, lo gantiin bini gue malam ini buat nemenin gue." Dito semakin berani mengutarakan keinginan busuknya. Senyum menjijikkan tak lekang dari bibirnya.


"Maaf, Mas, saya pulang dulu." Alle masih bersikap sopan karena menghargai Dito adalah suami Imas.


Bukannya menyerah, Dito kembali mencekal tangan Alle. Kali ini bahkan menariknya untuk masuk ke dalam rumah. Sontak saja Alle memberontak. Ia tepis tangan Dito yang mencekalnya lalu menendang kaki Dito hingga pria yang sedang dalam pengaruh alkohol itu berteriak kesakitan.


Saat itulah, Alle tak melewatkan kesempatan untuk kabur. Ia berlari secepatnya untuk segera sampai ke rumah miliknya.


Menutup pintu dan menguncinya kembali adalah langkah Alle untuk menenangkan diri. Ia memegangi dadanya yang berdebar ketakutan.

__ADS_1


"All ...."


__ADS_2