
Seharian ini Alle dibuat tidak nyaman dengan sikap Aksa yang tak biasa. Pria itu seolah berubah menjadi orang asing yang tak Alle kenal.
Yah ... meskipun perubahan yang ditunjukkan Aksa sangat positif karena pria itu mendadak jadi perhatian padanya terlebih pada masalah pribadinya, tapi tetap saja terasa aneh bagi Alle.
Jujur, bukannya Alle merasa senang dengan sikap perhatian Aksa tapi justru membuat janda satu anak itu merasa tidak nyaman. Terlebih ketika isu-isu miring di kantor sampai ke telinganya.
Wina, yang merupakan teman lamanya pun mendadak berubah sikap saat tahu kedekatan Alle dengan sang CEO. Dulu Alle pikir tak apa jika ia dibenci semua teman sekantor asal Wina tak membencinya. Sebab ia tak akan bisa jika Wina—orang yang telah berjasa membuatnya bisa bekerja di kantor ini—membenci dirinya.
Beberapa hari terakhir Aksa memang selalu menjemput Alle ke rumah dan mengajak sekretarisnya itu untuk berangkat bersama. Bahkan pulang bersama.
Alle selalu menolak tapi ancaman sang bos soal potong gaji membuat Alle menyerah. Ia tak bisa jika harus kehilangan sebagian gajinya, lebih baik ikut satu mobil dengan bosnya dari pada harus potong gaji.
Bahkan sering kali di jam makan siang kalau sedang tidak ada meeting di luar, Aksa selalu meminta Alle pesan makan siang untuk mereka berdua. Tentu saja mereka nikmati di ruangan Aksa. Hal yang makin membuat gosip berembus kencang dan membuat masalah Alle bertambah.
Seperti saat ini. Setelah tempo hari, kini Alle dipanggil kembali oleh orang tua Aksa. Kali ini bukan di rumah mewah keluarga pemilik Bumi Sentosa Damai, melainkan di sebuah cafe yang tak jauh dari kantor.
Mereka sudah duduk beberapa waktu tapi ibu dari bosnya tersebut masih saja diam. Ia terus menatap sinis pada sekretaris putranya.
"Aku heran, sebenarnya apa yang Aksa lihat dari janda sepertimu?" cibir Sekar.
Alle sudah tahu ke mana tujuan pertemuan ini. Pasti tak jauh dari gosip yang beredar di kantor. Sebab tak mungkin Sekar mengungkit status jandanya jika bukan soal putranya.
"Apa kamu benar-benar tidak punya malu mendekati pria yang jelas-jelas sudah punya calon istri. Aku tahu kamu pasti butuh duit untuk menghidupi anakmu, tapi apa harus dengan cara murahan!"
__ADS_1
"Menggoda atasan yang sudah jelas memiliki pasangan adalah hal paling rendah yang dilakukan oleh seorang wanita. Terlebih jika dia mau menjadi wanita simpanan. Itu hal yang paling menjiji ____"
"Maafkan saya, Bu, jika saya lancang telah menyela Ibu. Tapi harus Ibu tahu, jika apa yang Ibu katakan itu semua tidak benar. Saya tidak pernah punya niat untuk menggoda Pak Aksa apa lagi menjadi wanita simpanannya."
"Meskipun saya janda, saya juga tahu akan batasan diri saya. Saya bukan janda murahan yang akan melakukan apa pun demi uang. Sebisa mungkin saya akan menafkahi anak saya dengan cara yang baik," sambung Alle.
Mendengar pembelaan diri Alle, Sekar justru semakin memandang sinis pada sekretaris putranya tersebut. Ia tak bisa begitu saja percaya akan apa yang Alle katakan. "Siapa yang akan percaya dengan omongan kamu itu, sedangkan semua orang melihat apa yang kalian lakukan. Alasan kerja lembur, pergi ke apartemen, dan sekarang Aksa kamu suruh untuk jadi supir kamu yang antar jemput kamu setiap hari."
Sekar sampai menarik napas panjang untuk meredam emosinya. "Dengar ya, Alleyah, aku minta mulai sekarang kamu keluar dari kantor Aksa. Aku tidak mau lagi melihat kamu di kantor anakku!" titah Sekar tanpa berpikir panjang.
Perintah Sekar tentu membuat Alle kaget. Apa harus ia keluar dari kantor hanya karena gosip yang tak ada kebenarannya.
"Maaf, Bu, apa tidak bisa ibu mengkroscek kebenarannya lebih dulu. Semua tidak seperti yang Ibu pikirkan. Saya dan Pak Aksa tidak punya hubungan apa pun selain profesional kerja. Kalaupun saya lembur dan pergi ke apartemen Pak Aksa, itu semua memang benar-benar berkaitan dengan urusan pekerjaan. Tidak ada hal lain atau pun lebih dari urusan kerja," Alle mencoba menjelaskan.
Jujur saja, ia tidak bisa kalau harus keluar kerja sekarang. Karena ia juga memikirkan tentang Fadil yang menuntut hak asuh anak. Alle yakin jika kasus ini maju ke pengadilan, tetap akan ada biaya yang harus ia keluarkan. Jikalau ia harus berhenti kerja sekarang, itu bukanlah pilihan bijak.
"Bagaimana saya bisa keluar, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk menafkahi anak saya." Alle mencoba mencari celah. Tetap ia harus bertahan.
"Aku tidak peduli, yang penting kamu jauh-jauh dari Aksa!" Sekar memegangi kepalanya yang mendadak terasa pening. Mungkin tekanan darahnya tengah naik mengahadapi Alle yang juga keras kepala.
"Bu, tolong beri saya kesempatan untuk membuktikan jika saya benar-benar murni bekerja dan tidak ada niatan sama sekali untuk menggoda Pak Aksa. To____"
"Edi ...!" teriak Sekar memanggil ajudan yang sedari tadi berdiri tak jauh dari mereka. Membuat Alle tak melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
Sigap, pria bernama Edi langsung mendekat. "Siap, Nyonya."
"Kita pulang, Ed." Sekar mengambil tas dan mengulurkannya pada Edi.
"Baik, Nyonya." Edi segera menuntun Sekar yang terus memegangi kepalanya.
"Ibu baik-baik saja?" tanya Alle melihat perubahan raut wajah Sekar.
Wanita yang meski sudah berumur tapi tetap modis itu mengabaikan pertanyaan Alle.
Melihat Sekar menahan rasa sakitnya Alle ikut bangkit dan ingin membantu menuntun wanita itu tapi segera ditepis oleh Sekar.
Meski begitu, Alle tetap ikut keluar dan mengantar Sekar sampai ke mobilnya. Biarpun tak dianggap, Alle tetap menunjukkan rasa hormatnya pada ibu dari atasannya itu.
"Hati-hati, Bu. Semoga cepat sembuh," ujar Alle ketika Edi menutup pintu belakang mobil di mana Sekar duduk.
Alle menghela napas melihat mobil Sekar yang mulai menjauh. Mulai saat ini ia harus berpikir bagaimana caranya agar ia tetap bisa bertahan pada posisinya sekarang. Menjadi sekretaris Aksara Bumi.
Bisa saja Sekar menggunakan kuasanya untuk menyingkirkan dia dari pekerjaannya. Itu bukan hal yang mustahil, melihat betapa Sekar begitu membencinya.
Sebelum itu terjadi, Alle harus lebih dulu membuktikan jika ia dan atasannya memang tidak terlibat cinta terlarang seperti yang Sekar tuduhkan. Tidak ada niatan Alle untuk merusak hubungan Aksa dengan wanita yang dijodohkan untuknya.
Alle melirik jam di tangan kirinya. Jam makan siang sudah habis. Ia harus segera kembali ke kantor. Dengan ojek, Alle menuju gedung perkantoran Bumi Sentosa Damai.
__ADS_1
Sampai di meja kerjanya, Aksa sudah menunggu di sana.
"Dari mana, kamu?"