
"Brengsek!" umpat Fadil ketika baru memasuki rumahnya. Ia membanting pintu dengan keras hingga menimbulkan kegaduhan.
"Fadil, ada apa, Nak?" tanya Marini yang langsung berlari dari kamarnya karena mendengar debuman pintu yang dibanting. "Lho kok kamu sendiri, mana Chilla?" sambungnya.
Terlihat wajah memerah karena marah dari raut sang putra. "Jangan ngomongin itu dulu deh, Buk."
Fadil mengabaikan ibunya begitu saja dan berlari menaiki tangga. Tujuannya adalah kamar utama. Begitu membuka pintu dilihatnya Mira sedang memoles wajahnya dengan masker.
"Mas Fadil, sudah pulang, Mas?" tanya Mira dengan suara tertahan karena tak ingin masker wajahnya rusak. Akan sangat disayangkan bukan kalau perawatan yang ia lakukan ini sia-sia.
Fadil menatap marah pada Mira. Matanya mendelik tajam bak harimau menatap mangsa.
"Kenapa Mas Fadil berdiri di situ saja, nggak mau masuk?" Mira masih sibuk dengan masker di wajahnya.
Fadil menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia mencoba mengendalikan emosi yang bersarang dalam dada. Sorot mata tajam dan emosi yang meluap harus segera ia tepiskan. Tidak bisa ia marah atau sekadar mengomel di depan Mira.
Akhirnya ia memilih untuk keluar dari kamar itu lagi. Tujuannya adalah meja makan di mana ada ibu dan bapaknya yang sedang mengobrol sembari menikmati teh dan camilan.
"Kamu kenapa sih Fadil, punya muka kok ditekuk begitu?" seloroh Sofyan saat anak laki-lakinya itu baru saja duduk di depan mereka.
"Bi ... buatkan aku teh juga!" teriak Fadil pada asisten rumah tangganya.
Marini yang melihat sikap Fadil yang tak bias menyenggol lengan suaminya dan dijawab Sofyan dengan menggedikkan bahu. Sama-sama tidak tahu apa yang membuat anak mereka terlihat kesal.
Seolah tak menghiraukan pertanyaan bapaknya tadi, Fadil langsung menyeruput teh yang baru saja disiapkan oleh asisten rumah tangganya.
"Fadil, kamu tadi sebenarnya pergi ke mana?" tanya Marini hati-hati. Ia sangat tahu bagaimana perangai putranya. Kalau sedang dalam emosi yang tak stabil Fadil bisa mengamuk.
"Katanya tadi kamu mau jemput Chilla, kok sekarang pulang sendirian," imbuh Marini mengulang pertanyaan yang sama ketika Fadil baru datang tadi.
Fadil yang sudah lebih bisa menguasai emosi, mendongak dan menatap pada kedua orang tuanya. "Chilla nggak mau ke sini, Buk."
"Lho ... kenapa?" tanya Marini kaget.
"Dugaanku sih karena sikap Mira waktu itu."
Marini dan Sofyan saling melempar pandang. Berpikir apakah yang dimaksud Fadil soal perlakuan Mira yang dilaporkan oleh pembantu mereka waktu itu.
Meski tahu begitu, tidak ada satu pun dari mereka yang berani menegur Mira atas apa yang wanita itu lakukan pada Chilla.
*****
Di tempat lain, yakni di kediaman Dewa Bumi, Aksa baru saja tiba bersama dengan Chilla.
"Wow ...," lirih Chilla mengagumi kemegahan bangunan yang ada di hadapannya.
"Kenapa?" tanya Aksa yang melihat Chilla tertegun memandang rumah milik orang tuanya.
"Ini rumah Om bos?"
"Hmmm." Aksa mengangguk. "Ada yang aneh?"
Chilla menggeleng cepat. "Rumah Om bos gede banget, lebih gede dari rumah Papa Fadil."
"Apa iya?"
"Hmmm."
__ADS_1
"Kalau gitu, apa Chilla mau tinggal di sini?"
Chilla yang sejak tadi fokus pada rumah besar di depannya langsung menoleh dan menggeleng.
"Kenapa nggak mau?"
"Kalau Chilla tinggal di sini, Mama tinggal sama siapa? Kan, kasihan Mama kalau sendirian," jawab Chilla polos.
"Bagaimana kalau mama juga diajak untuk tinggal di sini. Kita tinggal sama-sama di sini."
Chilla nampak bingung dengan ucapan Aksa. "Tapi, mana boleh begitu? Mama sama papa Chilla saja nggak boleh tinggal satu rumah. Kata mama, mama sama papa sudah tidak ada hubungan pernikahan jadi nggak boleh tinggal satu rumah, yang boleh tinggal satu rumah itu hanya orang dewasa yang punya hubungan pernikahan. Om sama mama kan nggak menikah, jadi nggak boleh juga tinggal satu rumah."
Aksa tersenyum gemas dengan jawaban anak kecil itu hingga tak tahan untuk mencubit hidung Chilla. "Pinter banget sih kamu."
"Chilla," ujar Chilla bangga menunjuk dirinya sendiri.
"Tapi sebenarnya, ini bukan rumah Om tapi rumah orang tua Om. Rumah papanya Om lebih tepatnya."
"Jadi Om, bohong!"
"Ya enggak lah, sekarang memang rumah papanya Om, tapi nanti jadi rumah Om juga. Bisa juga jadi rumah Chilla kalau Chilla mau tinggal di sini."
"Om, kata Fizi, tak baik tipu."
Aksa sedikit bingung. "Siapa Fizi?"
"Itu, temannya Upin dan Ipin."
Aksa baru paham sekarang. Meskipun tak mengikuti serial anak kecil dari negeri sebelah itu tapi ia pernah mendengar nama yang Chilla sebutkan tadi.
"Ish ... kamu memang bikin gemes." Secara spontan, Aksa meraub tubuh Chilla dan menggendongnya. Ia berlari membawa masuk anak dari sekretarisnya itu ke dalam.
Aksa tak menuruti apa yang Chilla katakan. Ia justru terus membawa Chilla terus berlari. Membuat Chilla semakin kencang berteriak minta diturunkan hingga suaranya menggema mengisi rumah besar keluarga Aksa tersebut.
"Aksa."
Suara Sekar membuat Aksa berhenti dan segera menurunkan Chilla.
"Anak siapa itu?"
Bukannya segera menjawab pertanyaan mamanya, Aksa justru berjongkok di samping Chilla dan berkata, "Chilla, itu namanya Eyang Sekar. Dia adalah ibunya Om, Chilla mau kenalan?" Aksa menunjuk Sekar.
Chilla mengangguk. Lalu Aksa mendorong pelan tubuh mungil yang ada di sampingnya. Dengan berani, Chilla menghampiri Sekar. Anak kecil itu mengulurkan tangan sebagai salam perkenalan.
"Halo, Eyang, namaku Chilla. Senang bertemu dengan Eyang," ujar Chilla dengan senyum yang sangat manis.
Awalnya Sekar terdiam. Ia hanya memandangi tangan Chilla yang terulur tanpa berniat menyambutnya.
"Ma ...." Aksa yang sudah menyusul Chilla dan berdiri di samping mamanya memegang bahu Sekar. Meminta agar Sekar membalas uluran tangan Chilla.
Mau tidak mau Sekar pun mengikuti apa yang diinginkan Aksa.
Chilla langsung mencium punggung tangan Sekar begitu ibu dari Aksa itu menyambut uluran tangan kecilnya.
"Rumah Eyang besar banget, apa Eyang juga punya kolam renang?" tanya Chilla khas anak kecil.
Belum sempat Sekar atau pun Aksa menjawab, muncullah Dewa dari ruangan yang sama dengan Sekar tadi.
__ADS_1
"Wah, ada siapa ini?" Dewa terlihat lebih bersahabat begitu melihat kehadiran Chilla.
Aksa langsung mendekati Chilla. "Chilla, itu papanya Om, namanya Eyang Dewa."
Chilla tersenyum menatap Dewa yang baru muncul. Tanpa disuruh anak kecil itu langsung menghampiri dan mengajak Dewa bersalaman seperti apa yang tadi ia lakukan pada Sekar. Dewa menyambut tangan kecil Chilla dengan bahagia. Tak lupa juga ia mengusap kepala Chilla sembari berkata lirih, "Anak pintar."
"Siapa nama anak cantik ini?" tanya Dewa.
"Chilla, Eyang. Chilla anaknya mama Alle," jawab Chilla bangga menyebut nama mamanya.
"Oh, pantas saja ... cantiknya sama dengan mamanya." Dewa tersenyum sewaktu mengucapkannya. Dewa memang terlihat lebih bersahabat pada siapa pun dari pada Sekar.
"Terima kasih," jawab Chilla atas pujian yang dilontarkan Dewa.
"Kira-kira, anak cantik ini sudah makan belum?"
Chilla menggeleng.
"Belum, ya. Mau makan apa sekarang?"
Chilla menatap Aksa. Seakan takut menjawab pertanyaan Dewa.
"Bilang aja, Chilla mau makan apa. Nanti Eyang bisa kabulkan apa pun yang Chilla mau."
"Benarkah?"
"Hmmm ...."
"Apa ada es krim?"
"Ada, dong," jawab Dewa. "Tapi sebelum makan es krim kan harus makan nasi dulu, kira-kira anak cantik mau makan sama lauk apa?" Dewa begitu pandai memposisikan dirinya menghadapi anak kecil.
Chilla sedikit bergaya. Ia terlihat berpikir mau makan apa di rumah besar ini. "Chilla mau makan ayam goreng seperti yang ada di mall," seru Chilla.
"Ok, semua akan Eyang siapkan. Tapi Chilla harus nunggu, semua kan butuh dimasak. Iya, kan?"
Chilla mengangguk. "Sambil nunggu bagaimana kalau kita main dulu. Chilla mau nggak lihat-lihat rumah Eyang."
"Mau ... mau ...," seru Chilla gembira. "Ya sudah, ditemani Om Aksa dulu ya mainnya. Eyang siapkan dulu makanan buat Chilla."
Anak kecil itu setuju saja. Bahkan ketika Aksa mengajaknya untuk tour ke dalam rumah mewah milik orang tuanya ini.
Sekar sendiri dari tadi hanya memperhatikan interaksi antara anak juga suaminya dengan anak kecil yang katanya adalah anak dari sekretaris putranya itu.
"Kenapa, Ma?"
Pertanyaan Dewa membuat Sekar tersentak.
"Kok Papa biarkan saja sih Aksa sama anak itu. Apa coba maksud Aksa bawa anak dari sekretarisnya itu datang ke rumah ini. Apa nggak cukup dia buat tekanan darah Mama naik hanya karena membawa ibunya. Sekarang malah bawa anaknya."
Dewa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ma, coba lihat dari sisi yang lain. Ini pertama kalinya Aksa bisa dekat dengan anak kecil. Bukankah ini pertanda bagus. Siapa tahu Aksa ingin segera memberikan kita cucu seperti yang selama ini kita inginkan."
Sekar langsung mendelik tajam pada suaminya. "Iya, cucu, tapi anak Aksa sendiri, Pa. Bukan anak orang lain," geram Sekar.
"Ya ini awalnya. Sebelum Aksa memberikan cucu yang merupakan darah dagingnya, ia harus menikah dulu dengan ibunya Chilla."
Tentu Sekar kaget dengan penuturan suaminya. "Jadi Papa setuju kalau Aksa menikahi janda itu?"
__ADS_1
"Ma, status janda itu tidak hina. Alleyah sudah menjaga dirinya dan kehormatannya selama ini. Lalu di mana salahnya. Kita juga bukan orang picik yang berpikiran sempit. Cobalah buka hati Mama sedikit saja untuk melihat Aksa juga Alleyah."
Dewa selalu berpikir bijaksana dibanding Sekar. Entah kenapa wanita itu sampai saat ini belum bisa terima jika putranya dekat dengan seorang janda apa lagi berniat serius untuk membina rumah tangga. Sekar belum rela.