
Usai dari pengadilan kemarin, Alle diajak Aksa ke kantor Pak Henry. Di sana Alle bercerita secara detail tentang kisah hidupnya. Bagaimana ia berpisah dengan Fadil hingga akhirnya Fadil datang kembali dan mengusik hak asuh atas Chilla. Semua Alle ceritakan tanpa ada yang ia tutupi karena ia sangat ingin dibantu untuk bisa memenangkan kasus ini.
Sejak sidang pertama itu, hidup Alle seolah semakin tidak tenang. Setiap kali ketakutan melanda akan kehilangan Chilla. Sebab itulah, ia mengatakan pada Aksa ia tak mau ambil kerja lembur, ia ingin memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan putri semata wayangnya.
Ia tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Namun, Alle ingin terus memaksimalkan waktu untuk Chilla. Untunglah, bosnya itu mengerti dan memahami kondisi Alle.
"Selamat sore, Pak, saya mohon ijin pulang lebih dulu, Pak," pamit Alle seperti biasanya.
"Tunggu!"
"Iya, Pak."
"Aku antar kamu pulang." Aksa berdiri dan mengambil jas yang tersampir di sandaran kursi setelah merapikan berkas di atas meja.
"Tapi, Pak, tidak perlu Anda repot-repot mengantar saya. Saya bisa pulang sendiri."
"Sudah, ayo." Aksa tak menghiraukan penolakan Alle. Pria itu terus menggandeng Alle.
"Pak, tolong lepaskan. Apa Bapak lupa jika gosip tentang kita sudah menjadi alasan Mas Fadil untuk menyerang saya," Alle berbicara sembari berusaha mengikuti langkah lebar Aksa.
"Kalau begitu, aku tidak akan menjadikannya sekadar gosip lagi. Akan aku buat jadi nyata," jawab Aksa santai.
"Apa maksud, Bapak?"
"Dari pada mereka memfitnah kita punya hubungan tapi pada kenyataannya tidak, bukankah lebih baik menjadikannya sebuah kenyataan untuk mengurangi dosa mereka dari memfitnah."
"Pak!" Alle menyentak tangan Aksa hingga genggaman tangannya terlepas. Bisa-bisanya bosnya berpikir aneh begitu.
"Apa?" tanya Aksa dengan sorot tajam.
"Tolong jangan bercanda."
"Kamu mau serius?"
Alle mengangguk.
"Ok!" Aksa pun kembali menggandeng sekretarisnya itu dan membawanya ke mobil.
"Ini kita mau ke mana, Pak. Arah rumah saya nggak ke sini." Alle mengamati kanan dan kiri jalan.
Tak mengatakan mereka akan pergi ke mana, Aksa terus saja mengemudikan mobilnya hingga Alle tersadar ketika melintasi jalan yang ia hapal bahwa jalan ini menuju ke rumah orang tua bosnya.
"Pak, ngapain kita ke rumah orang tua Bapak?" tanya Alle panik. Bagaimana tidak panik, terakhir bertemu dengan Sekar dulu ia membuat tekanan darah wanita itu naik. Kalau sekarang harus bertemu lagi, pasti ia akan memancing emosi Sekar lagi dan itu tidak baik untuknya maupun ibu dari bosnya.
__ADS_1
"Sudah diam saja, katanya mau serius."
Alle melongo tak percaya. Ia tak paham akan maksud kata 'serius' yang Aksa ucapakan.
Begitu sampai di rumah orang tua Aksa, pria itu segera turun dan membukakan pintu mobil untuk sekretarisnya. Mau menuntunnya keluar tapi ditolak oleh Alle.
Walaupun begitu Aksa tetap memaksa dan kembali menggandeng tangan sekretarisnya untuk masuk ke dalam rumah.
"Ma ... Mama!" teriak Aksa begitu membuka pintu.
"Mama ...." ulangnya karena tak ada sahutan.
"Eh, Aden pulang?" sapa Mbok Yam yang datang tergopoh-gopoh dari dapur.
"Mama ke mana, Mbok?"
Dari ruang kerja Dewa, Sekar muncul dan berkata, "Ngapain cari Mama?"
Aksa juga Alle kontan menoleh ke arah sumber suara. Hal pertama yang Sekar tangkap adalah pemandangan tangan putranya yang menggandeng sekretarisnya. Dari situ saja, rasa berdenyut langsung menyerang Sekar.
Ia segera memegangi kepalanya. Mengatur napasnya dan berusaha mensugesti dirinya sendiri kalau apa yang ia lihat belum tentu seperti apa yang ia pikirkan.
"Tenang, Ma. Kita belum tahu maksud kedatangan Aksa, biarkan dia bicara dulu. Mama jangan langsung pusing." Dewa yang muncul belakangan merangkul bahu istrinya. Memberi ketenangan agar tekanan darah istrinya tak mendadak naik. "Ayo kita duduk dulu," ajak Dewa.
"Aksa mau bicara serius."
"Ya sudah duduk sini," ujar Dewa menunjuk sofa.
Aksa menarik Alle untuk mengikuti Dewa dan Sekar, tapi ia tidak duduk seperti mereka. Jutru berdiri di depan orang tuanya.
"Ma, Pa ... Aksa mau serius sama Alle. Kata Alle dia nggak mau terima Aksa karena Mama nggak merestui hubungan ini. Jadi kalau Mama dan Papa merestui hubungan kami, Alle pun akan setuju. Jadi Aksa minta Mama dan Papa merestui hubungan kami," jelas Aksa.
Alle menoleh seketika. Matanya mendelik tajam pada bos yang tak melepaskannya dari tadi. "Pak, kenapa begini. Maksud Bapak, apa?"
Tentu Alle harus bertanya. Seingatnya ia tak pernah mengatakan apa yang Aksa barusan katakan.
"Diamlah, aku sedang berusaha serius."
"Pa, kepala Mama sakit banget," keluh Sekar melihat sikap putranya yang di luar kendalinya. Matanya seolah sakit melihat tangan Aksa yang terus menggandeng janda satu anak ini.
"Tenang, Ma ... tenang," ujar Dewa mengusap punggung istrinya.
"Bagaimana bisa tenang, Papa lihat sendiri kan bagaimana Aksa memperlakukan janda itu." Sekar kembali memegangi kepalanya.
__ADS_1
"Aku harap Papa sama Mama mendukung keseriusanku ini."
"Tunggu, Sa," ujar Dewa. "Papa sama Mama pasti akan dukung kamu dan juga pilihanmu, masalahnya apakah sekretarismu itu mau menerima kamu. Papa lihat dia seperti dalam tekanan bersamamu," sambung Dewa.
Aksa langsung melihat mimik wajah Alle. Tak menampakkan kebahagiaan sama sekali atas usaha Aksa ini.
"Papa nggak usah khawatir, Alle hanya takut sama Mama."
"Apa!" pekik Sekar. "Aduh, Pa ... sakit, Pa, kepala Mama."
"Ibu, ibu baik-baik saja, kan?" Alle melepaskan tangan Aksa dan menghampiri Sekar. Namun belum sampai ia pada Nyonya besar itu, Alle sudah ditahan oleh isyarat tangan Sekar agar tak mendekat.
"Yam ...," teriak Sekar.
Mbok Yam yang belum beranjak dari sana segera mendekat. "Iya, Nyonya, saya di sini."
"Ambilkan aku air hangat dan bawa ke kamar!"
"Njeh, Nyonya." Bergegas Mbok Yam pergi ke dapur.
"Pa, antar Mama ke kamar. Mama takut kepala Mama meledak kalau harus mengahadapi anak ini." Tak menghiraukan Aksa maupun Alle, Sekar langsung berdiri dan meminta suaminya untuk dipapah ke kamar mereka.
Alle hanya bisa menghela napas panjang melihat Sekar yang mulai memasuki kamarnya. Ia pun berbalik menatap Aksa yang tak segera menyusul mamanya yang sakit. Melihat itu semua, Alle hanya bisa berdecak kesal.
Ia tak mau berlama-lama di rumah ini. Takut membuat masalah yang lebih besar. Ia pun segera meninggalkan Aksa begitu saja.
"Hei ... All, kamu mau ke mana?" tanya Aksa melihat kepergian sekretarisnya.
Aksa tak acuh dengan pertanyaan bosnya. Ia memilih berlalu begitu saja.
"All, tunggu!"
Dari dalam kamarnya, Sekar bisa mendengar kepanikan Aksa pada sekretarisnya. Begitu pun dengan Dewa.
"Pa, kenapa harus begini?" tanya Sekar pada suaminya.
"Jangan buru-buru menilai, Ma. Kita lihat dulu bagaimana Aksa dan juga sekretarisnya itu. Lagi pula, ini pertama kalinya Aksa membawa dan mengenalkan seorang wanita untuk hubungan yang lebih serius. Kita lihat dulu, apakah tekadnya seteguh apa yang ia perlihatkan tadi."
"Bagaimana kalau iya. Bagaimana kalau memang Aksa benar-benar menyukai janda itu dan tak ingin berpisah. Bagaimana dengan reputasi keluarga kita, Pa?" Membayangkan masa depan Aksa dan Alle membuat Sekar tak hanya pusing, kini ia pun menangis di pelukan suaminya.
"Sudah-sudah, yang harus Mam pikirkan sekarang adalah kesehatan Mama. Dengan siapa pun Aksa nanti menikah pasti Mama ingin melihatnya, kan?"
Sekar mengangguk pasrah. Aksa adalah putra satu-satunya, ia ingin sekali melihat dan menjadi saksi atas kehidupan baru putranya nanti.
__ADS_1