
Belum hilang rasa takutnya akan kehilangan Chilla waktu itu, kini Fadil menambah rasa itu menjadi berkali kali lipat. Pria itu akhirnya mengambil tindakan atas perkataannya dulu. Surat dari pengadilan menjadi bukti jika Fadil memang serius untuk mengambil Chilla dari dirinya.
Fadil mengajukan gugatan peralihan hak asuh anak atas Chilla. Sebuah surat yang tak pernah ia harapkan kedatangannya.
Berkali-kali Alle membaca surat tersebut. Merenungi isinya hingga ia melupakan apa yang menjadi tanggung jawabnya di kantor. Bunyi interkom bahkan tak membuatnya terganggu. Sampai-sampai Aksa sendiri yang harus keluar memanggil sekretarisnya itu.
"All ... Alleyah!" seru Aksa dan barulah Alle tersadar dari lamunan.
"I-iya, Pak." Kalang kabut Alle berusaha menyembunyikan kertas yang tadi ia pegang. "Kenapa, Pak?" tanya Alle setelah berhasil menyembunyikannya di dalam laci meja.
"Aku memanggilmu dari tadi."
"Maaf, Pak, saya tidak mendengar," kilah Alle.
Tentu Aksa curiga. Bagaimana bisa tidak mendengar jika suara interkom saja sudah sangat berisik, apa lagi berada tepat di depannya.
"Ya sudah ... sekarang kamu cari dokumen keuangan yang kemarin di berikan oleh Angga. Aku sudah mencarinya tapi tidak ketemu."
"Baik, Pak." Alle berdiri dan masuk ke raungan bosnya untuk melaksanakan tugas yang diberikan. Sementara Aksa tidak langsung ikut masuk bersama Alle.
Pria itu terlalu penasaran dengan apa yang membuat konsentrasi sekretarisnya itu terpecah. Ia pun pergi ke balik meja kerja Alle. Ia ingat betul di mana tadi Alle berusaha menyembunyikan sesuatu.
Segera ia membuka laci dan menemukan selembar kertas berkop pengadilan agama. Perlahan-lahan ia membaca isi dari surat tersebut. Cukup kaget melihat apa yang tertera di sana.
Lebih kaget lagi ketika mendadak Alle muncul dari dalam ruangannya dan bertanya, "Bapak sedang apa di situ?"
Alle berjalan cepat menghampiri Aksa yang masih berdiri dibalik meja kerja miliknya. "Seharusnya Bapak tidak melakukan ini." Alle merebut kertas yang ada di tangan Aksa dengan kasar.
"Tidak pantas Bapak mengambil barang yang bukan menjadi hak Bapak," ujar Alle dengan emosi yang tak mampu ia sembunyikan.
Aksa yang memang merasa bersalah hanya mampu terdiam.
"Lagi pula, tidak patut juga Bapak ingin tahu tentang privasi saya, apa lagi sampai mengambil barang saya." Alle masih tidak terima Aksa diam-diam membaca surat yang sudah ia sembunyikan.
"Maaf, aku hanya ingin tahu apa yang kamu sembunyikan hingga mengabaikan panggilanku. Itu saja."
"Tapi bukan berarti Bapak berhak memeriksa meja kerja saya untuk mencari tahu. Saya tidak suka cara seperti itu. Bagaimanapun, saya punya privasi yang tidak ingin Bapak campuri. Bapak hanya atasan saya di kantor jadi tidak berhak untuk mengetahui masalah pribadi saya."
__ADS_1
"Kalau begitu, jadikan aku bagian dari dirimu agar aku bisa tahu apa yang sedang kamu rasakan saat ini."
Dalam emosi yang meledak, Alle dibuat tak percaya dengan permintaan Aksa. Apa maksud dari pria ini.
Menjadikannya bagian dari dirinya?
Oh, tidak ... Jika ini sebuah ungkapan perasaan yang mewakili hati pria itu. Bisa mati Alle saat ini juga. Bagaimana mungkin seorang Aksara Bumi menyatakan perasaannya pada sekretarisnya.
No!
Big No!
Ini belum pernah terjadi dalam sejarah hidup Aksa.
"Bapak jangan bicara sembarangan, ya. Sebaiknya Bapak kembali ke ruangan Bapak," usir Alle. Baru kali ini ia berani mengusir atasannya tersebut dan bicara lebih keras dari biasanya.
Nampaknya Aksa salah. Biasanya tak pernah ada yang lolos dari pernyataan perasaan Aksa. Namun kali ini untuk pertama kalinya Aksa ditolak oleh sekretarisnya sendiri.
Dengan lapang hati ia harus kembali masuk ke ruangannya. Ia terus menatap Alle, berharap wanita itu berubah pikiran. Tapi tak terjadi, sebab Alle justru menjulungkan berkas yang tadi Aksa minta. Membuat pria itu tak ada lagi alasan berlama-lama di sana.
Setelah Aksa masuk ke ruangannya, Alle segera menyimpan surat yang tadi ia ambil dari Aksa dengan memasukkannya ke dalam tas. Ia mencoba mengatur napasnya untuk meredam emosi yang sempat bergejolak.
Dan rasa takut itu ia bawa sampai jam pulang kantor tiba. Sebab setelah kejadian itu, Aksa tak memanggilnya sama sekali. Tak menghubunginya untuk meminta bantuan barang mencari dokumen atau sekadar membuatkan kopi.
Mungkinkah pria itu benar-benar tersinggung dan marah atas ucapan kasar Alle.
Semoga saja tidak. Sebab Jikalau ada karyawan yang membuat Aksa marah pasti tamat riwayatnya di kantor ini. Hari itu adalah hari terakhirnya berada di dalam gedung PT. Bumi Sentosa Damai.
Tentu saja Alle tidak ingin itu terjadi. Ia belum siap kehilangan mata pencahariannya.
Seperti biasa sebelum ia pulang ia akan berpamitan dulu kepada bosnya. Alle mengetuk pintu ruangan Aksa, dan masuk saat atasannya itu memberi ijin.
"Maaf, Pak, jika sudah tidak ada yang bisa saya bantu, saya mau ijin pulang," ujar Alle dengan kalimat sopan dan tidak mengandung emosi.
"Pulanglah."
"Bapak tidak pulang?"
__ADS_1
"Kurasa itu bukan urusanmu!" jawab Aksa ketus.
Melihat reaksi Aksa nampaknya pria itu masih marah padanya soal kejadian tadi siang. "Baiklah, Pak, saya permisi."
Alle pun keluar dan pulang sendiri. Ia memesan taksi online, dan tak butuh waktu yang lama untuk menunggu taksi itu datang. Sepanjang perjalananya, ia kembali memikirkan apa yang tadi Aksa katakan.
Menjadikan pria itu bagian dari dirinya.
Itu tidak akan pernah mungkin terjadi. Alle terlalu sadar diri untuk meraba masa depan jika ia gegabah menerima ungkapan perasaan Aksa. Sekarang saja, sudah sangat terlihat jika jalannya akan terjal. Bagaimana tidak. Orang tua Aksa, terutama ibunya sudah dipastikan akan menentang hubungan mereka. Seperti yang Sekar perlihatkan selama ini.
Belum lagi dengan lingkungan pria itu. Pasti tidak akan bisa menerimanya. Sudah hal biasa pernikahan beda kasta akan menimbulkan perbincangan di masyarakat. Dan Alle tidak akan siap dengan itu semua.
"Mbak ... Mbak," panggil supir taksi.
"Eh, iya, Pak." Alle tersadar jika tadi dirinya melamun.
"Sudah sampai di perumahan Griya Asri, lanjut ke mana ini?"
Alle melihat ke luar jendela. Benar ia sudah sampai di depan komplek perumahan. Alle pun memberikan arahan hingga sampai ke depan rumahnya.
"Terima kasih, Pak," ujar Alle seraya mengulurkan ongkos taksi yang harus ia bayar.
Begitu memasuki ruang tamu, Alle tidak kaget melihat ada mantan suaminya sedang bermain dengan Chilla. Ia sudah terbiasa dengan pemandangan itu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, yeay Mama pulang." Chilla berlari memeluk mamanya.
"Ma, kata Papa, Chilla mau di ajak ke rumah Papa. Katanya di sana rumah Papa besar banget. Chilla mau nginep di sana, Ma," celoteh Chilla saat Alle baru masuk dan belum sempat duduk.
Alle menatap Fadil penuh tanya.
Rupanya pria itu peka dengan keingintahuan Alle. "Iya, All ... kalau kamu ijinkan aku ingin mengajak Chilla menginap di rumahku barang semalam saja."
"Boleh, ya, Ma," sela Chilla cepat.
Mata Alle beralih dari Fadil ke Chilla. Keraguan untuk memberikan ijin begitu besar ia rasa. Terlebih ia sudah menerima surat dari pengadilan.
__ADS_1
"Boleh, ya, Ma?"