Playboy Penakluk Hati

Playboy Penakluk Hati
eps12 ( Berak )


__ADS_3

"Rey kamu pasti bohong? dia bukan pacar kamu Kan!? kata papahmu, kamu tidak punya pacar! " Kata wanita tersebut.


Seketika itu Calya pun terkejut ketika wanita itu Membawa kata 'papah'. Ia bertanya-tanya pada dirinya 'siapakah wanita ini' itu yang ia pikirkan saat ini.


 


...----------------...


"Papah ku tidak tau apa-apa, jadi Calya ini adalah pacar ku" ucap Rey yang masih memeluk pinggang Calya.


Mendengar ucapan Rey, semua orang yang ada di sekitar taman pun mengalihkan pandangannya ke arah mereka.


"Tidak!! ini tidak mungkin... Aku tidak percaya" Vina sedikit menaikan nada bicaranya karena ia sungguh tidak percaya dengan ucapan Rey.


"Yasudah kalau kamu tidak percaya, sayang kita pergi saja dari sini... pesta ini sungguh tidak menyenangkan" ujar Rey yang memegang tangan Calya dan langsung beranjak pergi dari tempat itu.


"I... I... Iyaa" jawab Calya mengikuti langkah Rey.


Mereka berdua pergi dari tempat itu, sedangkan Vina sangat kesal ketika melihat mereka meninggalkan Vina seorang diri.


"siall... awas aja lo Calya, gue gak akan biarin lo tetap bersama dengan Rey..." gumamnya.


.


.


.


.


"Udah lepasin tangan gue" Ucap Calya sambil melepaskan genggaman Rey, tetapi Rey langsung mencegatnya dan memegang nya kembali.


"Diem dulu... tetap kayak gini sebelum kita masuk mobil" ujar Rey yang melanjutkan langkahnya menuju mobil.


"Eh... eh apa-apaan, lo mau bawa gue kemana!?"


"Kita pergi dulu dari sini"


"Masuk" perintah Rey yang sudah membukakan pintu mobilnya.


"Gak, gue gak mau ikut sama lo" ujar Calya membalikan badannya yang hendak pergi.


Tetapi Rey malah menarik tangannya dan langsung mendorongnya masuk kedalam mobil.


"Aduh... Apa-apaan sih lo, bukain gak pintunya!!"


Calya berteriak menyuruh Rey membukakan pintunya, tapi Rey hanya nengacuhkannya dan langsung melajukan mobil.


Diperjalanan, Calya terus berteriak dan sesekali mengumpatnya tapi Rey hanya diam saja. Calya pun akhirnya menyerah dia sekarang hanya diam sembari mengalihkan pandangannya ke arah jendela memandangi jalanan kota.


"Udah, teriak-teriaknya?" tanya Rey yang akhirnya mengeluarkan suaranya.


Calya hanya diam saja ketika Rey berbicara, ia masih kesal dengan tindakan Rey yang selalu mengacuhkannya tadi.


"Ceritanya balas dendam nih!? lo diemin gue" tanya Rey kembali.


"Berisik " kesal Calya.


"Hah oke" hela Rey yang tidak ingin berdebat.


Ketika itu, Rey memarkirkan mobilnya disebuah restoran.


"Ngapain kita kesini? " tanya Calya bingung, kenapa tiba-tiba saja Rey berhenti disebuah restoran.

__ADS_1


"Mau numpang berak" jawab Rey yang langsung menuruni mobilnya yang di ikuti oleh Calya.


"Eh... ngapain berak ditempat kayak ginian!? kan lo bisa berak di Rumah lo... Hih " Ucap Calya dengan polosnya.


PLETAK...


Rey menyentil dahi Calya yang dibalas dengan rintihan darinya.


"Dasar cewek bodoh... Lo tau kan ini restoran, ya kali gue beneran berak di tempat kayak ginian. Ya kita mau makan lah bodoh" Ucap kesal Rey yang melajukan langkahnya sambil menggandeng tangan Calya.


"Kan gue gak laper." jawab Calya, dan tiba-tiba saja...


krucukk... Krucuk...


Tiba- tiba saja suara dari perut Calya berbunyi, ia hanya bisa mengumpat dirinya.


"Hei perut... kamu tidak bisa berkompromi dengan ku apa..." lirih Calya dalam Hati.


"Nah kan perut lo jujur" kata Rey yang melanjutkan langkahnya.


"Ahh sial, gue maluu " umpat nya lagi.


Mereka pun memilih meja, didekat kaca sehingga pemandangan dari luar terlihat.


"Lo pesen apa?" tanya Rey.


"Apa aja yang penting bisa dimakan "


"Baiklah, permisi " ucap Rey sembari melambaikan tangannya kesalah satu pelayan disana.


"Saya pesan 2 Spageti dan 2 Mocca Latte"


"Baik tuan, saya akan segera kemari " ucap pelayan tersebut.


Tak selang beberapa lama pesanan mereka pun datang. Melihat hidangan yang ada depan mata, Calya terlihat berbinar- binar melihatnya.


"Ekhem... ya " balas Calya yang menetralkan kembali posisinya, Tanpa aba- aba lagi dia segera melahapnya hingga habis. Rey melihatnya pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Setelah mereka selesai dengan makanannya, Calya bertanya sesuatu pada Rey.


"Emmm kak Rey, bolehkah saya bertanya sesuatu" tanya Calya dengan bahasa formalnya.


"Tumben banget lo ngomong formal gitu ke gue... Biasanya galak bener kalau ngomong ke gue"


"Di baikin salah, di galakin salah... maunya apasih ni orang, hah sabar Calya sabar kali ini saja" lirih Calya kesal dalam hati.


Mendengar ucapan Rey, Calya membalasnya dengan senyuman.


"Bolehkah kak Rey saya bertanya? " tanya nya kembali


"Oke-oke, lo mau tanya apa hmm" jawab Rey sambil menompang dagunya menggunakan tangan.


"I... Itu... Tadi wanita yang bersama kak Rey siapa yah? dan apa hubungannya sehingga dia membawa-bawa papahnya kak Rey?" tanya Calya dengan panjang lebar.


"Ppffhh hahahaha... wanita itu? siapa, maksud lo Vina hahaha" mendengar pertanyaan Calya, Rey tertawa dengan terbahak-bahak sehingga orang-orang melihatnya dengan aneh.


"Kenapa ketawa sih!!" melihat Rey tertawa tanpa menjawab pertanyaannya, ia malah cemberut dibuatnya.


"Ya enggk, Kenapa lo tanya-tanya soal Vina kayak gitu... seakan-akan lo lagi nanyain suami lo yang kepergok selingkuh tau gak hahaha" ucap Rey yang disela oleh tawanya lagi.


"Iiihhh... Gak lucu tau gak, udah lah gue mau pulang" Calya langsung beranjak pergi dari restoran itu meninggalkan Rey.


Melihat Calya pergi, Rey pun menaruh sebuah tip pembayaran dan segera pergi menyusul Calya.


"Eh Al tungguin dong"

__ADS_1


"Ngapain lo ngikutin gue!?"


"Lo pulang sama gue ayok" ucap Rey yang mencegah langkahnya dan langsung menarik Calya masuk kedalam mobilnya.


"Gak mau!! gue bisa pulang sendiri naik taksi" Calya berusaha melepaskan cekalan Rey, tetapi usahanya sia-sia.


Dan akhirnya Calya menyerah dan mengikuti langkah Rey kedalam mobil.


Saat diperjalanan Rey menjawab pertanyaan Calya saat direstoran tadi.


"Gue sama Vina gak ada hubungan apa-apa... terus kalau lo tadi tanya kenapa si Vina tau bokap gue, sebenernya Vina itu anak dari sahabat bokap gue dan kebetulan tadi dia sama papahnya kerumah gue dan mau gak mau, gue harus ngajak si Vina atas perintah bokap gue" jawab Rey yang tatapannya tetap fokus kearah depan.


Mendengar itu, Calya merasa lega dengan jawaban Rey perihal Vina.


" Oh " ucap Calya yang hanya ber 'oh' ria saja.


"Kenapa? apa jangan-jangan lo cemburu sama Vina" tanya Rey ya g sekarang mengalihkan pandangannya ke arah Calya.


"A..apaan sih lo, ya gak lahk ngapain juga gue cemburu" jawab Calya dengan ketus khasnya, yang memalingkan wajahnya kearah jendela.


"Benarkah!?" tanya Rey yang seakan-akan tidak percaya dengan jawaban Calya.


"Ahh udahlah... cepet bawa gue pulang, ini dari tadi kenapa tidak sampai-sampai sih!!" kesalnya.


"Gimana gak sampai-sampai... Alamat rumah lo aja gue gak tau " jawab Rey dengan santai.


"Astaga gue lupa ngasih tau lo... Dan lo juga kenapa gak tanyain gue"


"Gak tau" acuh Rey dengan santai.


"HAH!!"


Rey sebenarnya sengaja tidak menanyakan Alamat rumah Calya terlebih dahulu, karena dia ingin berlama- lama bersama dengannya. maka dari itu dia tidak menanyakannya.


"Yaudah, sekarang dimana rumah lo?" tanya Rey dengan santai, yang hanya dibalas Cahya dengan menepokan jidatnya sendiri.


"Dijalan xxxx"


.


.


.


.


Tak selang beberapa lama mereka pun sampai di rumah Calya, dan Calya langsung turun dan berterima kasih pada Rey.


"Terima Kasih"


" Hmm " jawab Rey dan langsung melajukan mobilnya.


Calya segera kedalam rumahnya, ia langsung ke kamarnya karena ini sudah malam jadi ia tau jika ibunya sudah tidur.


Sesampainya dikamar, Calya segera masuk kedalam kamar mandi terlebih dahulu karena Calya sangat tidak nyaman dengan badannya yg lengket. Setelah selesai dengan ritual mandinya ia pun mengganti pakaianya menggunakan piyama tidur dan langsung merebahkan badannya yg pegal.


"Ahh hari yang melelahkan. Akhirnya gue bisa pulang juga " ucapnya sambil memejamkan matanya nya dan terlelap tidur.


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2