Playboy Penakluk Hati

Playboy Penakluk Hati
eps21 ( Pergi Berkemah )


__ADS_3

Keesokan harinya, Calya sudah bersiap untuk pergi ke sekolah dan juga pergi berkemah.


Ia terlebih dahulu berpamitan pada ibunya.


"Bu, Al pamit yah" Pamit Calya yang dilanjuti oleh pelukannya.


"Berhati-hatilah kamu disana Al, jaga dirimu dengan baik." Nasihat Maya pada putri semata wayangnya itu.


"Bu, Al akan menjaga diri Al dengan baik. Tetapi, Al mengkhawatirkan ibu." lirih Calya dengan menundukan kepalanya.


Calya sangat sedih ketika ia harus meninggalkan ibunya yang kini sedang sakit. Ia sungguh mengkhawatirkan Maya, walaupun ia hanya meninggalkan nya tiga hari saja.


"Nak, ibu akan baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir dan ibu juga bisa meminta tolong pada pak Karim dan bu Imah jika terjadi sesuatu" lanjut Maya dengan menenangkan Calya agar dirinya tak perlu mengkhawatirkan nya.


"Yasudah jika begitu, Al pamit bu" Calya menyalami ibunya.


Setelah itu, Calya berangkat menuju sekolahnya menggunakan motor vespa nya. Ia akan menitipkan motornya itu pada penitipan sekolah. Karna Calya akan menaiki bus sekolah ketika ia menuju ke perkemahan bersama teman-teman yang lain.


.............


Disitu sisi, Rey sedang menuruni tangga menuju ruang makannya dengan berpakaian yang sudah rapih.


Disana sudah ada papahnya yang sudah duduk terlebih dahulu di meja makan. Ranty masih belum pulang, karena ia masih mengurus ibunya yang masih sakit.


"Kamu mau kemana Rey? bukankah hari ini kelas mu libur?" tanya papahnya yang sudah mengetahui jadwal sekolah Rey.


"Aku terpilih menjadi koordinator perkemahan kelas XI." ucap Rey sambil menduduki dirinya. Dan mengambil sebuah sandwich untuk sarapannya.


"Benarkah? apakah itu mau mu sendiri, apa benar-benar terpilih? oh... atau karena perempuan yang bernama Calya itu, kau mengajukan dirimu sebagai koordinator perkemahan? hemm" tanya Hendra seperti mengintrogasi anaknya itu.


Mendengar perkataan dari Papahnya, Rey sangat jengah dan malas untuk menjawab nya. Ya, Rey sudah tau jika papahnya itu memiliki mata-mata disekolah nya dan ia selalu mengetahui gerak-gerik dari Rey.


"Papah selalu saja begini. Apakah papah tidak jengah memantau ku terus? Sudahlah, aku tak banyak waktu lagi" Rey membangunkan dirinya menaruh sandwich yang belum habis dan langsung meninggalkan pria itu yang berstatus papah nya.


"KAU!!! dasar anak tak tau sopan santun!!" Teriak Hendra kesal ketika melihat tingkah Rey yang semena-mena pada dirinya.


Rey melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Ia memukul-mukul kemudi nya dengan kesal, ketika ia mengingat Papah nya yang begitu selalu mencampuri urusan pribadinya.


Hendra selalu bersikap tegas pada Rey. Karena, ia ingin anak satu-satunya itu bisa menjadi penerus yang kompeten dan bisa meningkatkan perusahaannya itu mencapai level yang sangat tinggi. Walaupun itu terlihat egois, tetapi ia sangat tau itu lebih baik untuk mendidik anaknya yang terbilang mempunyai sifat yang sangat keras kepala.


Sesampainya Calya di sekolah, ia cepat-cepat menghampiri Cindy yang waktu itu terlihat sedang menunggunya.

__ADS_1


"Cindy..." lambai an tangan Calya yang membawa tas besar dipunggungnya.


"Lo lama banget sih Al" kesal Cindy


"Ya maaf" singkat Calya


"Yaudah ah yuk kita absen dulu dan setelah itu baru deh kita naik mobil" ajak Cindy.


Mereka berdua pun segera mengabsen kan dirinya. Sebelum berangkat, mereka menunggu pengumuman dari osis. osis lah yang saat ini membimbing perkemahan mereka saat ini.


Ketika mereka mengabsen lalu menghampiri kerumunan lain yang sebentar lagi ada sebuah pengumuman sebelum keberangkatan mereka, Calya dan Cindy terkejut melihat kedatangan Rey dan langsung memegang sebuah mix.


Apalagi Calya, ia sangat bingung dengan kedatangan Rey. Mengapa Rey berada di sini, sedangkan dirinya bukanlah seorang osis. Pikirannya saat ini sangat bingung.


"Perhatian untuk kelas XI, disini saya sebagai koordinator kalian. Jika terjadi sesuatu atau menanyakan hal sesuatu, kalian boleh menghampiri saya. Dan sebelum kita berangkat, marilah kita membaca doa terlebih dahulu sesuai dengan kepercayaan nya masing-masing"


Semua nya pun menundukan kepala pertanda sedang mengucapkan doa.


"Baiklah, kalian boleh mengambil nomor kursi kalian kepada kak Mela. Silahkan" perintah Rey.


Semua nya mengantri mengambil nomor kursi mereka, tak terkecuali Calya dan Cindy. Ketika Calya berpapasan dengan Rey, tiba-tiba saja Rey memberikan sebuah senyuman padanya yang membuat Calya salah tingkah.


" Ni cowok aneh banget senyam-senyum gitu ke gue... Hih gue merinding deh" lirih Calya dalam hati.


"Hai Al, Cin" sapa Adit


"Eh lo Dit. Kemana aja baru nongol lo" ucap Cindy.


"Gue tadi telat"


" Oh ya? samaan dong sama Calya, tuh kan apa gue bilang... Pasti kalian jodoh" gurau Cindy yang langsung di pukul oleh Calya.


" Lo kalau ngomong bisa di rem gak Cin!? ngomong sembarangan aja... Kata siapa gue telat, nggak ko' " Elak Calya.


"Iya-iya gue percaya lo tadi gak telat, cuman datang sedikit terlambat yeh" gurau Cindy kembali. Yang tak henti-henti nya menggoda Calya.


"Sama aja Markonah" ejek Calya


"Itu lo tau Sarkiem" lanjut Cindy dengan membalasnya dengan ejekan. Seketika mereka tertawa mendengar ocehan-ocehan mereka sendiri.


Rey yang melihat itu, ia sangat kesal ketika yang ia lihat Calya begitu dekat dengan Adit. Rasanya, ia sangat ingin membawa lari Calya sehingga Adit atau lelaki manapun tidak bisa mendekati Calya.

__ADS_1


Lalu, dengan segera mereka menaiki bus dan mencocokan nomor yang di kertas itu dengan nomor yang sudah ditempel di kursi mobil.


"Al, Dit, kalian nomor berapa? gue 20 udah ketemu nih" ujar Cindy yang sudah menemukan nomor yang cocok dengan yang ada di kertas.


"Gue 22 Cin, di belakang lo" jawab Adit


"Lah ko' kalian deketan sih. Kenapa gue jauh banget yah sama kalian" keluh Calya ketika teman-teman nya duduk dengan dekat.


"Emang lo berapa Al?" tanya Adit


"Gue nomor 3, paling depan"


"Jauh bener lo Al" ucap Cindy


"Entahlah. Yaudah gue kedepan dulu yah" pamit Calya.


Calya pun menghampiri kursi nya yang berada di depan. Ia mendudukan dirinya dekat dengan jendela. Ia masih terlihat bingung, kenapa kursi di sisi nya masih kosong padahal dibagian yang lain sudah terisi dengan pasangan duduk nya.


Tetapi Calya tidak ambil pusing dengan itu, ia malah sangat mengharapkan jika dirinya hanya duduk seorang diri agar lebih leluasa. Tetapi harapannya itu hilang ketika seseorang yang ia benci tiba-tiba saja duduk disamping kursi kosongnya. Ya, dia lah Rey.


"Eh, ngapain lo duduk disini" tanya Calya dengan nada kesal sekaligus bingung.


"Kan ini tempat duduk gue." ucapnya dengan santai


"Lo pindah aja sono... ke kursi yang lain" usir Calya.


"Gue mau duduk dimana lagi, kursi nya udah penuh semua"


" Ya... lo nyari kursi ke bus lain ke' "


"Nih" Rey menunjukan sebuah kertas nomor. yang tertulis di dalam kertas itu sebuah angka 4.


"Lo pasti sengaja kan!?" tanya Calya dengan geram.


"Kalo iya kenapa?" jawabnya sambil mengalihkan pandangan nya ke arah Calya. Mereka saling menatap beberapa saat.


Setelah itu seorang osis memberikan pemberitahuan sesuatu dengan speaker yang dibawa nya. Seketika itu, Calya memalingkan wajahnya dengan Jantung nya yang berdegub kencang. Begitu pun dengan Rey, jantung nya juga sangat berdegub dengan kencang.


"Kenapa dengan jantungku?" tanya nya dalam hati.


"Tahan Rey, tahan..." gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Setelah seorang osis itu menyampaikan aturan-aturan saat di perkemahan nanti dan beberapa hal ke semua orang, mobil pun melaju menuju ke sebuah hutan perkemahan.


__ADS_2