
Setelah semuanya beres dengan kegiatan paginya, semuanya berkumpul di lapangan dekat tenda. Ketika para pembina tengah memberikan kegiatan selanjutnya, tiba-tiba saja suara deru mobil yang di susul oleh laksonan itu membuat semua orang mengalihkan pandangan.
Mobil itu berhenti tepat didepan kerumunan semua orang. Seseorang turun dari mobil itu, dan ketika siapa yang turun dari mobil, Rey membulatkan matanya.
"REY"
"Vina!?"
Ternyata Vina lah yang berada didalam mobil itu dan bahkan yang membuat Rey tambah terkejut, Vina tidak sendiri ia bersama sahabatnya Rey yaitu Bagas.
"Bagas?"
Vina dan Bagas menghampiri semua orang.
"Hallo Rey." Sapa Vina dengan senyum manisnya, sehingga membuat semua orang terpana olehnya tak terkecuali para kaum lelaki.
"Hai Bro..." Bagas merangkul pundak Rey, tetapi ditepis olehnya. Bagas mengernyitkan keningnya karena heran.
"Ngapain kalian kesini!!" Ucap Rey dengan sedikit meninggikan suaranya.
"Ya mau gabung lah, Sama kalian. Kan itung-itung liburan heheh..." Gurau Bagas.
"Eh panci item, kalo lo mau liburan jangan disini." Tegas Rey.
Rey kini terlihat sangat kesal karena kedatangan Vina dan Bagas. Tetapi baginya Bagas tidak masalah, Vina lah yang menjadi masalahnya. Bisa gagal rencananya mendekati Calya.
"Ah elah... Ya gak apa-apa dong, itung-itung cari daun muda buat dijadiin simpanan" Cengir Bagas sambil melihat-lihat kearah adik-adik kelasnya. Sehingga semuanya menjadi salting.
Rey menarik lengan baju Bagas dan membisikan sesuatu padanya, semua orang hanya memperhatikan saja tidak ada yang berani berbicara.
"Lo, kalau mau kesini... Kesini aja, gak usah bawa-bawa Mak Hindun ini kesini." Bisiknya dengan nada penekanan, yang hanya di dengar oleh dirinya dan Bagas saja.
__ADS_1
"Hah? Mak Hindun, siapa? gue gak ngerasa bawa orang yang namanya Mak Hindun deh... Ah ngarang lo Rey." Ucap Bagas yang diselingi oleh tawanya.
Semua orang melihat mereka berdua merasa aneh dan bingung. Rey memperhatikan itu, dengan segera memukul bahu Bagas dengan keras sehingga Bagas mengeluh sakit.
"Lo bukan cewek, yang harus gue perjelas maksud gue!!" Geramnya.
"Iya-iya... Gue ngerti, gue ngerti"
"Aku tahu Rey, Kamu pasti kesal dengan keberadaanku disini. Tetapi aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan mu, aku harus menyingkirkan perempuan itu dengan caraku sendiri. Sehingga kamu akan menjadi milikku seutuhnya" Lirih Vina dalam hati dengan senyum sinis nya memperhatikan Calya yang sedang mengobrol dengan Cindy dan Adit.
Calya tdak menghiraukan keributan yang didepannya, ia lebih memilih untuk mengajak Cindy dan Adit mengobrol. Tidak penting baginya untuk mempertontonkan hal-hal yang sepele seperti itu.
"Al, lo bener kan bukan pacarnya Rey?" Tanya Adit disela-sela obrolan mereka, dan diikuti oleh anggukan Cindy yang ia juga ingin Pertanyakan hal serupa dengan Adit.
Mendengar hal itu, Calya sedikit grogi dan juga bingung hendak menjawab apa pada kedua sahabatnya.
"Duh... Aku harus menjawab apa kepada mereka?" Gumam Calya dalam hati sambil memggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.
Belum sempat Calya menjawab, Rey tiba-tiba datang dan menyelanya.
"Ya, dia pacar gue"
Semua orang terlihat terkejut dengan penuturannya. Rey menarik lengan Calya dan merangkulnya.
"Dengar semuanya... Calya ini pacar gue, jadi siapa aja yang dekat-dekat sama pacar gue... Kalian akan tahu akibatnya" Ancam Rey, tatapannya terlihat membunuh terutama pada Adit. Ia menatapnya dengan tatapan sebuah peringatan.
"Dan gue cinta banget sama dia" Rey mengalihkan pandangan nya pada Calya, begitupun dengan Calya.
"Tidak, ini tidak benar. Kak Rey berkata seperti ini pasti ada kak Vina, ia hanya ingin membuat kak Vina cemburu. Ya, pasti itu alasannya. Aku gak mau lagi membohongi kak Vina, aku merasa kasihan padanya." Lirih Calya dalam hati, sambil melihat kearah Vina yang terlihat kesal diwajahnya.
"Tidak!! itu bohong" Lantangnya.
__ADS_1
Semua orang kini melihat kearah Calya, Rey sedikit terkejut dengan ucapan yang dilontarkan oleh Calya. Ia membeku seketika.
"Cukup ya kak Rey! Gue gak mau jadi pacar pura-pura lo! gue tahu, pasti ini cuman mau membuat kak Vina cemburu... Iya kan!! dan gue jadiin pion lo gitu!?"
Entah kenapa, Calya berkata seperti itu hatinya merasa sakit dan sesak. Hatinya terasa tidak menerima dengan kenyataan bahwa Rey hanya menjadikannya seperti pion saja untuk membuat Vina cemburu padanya. Tetapi itu hanya pikiran Calya saja, ia tidak mengetahui jika Rey benar-benar ingin menjadikannya sebagai pacar sesungguhnya.
"Apa benar yang dikatakan Calya, bahwa Rey hanya berpura-pura berpacaran dengannya karena untuk membuatku cemburu? oh... Aku tidak menyangka Rey seromantis ini" Lirih Vina dengan senyum sumringahnya.
"Al, ini tidak seperti yang kamu pikirkan... Aku benar-benar mencintaimu Al..."
"Cukup!!" Lerai Adit.
Adit yang sedari tadi hanya memperhatikan saja, kini ia angkat bicara demi Calya.
"Lo gak usah drama deh... Lo juga jangan jadikan Calya sebagai pion lo, demi membuat cewek lo cemburu."
Mendengar itu, Rey menjadi geram dan langsung meninju Adit. Semuanya menjadi kacau tak karuan, para panitia yang tadinya hanya mempertontonkan saja kini menjadi turun tangan melerai perkelahian Rey dan Adit.
"Lo gak usah ikut campur urusan gue sama Calya!!" Teriak Rey, dirinya dipegangi oleh para panitia dan tak lupa juga oleh Bagas yang membantu sahabatnya agar tidak berkelahi.
"Heh, ini urusan gue juga jika menyangkut Calya. Walaupun lo kakak kelas gue, gue gak akan segan-segan terhadap lo jika nyakitin Calya."
Adit pun sama dengan Rey, mereka ditahan oleh para panitia agar tidak berkelahi kembali. Calya saat ini dirangkul oleh Cindy, ia merasa sangat bersalah karena dirinya lah penyebab dari keributan ini.
"Cin, ini salah gue" Lirih Calya pelan menahan isaknya agar tak mengeluarkan air mata.
"Ini bukan salah lo Al, udah yah ini akan selesai kok permasalahnnya. Ini akan diselesaikan oleh para panitia"
"Rey, sudahlah... Kamu tidak usah bertengkar lagi. Dan juga kamu tidak perlu berpura-pura lagi berpacaran dengan Calya." Vina mendekati Rey sambil memegang lengannya.
Rey yang saat ini diluputi oleh amarah, ia langsung mendorong Vina dengan kasar sehingga Vina tersungkur. Calya melihatnya terkejut, ia melihat Rey menatapnya dengan tajam seakan-akan ingin memakannya hidup-hidup. Rey pergi begitu saja meninggalkan semua orang yang terlihat tegang, dan di ikuti oleh Bagas. Vina memggertakan giginya dengan kesal dan menahan malu. Ia dibantu oleh salah satu panitia untuk berdiri kembali.
__ADS_1
Mengapa para panitia bahkan semua orang disana tidak berani ikut campur dan juga tidak berani melerai mereka dari awal?. Jawabannya, karena semua tahu bahwa Rey sangat berkuasa dan juga anak pemilik dari sekolah mereka. Semua orang menjadi tak berani karena takut bermasalah dengan Rey, akibatnya akan fatal jika seperti itu.