
Setelah lolos dari pertengkaran tadi, Calya dan Cindy pun pergi keruang UKS dengan alasan yang diberikan Cindy waktu pertengkaran tadi.
"Aduhh Cindy, lo hampir bikin gue jantungan tadi tau gak!!" Kesal Calya yang saat ini sedang duduk dipinggir Cindy yang sedang duduk juga di ranjang UKS.
"Eh Al, lo bukannya terimakasih apa ke' sama gue. Kalo gue gak bantuin lo tadi! ceritanya bakalan panjang" jelas Cindy yang merasa kesal juga terhadap Calya.
"Hehehe... iya juga yah. Oke deh gue minta maaf sekaligus terimakasih sama lo. Lo emang sahabat gue yang paliinggg baikk" celoteh Calya yang dilanjut dengan memeluknya.
"Gitu dong, kan jadi enak kayak gini hahaha... Eh Al, gimana kalo kita ijin pulang aja. Kan mumpung ada alesan buat ijinnya gimana?"
"Tapi kan lo doang yang punya alesan buat pulang. Lah gue gimana?"
"Eh semprul lo kan juga punya alesan buat pulang. Bilang aja lo nganterin gue, kan mumpung gue juga gak bawa motor" jelas Cindy.
"Tumben lo pinter Cin..."
"Dari masih cabang bayi gue udah pinter. Mamah gue ngelahirin gak repot-repot, orang gue udah pinter. gue bisa keluar sendiri jadi, pas Mamah gue lahiran gak perlu ngeden... Hahaha" Gurau Cindy.
Mendengar celotehan Cindy, Calya pun ikut tertawa terbahak-bahak. Ia sangat beruntung mempunyai sahabat se kocak dan sebaik Cindy. Ketika ia senang, maupun duka Cindy lah yang selalu menjadi penyemangat nya selama ini.
Disatu sisi, dua pria sedang menahan rasa takutnya yang sekarang sedang diujung kemarahan guru yang terkenal tanpa ampun pada muridnya yang bermasalah.
"Duduk!!" Perintah pak Dedi, sang guru killer.
Tanpa ragu, mereka pun segera duduk.
"Kenapa kalian berkelahi didalam sekolah hah!!" Introgasi pak Dedi.
"Rey pak yang memulainya" Ucap Adit sambil menunjuk pada Rey. Mendengar itu, Rey tak terima dengan ucapan Adit.
"Eh kutu kupret, apaan lo nuduh gue kayak gitu!! Bukannya lo yang memulainya" geram Rey.
"Lo yang mulanya cari keributan ketika gue dan Calya lagi duduk di taman sekolah"
"Lo juga ngapain berdua an sama Calya hah!!"
"CUKUP!!!" Bentak pak Dedi yang geram denga kedua murid nya itu.
"Kalian bapak hukum! Bersihkan seluruh toilet di sekolah ini!!."
"APA!! pak, toilet sekolah ini sangat banyak, dan juga terlihat sangat jorok pak..." keluh Rey.
"Iya pak, nanti jika kita pingsan karena kelelahan bagaimana?" lanjut Adit
"Tidak ada alasan!! Apa kalian ingin bapak tambahkan hukuman kalian!? Jika kalian lakukan hukuman ini selama seminggu!?"
"APA!!" serentak mereka.
"Ti...tidak usah pak. Baiklah kami akan menerima hukuman itu." ucap Rey.
"Cepatlah kerjakan"
Mereka segera melaksanakan hukuman dari pak Dedi. Walaupun itu berat untuk dijalani, Apalagi satu hukuman dengan musuh. Itu membuat mereka jengkel satu sama lain.
__ADS_1
Beda dengan kedua gadis yang sedang bersorak gembira karena bisa pulang sekolah awal, karena dengan alasan yang sudah direncanakan tadi di ruang UKS.
"Al, kita kemana nih? apa kita langsung ketempat tante Mirna?" tanya Cindy yang sedang duduk di kursi penumpang motor, sedangkan Calya membawanya.
"Iya Cin, kita langsung ketempat tante Mirna saja."
Mereka melajukan motornya ke tempat tante Mirna. Setelah itu, Calya memulai pekerjaannya yang dibantu oleh Cindy untuk meringankan pekerjaan sahabatnya itu.
..........................
Disitu sisi Rey dan Adit yang sedang mengerjakan hukumannya itu, bukannya saling membantu mereka malah semakin ribut.
"Ini semua gara-gara lo!! gue dihukum sama pak Dedi" ucap Rey dengan kesal yang sedang menyikat lantai toilet.
"Kenapa lo nyalahin gue!! bukannya lo sendiri yang duluan nyari ribut" elak Adit yang tak terima dirinya disalahkan. Ia sambil membersihkan kaca toilet.
"Ya ini salah lo!! ngapain berduaan sama pacar orang!!" kesal Rey.
"ngaku-ngaku lo!!"
"Lo!!!" Bentak Rey yang langsung menghampiri Adit dan mencengkram kerahnya.
"Apa lo!!" Ucap Adit yang tak kalah sengitnya dengan Rey.
Ketika mereka sedang ribut, tiba-tiba saja...
"Apa-apaan ini!!" Bentak pak Dedi yang tiba-tiba saja memergoki mereka yang sedang adu jotos di kamar mandi lebih tepatnya sedang menjalani hukuman.
Sontak saja Rey dan Adit terkejut dengan kedatangan pak Dedi yang secara tiba-tiba saja datang. Mereka berdua langsung terdiam.
"A...anu pak..." gugup Adit.
"Bapak tambahkan Hukuman kalian. Kalian bersihkan seluruh area sekolah ini!!" tegas pak Dedi.
"APA!! tapi pak ini..." ucap kaget Rey yang langsung dipotong oleh pak Dedi.
"Tidak ada alasan!!" ujar pak Dedi yang langsung melangkah pergi.
"Ini semua gara-gara lo!!!" geram Adit pada Rey, yang mulanya Rey lah yang mencari ribut duluan dengannya.
"Bodo!!" ucap Rey, ia sangat lelah jika terus berdebat dengan Adit.
Adit dan Rey, dengan segera dan secepat mungkin mengerjakan hukumannya. Agar mereka bisa cepat-cepat mengakhiri ini semua.
.
.
.
"Ahh... Akhirnya selesai juga" ujar Cindy sembari mendudukan dirinya karena lelah.
"Terimakasih yah Cin..."
__ADS_1
"Iya sama-sama Al. Lo gak usah terimakasih gitu sama gue lain kali. Ini udah kewajiban gue sebagai sahabat, yang saling memberi support dan juga saling membantu" Senyum Cindy.
"Malah gue harus banyak-bayak terimakasih sama lo Cin. Lo udah jadi sahabat yang pengertian dan juga paling baik buat gue. Gue beruntung banget punya sahabat kayak lo Cin." Haru Calya.
"Gue juga beruntung punya sahabat kayak lo Al" senyumnya.
"Ekhem-ekhem... Ada apa nih sedih-sedihan kayak gini?? ko' tante gak diajak" ucap Mirna yang menghampiri mereka berdua.
"Eh tante... Gak ada ko' hehehe" jawab Cindy
"Oh ya Al, ini gaji kamu" Mirna menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat itu pada Calya.
"Wah, terimakasih tante" sumringah Calya.
"Cie... udah gajian nih ceritanya. Bisa teraktir gue dong" cengir Cindy.
"Hush kamu jangan minta teraktir sama Calya. Dia mungkin butuh uang itu untuk keperluan nya. jadi, biar tante saja yang teraktir kalian bagaimana?" ajak Mirna yang dibalas girangan Calya dan Cindy.
"Mau tante!!" serentak mereka.
Setelah selesai dengan hukuman nya, Rey merehatkan dirinya dibawah pohon yang rindang. Sedangkan Adit, ia lebih memilih pergi ke kelasnya untuk mengambil tas dan segera pulang. Ya, mereka menyelesaikan hukumannya tepat bel pulang berbunyi.
"Ahhh akhirnya selesai juga" lirih Rey.
Ketika ia sedang merehatkan dirinya, tiba-tiba saja ia mengingat Calya yang secara ada di pikirannya saat ini.
"Apa yang dikatakan oleh Bagas benar yah, kalo gue udah jatuh cinta sama Calya"
"Buktinya ketika gue liat dia sama si kutu kupret (Adit) itu, hati gue serasa panas. Dan juga pikiran gue selalu ada bayangan Calya." Bingung nya.
"Tapi, gue bahagia dengan perasaan ini... Oh tuhan benarkah ini yang dinamakan cinta?"
"Gue harus dapetin lo Al, bagaimana pun caranya. Karena dihati gue saat ini hanya ada lo, dan selalu seperti itu. Gue gak akan biarin si kutu kupret (Adit) itu rebut lo dari gue!!" gumamnya.
Di saat Rey sedang bersantai sambil ber gumam memikirkan hatinya, tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh seseorang yang berteriak memanggil dirinya.
"Reeyyyy..." teriak Vina, ketika ia melihat Rey dibawah pohon.
"NENEK LO KECEBUR EMPANG!!... eh astaga jantung gue!!" kaget Rey dengan latahnya.
"Rey, aku cariin kamu dari tadi eh kamu malah disini." ucap Vina yang menghampiri Rey.
"Ehh mak Hindun, lo ngapain kesini dan teriak-teriak lagi." kesal Rey yang langsung melangkah kan kakinya dan diikuti oleh Vina.
"Ya mau pulang bareng lah sama kamu Rey. Kan aku tadi kesini sama kamu, jadi pulangnya juga harus sama kamu"
"Lo kan bisa minta jemput sama supir papah lo!! ngapain numpang-numpang sama gue!! emang gue supir lo apa!!" kesal Rey yang tetap melangkahkan kakinya.
"Bukan gitu Rey, tapi kan..." Belum sempat Vina melanjutkan ucapan nya, Rey menyela.
"Gue gak mau bareng lo!! udah sana minta supir buat jemput lo" suruh Rey.
"Tapikan aku maunya sama kamu... Oke, kalo kamu gak mau aku bareng sama kamu, aku akan bilang sama papah kamu. kalo kamu gak ijinin aku pulang sama kamu" Ancam Vina sembari mengambil ponselnya.
__ADS_1
Melihat itu, Rey semakin kesal dan geram. ia mau tak mau harus mengikuti permintaan Vina. Karena ia tak mau jika papahnya mengomel dan masalahnya akan panjang.