
Semua orang sedang berkumpul di lapangan depan. Menantikan pengumuman dari seorang pembina mereka untuk kegiatan acara selanjutnya.
"Baiklah semuanya, setelah kita mendirikan tenda dan beristirahat sejenak. Kegiatan kita akan dimulai dari sekarang. Yang pertama, menjelang nya waktu sore saat ini kalian carilah kebutuhan untuk malam nanti seperti kayu bakar, dan air. Ini di kerjakan oleh setiap masing-masing kelompok, untuk air kalian perlu ambil disebelah barat tak jauh dari sini kalian akan menemukan mata air disana. Apa kalian mengerti?" jelas salah satu pembina.
"Baik... Kami mengerti" serempak semua orang.
Semua orang sekarang tengah sibuk dengan kegiatannya. Terutama Calya dengan Cindy beserta rekan kelompoknya, Tia dan Rani.
Mereka membagi tugasnya dengan memecah menjadi dua, Calya dengan Tia sedangkan Cindy dengan Rani.
Calya dan Tia mereka sedang mengambil air yang sudah di beri arah oleh panita sementara Cindy dan Rani, mereka mencari kayu bakar.
Ditengah perjalanan, Tia menanyakan beberapa hal kepada Calya tentang hubungan dirinya dengan Rey. Itu membuat Calya bingung menjawab nya.
"Apakah benar, kalo kamu dan kak Rey pacaran?" tanya Tia yang memegang sebuah ember kecil ditangannya begitu pula dengan Calya.
"Emm... I... itu..." Bingung Calya.
"Semua orang disekolah sudah mengetahui nya sejak kamu, Kak Rey dan Adit anak baru itu. Dirumorkan bahwa kalian terlibat cinta segitiga. Itu benar yah?" jelas Tia dengan antusias yang layaknya seperti reporter.
"Apa!? cinta segitiga? apa-apaan. Itu tidak benar aku, kak Rey dan Adit, kami tidak mempunyai hubungan seperti itu. Kalian nya saja yang berlebihan menganggapnya" elak Calya.
"Tapi... Kak Rey waktu itu mengakui mu sebagai pacar kamu."
"Dia saja kalian percaya. Sudahlah mending kita segera mengambil air" ucap Calya yang dibalas anggukan oleh Tia.
Mereka berdua pun segera mengambil air dan segera kembali ketenda mereka. Disana sudah ada Cindy dan Rani dengan setumpuk kayu bakar dibawa nya.
Malam sudah tiba...
Mereka beristirahat sejenak melepas lelah. Tak lama kemudian sebuah speaker berbunyi kembali, segera mereka menghampiri arah suara itu.
Disana sudah ada Rey yang ternyata dialah bunyi dari suara speaker itu.
"Selamat malam semua... Saya berharap kalian tetap menjaga diri kalian dengan baik. Kegiatan hari ini adalah lintas alam yang lebih tepatnya seperti jerit malam"
Mendengar kata 'Jerit Malam' mereka semua menjadi merinding dan sedikit takut dengan kegiatan yang satu ini seperti uji nyali bagi mereka.
"kalian harus mengikuti petunjuk-petunjuk yang telah diberi tanda sebuah panah di beberapa pohon. Dan disitu juga ada beberapa bendera berwarna putih, kalian harus mengambil nya serta kembali dengan kelompok yang utuh. Baik, kita mulai dari sini silahkan kalian bisa cari bendera berwarna putih itu" Jelas kembali Rey.
Mereka semua mulai berpencar di segala arah dengan petunjuk-petunjuk yang telah diberikan oleh panitia.
Kelompok Calya pergi kearah selatan.
__ADS_1
Mereka saling mengobrol agar suasana tidak mencekam, Cindy sedari tadi hanya memeluk lengan Calya saja ia terlihat sangat takut. Jelas saja Cindy takut, karena ia sangat takut dengan hal-hal yang berhubungan dengan 'Hantu'. Dan mempunyai fobia dengan kegelapan.
"Al, kita baru dapat bendera satu nih... kita kapan kembali Al aku sangat takut disini" gemetar Cindy yang masih memeluk lengan Calya.
"Kamu tenang aja Cin, kita secepatnya akan kembali ko' tenang oke." ucap Calya dengan menenangkan Cindy. Calya juga sebenarnya sangat takut, tetapi ia tahan.
"Cal, Cin, itu kayaknya bendera putih deh... yuk kita kesana" tunjuk Rani yang melihat sebuah bendera putih.
"Tunggu, kalo itu bukan bendera putih gimana? kalo misalkan itu baju mbak kunti... hihh Al kita disini aja deh tungguin mereka berdua ngambil itu yang putih-putih yah" celoteh Cindy.
"Eh Cin, lo parno an banget sih jadi orang. Ya kita harus bareng-bareng lah ngambil itu bendera putih... Emang lo aja apa yang takut!! kita juga sama nih" ucap Tia dengan sedikit menaikan nada bicaranya yang membuat Cindy terbawa juga dengan emosinya.
"Eh Ti, lo bisa gak biasa aja!! gue juga gak mau jadi orang parno an kayak gini..." geram Cindy.
Calya dan Rani mencoba melerai mereka. Dan akhirnya Calya dan Rani lah yang mengalah mengambil kain berwarna putih di kejauhan yang tak lain hanyalah sebuah bendera putih yang mereka cari.
Ketika Calya dan Rani mengambilnya, Cindy dan Tia masih berargumen.
"Hahah... tadi apa lo bilang? gak mau parno an? Halah bilang aja lo udah bakat nya jadi penakut" ejek Tia yang menyulut emosi Cindy.
"Lo!!! oke gue akan buktiin kalo gue gak seperti yang lo ucapin. Kalo gue bukan bakat seorang penakut" balas Cindy dengan geram sambil menunjukan jarinya pada Tia.
"Silahkan... lo mau buktiin apa ke gue? lo mau tuh masuk kedalam hutan yang gelap itu. Palingan juga lo langsung pingsan hahaha" ejek kembali Tia.
Mendengar ejekan Tia, Cindy sangat emosi sehingga ia menerima ucapan Tia yang lebih tepatnya sebuah tantangan baginya. Ia tak memikirkan fobia nya itu yang sekarang malah menantang Tia dengan emosi.
Tanpa berfikir panjang, Dengan segera Cindy berlari ke dalam hutan yang sangat gelap itu. Ia terus berlari dan berlari sehingga Calya dan Rani sekarang telah kembali tanpa menyadari hal itu.
Sedangkan Tia, ia hanya menelan ludahnya dengan kasar melihat Cindy yang begitu saja mengikuti ucapannya dan ia sebenarnya hanya mengejeknya saja karena Tia sedari tadi sangat kesal dengan tingkah Cindy yang menurutnya sangat berlebihan dengan takutnya itu.
Calya dan Rani menanyakan keberadaan Cindy yang tadi berada disamping Tia, tetapi sekarang hanya Tia seorang tidak ada Cindy disisinya.
"Tia, dimana Cindy?" ucap Calya dengan khawatir.
"Di... dia..." gugup Tia dengan ketakutan.
"Jawab Tia!! dimana Cindy!?" tanya kembali Calya
"Hiks... Maafkan aku Calya... ta... tadi aku menyuruhnya untuk pergi kedalam hutan itu. Dan aku berani sumpah itu hanya gertakan ku saja karena kesal padanya hiks..." jelas Tia yang saat ini terisak nangis menyesal dengan tingkahnya itu.
Mendengar penjelasan Tia, Calya begitu syok dan takut.
"K... kamu bercanda kan Tia!? bagaimana kamu bisa berbicara seperti itu pada Cindy!!! dia fobia dengan gelap dan hantu!!! kamu!!! Ahhh aku harus mencari Cindy..." ucap Calya dengan sangat khawatir dan rasa takut dengan keadaan Cindy saat ini.
__ADS_1
Calya hendak berlari, tetapi langsung dicegah oleh Rani agar dirinya tak melakukan hal ceroboh dengan masuk kedalam hutan.
"Calya, kamu tidak boleh kesana... Kita harus kembali dan memberitahukan ini pada panitia." jelas Rani sambil mencegah Calya.
"Tidak!!! aku tidak bisa membiarkan Cindy sendirian di tengah hutan yang gelap itu!!!" elak Calya dengan teriak.
"Tenanglah Calya... Kita harus mencari bantuan terlebih dahulu. Kita tidak bisa kedalam hutan itu, apa kamu mau kau juga tersesat disana" ujar Rani dengan membujuk Calya.
Calya akhirnya menyetujui saran dari Rani.
"Jika terjadi sesuatu pada Cindy!! Kau akan tau akibatnya..." ancam Calya pada Tia sebelum mereka melangkah. Tia hanya menunduk sambil menangis.
Mereka bertiga kembali keperkemahan. Mereka melaporkan tentang Cindy yang hilang sontak saja itu membuat semuanya menjadi riuh.
Semua panitia, membagi tugas untuk mencari Cindy. Calya tidak bisa diam begitu saja ketika sahabatnya saat ini sedang membutuhkan dirinya.
Calya melangkah pergi mengikuti para panita untuk mencari Cindy, tetapi langsung dicegah oleh Rey.
"Lo mau kemana?" tanya Rey sambil memegang tangan Calya.
"Gue mau ikut cari Cindy" jawab Calya yang langsung menepis tangan Rey dan melangkah, Tetapi dicegah lagi oleh Rey.
"Tunggu!! lo gak usah ikut... Ini bahaya, lo harus tunggu disini menunggu kabar dari panitia." jelasnya.
"Apa lo bilang? tunggu!? Gue gak mau nunggu kabar dari panitia!! gue harus segera mencari Cindy... Kalo dia kenapa-napa gimana hah!!" ucap Calya dengan meneteskan air matanya yang saat ini sangat khawatir dengan Cindy.
"Gimana dengan lo? itu juga bahaya untuk lo Al. Semua panitia juga lagi berusaha... Jadi, lo disini aja oke" ujar Rey dengan memegang kedua pipi Calya dan menghapus air mata di pipi nya itu. Dan itu langsung ditepis oleh Calya.
"Gue bilang nggak ya nggak!! gue harus cari Cindy" bantah Calya yang keras kepala.
"Oke, oke lo akan ikut cari Cindy. Tetapi dengan satu syarat, gue ikut sama lo" ucap Rey.
Calya menganggukan kepalanya menyetujui saran Rey, bahwa Rey harus ikut dengan nya. Mereka berdua pergi kedalam hutan mencari keberadaan Cindy yang entah kemana perginya.
.
.
.
.
# Annyeong semua👋🏻 beri saran&kritik untuk episode kali ini!! supaya author bisa mengkoreksi kesalahan author🤗
__ADS_1
#Terimakasih bagi teman-teman yang sudah membaca Novel author ini❤
#Semoga sukses bagi pembaca💕