
...Happy reading 🥰...
...----------------...
Di ruangan serba putih, suara tangisan dari gadis kecil membuat sang ayah kewalahan menghadapinya dari tadi.
"Ngggggakkk.. Ngak mau hikss mau mama huaa" Sheila meronta ronta dalam pelukan Daniel. Sudah terhitung 1 jam lamanya Sheila menangis memanggil Tika.
"Iyaa iya nanti mama kesini. Tapi Sheila diam dulu nak"
"Mauu.... Mama. Papa jahat hiks"
"Mbak telpon Tika suruh kemari. Bilang Sheila dari tadi nangis nyariin dia"
Daniel mengusap pipi Sheila yang dipenuhi air mata "Udah diam dulu sayang, nanti tenggorokannya sakit"
"T-tuan ini nyonya ingin bicara sama non Sheila"
"Mamaaa... " Pekik Sheila saat melihat Tika di balik telpon
Daniel menidurkan Sheila atas brankar.
"Kenapa menangis hemm? "
"Sheila mau mama, mau nen hiks"
"Iya mama nanti ke sana, tapi Sheila janji dulu makan terus minum obat dan juga jangan menangis lagi"
Sheila mengerucutkan bibirnya "Mama lama"
"Ini mama mau siap-siap, Sheila tunggu aja ya"
"Oke mama"
__ADS_1
Panggilan pun berakhir.
"Makan dulu ya terus minum obat"
Sheila hanya mengangguk pertanda setuju.
Tika sedang dalam perjalanan menuju RS bersama ibunya dan Arsen. Tika sudah menceritakan semuanya pada ibunya dan kalian tau apa yang di katakan ibunya?
"Dalam hubungan itu harus ada yang mengalah jika keduanya keras maka yakinlah hubungan itu tak akan bisa bertahan. Kamu tau Tik, ketika mama bertengkar sama papamu mama selalu diam, biarkan dia mengeluarkan emosinya jika emosinya sudah reda baru ajak ngomong baik-baik dan jelaskan. Jangan pernah lari dari masalah, karena masalah itu ada untuk di hadapi bukan untuk di tinggali"
"Jadi sekarang kamu pergilah ke RS kasihan Sheila, dia pasti mencari mu"
Karena ucapan ibunya lah Tika memantapkan hatinya untuk datang menemui Sheila. Tak terasa kini mereka sudah sampai di RS. Mereka menyusuri koridor, menaiki lift menuju ruangan VIP.
Tok.. Tok
Ceklek
Di dalam ruangan hanya ada baby sister dan Sheila, Daniel? Entah kemana pria itu.
Tika melepas pelukan dan duduk di samping Sheila "Bagaimana sayang apa masih sakit? Atau pusing? " Tanya tika
"Pusing sedikit"
"Uhhh kasian banget siih anak mama"
"Nggak kangen sama oma niih? " Goda puspita pura pura ngambek yang merasa diabaikan dari tadi
Sheila terkikik "Kangen omaa, kangen baby Arsen juga"
"Papa kemana Sheila" Tanya Puspita
"Papa pul-
__ADS_1
Ucapan Sheila terpotong karena kehadiran Daniel.
Ceklek
" Ma.. " Daniel menyalami Puspita yang duduk di sofa.
"Dari mana niel? "
"Pulang ambil berkas ma" Daniel mencuri-curi pandang ke arah Tika yang tampak sibuk berbicara sama Sheila. Daniel hanya bisa melihat dari jauh. Daniel sangat-sangat rindu pada istrinya, tapi karena kekecewaan yang sangat mendalam tak bisa Daniel elakkan. Daniel sengaja tak meminta maaf dan tetap mendiamkan Tika. Ia berharap dengan kejadian seperti ini Tika tak ceroboh lagi.
Puspita membulatkan mulutnya "bagaimana kabarmu? "
"Sehat ma. Kalau mama sekeluarga bagaimana? "
"Alhamdulillah mama sekeluarga juga sehat. Main main dong kesana niel udah lama rasanya kamu enggak ke rumah"
"Iya nanti Daniel ke rumah ma"
Mama Tika berdiri dari duduknya menghampiri Tika "Tik mama pulang dulu ya, soalnya nanti siang mama ada arisan" Bisik Puspita agar tak membangunkan cucunya yang sudah terlelap.
"Loh kok gitu siih ma, bentar lagi aja pulangnya sama Tika" Tika ikut berbisik
"Kamu gimana sih tik anak lagi sakit kok mau pulang. Ini juga ada suami mu loh" Puspita melotot tajam.
Tika memalingkan wajah ke Sheila tak ingin melihat wajah marah Puspita. Puspita tak peduli dengan Tika ia langsung pamit ke Daniel dan langsung pulang.
Di ruangan kini tinggal Daniel dan Tika saja sedangkan mbak sudah Daniel suruh pulang.
Karena tak tahan dengan keheningan Daniel akhirnya membuka suara.
"Setelah Sheila keluar dari RS aku akan berangkat ke kota Y. Kantor cabang di sana mengalami masalah, aku tak mungkin membawa kalian berdua. Apalagi Sheila yang harus sekolah, aku belum tau berapa lama disana. Pulanglah ke rumah, tempat tinggal kamu sekarang berada di rumahku bukan lainnya" Ucap daniel
Tika diam tak merespon apa yang Daniel ucapkan. Ia tak ingin berbicara dulu pada Daniel. Apa yang Daniel katakan kemarin sungguh membekas, sakit rasanya di tuduh-tuduh tanpa mendengar penjelasannya"
__ADS_1
Bukankah kunci utama dalam pernikahan itu saling percaya? Jika keduanya saling percaya maka yakinlah hubungan itu akan awet. Jika dalam pernikahan tak ada rasa saling percaya satu sama lain maka terjadilah pertengkaran yang hal hal kecil saja bisa kian membesar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...