Preman Cewek

Preman Cewek
PC #01


__ADS_3

SMAN 1 Kota M, adalah SMA paling elit dan paling terfavorit dibandingkan dengan beberapa SMA yang ada di Kota M. Di SMA ini bisa menemukan anak-anak para pejabat, pengusaha, dan beberapa adalah pertukaran pelajar dari luar negeri.


Alina, seorang putri dari seorang Mafia yang ternama, ia adalah siswi kelas 11, semua siswa-siswi akan segan dan takut untuk berteman dengannya, mengingat Mafia adalah sebuah organisasi yang tidak main-main.


Kehidupan Alina tidaklah berat, ia di sekolah mungkin hanyalah seorang penyendiri, namun ketika berada di luar sekolah, yakni ketika berada di rumah, dia diperlakukan layaknya seorang putri dari sebuah kerajaan, oleh para bawahan ayahnya.


Ia tidak peduli terhadap lingkungan sosialnya di sekolahan, karena ia hanya berniat sekolah, dan tidak ada tujuan lain. Satu-satunya tujuannya di masa depan adalah meneruskan pekerjaan ekstrim ayahnya itu.


Hingga tibalah hari itu, hari dimana ia mendapatkan tugas kelompok dari seorang guru. Ia bingung, ia tidak memiliki seorang pun untuk dijadikan teman satu kelompoknya, yang mana satu kelompok harus memiliki 4 anggota, berisi 2 cowok dan 2 cewek.


Pada saat itu Alina hanya menatap kertas tugasnya, dan berpikir bagaimana caranya mendekati teman kelasnya agar ada yang mau berkelompok dengannya. Bukan karena Alina tidak mampu untuk membentuk kelompok, hanya saja tidak ada yang berani mendekatinya.


Saat jam istirahat tiba, dia terduduk di bangkunya dengan penuh kecemasan, Alina sebelumnya hanya merasa sendirian di kelas, tapi ternyata ia salah. Di kelasnya ada seorang cowok, yang tertidur di atas mejanya.


Alina mendekati cowok yang pulas tertidur itu, tapi tiba-tiba saat Alina mendekatinya cowok itu lalu dengan sigap duduk.


"Oi, maukah kau masuk ke kelompokku?" Tanya Alina, dengan nada agak membentak.


Cowok itu lalu melihat Alina dengan tatapan yang kosong, dan tak mengucapkan sepenggal kalimat maupun sepatah katapun.


Cowok itu terus melihat ke arah Alina, hingga akhirnya dia hanya menganggukkan kepalanya. Di saat itu pula Alina merasa dia tidak dihargai, karena cowok itu seperti malas-malasan dengan jawabannya.


Alina lalu lebih mendekat, dan lalu menarik kerah cowok itu dengan penuh amarah.


"Jawab dengan tegas! Berani-beraninya kau menyepelekan aku." Ucap Alina, namun cowok itu hanya diam dan masih dengan tatapan kosongnya.


Cowok itu lalu akhirnya mengucapkan sesuatu, "Guntur. Namaku adalah Guntur," ucapnya sambil melepaskan tangan Alina dari kerahnya.


"Terserah apa yang ingin kau lakukan denganku, jangan ganggu tidur siangku." Sambung Guntur, dan kembali tidur di atas mejanya.


Alina yang merasa kesal pun tidak bisa berbuat banyak, karena tujuannya hanya membuat sebuah kelompok, dan karena Guntur setuju maka Alina sudah merasa cukup.


Alina kembali ke mejanya, dan memasukkan Guntur ke dalam daftar kelompoknya. Alina lalu kembali duduk di bangkunya, dan mencemaskan keadaan kelompoknya yang belum terbentuk.


"Ajak saja si kembar bule, mereka tidak punya kelompok." Ucap Guntur yang terlihat memejamkan mata di atas mejanya.

__ADS_1


Alina agak terkejut dengan hal itu, karena Alina merasa itu adalah satu-satunya hal yang saat ini bisa ia upayakan, ia pun memutuskan untuk mencari si kembar bule yang dimaksud Guntur.


Si kembar bule ini adalah pertukaran pelajar, yang baru masuk saat kelas 11, jadi kemungkinan besar mereka belum memiliki kelompok karena belum begitu berbaur dengan teman kelasnya.


Segeralah Alina pergi, beranjak dari kelas menuju kantin. Cara berjalan Alina cukup manly, ia cukup tegap dan percaya diri dengan langkahnya, namun para siswa yang melihat cara berjalan seperti itu merasa bahwa Alina sedang menunjukkan keangkuhan, makanya semua orang pastinya akan memberinya jalan.


Sesampainya di kantin, semua orang sedang santai makan dan mengobrol, Alina mencari si kembar bule itu. Sorot mata Alina kesana-kemari, beberapa siswa yang menyadari kehadiran Alina lalu tunduk di mejanya.


Saat Alina menemukan si kembar itu, ia langsung mendekati mereka. Mereka berdua yang sedang asyik memakan makanan tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran Alina, mereka lalu menaruh sendok dan garpu mereka.


"Kudengar kalian belum memiliki kelompok ya?" Tanya Alina dengan nada yang cukup angkuh, semua mata yang ada di kantin itu menatap ke arah Alina.


"Sebaiknya kalian masuk ke dalam kelompok ku." Sambung Alina dengan senyum manis yang seolah menunjukkan sebuah ancaman.


"Emm… Ya, tentu saja. Aku Rano, dan ini saudariku Rani." Jawab si kembar cowok, dengan entengnya.


"Aku Rani." Ucap si kembar cewek dengan senyum dan memberikan pose halo dengan tangannya pada Alina.


Alina berpikir kalau si kembar bule ini tidak mengenalnya sebagai anak Mafia, Alina jadi agak merasa lega ketika kelompoknya sudah terbentuk.


"Apa yang kau lakukan?" Teriak Alina pada Guntur, Guntur pun mengangkat pandangannya dan lalu melihat ke arah Alina.


"Jadi kau ya, preman cewek yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang-orang?" Ucap Guntur, entah mengapa Alina merasa Guntur ini orangnya tidak memiliki gairah untuk hidup sama sekali.


Alina lalu segera mendekat, dan lalu menuliskan nama Rano dan Rani di kertasnya.


"Aku putri dari seorang mafia, apa maksudmu preman?" Tanya Alina setelah itu.


"Apa kau memiliki senjata api, senjata tajam atau semacamnya?"


"Kenapa kau menanyakan hal itu?"


"Apa kau memilikinya?"


"Aku memilikinya, lalu apa maumu?"

__ADS_1


"Bisakah kau membunuhku dengan senjatamu?" Ucapan Guntur ini membuat Alina kaget terheran-heran.


Alina lalu menatap Guntur dengan perasaan penasaran, namun Guntur tetap menatap Alina dengan pandangan kosongnya.


"Apa maksudmu?" Tanya Alina.


"Bunuh aku. Apa aku perlu membayarmu agar kau paham? Aku ingin kau membunuhku." Jawab Guntur.


"Apa maksudnya? Apa kau ingin aku membunuhmu?"


"Ya," jawab singkat Guntur, lalu ia duduk di bangku di depan bangku Alina, dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Bunuh aku dengan senjatamu." Pintanya lagi.


"Aku benar-benar tidak paham yang kau maksudkan!"


"Singkatnya aku ingin mati."


"Apa alasanmu?"


"Tidak ada, aku hanya ingin mati."


"Kau yakin?" Tanya Alina agak serius pada Guntur, dan Guntur menganggukkan kepalanya.


Alina lalu berpikir bahwa Guntur ini benar-benar tidak memiliki gairah hidup sama sekali, walaupun Alina tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi pada Guntur.


"Aku memiliki kesepakatan, kurasa ini tidak akan merepotkan nantinya." Ucap Alina, Guntur lalu menarik pandangannya dan menatap Alina, siap mendengar Alina.


"Daripada kau mati saat ini, aku akan berjanji membunuhmu ketika lulus SMA. Asalkan, kau menemaniku di tiga tahun kehidupan sekolah ku ini. Gimana? Menarik, kan?" Sambung Alina bertanya.


Guntur lalu mengulurkan tangan, "Kenapa enggak." Ucap Guntur, lalu keduanya saling berjabat tangan, untuk tanda saling menyetujui tawaran Alina.


Guntur hanya berpikir, bahwa ia ingin mati apapun caranya.


-

__ADS_1


__ADS_2