Preman Cewek

Preman Cewek
PC #08


__ADS_3

Keesokan paginya.


"Alina, aku disuruh Claude untuk mengantarmu ke sekolah." Ucap Ina yang berada di kamar Alina, Alina sedang menata wajahnya.


"Oh begitu. Ina, aku ingin bertanya padamu terkait Guntur, apa gak masalah?"


"Aku sudah tau apa yang akan kau tanyakan. Singkatnya, Guntur disuruh seseorang untuk membunuh orang tua kami. Saat itu aku sedang berada di luar kota."


"Apa kalian dari Kota M?"


"Kami sebenarnya dari kota S, ayah dan ibu kami adalah seorang peneliti. Mereka ahli dalam beberapa bidang, dan tengah menjalankan penelitian mereka saat dibunuh."


"Apa kau tau mengapa Guntur mau membunuh mereka?"


"Gak tau kepastiannya."


"Dibayar?"


"Dia gak peduli dengan uang."


"Saat aku pertama kali bertemu dengan Guntur, ia menyuruhku untuk membunuhnya. Namun, aku menundanya hingga hari kelulusan."


"Claude sudah memberitahukan tentang itu padaku. Apa kau akan membunuhnya?"


"Aku sepakat dengan Guntur akan hal itu. Apa kau gak masalah?"


"Maka aku akan membantumu. Sebenarnya aku gak tega akan membunuh adikku itu, aku akan membiarkanmu melakukannya. Entah apa yang akan dia lakukan ketika bertemu denganku, yang jelas kalo kau berjanji akan membunuhnya, aku gak akan mengganggumu."


"Baiklah. Bukan kah aneh, mau membunuh orang tapi aku izin pada keluarganya dulu haha."


"Apa kau pernah membunuh seseorang sebelumnya?"


"Aku gak membunuh seseorang secara langsung, tapi mungkin aku pernah dalam hidupku membunuh seseorang."


"Oh ya?"


"Ibuku. Sepertinya ia terbunuh karena aku," Alina lalu menunjukkan raut muka sedih.


"Ia meninggal saat melahirkanku." Sambung Alina.


"Itu hal yang cukup menyedihkan, mengingat keluargamu adalah keluarga yang berbahaya. Hidup di lingkungan seperti itu tanpa seorang ibu, bukankah kau beruntung masih memiliki perasaan?"


"Ya, aku rasa begitu. Maaf menunggu lama, sekarang kau bisa mengantarku ke sekolah. Aku ingin mengenalkanmu pada dua temanku."


"Tunggu Alina, untuk apa?"

__ADS_1


"Cukup ikuti apa yang aku ingin lakukan."


Ina pun mengiyakan, dan segera mengantar Alina menggunakan mobil mewah milik Claude. Tentunya, diikuti beberapa mobil bawahan Agra.


"Aku cukup senang mengenalmu, Alina. Tapi, aku ingin kau membunuh adikku dengan gak menyakitinya." Ucap Ina di tengah perjalanan, sambil menyetir mobil.


"Ya." Jawab singkat Alina.


Sesampainya di sekolah, Alina dan Ina turun dari mobil. Dan ya, sepertinya Rani dan Rano diberitahu oleh Alina untuk menunggunya di depan gerbang sekolah.


"Pagi, Alina." Sapa Rani dengan senyumannya seperti biasa, begitu juga Rano.


"Pagi Rani, Rano juga." Balas Alina.


Alina lalu mengenalkan Ina pada Rani dan Rano, tanpa menyebutkan kalau ia adalah kakak dari Guntur.


"Hm? Sepertinya aku gak asing dengan mukanya." Ucap Rano.


"Oh ya? Ya, sebenarnya aku cuma mau mengenalkannya pada kalian, gak ada hal lain." Balas Alina, lalu Rani dan Rano mengiyakan.


Rani dan Rano lalu diminta oleh Alina untuk pergi ke kelas terlebih dahulu, Alina akan sedikit berbincang dengan Ina.


"Bagaimana tentang mereka?" Tanya Alina pada Ina.


"Apa kau memikirkan tentang sesuatu saat melihatnya?"


"Gak juga, kau salah kalo ingin mendengarkan pendapatku. Aku bukan orang yang bisa mendefinisikan sesuatu hal, aku bukan seorang yang sepintar Claude," jawab Ina, lalu berjalan menuju mobil.


"Nanti pulang sekolah, aku akan menjemputmu. Saat ini aku harus membereskan beberapa hal yang ada di dapur." Sambung Ina.


Setelah Ina dan beberapa mobil yang mengantar Alina pergi pulang, Alina segera masuk kedalam kelas dan mengikutinya pelajaran.


Lagi-lagi Alina gak melihat kehadiran Guntur.


Jam istirahat tiba, kali ini Alina tidak makan bersama Rano dan Rani di kantin, ia pergi ke belakang gedung sekolahnya.


Dan lalu duduk di tempat Guntur biasanya duduk, dan lalu menatap pepohonan yang rindang. Dedaunannya yang dilintasi cahaya matahari, sejuk dan membuat Alina nyaman.


"Kemana sebenarnya Guntur pergi? Kenapa para dewan guru gak ada yang memperdulikannya? Dan juga, kenapa aku harus memikirkannya?" Pikir Alina bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Kenapa tempat sejuk seperti ini gak ada yang menemukannya ya? Apakah karena ada sesuatu hal yang pernah terjadi di sini?" Ucap Alina monolog, sambil menatap ke segala arah, mengawasi sekitar.


Alina merasa sudah cukup lama ia berdiam di sana, ia akan segera kembali ke kelas.


Sesampainya di depan ruang kelasnya, ia melihat keramaian yang mengerumuni kelasnya. Ia segera mempercepat langkahnya untuk pergi ke kelasnya. Saat Alina tiba di sana, beberapa orang lalu memberikan jalan untuknya.

__ADS_1


Alina terus menanyakan hal apa yang terjadi, namun tidak ada yang menggubrisnya.


Saat Alina masuk kelas, ternyata ada Guntur yang sedang dicekik oleh seseorang yang berbadan besar, dan tidak mengenakan seragam, sepertinya bukan seorang siswa.


"Guntur?!" Teriak Alina kaget. Semua mata lalu tertuju padanya, termasuk Guntur dan orang yang mencekiknya.


Dicekik seperti itu tapi raut muka Guntur masih saja santai, seperti tidak memiliki tekanan apapun.


"Orang ini cukup berisi badannya, tapi dari cara dia mencekik seperti orang yang bertindak tanpa berpikir panjang. Sepertinya aku bisa menanganinya dengan beladiriku." Pikir Alina.


Dari tatapan Guntur, Alima menyadari sesuatu, "Ada apa?" Tanya Alina.


"Kau siapa? Apa kau pacar bocah ini?" Tanya orang yang mencekik Guntur.


"Bukan, tapi aku gak suka dengan kehadiranmu di sini. Kau membuat takut seluruh sekolahan!" Jawab Alina, mempersiapkan kuda-kudanya.


"Apa-apaan pose mu itu?" Tanya orang itu pada Alina.


"Mari kita selesaikan!" Jawab Alina dengan berteriak, dan mulai melancarkan beberapa serangannya.


Objektif Alina adalah melepaskan cekikan yang diterima Guntur, setelah itu Alina mulai berhadapan dengan orang berbadan besar itu.


Guntur berdiri tegak setelah dilepaskan, dan ya masih tenang, dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam sakunya.


Diperhatikan oleh banyak orang, Alina mulai menghajar orang itu dengan kemampuannya. Dan ya, benar saja seperti yang Alina asumsikan sebelumnya, bahwa orang ini hanya memiliki otot tanpa memiliki kemampuan bertarung.


Singkat cerita, terdengar tidak masuk di akal memang, namun Alina benar-benar menumbangkan orang yang mencekik Guntur sebelumnya, hingga pingsan.


"Kenapa kau menyelamatkanku?" Tanya Guntur.


Dengan ngos-ngosan dan tatapan sinis, Alina berkata pada Guntur, "Kau akan mati bila dicekik olehnya." Jawab Alina.


"Lalu? Biarkan aja aku mati."


"Gak akan!" Teriak Alina, "Yang boleh membunuhmu adalah aku!" Sambungnya.


Mungkin mereka tidak sadar, atau sadar namun lupa, bahwa mereka sedang diperhatikan banyak orang. Semua orang mulai membuat kegaduhan dengan bertanya kekanan kiri mereka masing-masing.


"Kemana aja kau selama ini? Benar-benar biadab!" Ucap Alina, dan melempar pukulan keras ke arah Guntur.


Guntur dengan santai menangkisnya hanya dengan satu tangan, sedangkan tangan satunya lagi masih di dalam sakunya.


"Aku sedang mengerjakan tugasku. Kau gak perlu tau dengan hal itu kan?" Ucap Guntur.


-

__ADS_1


__ADS_2