
Saat mereka bertiga duduk dan menatap Rani dengan serius, mereka hanya diam tanpa mengobrolkan apapun.
"Ngomong-ngomong, aku mulai bosan." Celetuk Guntur.
"Sama, tiba-tiba aku juga bosan." Sambung Alina.
"Iya juga, sebenarnya kita ngapain? Mending kita beli makanan dulu deh." Ucap Rano, lalu pergi ke tempat makanan di kantin.
"Kau tau dia dari organisasi mana?" Tanya Guntur pada Alina saat hanya duduk berdua dengannya, tentang cowok yang duduk berdua dengan Rani.
"Aku gak ngerti dan gak pernah tau dengan lambang yang ada di pergelangan cowok itu. Sepertinya organisasi yang beroperasi secara rahasia." Jawab Alina.
Guntur dan Alina masih menatap Rani dan cowoknya, tak lama setelah itu Rano datang membawa 3 gelas minuman, dan dibagikannya pada Alina dan Guntur.
Mereka akhirnya duduk santai kali ini, dan hanya sesekali melihat ke arah Rani. Rani tampaknya lumayan sering tertawa dengan cowok yang ada di hadapannya itu.
"Sejak kapan Rani pacaran? Kayaknya kemarin belum tuh." Tanya Alina pads Rano.
"Mereka pacaran di sosial media, aku sebenarnya juga kaget ketika Rani tiba-tiba bilang kalo dia udah punya pacar." Jawab Rano.
Guntur hanya diam mendengarkan obrolan Alina dan Rano, mendengarkan tanpa mengucapkan apapun seperti sebelumnya yang selalu mengomentari obrolan Alina dan Rano.
"Misterius sekali, aku jadi makin curiga."
"Kamu aja curiga, apalagi aku. Terlebih lagi, aku dan Rani kan di sini cuma tinggal berdua. Berbeda dengan kalian, yang mungkin masih under control."
"Ya karena kau kan ada di negara orang sekarang ini, dan juga sebenarnya kau harus lebih mengawasi Rani. Mau bagaimanapun juga, kau ini saudara cowoknya." Jelas Alina, lalu ia menyeruput minumannya sambil melirik ke arah Rani.
"Dari tadi aku perhatikan, Rani gak menyadari keberadaan kita disini. Atau mungkin ia pura-pura gak liat?" Celetuk Guntur bertanya, sambil menatap Rani.
"Harusnya dia menyadari kehadiran kita disini sih." Jawab Rano.
Tak berapa lama setelah itu, jam istirahat telah usai, bel sekolah telah berbunyi.
__ADS_1
Alina, Guntur dan juga Rano lalu beranjak ingin meninggalkan meja, dan akan segera pergi ke kelas. Terlihat disana Rani dan cowoknya masih santai ngobrol.
Saat mereka bertiga sampai di kelas, mereka lalu duduk di bangkunya masing-masing.
Rani tiba-tiba masuk kelas dengan tergesa-gesa, Alina, Guntur dan Rano lalu menatap ke arahnya, dan seolah bertanya-tanya kenapa Rani begitu tergesa-gesa.
Namun, belum sempat mereka bertanya pada Rani, guru pemateri telah memasuki kelas dan akan segera memulai kelasnya.
Singkat cerita, ketika pulang sekolah Alina, Guntur dan Rano bertanya pada Rani tentang kejelasan cowoknya, namun Rani hanya tersenyum saja dan langsung pergi, dan berpamitan pada Rano bahwa akan pulang agak sorean.
"Aku jadi khawatir pada Rani." Ucap Rano, saat Rani baru saja pergi.
"Apa kau akan membuntutinya?" Tanya Alina.
"Sebaiknya jangan gegabah, dengan membuntutinya sendiri begitu," sahut Guntur, lalu ia menepuk pundak Alina, "Rudi." Sambung Guntur.
Alina langsung mengerti apa yang dimaksud oleh Guntur, Alina segera mengeluarkan HP-nya dari tas punggungnya, dan lalu menelepon Rudi.
"Siapa Rudi?" Tanya Rano pada Guntur, sedangkan Alina sedang menelepon dengan Rudi.
"Bukannya Claude? Alina pernah mengenalkan Claude padaku dan Rani."
"Claude itu sebenarnya cuma ajudan pribadi ayahnya Alina, dia orang yang jarang turun ke lapangan seperti si Rudi ini. Cuma, sekalinya Claude turun ke lapangan, ia akan menciptakan huru-hara. Aku yakin akan hal itu."
"Semengerikan itukah?"
"Enggak juga sih, aku hanya melebih-lebihkan heh."
"Oke, Rudi langsung tau yang namanya Rani, dan dia mulai bergerak sekarang." Ucap Alina, yang telah selesai menelepon Rudi.
"Jadi, apa kita akan menunggu Claude untuk pulang?" Tanya Guntur pada Alina.
"Mana bisa, kau harus ikuti Rani bareng ama Rano, aku harus menyelesaikan tugasku di rumah. Ayahku kan berangkat pagi ini, dan pastinya Claude gak jemput kita dong. Aku akan minta jemput Ina, kau dan Rano pergi aja." Jawab Alina.
__ADS_1
"Ckk… Merepotkan sekali." Balas Guntur lalu segera mengajak Rano untuk segera pergi, agar tidak kehilangan jejak Rani.
Alina pulang ke rumah untuk mengurusi pekerjaan yang diberikan oleh ayahnya, dibantu oleh Ina karena Guntur sedang melakukan apa yang dimintai oleh Alina.
Guntur dan Rano berjalan mengikuti Rani yang berjalan berdua dengan cowoknya, dari kejauhan sih, Rano saja gak bisa melihat dengan jelas, bisa-bisanya Guntur bisa melihat dengan jelas Rani dan cowoknya dari kejauhan.
"Ini gak kejauhan? Aku gak melihat mereka lho." Ucap Rano.
"Kalo kita lebih deket lagi, mereka akan menyadari keberadaan kita. Lebih baik jarak jauh seperti ini, lagipula kesehatan matamu buruk sekali. Padahal aku masih bisa melihat mereka." Jawab Guntur, yang nampak malas-malasan saat berjalan.
"Oiii… Bos muda, Guntur!" Teriak seseorang pada Guntur dan Rano, dan ya itu adalah Rudi.
"Ngapain kau?" Tanya Guntur pada Rudi yang telah mendekat padanya dan Rano.
"Tadi nona muda bilang suruh ngikutin Rani, kan? Lah ini aku dateng, bos muda juga ngapain disini? Gak bantu nona mengerjakan tugas-tugasnya kah?" Tanya Rudi lagi.
"Kakakku kan udah ada. Ah gini aja, kau tau target operasi mu, kan? Kau mendekatlah pada target, dan cari informasi sebanyak apapun. Aku akan berada di jarak segini, agar target gak menyadari kehadiranku." Pinta Guntur pada Rudi.
Rudi lalu memberi pose hormat pada Guntur, dan lalu segera berjalan mendahului Guntur, agar mendekati Rani dan cowoknya.
"Kenapa kau nampak ogah-ogahan ngobrol ama dia?" Tanya Rano.
"Dia itu alat yang udah sering dipake oleh Alina, psikologinya hampir rusak karena Alina. Jadi, aku gak bisa ngobrol serius dengannya." Jelas Guntur.
"Alat?!!"
"Maksudku bukan dalam artian negatif, ia sering disuruh oleh Alina menjalankan tugas-tugas yang berat. Dan katanya, dia bisa mendapatkan lima tugas sekaligus dari Alina." Jelas Guntur lagi, yang membuat Rano terkejut sekali lagi.
"Ternyata Alina sejahat itu?" Tanya Rano.
"Bukan jahat juga, itu karena Rudi yang bodoh. Aku bisa bilang begini, karena ini kenyataannya. Ia terlalu bergantung pada apa yang disebut posisi. Semisal dia kayak Claude, dia gak akan menjadi alat yang dipake Alina."
"Kalo dibanding dengan Claude, semua orang pastinya akan kalah dengan kehebatannya, kan? Aku bisa merasakan aura positif dari Claude, saat berjumpa dengannya pertama kali, aku langsung berdecak kagum padanya." Balas Rano.
__ADS_1
"Itu, kan yang kau tau. Kau belum tau kehebatannya yang sesungguhnya. Lain kali akan aku ceritakan padamu, sekarang kita fokus pada saudarimu dulu." Ucap Guntur yang menerima telepon dari Rudi.
-