
"Adalah sebuah keputusan yang bijak bila kau mulai memberikan Alina tanggung jawab. Setelah lulus dari SMA dia akan segera menjadi penggantimu." Sambung Claude.
"Kalau kau berkata begitu, maka aku akan mempertimbangkannya." Ucap Agra, lalu pergi dari ruangan tempat mereka bertiga berdiskusi.
Claude dan Alina masih berada di ruangan yang sama.
"Selanjutnya, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Claude pada Alina.
"Selanjutnya? Aku gak tau juga, setidaknya aku gak akan memikirkan hal lain selain keanggotaan kita." Jawab Alina.
"Mulai berpikirlah selayaknya seorang pemimpin, bisa saja kau akan termakan egomu saat kau menjadi pemimpin." Jelas Claude lalu meninggalkan Alina sendirian di ruangan itu.
Alina mulai berpikir, kenapa sebelumnya ia merasa bersemangat untuk menggantikan ayahnya. Sedangkan ia mulai meragukan dirinya sendiri saat ini.
Keesokannya, Rani dan Rano terlihat cukup murung saat mengikuti pelajaran. Saat jam istirahat tiba, Alina bertanya pada mereka.
"Kalian kenapa?" Tanya Alina pada Rani dan Rano, yang bermuka lesu.
Rani dan Rano saat Alina menanyakan hal itu, lalu berpura-pura senyum pada Alina, dan bertingkah periang seperti biasanya.
"Eh, kenapa? Gak apa-apa kok hihi." Jawab Rani, disambung dengan senyuman ia dan Rano.
"Katakan padaku. Aku akan bantu kalo kalian punya masalah." Balas Alina.
"Kami gak apa-apa. Hanya saja, keluarga kami memiliki sedikit masalah ekonomi." Ucap Rano, yang senyumnya perlahan pudar.
"Apakah sangat berpengaruh pada kalian?"
"Kami gak terlalu terdampak, karena kami termasuk pertukaran pelajar melalui jalur prestasi. Biaya hidup kami masih ditanggung pihak negara. Hanya saja, keluarga kami yang masih di negara kami, memiliki sedikit masalah tentang itu," jelas Rano, dan lalu tersenyum kembali.
"Tapi gak apa-apa kok, beneran." Sambungnya.
"Orang tua kalian masih lengkap? Ayah dan ibu?" Tanya Alina, Rani dan Rano lalu mengangguk, mengiyakan pertanyaan Alina.
"Oh… Baiklah, semoga mereka selalu sehat."
__ADS_1
"Kenapa kamu tanya begitu tiba-tiba?" Tanya Rani pada Alina.
"Yah, kalian mungkin akan gak enak setelah aku bercerita hal ini. Aku gak pernah merasakan hangatnya pelukan seorang ibu." Jawab Alina, matanya tiba-tiba sayu.
Rani dan Rano agak terkejut dengan jawaban Alina.
"Kamu serius?" Tanya Rani.
"Ibuku meninggal saat aku lahir, dia mengorbankan hidupnya untuk kelahiran ku. Dan percaya atau tidak, kematian ibuku menjadi salah satu hal yang menyebabkan organisasi mafia yang dipimpin oleh ayahku melemah." Jawab Alina.
"Kami sedang bersimpati padamu karena kamu teman kami, dan sebenarnya aku tidak peduli dengan dunia mafia." Sahut Rano.
"Begitu ya? Mungkin juga ini kelemahan ku, dan salah satu alasan mengapa aku gak memiliki teman. Setiap kali aku ngobrol, pasti ujung-ujungnya membicarakan tentang mafia." Ucap Alina, dan mulai berbicara dengan nada kalem, tidak seperti biasanya yang selalu berbicara dengan nada yang angkuh.
"Tidak-tidak, kamu tidak selalu mengobrol dan membicarakan tentang mafia kok. Kita juga sudah beberapa kali berdiskusi, dan kurasa kamu bisa mengobrol seperti kebanyakan orang kok." Balas Rano, diikuti dengan senyuman darinya dan Rani.
"Apa kamu mau mendengarku menceritakan tentang ibuku?" Tanya Rani, Alina lalu mengangguk.
Rani dan Rano menceritakan tentang indahnya bercengkrama dan asyiknya seorang ibu. Alina sangat tertarik dengan cerita itu, walaupun sebenarnya di dalam hatinya ia sangat iri dengan kehangatan seorang ibu.
"Kalian ini, bisa-bisanya menyakiti perasaan teman kalian sendiri." Ucap Guntur tiba-tiba, padahal Rani dan Rano merasa kalau sebelumnya di kelas hanya ada mereka dan Alina.
"Apa maksudmu?" Tanya Rano.
Guntur lalu mengangkat kepalanya dari atas meja, menatap ke arah Rani dan Rano dengan pandangan lesu.
"Meski Alina terlihat cukup senang dengan cerita kalian, hatinya akan tercabik-cabik karena cerita sosok ibu yang kalian bicarakan," jelas Guntur.
"Dan juga, biarpun dia seorang preman, bertindak semena-mena pada orang lain, dan sifatnya yang amburadul, dia masih memiliki hati. Alina gak memiliki ibu, benar-benar gak memiliki ibu, gak pernah kenal ibunya, apa kalian yakin bercerita tentang hal itu? Kalo menurutku kurang etis kalian bercerita seperti itu. Lihat saja dia di toilet, aku yakin dia sedang menangis." Sambung Guntur, Rani dan Rano tidak begitu memahami maksud Guntur, tapi mereka cukup paham poin penting yang ingin disampaikan Guntur.
Rani lalu segera pergi keluar kelas, dan akan menemui Alina di toilet perempuan.
Guntur lalu mendekati Rano yang duduk di bangkunya, "Peringatkan pada saudarimu, hati-hati saat berbicara dengan Alina," ucap Guntur.
"Dan juga, jika kalian ingin berteman secara sungguh-sungguh dengan Alina, jangan pernah merasa paling mengerti tentangnya. Sama sepertiku, kalian hanya orang asing baginya." Sambung Guntur, lalu keluar dari kelas.
__ADS_1
Di sisi lain, Rani melihat kerumunan di toilet perempuan, segera Rani mendekati kerumunan itu. Semua orang melihat sebuah cermin pecah di toilet perempuan itu.
"Kenapa ini?" Tanya Rani pada seseorang yang ada di kerumunan itu.
"Eh... Ini… Kamu yang kemarin-kemarin makan bareng Alina di kantin ya? Cermin ini yang memecahkan Alina, dia juga menangis." Jawab orang itu.
"Hah? Lalu apa kamu tahu dimana Alina sekarang?" Tanya Rani, namun orang itu menggelengkan kepalanya.
Di belakang gedung sekolah, Alina sedang duduk bertumpu pada lututnya, dan menangis.
"Lihat? Inilah mengapa, dunia itu sangat kejam." Ucap Guntur yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Alina.
Alina masih menundukkan kepalanya.
"Rani dan Rano tidak akan tahu apa yang kau rasakan, sebaiknya kau jangan menunjukkan kesedihan mu pada mereka." Ucap Guntur setelahnya.
"Kenapa kau ada disini?" Tanya Alina pada Guntur, masih menundukkan kepalanya.
"Seharusnya aku menanyakan hal itu padamu, kenapa kau ada di tempatku biasanya berteduh. Aku selalu datang kemari waktu istirahat, walaupun kalau aku malas untuk kemari, aku akan tidur di mejaku." Jawab Guntur.
"Kenapa kau mengatakan hal itu?"
"Yang mana?"
"Gak jadi, aku ganti pertanyaanku, kenapa kau tau aku bisa sedih?"
"Sudah kubilang, ini tempatku berteduh. Aku gak tahu kau ada disini. Dan juga, aku gak ingin berbagi tempatku disini, sebaiknya kau segera kembali ke kelas." Jawab Guntur, jongkok di samping Alina.
Guntur lalu menghela nafas panjang, "Hanya karena gak punya ibu, bukan berarti kau gak bisa hidup enak." Sambung Guntur.
"Aku… Aku kira aku udah gak se-cengeng dulu saat membahas soal ibu, ternyata masih sama. Aku benar-benar lemah saat membahas hal itu." Ucap Alina.
"Tentu saja, seorang ibu cukup dibutuhkan oleh seorang anak. Dan menurutku sangat wajar kalo kau bersedih akan hal ini," balas Guntur.
"Dan juga, aku kagum dengan ayahmu yang masih setia pada ibumu yang telah meninggal. Ia gak menikah lagi, saat istrinya meninggal. Aku kagum." Sambung Guntur, lalu mulai menyenderkan badannya pada tembok gedung sekolah.
__ADS_1
-