
Alina lalu mulai mengangkat kepalanya, melihat ke arah Guntur karena penasaran dengan ucapannya.
"Mungkin saja, ayahmu gak ingin menyakiti perasaanmu." Ucap Guntur.
"Kenapa tiba-tiba membahas ayahku. Lagipula, kau gak mengenaliku keseluruhan, kan? Kau gak punya hak apapun atas diriku." Balas Alina.
"Aku tau itu. Dan sebaiknya aku emang gak harus terlibat dengan mu, apalagi kau seorang preman."
"Kau punya masalah apa dengan organisasi mafia? Apa kau membenci kami, sehingga kau menyebut kami preman?"
Saat Alina sudah agak baikan, dan telah menghentikan tangisannya, Guntur lalu berdiri.
"Entahlah, siapa yang tau. Sebaiknya kau segera kembali ke kelas, Rani dan Rano pasti mencari mu." Ucap Guntur, lalu pergi dari sana.
Alina lalu mengelap sisa-sisa air matanya, dan beranjak dari tempatnya menangis itu. Alina berniat kembali ke kelas.
Singkat cerita, sesampainya di kelas Rani dan Rano terlihat semakin murung dibandingkan sebelumnya. Saat mereka menyadari Alina masuk ke kelas, mereka lalu dengan cepat menghadap Alina.
"Alina, maafkan kami. Maafkan kami." Ucap Rani dengan muka penuh kecemasan.
"Heh? Kalian kenapa?" Tanya Alina.
"Kami bercerita tanpa memikirkan perasaanmu, maafkan kami." Ucap Rano setelah itu.
"Loh-loh, kalian kenapa?!" Tanya Alina tegas.
Rani dan Rano lalu menjelaskan tentang apa yang dikatakan Guntur pada mereka, bahwa mereka bercerita hal yang tidak sepatutnya pada Alina.
"Eh… Gak apa-apa kok, aku santai aja. Gak usah terlalu dipikirin juga." Ucap Alina sambil berusaha menenangkan Rani dan Rano yang sedang cemas.
Jam istirahat telah selesai, jam pelajaran pun segera berlalu, dan jam pulang tiba.
Guntur membereskan bukunya, ia sedang memasukkan bukunya kedalam tasnya. Saat kelas mulai sepi, Alina lalu mendatanginya.
"Apa yang kau bicarakan pada Rani dan Rano?" Tanya Alina, sambil kedua tangannya memegang tas punggung miliknya.
"Gak mengatakan apapun yang berarti, hanya memberikan pengertian pada mereka," jawab Guntur, masih dengan tangan yang sibuk pada buku-bukunya.
Setelah selesai, Guntur lalu menggendong tas punggungnya, "Dalam cerita yang mereka ceritakan padamu tadi, mereka gak menyadari perasaanmu." Sambung Guntur, menatap Alina.
"Perasaan apa? Aku memang merasakan sedih, itupun aku menutupinya dari mereka. Harusnya mereka… Tidak, kurasa semua orang gak akan mengetahui perasaanku kalo aku menutupinya, dan kau tau?" Balas Alina.
"Semua orang ya? Lalu, apakah itu artinya aku bukan orang?" Tanya Guntur pada Alina, dengan senyum sinisnya.
__ADS_1
"Aku akan menjelaskan tentang hal ini lain waktu, aku akan segera pulang." Sambung Guntur, dan pergi tanpa menjelaskan apapun pada Alina.
"Ngeselin banget jadi orang." Pikir Alina, saat Guntur pergi.
Sesampainya Alina di kediamannya, ia terhenti di halaman kediamannya itu. Terlihat Claude sedang menyirami bunga dan tanaman, tangan kanannya memegang selang, dan tangan kirinya memegang rokok.
"Tumben?" Tanya Alina.
"Kenapa kau meminta Rudi untuk menyelidiki seluruh siswa di SMAN 1? Siapa yang sebenarnya ingin kau ketahui identitasnya?" Tanya balik Claude, yang masih menatap tanaman.
"Apa yang akan kau lakukan, kalo kau mengetahui dasar dari hal itu, Claude?"
"Aku juga punya seseorang yang aku incar di SMAN 1." Jawab Claude, lalu menghisap rokoknya.
"Siapa?" Tanya Alina antusias.
"Bagai sebuah kehidupan yang tak dihidupkan, dia adalah orang dengan beban yang teramat berat. Ibu dan ayahnya dibunuh, dan yang membunuh orang tuanya adalah dia sendiri. Kurasa kau mengenalnya, dia ada di kelasmu, namanya Guntur." Jelas Claude.
Alina lalu kaget.
"Dari reaksimu, berarti kau cukup mengenalnya." Sambung Claude yang melihat ekspresi terkejut Alina.
"Membunuh? Orang tuanya?" Ucap Alina.
"Apa maksudmu membunuh orang tuanya sendiri?" Tanya Alina tegas.
"Gak usah terlalu berlebihan dalam berekspresi, aku yakin anak itu juga gak menyesali perbuatannya itu," jawab Claude, lalu mematikan putung rokoknya.
"Aku gak punya banyak informasi tentang anak ini, yang jelas aku tau dia bukan anak sembarangan. Jangan coba-coba kau pancing amarahnya. Kalaupun kita mengerahkan bawahan ayahmu, kurasa dia akan segera mengatasinya." Sambung Claude.
Keesokannya, ketika di kelas Alina terus menatap Guntur saat jam pelajaran tengah berlangsung. Alina terlalu fokus pada Guntur, hingga ia tidak mendengar saat guru memanggilnya untuk membacakan sesuatu.
Jam istirahat tiba.
"Apa yang kamu lihat? Dari tadi kamu melihat ke arah Guntur, ada apa?" Tanya Rano saat mereka bertiga makan di meja kantin.
"Bukan apa-apa, hanya memikirkan hal yang gak penting kok." Jawab Alina.
"Yakin?" Selanjutnya tanya Rani.
"Aku ingin pergi sebentar ya, nanti kalian tunggu di kelas aja." Ucap Alina tiba-tiba, dan segera beranjak dari kantin.
Alina melangkah cepat menuju belakang gedung sekolahnya, di sana terlihat Guntur yang duduk di tanah dan menyenderkan badannya pada dinding, dan memejamkan matanya.
__ADS_1
Alina melangkah perlahan mendekatinya, masih cukup jauh jaraknya, namun Guntur menyadari kehadiran Alina itu.
"Kenapa kau datang lagi?" Teriak Guntur pada Alina.
Alina lalu mempercepat langkahnya, dan segera duduk di samping Guntur.
"Yah… Gak apa-apa, kan?" Ucap Alina pada Guntur.
"Ada yang salah denganmu, kenapa kau tiba-tiba melemparkan senyuman padaku hari ini? Dan juga, kenapa kau di kelas menatapku? Itu berlebihan, aku ingin dengar alasanmu." Balas Guntur.
"Aku hanya ingin disini, jangan bertanya apapun!" Jawab Alina dengan nada yang agak tinggi.
Keduanya terdiam, menikmati angin sejuk yang jarang mereka rasakan tentunya. Di tempat ini cukup teduh, dan juga masih banyak pepohonan. Tentu, pohon-pohon itu bagian dari SMAN 1.
Beberapa waktu telah berlalu, mereka hanya saling diam, dan akhirnya Guntur membuka suara.
"Bukankah lebih baik kau kembali ke kelas, dan mengobrol dengan si kembar?" Tanya Guntur, masih memejamkan matanya.
"Benar juga, gak ada kerjaan juga aku di sini. Lagipula, ngapain aku mendatangi tempat mu ini ya? Udahlah, dah…" Jawab Alina, lalu berdiri, dan beranjak pergi.
"Benar-benar karakter orang yang berbeda dari yang lainnya. Seperti kata Claude, dia benar-benar kosong dan tak berperasaan." Pikir Alina.
Sesampainya di kelas, ia disambut oleh Rani dan Rano.
"Darimana kamu, Alina? Kamu gak mecahin cermin lagi, kan?" Tanya Rani.
Alina lalu tertawa kecil, dan tidak mengiyakan ucapan Rani itu dengan menggelengkan kepalanya.
"Hari ini Alina agak berbeda ya?" Ucap Rano pada Rani, saat mereka bertiga mengobrol.
"Iya, kayak lebih ceria gitu haha." Jawab Rani.
Alina lalu berpikir, berbeda dari apa dan darimananya.
"Maksudnya?" Tanya Alina, tidak mengerti dari obrolan antara si kembar itu.
"Apa perasaanmu sedang berbunga-bunga?" Tanya Rani dengan senyumannya.
"Bunga? Perasaan? Jangan membuat bahasa yang susah aku cerna." Balas Alina.
"Maksud dari pertanyaan Rani, adalah apakah kamu sedang menyukai seseorang?" Tanya Rano.
Alina lalu terdiam, karena masih belum begitu paham.
__ADS_1
-