Preman Cewek

Preman Cewek
PC #21


__ADS_3

Ina lalu melihat Alina dan Guntur sedang duduk saling bertolak belakang, punggung-punggungan sambil terus ngoceh sendiri-sendiri.


"Kalian ini ngapain sih? Kok ngoceh terus? Bisa diem apa enggak? Kayak anak kecil aja, ribut masalah sepele." Ucap Ina pada keduanya, lalu mereka berdua menatap Ina.


"Jangan bikin kegaduhan!" Sambung Ina dengan nada tinggi.


"Kau pun sama, jangan ikut-ikutan sama mereka. Yang ada malah tambah gaduh." Ucap Claude, yang tiba-tiba muncul.


"Suasana di kediaman sebelumnya gak seperti ini." Sambung Agra yang juga tiba-tiba muncul entah darimana.


"Ayah? Ada apa?" Tanya Alina pada Agra.


"Aku ingin pergi beberapa hari kedepan, aku akan memberikan beberapa tugas untukmu." Jawab Agra.


"Aku bisa sih, kan ada Claude yang membantuku."


"Maaf ya, tapi aku akan mendampingi Agra untuk pergi, jadi kau carilah orang yang bisa membantumu sendiri." Sahut Claude.


"Cari?" Tanya Alina lagi.


"Gak juga, kau kan udah ada pendamping. Biarkan ia membantumu," jawab Agra sambil menunjuk ke arah Guntur.


"Kalau sampai aku kembali nanti tugas-tugas yang aku berikan belum selesai, maka aku akan menghukum mu, Alina." Sambung Agra.


"Loh kok gitu?"


"Intinya, semua yang aku berikan padamu, harus kau selesaikan. Aku percayakan padamu." Jawab Agra, setelah itu ia dan Claude pergi dari ruangan itu.


Alina menghela nafas panjang, dan lalu mengulurkan tangan pada Guntur.


"Maafkan aku." Ucap Alina setelahnya.


"Kenapa?" Tanya Guntur.


"Sifatku masih kekanak-kanakan, maafkan aku." Jawab Alina.


Guntur lalu menjabat tangan Alina.


"Kalo begitu, maafkan aku juga untuk keributan yang terjadi." Ucap Guntur setelah itu melepas jabatan tangan mereka.


"Ekhem… Bagus lah kalo udah damai, sekarang aku akan melanjutkan minum teh ku." Ucap Ina, dan lalu pergi dari ruangan itu.


Alina dan Guntur duduk berdua di ruangan itu, dan ya suasananya agak canggung.


"Jadi… Apakah menurutmu kita akan berpura-pura berpacaran atau semacamnya, di hadapan Rano dan Rani?" Tanya Alina membuka obrolan dengan Guntur.


"Tadi itu sebenarnya hanya akal-akalan ku aja. Kalo kau gak setuju, juga gak masalah." Jawab Guntur.


"Kurasa itu hal yang patut dicoba. Dan juga, aku belum tau tugas apa yang akan diberikan ayah padaku nanti, siapa tau karena tugas itu, kau jadi harus ikut aku kemana-mana."


"Emangnya tugas yang diberikan ayahmu, biasanya kayak gimana?"

__ADS_1


"Ya seputar organisasi sih. Dan juga, akhir-akhir ini aku mendengar ada organisasi mafia lain yang sedang bergerak. Mungkin itu."


"Kalian ini benar-benar preman ya? Di rumah ini aja aku bisa menemukan banyak senjata-senjata api dan senjata-senjata tajam. Kalian suka banget bertarung ya?"


"Itu ya… Kalau itu, ada alasan kenapa kami selalu membawa senjata kemanapun."


"Apa alasannya?"


"Intimidasi."


"Apa benar itu aja?"


"Fakta uniknya, ayahku gak pernah membunuh orang dengan senjata-senjata pribadinya."


Guntur lalu berdiri dari duduknya, dan akan beranjak keluar dari ruangan itu.


"Mau kemana kau?" Tanya Alina pada Guntur.


"Obrolannya kurang menarik, aku akan pergi keluar. Mungkin ke halaman belakang atau kemana gitu." Jawab Guntur.


"Hah?! Kurang menarik gimana maksudnya?"


"Mau kau jelaskan bagaimanapun juga, tetap aja organisasi kita ini adalah organisasi preman, bukan menyebut diri sendiri mafia."


"Apa bedanya?"


"Cari tau sendiri. Dah~" Jawab Guntur, lalu segera pergi dari ruangan itu.


"Heeeh~ Kenapa lagi? Ribut lagi?" Tanya Ina, agak malas menanggapi Alina.


"Guntur bilang, kalo organisasi yang ayah bangun ini adalah organisasi preman." Jawab Alina.


"Aku gak peduli, mau disebut preman juga gak masalah." Balas Ina.


"Tapi, kan ini organisasi mafia."


"Ya, terserah. Yang jelas, ayahmu ini adalah pengusaha terbaik di Kota M. Selain karena keberadaan ayahmu yang susah dicari oleh media, media juga gak tertarik pada kekayaan."


"Ina… Jadi organisasi ini, preman atau mafia?"


"Dua-duanya boleh, kenapa kau jadi labil begini? Apa masalahmu? Guntur? Dia emang pikirannya jauh berbeda dengan kita-kita, udahlah biarin aja."


"Yaudah iya."


Alina lalu pergi dari kamar Ina dan menuju kamarnya sendiri, merebahkan diri di atas kasurnya dan menatap langit-langit kamarnya dengan serius.


Alina sambil memeluk guling, ia kepikiran tentang preman dan mafia. Ia memikirkan perbedaannya, yang ia tidak ketahui letak perbedaannya.


Singkat cerita malam hari tiba, jam makan malam pun tiba. Alina bersama seluruh orang di kediaman Agra makan malam di ruang makan.


Guntur duduk di bangku sebelah Alina.

__ADS_1


"Ini biasanya emang gini?" Tanya Guntur.


"Lah gak pernah ikut makan malam? Bukannya kau udah gabung di kediaman Agra sejak beberapa hari lalu?" Tanya balik Alina.


" Gak tau aku." Jawab Guntur.


"Ya,biasanya ayahku emang ngundang seluruh karyawan untuk makan malam bareng." Jelas Alina, lalu mulai menyuapkan makanan pada mulutnya.


Guntur pun ikut mulai makan.


"Kemana Ina?" Tanya Guntur lagi pada Alina.


"Sebentar lagi juga gabung, dia sedang menyiapkan makanan penutup di dapur," jawab Alina, lalu menyuap makanan lagi.


"Udwah jwangan twanywa mwulu." Sambung Alina sambil di mulutnya penuh makanan.


"Telan dulu baru bicara bodoh." Ucap Guntur pada Alina.


Singkat cerita, setelah makan malam selesai, para karyawan kembali ke tugasnya masing-masing. Alina dan Guntur berduaan di balkon lantai dua.


"Kenapa ayahmu memanggil para pembantu itu karyawan?" Tanya Guntur.


"Aku gak tau penjelasan detailnya, yang jelas ayahku gak pernah memanggil mereka pembantu, pesuruh, dan sebagainya." Jawab Alina.


"Dan ya, sebelumnya kukira Claude tinggal di kediaman ini juga."


"Claude udah punya istri dan anak, ia harus pulang dong."


"Dan kau Alina, dimana kamarmu?"


"Mau ngapain tanya kamarku? Kau mau memperkaos ku kah? Ih, menjijikkan."


"Brengsek, aku gak sebejat itu juga kali. Ku gak pernah liat kau masuk ke ruangan pribadi."


"Hee~ Kamarku dekat dengan kamar ayahku, walaupun ayahku jarang kembali ke kamarnya, ia lebih sering berada di ruangan kerjanya."


"Oh gitu, baiklah."


"Kenapa?"


"Enggak, aku hanya penasaran aja, kenapa aku satu-satunya orang yang disuruh tinggal di basement."


"Oh ya? Aku gak tau tentang ini, siapa yang menyuruhmu?"


"Claude yang menyuruhku, katanya aku gak boleh deket-deket ama kau Alina, katanya sih karena aku cowok yang bisa mengancam nyawamu." Jelas Guntur, lalu berdiri dan meregangkan tubuhnya.


"Aku mau kembali ke kamarku dulu, disini semakin malam semakin dingin. Dan juga Alina, bawa Rudi ke psikolog. Psikologinya sedang bermasalah." Sambung Guntur lalu masuk ke dalam.


Alina pun berdiri, dan lalu segera pergi dari balkon itu ke kamarnya untuk segera tidur.


Sebelum tidur, saat baru memasang selimutnya, Alina langsung menyadari sesuatu, bahwa Guntur gak lagi pendiam seperti saat mereka baru kenal.

__ADS_1


-


__ADS_2