
Keesokannya, Alina sarapan pagi sendirian, sambil makan juga sambil melamun, ia memikirkan apa yang semalam ia pikirkan.
"Alina? Kenapa ngelamun gitu?" Tanya Ina tiba-tiba.
"Aku kepikiran sesuatu, Ina." Jawab Alina, lalu melihat ke arah Ina.
"Apa?"
"Kalo dipikir-pikir lagi, sifat Guntur berbeda dari saat aku bertemu dengannya untuk pertama kali dulu." Jelas Alina.
"Kau ini terlalu banyak bepikir, ya aku akan bilang wajar bila kau banyak berpikir karena kau masih remaja yang berada di usia yang sering labil. Guntur berubah sifat, kan karena pengaruh darimu juga."
"Pengaruh dariku? Gimana maksudmu?"
"Bentar lagi juga sadar apa yang ku maksudkan itu. Udah buruan, itu Claude dan Guntur udah nunggu di mobil."
Alina pun segera menyelesaikan sarapannya, dan segera naik ke dalam mobil. Seperti biasa, ia duduk di kursi penumpang dengan Guntur, Claude duduk di kursi depan sendirian.
"Lama banget?" Tanya Guntur.
"Ya~" Jawab Alina, singkat.
Beberapa menit setelah naik mobil, mereka pun tiba di sekolahan, Alina dan Guntur pun segera turun, Claude langsung pergi pulang.
"Apa kau sedang gak enak badan?" Tanya Guntur, saat berjalan di samping Alina yang berjalan sambil melamun.
"Ehm?" Alina hanya menoleh pada Guntur.
"Kau ini kenapa?" Tanya Guntur lagi, Alina hanya menggelengkan kepalanya.
"Pagi Alina, Guntur juga." Sapa Rani sambil tersenyum pada Alina dan Guntur. Rani bediri di depan kelas bersama Rano.
"Yo!" Balas Guntur, dan lalu mereka bertiga bersama menatap Alina yang hanya diam saja.
"Kamu kenapa Alina?" Tanya Rani.
"Enggak apa-apa kok." Jawab Alina, lalu masuk ke kelas tanpa mengucapkan apapun lagi, dan meninggalkan Rani, Rano dan Guntur yang masih ada di depan kelas.
"Kenapa dia?" Tanya Rano pada Guntur.
"Gak tau, dari tadi pagi." Jawab Guntur, dan Guntur lalu masuk ke dalam kelas, kemudian tidur di atas meja seperti biasa.
Rano dan Rani pun masuk kedalam kelas, dengan tidak bertanya apapun lagi dengan Alina.
Singkat cerita, jam istirahat datang. Alina tiba-tiba keluar dari kelas, biasanya mengajak Rano dan Rani pergi ke kantin, kali ini ia pergi sendirian.
__ADS_1
"Alina kenapa sih? Apa kami punya salah?" Tanya Rani pada Guntur.
"Enggak… Mungkin karena ia mendapatkan tugas dari ayahnya, dan jadinya ia terlalu memikirkannya. Ya kalian paham juga kan, kalo Alina selalu memaksakan pikirannya." Jelas Guntur, lalu ia setelah itu pergi dari kelas.
Guntur lalu pergi ke tempat biasanya ia berteduh di belakang gedung sekolah, ia melihat Alina duduk di lantai.
"Kau ini kenapa sih?" Tanya Guntur, mendekat pada Alina.
"Gapapa kok." Jawab Alina, melihat ke arah Guntur sejenak, lalu kembali menatap rindangnya pepohonan.
Guntur lalu duduk di samping Alina, dan juga menatap rindangnya pepohonan.
"Sebaiknya kau bercerita padaku. Rano dan Rani khawatir padamu, mereka mengira kalo punya salah denganmu." Ucap Guntur.
"Aku sedang memiliki beberapa pikiran, salah satunya tentangmu." Jawab Alina.
"Aku? Aku kenapa?"
"Kau tiba-tiba berubah, maksudku sifatmu."
"Kenapa kau harus memikirkan hal itu? Bukan ini yang kau mau? Kau ingin aku untuk lebih bisa menjadi temanmu yang bisa diajak ngobrol, kan?"
"Entah kenapa, aku lebih menyukai saat kau masih gak banyak bicara, seperti dulu."
"Jadi, apa yang sebenarnya kau inginkan? Apa kau gak puas dengan ini semua? Pertama, kau mengajakku menjadi anggota kelompok di tugas sebelumnya. Kedua, kau menolongku. Ketiga, kau membuatku berpikiran untuk masuk ke organisasi Agra. Dan sekarang, aku ini ada untukmu, seperti yang Claude dan Agra inginkan," jelas Guntur, lalu ia berdiri di hadapan Alina yang masih duduk di lantai.
"Dari yang kau jelaskan tadi, apakah kesimpulannya kau itu menjadi milikku?"
"Gak, kita harus saling memiliki."
"Sebenarnya, apa yang kita obrolkan ini?" Tanya Alina, dengan senyumannya.
"Haaah~" Guntur menghela nafas, "Gak tau." Sambungnya, lalu ia pergi dari hadapan Alina, ia berniat kembali ke kelas.
Alina pergi ke kantin, ia melihat Rani duduk berdua dengan seorang cowok yang gak Alina kenal.
"Siapa?" Pikir Alina.
"Alina!" Panggil Rano, dari arah lain. Alina menyadarinya, dan langsung mendekati Rano.
"Itu yang duduk dengan Rani, siapa?" Tanya Alina.
"Oh itu, dia pacar barunya Rani." Jawab Rano, nada bicaranya agak sedih.
"Eh kenapa?" Tanya Alina.
__ADS_1
"Aku dan Rani, apakah punya salah padamu? Rani sejak tadi berpikir begitu." Jawab Rano.
"Geser-geser." Ucap Guntur tiba-tiba, duduk diantara Rano dan Alina.
"Santai aja Guntur, gak akan ku ambil juga pacarmu ini haha." Ucap Rano pada Guntur yang entah darimana datangnya.
"Siapa yang tau." Balas Guntur.
"Kalian gak punya salah dengan aku kok, aku lagi ada banyak pikiran aja." Jawab Alina untuk pertanyaan Rano sebelumnya.
"Lagipula, apa-apaan pacarnya Rani itu? Dia menginginkan hal lain dari Rani, bukan hanya tentang hati." Ucap Guntur, menatap serius pada Rani yang duduk berdua dengan cowok.
"Maksudnya?" Tanya Rano.
"Ingatkan pada Rani, untuk gak ikut kemanapun dengan cowok itu." Jawab Guntur.
"Memangnya kenapa?" Tanya Rano lagi.
"Alina, kau lihat pergelangan cowok itu." Pinta Guntur pada Alina.
Dan ya, Alina baru menyadari sesuatu, di pergelangan tangan cowok itu ada sebuah tato kecil.
"Kenapa?" Tanya Rano lagi, Guntur lalu menjelaskannya.
Setelah Guntur menjelaskan, terlihat ekspresi Rano yang agak jengkel menatap ke arah cowok itu.
"Tenang dulu, biarkan cowok itu melakukan kesalahan terlebih dahulu. Aku gak ingin membuat perasaan Rani tersakiti." Ucap Guntur, sambil menahan Rano yang hendak berdiri.
Rano lalu duduk lagi.
"Aku gak akan membiarkan teman Alina mengalami hal yang gak diinginkan, jadi tenang dulu." Ucap Guntur lagi.
"Begitulah, kalo Guntur udah bilang gitu kau tenang aja Rano." Ucap Alina setelahnya.
"Guntur aja diselamatkan olehmu waktu itu." Celeteuk Rano.
"Hahah… Guntur emang lemah haha," Alina ngakak mendengar yang disebutkan Rano.
"Tapi… Kau belum tau, apa yang disembunyikan Guntur selama ini kan, Rano? Guntur itu pendekar gunung kelabu. Dia bisa membelah gunung, dan menghancurkannya menjadi debu hahah…" Sambung Alina makin ngakak.
Rano tertawa kecil, dan perasaannya menjadi tenang. Guntur hanya diam saja, mendengar bualan Alina.
"Tapi, beneran tenang aja, Guntur gak selemah itu kok." Sambung Alina lagi, Rano lalu menganggukkan kepalanya.
Mereka bertiga lalu menatap Rani dan cowoknya dengan tatapan serius, dan menyilangkan kedua tangan mereka saat menatap.
__ADS_1
Jadi, orang yang melihat mereka bertiga akan merasakan hawa intimidasi yang luar biasa berat, terutama dari Guntur.
-