Preman Cewek

Preman Cewek
PC #09


__ADS_3

"Tugas apa? Kenapa kau tiba-tiba menghilang tanpa mengabarkan apapun?!" Tanya Alina, kepalan tangannya masih dipegang Guntur.


"Itu bukan urusanmu!" Jawab Guntur tegas, dan mendorong Alina.


Beberapa dewan guru lalu datang, dan mulai mengamankan orang yang pingsan setelah dihajar oleh Alina.


Semua siswa dipulangkan karena kejadian ini, karena orang yang dihajar Alina tadi ternyata tidak sendiri, ia membawa beberapa pasukan, dan pasukannya merusuh di halaman depan sekolah. Karena Alina dari belakang gedung sekolah, dia tidak mengetahui hal ini.


Saat semua orang telah pulang, di kelas hanya tinggal Guntur, Alina dan si kembar. Alina dan Guntur saling bertatapan, seolah menunjukkan rasa benci ke masing-masing. Sedangkan Rani dan Rano hanya menonton mereka, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Apa yang aku lakukan selama ini, itu bukanlah urusanmu. Lagipula itu gak ada hubungannya sama sekali dengan mu." Ucap Guntur.


"Apa kau membunuh orang lagi?" Tanya Alina, masih ngos-ngosan dan berusaha mengatur ritme nafasnya.


"Apa maksud kata 'lagi' mu itu?" Tanya balik Guntur pada Alina, kali ini raut mukanya menjadi serius dan penuh kegarangan.


Alina merasa kalau dia salah bicara, Guntur seharusnya tidak boleh sampai tahu kalau Alina mengetahui beberapa hal dari masa lalu Guntur, apalagi terkait pembunuhan orangtuanya, yang itu pasti akan menimbulkan kemarahan Guntur.


"Lupakan pertanyaanku. Aku, Rani dan Rano menunggumu masuk sekolah, karena kita mendapatkan nilai tertinggi saat tugas kelompok." Jawab Alina.


Guntur lalu menarik kerah seragam Alina, "Jangan menghindar, jawab pertanyaanku. Apa maksudmu dengan membunuh? Dan kata 'lagi' dalam pertanyaanmu tadi." Ucap Guntur, Alina ternyata sudah memancing emosi Guntur.


"Ina. Inazuma. Dia bekerja di rumahku saat ini." Jawab Alina, dengan berat hati.


Guntur yang mendengarnya lalu melotot pada Alina, dan mempererat cengkraman tangannya pada kerah seragam Alina.


"Kau bilang, siapa?" Tanya Guntur.


"Aku gak perlu ngulang, kan? Kau pasti kenal dia, kan? Heh, aku tau beberapa hal dari kehidupan mu." Jawab Alina dengan senyum tipis.


Guntur lalu melepas dan mendorong Alina. Rano dan Rani, hanya terdiam melihat mereka berdua yang entah berbincang masalah apa.


Rano dan Rani hanya memahami topik tentang Ina, yang dikenalkan oleh Alina tadi pagi. Tapi, mereka juga tidak tahu kalau itu adalah kakaknya Guntur.


Raut muka Guntur tiba-tiba berubah menjadi panik, dan keringatnya mulai membanjiri mukanya. Tangan yang tadinya ia pakai untuk menarik kerah Alina, ia lalu mengarahkan pada dadanya, dan nafasnya mulai berat, sepertinya benar-benar panik.

__ADS_1


"Sayangnya, kakakmu menyuruhku untuk gak mempertemukan mu dengannya." Ucap Alina, saat melihat Guntur panik.


"Ke… Kenapa orang itu ada di… Di rumahmu?" Tanya Guntur terbata-bata dan juga nafas berat.


Guntur tiba-tiba merasa tubuhnya melemah, ia pun berlutut ke lantai, dengan satu tangan masih memegang dadanya, dan bernafas berat.


"Guntur yang selalu menunjukkan ekspresi yang datar, kali ini aku melihatnya menunjukkan ekspresi wajah yang cemas. Atau hanya perasaanku aja? Haha…" Tanya Alina pada Guntur yang berlutut di hadapannya.


"Rani, Rano, kalo kalian mau pulang duluan, silahkan. Aku akan menyelesaikan persoalan ku dengan Guntur." Sambung Alina menatap pada si kembar.


Rano dan Rani pun segera berpamitan untuk pulang, meskipun sebenarnya agak khawatir dengan Alina, takutnya diapa-apain sama Guntur.


Alina lalu jongkok di depan Guntur yang berlutut.


"Aku gak tau hubungan kalian baik atau gak, tapi kakakmu memintaku untuk membunuhmu. Dan juga memintaku untuk membunuhmu dengan cara yang gak menyakitimu," ucap Alina.


Lalu ia menepuk bahu Guntur, "Makanya aku gak akan membiarkanmu terbunuh oleh orang lain." Sambung Alina, dengan ekspresi senyum jahat.


"Setidaknya, biarkan aku bertemu dengan Ina. Aku ingin meminta maaf padanya." Pinta Guntur dengan suara yang agak gemetar.


"Apa itu?" Tanya balik Guntur pada Alina.


Setelah itu, Alina berdiri dan mengulurkan tangan agar Guntur ikut berdiri. Alina duduk di bangku, dan menyuruh Guntur untuk segera duduk juga.


Hanya ada mereka berdua di ruang kelas, mereka duduk saling berhadapan.


"Siapa yang menyuruhmu untuk membunuh?" Tanya Alina.


"Tanyakan apapun tentangku, tapi jangan terkait tentang pembunuhan, itu adalah hal yang gak bisa aku jelaskan dan ceritakan pada orang lain." Jawab Guntur.


"Baiklah. Kalo gitu, kapan kau terakhir kali bertemu dengan kakak perempuanmu itu?"


"Aku lupa, sepertinya saat aku melihatnya menangis di depan makam ayah dan ibuku. Dia tau aku yang membunuh orang tuaku, tapi dia tetap tersenyum padaku, dan itu hal yang menyakitiku selama ini. Aku gak berani bertemu dengannya, aku takut menyakitinya lagi."


"Guntur. Asal kau tau, kakakmu gak ingin membunuhmu sendiri. Kurasa, selama ini dia mencari media untuk membunuhmu, tanpa rasa bersalah."

__ADS_1


"Kalo itu yang kakakku minta, maka segeralah untuk membunuhku."


"Gak akan, tunggu sampai lulus sekolah. Aku memiliki beberapa hal yang harus dilakukan saat sekolah, dan mungkin aja aku bisa memanfaatkan kemampuanmu."


"Apa?" Tanya Guntur, Alina lalu berdiri dan sama seperti Guntur, ia menatap ke arah luar jendela.


"Itu adalah berteman. Entah apa yang akan kau pikirkan tentang ini, tapi aku telah lama sekolah, namun aku gak pernah punya teman." Ucap Alina.


"Kurasa aku akan menolak hal itu, aku gak ingin memiliki hubungan apapun dengan orang lain. Aku hanyalah manusia buangan yang gak berguna." Balas Guntur, dan karena ia sudah tenang kembali, ia menaruh dan menidurkan kepalanya diatas meja.


"Maka dari itu, biarkan aku memanfaatkan manusia buangan sepertimu." Ucap Alina menatap ke Guntur.


"Kenapa kau bersikeras? Hal apa yang sebenarnya mendorongmu?" Tanya Guntur.


"Gak ada hal yang spesial untuk jawaban dari pertanyaanmu itu, aku hanya ingin melakukan apa yang kulakukan."


"Rano dan Rani, berteman dengan mereka apakah gak cukup untukmu?"


"Satu orang sudah cukup sebenarnya, tapi insting liarku berkata kalo aku harus berteman denganmu."


"Ya baiklah. Aku akan melakukannya, pertemukan aku dengan kakakku, aku ingin meminta maaf padanya, atas beberapa hal."


"Ya, setelah ini ia akan menjeputku. Dan juga, kalo kau begitu inginnya mati, kenapa kau gak bunuh diri atau semacamnya?" Tanya Alina, dan kembali duduk di hadapan Guntur.


"Bunuh diri? Itu adalah hal yang sulit aku lakukan. Aku gak bisa membunuh diriku sendiri. Alasannya karena aku seorang pengecut." Jawab Guntur.


"Wah. Ekspresimu menjadi datar dan kosong lagi, sama seperti yang dikatakan ajudan dirumah ku, bahwa kau sebenarnya udah gak punya perasaan."


"Perasaan ya? Aku rasa begitu." Jawab Guntur, dengan menghela nafas lega.


"Kenapa?" Tanya Alina yang melihat Guntur sepertinya merasa lega.


"Itu tandanya aku akan segera dilepaskan dari tugasku." Jawab Guntur.


Alina tidak mengerti sama sekali apa yang dimaksud oleh Guntur.

__ADS_1


-


__ADS_2