Preman Cewek

Preman Cewek
PC #03


__ADS_3

"Cengkraman tangannya cukup kuat, siapakah dia sebenarnya? Kenapa aku tiba-tiba merasa bahwa dia bukan orang sembarangan!" Pikir Alina sambil menatap Guntur yang tertidur di atas mejanya.


"Alina, apa kamu benar-benar gak apa-apa?" Tanyanya Rani, khawatir saat melihat Alina mengelus-elus lehernya sambil terus menatap Guntur.


"Benar-benar hal yang keji." Sambung Rano.


"Kalian gak perlu khawatirkan aku, aku bukan anak kecil." Ucap Alina.


Jam istirahat telah selesai, setelah itu pelajaran dimulai seperti biasa, tidak ada hal macem-macem yang terjadi.


Setibanya pulang sekolah, Alina dihadang oleh Guntur di depan gerbang sekolah. Guntur menghadang Alina dengan tatapan sinisnya, dengan kedua tangannya berada di saku celananya, berdiri tegak angkuh.


"Sebaiknya kau jangan beritakan apa yang terjadi hari ini kepada keluargamu, atau kau akan merasakan akibat buruknya." Ucap Guntur, merujuk pada peristiwa Alina yang ia cekik.


Setelah itu, Guntur lalu segera pergi dari hadapan Alina, tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Alina pulang seolah tidak terjadi apapun, ia pulang santai seperti biasa. Di rumahnya ini banyak bawahan ayahnya, entah itu para lelaki atau para wanita. Berisi para mafia ternama di kota M.


Agra, ia adalah ayahnya Alina, dia adalah pemimpin mafia-mafia yang berada di Kota M. Saat Alina pulang sekolah, ia terlihat duduk di depan sebuah monitor, dengan pandangan serius nampaknya ia sedang bekerja.


"Siang, ayah," sapa Alina pada ayahnya. Ayahnya lalu menoleh kepadanya.


"Kenapa mukamu nampak lesu? Ada apa?" Tanya ayahnya.


"Gak ada,"


"Katakan padaku." Pinta ayahnya, akhirnya Alina pun menceritakan tentang Guntur yang mencekik lehernya, dan juga sosok Guntur itu sendiri.


"Siswa yang menurutmu misterius ya? Apa perlu aku turun tangan?" Tanya ayahnya setelah mendengar cerita dari Alina.


Alina lalu menambahkan tentang ucapan Guntur, yang menghadangnya di depan gerbang, sebelumnya.


"Berani-beraninya anak itu mengancam organisasi kita, apa dia dari organisasi lain?"


"Aku gak melihat ada lambang apapun darinya ayah, kurasa dia bukan seorang dari keanggotaan mafia." Jawab Alina.


Jadi, di Kota M ini ada beberapa kelompok mafia, dan para mafia pasti memiliki sebuah tanda keanggotaan mereka, yaitu sebuah tato lambang organisasinya di pergelangan tangan kanannya.


Tujuan dari tato ini selain menunjukkan dari organisasi mana ia berasal, juga sebagai jaminan anti pembelotan. Dosa terbesar bagi seorang mafia bila membelot dari organisasinya, bilamana ada mafia yang berkhianat atau membelot maka tangan kanannya akan dipotong. Tidak ada pengecualian dari sistem ini, namun bila seorang anggota mafia ingin keluar dari keanggotaan akan diizinkan.


"Lalu siapakah anak bernama Guntur ini?"

__ADS_1


"Saat ini aku berkelompok dengannya, untuk mengerjakan suatu tugas yang diberikan oleh guru di sekolah, aku bisa mengawasinya, ayah."


"Baiklah, aku akan merahasiakan pembicaraan kita ini dari yang lain, agar gak terjadi huru-hara. Mungkin saja kita akan salah, bila bergerak tanpa berpikir lebih panjang lagi."


Setelah berbincang dengan ayahnya, Alina langsung segera pergi ke kamarnya, membersihkan dirinya dan beristirahat.


Ia merebahkan dirinya di atas kasurnya.


Alina masih memiliki satu rahasia tentang Guntur, yang belum ia ceritakan pada ayahnya, yakni tentang karakteristik Guntur secara penampilan dan beberapa hal.


Guntur yang tidak memiliki gairah hidup, dan juga tentang Guntur yang ingin mengakhiri hidupnya, meminta tolong pada Alina.


Alina merasa ini adalah hal yang tidak dapat ia ceritakan pada siapapun, termasuk ayahnya.


"Kenapa dia terlihat begitu emosi, saat aku bertanya seperti tadi? Apakah ia memiliki trauma khusus?" Alina berpikir, sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Apakah aku keterlaluan?" Pikirnya, setelah itu dia merasa kalau tidak perlu berpikir macam-macam tentang Guntur lagi.


Ia segera keluar dari kamarnya untuk makan malam.


Keesokan harinya, Alina di kelas mendapati Guntur yang menaruh kepalanya di atas mejanya lagi, seperti biasa.


"Sebaiknya kita gak perlu dekat-dekat dengan Guntur, lebih baik menghindarinya." Sambung Rano.


"Kalian berdua berpikirnya terlalu berlebihan." Jawab Alina, lalu Alina berjalan mendekati Guntur yang sedang tertidur.


"Pagi, sialan!" Sapa Alina pada Guntur.


Guntur membuka matanya perlahan, dan masih saja kosong tatapannya. Ia melihat ke Alina dengan sinis, dan menegakkan kepalanya.


"Kalo kau emang mau masih berkelompok denganku dan si kembar, ikuti kami ke kantin saat istirahat." Ucap Alina.


"Ya." Jawab Guntur dengan nada suara yang datar.


"Aku akan mencoretmu dari anggota kelompok, kalo kau gak melakukan apapun."


"Ya." Jawab Guntur masih sama.


Alina lalu ke tempat duduknya, Rani dan Rano nampak cemas karena Alina berbicara dengan Guntur tiba-tiba.


Pelajaran pagi berlalu, setelah jam istirahat tiba, Alina dan si kembar keluar dari kelas, diikuti oleh Guntur di belakang mereka. Guntur nampaknya malas mengikuti hal ini.

__ADS_1


Sesampainya di kantin, mereka duduk di meja bundar, 4 bangku saling berhadapan.


Alina dan si kembar saling beradu argumen karena tugas mereka, mereka juga nampaknya telah mempersiapkan catatan masing-masing untuk mengerjakan tugas kelompok ini.


"Ah~ bosannya…" Pikir Guntur.


"Alina sialan, dia menyuruhku datang kemari tapi dia gak memberiku kesempatan untuk bergabung dalam obrolan mereka." Sambung Guntur dalam pikirannya.


Guntur lalu menaruh kepalanya di atas meja, dan lalu mulai menguap.


Alina lalu menggebrak meja, membuat siswa-siswi di sekitarnya menatap ke meja mereka. Guntur lalu hanya menatap Alina dengan mata sayunya.


"Kita ini kerja kelompok, jangan bermalas-malasan!" Bentak Alina pada Guntur.


Guntur lalu menyenderkan badannya pada senderan kursi, dan melanjutkan melihat perdebatan Alina dan si kembar, benar-tidaknya tidak diberi ruang untuk Guntur masuk ke obrolan mereka.


Beberapa kali Guntur menguap.


"Jadi, kesimpulannya begitu?" Tanya Rani di akhir perdebatan mereka.


"Ya!" Jawab Alina tegas.


"Memperdebatkan jawaban tugas seperti ini, kalian ini masih bocah ya? Ujung-ujungnya kesimpulan kalian gak berbobot sama sekali." Sahut Guntur.


"Daripada gak ikut ngapa-ngapain!" Balas Rano membentak Guntur, sepertinya membenci Guntur karena kejadian kemarin.


"Biar aku jelaskan inti tugas ini," ucap Guntur, lalu menjelaskan dan memaparkan tugas kelompok ini dengan sederhana.


"Dan seharusnya, kesimpulan yang tepat adalah seperti ini." Ucapnya sambil menjelaskan hasil kesimpulannya setelah panjang lebar menjelaskan.


Alina, Rani dan Rano terdiam dengan argumen yang dijelaskan Guntur, Guntur menjelaskan dengan mudah, dan membuat ketiga teman kelompoknya itu tidak dapat membantah argumen dan kesimpulan darinya.


"Sudah, kan? Sekarang biarkan aku kembali ke kelas." Ucap Guntur, lalu langsung pergi.


Alina, Rani dan Rano saling bertatapan, dengan penuh keheranan, mereka tidak memiliki ekspektasi apapun dari Guntur sebelumnya, namun mereka merasa kalau penjelasan Guntur ini masuk akal.


"Apa yang barusan itu? Kenapa dia bisa berubah karakter begitu? Dia cukup cermat dalam menjelaskan." Ucap Rano, terheran dengan apa yang Guntur lakukan.


"Alina?" Ucap Rani, sambil melambaikan tangannya di hadapan Alina yang terdiam melongo.


-

__ADS_1


__ADS_2