Preman Cewek

Preman Cewek
PC #13


__ADS_3

"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Alina pada Guntur yang terlihat santai itu.


"Perjanjian kita. Kau bilang padaku, bahwa kau juga ingin mati. Apa maksudmu?"


"Ya mati."


"Apa yang kau harapkan dari kematian?"


"Lalu? Kau juga ingin mati, apa yang kau harapkan juga?"


"Aku gak akan mati, beberapa orang berusaha membunuhku dan mereka gagal."


"Oh ya? Lalu? Apa kau pikir aku akan gagal membunuhmu?"


"Kurasa begitu."


Alina lalu menghela nafas, dan menepuk dahinya sendiri, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Itu artinya, selama ini ada alasan yang gak tega kau tinggalkan di dunia ini. Lagipula, kalo kau benar-benar ingin mati, bunuh diri adalah hal yang paling benar. Kau bilang gak bisa bunuh diri, itu karena benar kataku, kau punya alasan untuk tetap hidup," jawab Alina tegas.


"Tapi, kau jangan berharap aku bisa menjawab bila kau bertanya, apa alasan kuat untuk gak mati, yang mungkin aja kau gak sadar." Sambung Alina.


"Aku pernah bilang, kalo aku kagum dengan kesetiaan ayahmu, kan?" Tanya Guntur.


"Iya, terus kenapa?"


"Setelah aku bertemu dengan Claude untuk kedua kalinya, aku mengaguminya juga. Dahulu sifatnya sangat berbeda, dulu ia seolah gak memiliki ketenangan di raut mukanya, sekarang aku melihatnya sangat terbalik dari sifatnya." Jawab Guntur, kali ini aura di wajahnya mulai terlihat oleh Alina.


"Kenapa wajahmu tiba-tiba terasa sangat bahagia? Dan sebenarnya apa tujuanmu datang hari ini?"


"Gak ada tujuan apa-apa sebenarnya, hanya aja aku mau bilang, kalo aku akan mencari orang yang menembak mu." Jawab Guntur, masih dengan muka datar seperti sebelum-sebelumnya.


"Lalu? Apa yang akan kau lakukan pada orang itu?"


"Yah, kita lihat aja nanti."


Beberapa obrolan kecil diantara mereka, sebelum akhirnya dibubarkan oleh dokter yang akan melakukan cek harian pada luka Alina.

__ADS_1


Setelah Guntur berpamitan pulang, bersamaan dengan dokter dan dua perawat, Claude juga masuk ke kamar inap Alina juga.


Singkat cerita setelah dokter selesai dengan cek hariannya, tersisa Alina dan Claude di ruangan itu, persis seperti sebelumnya, sebelum Guntur datang.


"Kalo kau hanya duduk dan berbaring di ranjang ini, apa kau gak akan bosan nantinya?" Tanya Claude pada Alina yang terbaring di ranjangnya.


"Lalu? Kau pikir aku akan atraksi atau gimana?"


Claude lalu terkekeh, "Ya, kalo misalnya kau bosan, kau bisa minta tolong Ina untuk mengajakmu berkeliling di rumah sakit ini." Jawab Claude setelah itu.


"Kenapa bukan padamu aku minta tolongnya?"


"Perusahaanku beberapa bulan ini mengalami penurunan pemasukan, aku harus lebih perhatian pada perusahaanku itu."


"Yah oke… Sekarang, dimana Ina?"


"Katanya, ia mengambilkan beberapa pakaian ganti untukmu."


Tak lama setelah itu Ina datang dengan membawa sebuah tas tangan yang cukup besar, dan beberapa botol minuman di tangan lainnya.


Claude pun berpamitan untuk pulang, dan Ina yang akan menemani hari-hari Alina. Sedangkan, Agra sedang disibukkan dengan urusannya dan organisasi.


"Heh, kau ini kenapa? Haha… Ayahku memang sibuk, tapi itukan emang untuk menghidupiku dan kalian-kalian para karyawan ayah. Toh juga, kau dan beberapa karyawan itu emang dibayar agar mempermudah pekerjaan ayah yang lain, kayak menemaniku ini." Jelas Alina.


"Apa kau gak merasa sedih Alina?"


"Sedih itu hal yang wajar, tapi kurasa aku gak selamanya harus memikirkan perasaanku sendiri. Cepat atau lambat, aku juga akan ditinggalkan oleh ayahku, kan? Seenggaknya, ayah masih menyayangiku, itu sudah cukup. Aku minta padamu untuk gak bahas hal ini lagi ya? Aku kan ingin sehat, ajak ngobrol yang seru-seru aja." Jawab Alina dengan senyumannya seperti biasa, Ina pun membalas senyumannya dengan senyuman tipis.


"Apa?"


"Hmmm iya juga. Btw, apa kau punya kemampuan tertentu? Kalo aku pede dengan beladiri ku." Tanya Alina.


"Kemampuan ya? Kalo dipikir-pikir lagi, aku malah gak punya kemampuan yang spesifik. Mungkin di segi akademis, aku lumayan pede." Jawab Ina, sambil memotongkan apel untuk Alina.


"Memasak?"


"Aku agak kurang dalam memasak, aku lebih nyaman buat makan daripada masak."

__ADS_1


Jawaban Ina membuat Alina tertawa lepas, walaupun Ina hanya tersenyum saja, karena sifatnya yang cukup pendiam.


.


Hari makin sore. Menjelang malam, saat petang Rani dan Rano datang menjenguk ke kamar inap Alina.


"Alinaaa!" Teriak Rani masuk ke kamar inap Alina dengan tergesa-gesa dan muka penuh kepanikan. Membuat Ina kaget.


"Kamu gak apa-apa?" Tanya Rani saat berdiri di samping ranjang Alina.


"Gak apa-apa? Apa kamu gak lihat tanganku diperban?" Tanya balik Alina pada Rani, membuat Rani terdiam, sepertinya menyadari pertanyaannya cukup aneh.


"Haha… Maaf Alina, dari tadi pagi Rani sangat mencemaskanmu. Syukurlah kalo kamu udah baik-baik aja." Ucap Rano sedikit terkekeh.


"Oh ya? Kenapa kau mencemaskanku?" Tanya Alina lagi pada Rani, Rani malah nangis.


Rani mulai mengusap-usap matanya, Rano lalu tersenyum dan mengelus-elus kepala Rani, "Tadinya Rani gak percaya kalo kamu mendapatkan insiden kayak gini. Soalnya sebelumnya kamu kan ngalahin seseorang yang lebih gede waktu di sekolah, kan?" Ucap Rano setelah itu.


"Itumah gampang, karena tangan kosong. Yang kulawan kemarin tuh membawa pistol, jelas aku kalah, aku belum mempelajari cara menangani musuh yang bersenjata api. Kau gak usah khawatir, Rani. Aku gapapa kok. Kata dokter butuh banyak istirahat kedepannya agar cepat pulih." Jawab Alina, lalu mulai memegang tangan Rani.


Rani dan Rano berkunjung cukup lama, dan sampai larut. Karena Rani dan Rano tinggal di apartemen hanya berdua saja, jelas tidak ada yang akan memarahinya meskipun tidak pulang.


Ina hanya sedikit mengobrol dengan mereka, dan hanya fokus dengan mengupas dan memotongkan buah untuk Alina. Ina juga membuatkan teh untuk Rani dan Rano.


"Oh? Guntur udah kesini? Kenapa dia menjenguk mu?" Tanya Rano, saat Alina menceritakan bahwa Guntur sebelumnya lebih dulu menjenguknya.


"Ada beberapa hal yang harus aku bicarakan dengan Guntur. Bukan hal yang penting sih." Jawab Alina.


"Jangan-jangan dia khawatir sama kamu?" Tanya Rani, membuat Ina terhenti dam terdiam.


"Mengkhawatirkan? Apakah itu berarti cinta?" Sahut Ina bertanya, masih menunduk menatap buah dan pisau yang ia pegang.


"Siapa yang tau…" Jawab Rano, "kalo menurutmu?" Sambung Rano bertanya pada Alina.


"Aku… Kurasa, kalo pun yang diucapkan Rani itu benar, maka yang dilakukan Guntur bukanlah mengkhawatirkanku, namun hal lain." Jawab Alina.


"Hal lain? Apa itu?" Tanya Rano, jawaban Alina membuat Ina juga penasaran sama seperti Rano, Ina pun menatap Alina.

__ADS_1


"Untuk saat ini hanya aku dan Guntur yang tau, dan aku akan menceritakan tentang itu pada waktunya. Untuk saat ini, kesampingkan tentang cinta-cintaan. Aku dan Guntur hanya memiliki tujuan yang sama." Jelas Alina.


-


__ADS_2