
"Kita ngapain ada di gang sempit kayak gini?" Tanya Rano, yang hanya mengikuti Guntur tanpa banyak bicara.
"Ini adalah rute yang mempersingkat waktu, kata Rudi tempatnya ada di sekitar depan sana." Jawab Guntur, yang masih terus berjalan.
Guntur dan Rano berjalan terus di rute itu, hingga akhirnya, mereka sampai di ujung dari gang sempit itu, dan ya, seperti informasi yang diberikan oleh Rudi, dari ujung akhir gang ini, Guntur dan Rano dapat melihat Rani yang sedang duduk di sebuah kafe dengan cowoknya.
"Sekarang, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Rano.
"Menurutmu? Udah jelas, kita hanya akan mengawasi mereka. Gak perlu melakukan sesuatu hal lain, yang nantinya akan malah membuat kegaduhan." Jawab Guntur, masih menatap ke arah Rani.
Tiba-tiba ada suara grusak-grusuk dari belakang mereka, Guntur yang sadar dengan suara itu langsung melihat ke arah suara itu.
Guntur lalu ambil posisi Rano, tiba-tiba ada seseorang muncul dari arah suara tadi. Orang itu berpenampilan misterius dan sedang memegang sajam di tangan kanannya.
"Hm?" Guntur lalu berpikir, apakah orang ini ada hubungannya dengan Rani dan cowoknya.
Dan yang lebih terkejutnya lagi, orang itu tiba-tiba mengacungkan sajamnya pada Guntur, dan berlari pada Guntur, sepertinya berniat menusuk Guntur.
"Aaaaaaaaaa…" Orang itu teriak dengan kencang dan berlari dengan cepat, tapi Guntur dengan mudah menangani orang itu.
__ADS_1
Guntur menumbangkan orang itu, dengan mengincar titik vitalnya untuk melumpuhkannya. Setelah berhasil, Guntur dan Rano jadi agak tenang, apa lagi Rano, ia sebelumnya hanya pernah melihat Alina yang beraksi.
Tak lama setelah itu, Guntur secara samar mendengar suatu suara yang agak familiar dengan telinganya.
*Tiiit~ Tiiit~
"Bom?" Pikir Guntur, sorot matanya lalu segera mencari ke berbagai sudut di gang itu. Guntur memang tidak menemukan letak suara yang ia duga adalah bom itu, namun secara spontan ia lalu menyadari bahwa suara itu berasal dari orang yang ia lumpuhkan sebelumnya.
Guntur lalu dengan cepat menarik kerah Rano, keluar dari gang itu, dan benar saja itu adalah bom, bom itu meledak saat Guntur dan Rano keluar dari gang.
"Ckk… Aku belum memastikan tubuh orang itu padahal." Ucap Guntur, yang masih menarik kerah Rano.
"Apa kau gak liat, orang itu meledakkan dirinya sendiri. Sepertinya ia adalah orang suruhan seseorang. Yang mungkin juga, karena kita mengawasi Rani dan cowoknya." Jelas Guntur.
Tak lama setelah itu, Alina menelepon Guntur. Guntur pun segera menerima telepon Alina tersebut.
"Guntuuuur!" Ucap Alina, saat Guntur baru saja mengarahkan hpnya pada telinganya.
"Ada apa?" Tanya Guntur.
__ADS_1
"Aku bosaaaaan, aku maleeeess." Ucap Alina.
"Itu doang?"
"Eh enggak. Aku ingin tau perkembangan Alina dan cowoknya."
Guntur lalu menjelaskan apa-apa saja yang terjadi pada mereka, dan Alina tentunya.
"Hah? Bom? Apa kau yakin itu bom? Bisa jadi itu hanyalah akal-akalan agar kau melepaskan orang yang mengacungkan Sajam padamu tadi." Jelas Alina.
"Tapi orang itu benar-benar meledak." Jawab Guntur.
"Yaya… Buruan selesaiin ya, aku bosan di rumah. Ina sedang sibuk di dapur, dan aku hanya duduk sendirian di ruang kerja ayahku."
"Iya-iya." Balas Guntur, lalu mematikan teleponnya, dan kembali akan fokus pada Rani.
Guntur dan Rano masih saja menatap dan mengawasi Rani dari kejauhan, hingga akhirnya setelah mengawasi sekian lama, ada beberapa cowok yang mendekati Rani dan cowoknya.
Guntur pun perlahan mendekat padanya tempat Rani, dan bersiaga bila terjadi hal yang tidak diinginkan.
__ADS_1
-