
"Ya, sekalian anggap aja aku gak jelas, dan orang yang gak bisa kau tebak karakternya. Aku lebih nyaman begitu," balas Guntur.
"Siapapun yang berhubungan dengan Alina, untuk saat ini akan juga berhubungan denganku. Sebaiknya jangan terlalu memikirkanku, jadilah teman baik untuk Alina." Sambung Guntur.
"Oh… Perhatian ternyata." Ucap Rano pada Rani.
"Iya, gak kusangka ternyata bisa gitu ya Guntur." Jawab Rani.
"Udah deh, kalian mikirnya jangan kejauhan. Oh dan juga, aku sempat kepikiran hal ini, kalian pernah bilang kalo keluarga kalian memiliki masalah ekonomi, kan? Aku ingin membantu, apa boleh?" Tanya Alina, dan tiba-tiba Guntur kaget, dan langsung tepuk tangan.
"Loh kenapa?" Tanya Alina, kali ini pada Guntur yang tepuk tangan, disaksikan beberapa siswa yang ada di kantin sih.
"Bagus, bagus banget. Tadi ngobrolin tentang pemberian seseorang yang harus dihargai, sekarang kau menawarkan bantuan pada kembar ini." Jawab Guntur, membuat Rano dan Rani menyadari hal itu juga.
"Enggak kali, itu cuma kebetulan." Balas Alina, yang padahal berpikir bahwa sebelumnya itu hanya untuk mengalihkan pembicaraan tentang Guntur.
"Oke~" Ucap Guntur, lalu diam menyilangkan kedua lengannya di atas meja.
"Hmm… Ngomong-ngomong kenapa tiba-tiba kamu menawarkan bantuan, Alina?" Tanya Rani.
"Kupikir mulai membangun segelintir bisnis di luar negeri adalah hal yang menarik, aku berharapnya sih bisa menjadikan keuntungan bagi semua pihak." Jawab Alina, membuat Rano, Rani dan termasuk Guntur juga kaget.
"Hah?" Ucap Guntur heran.
"Biarkan Rano dan Rani bicara, brengsek. Dari tadi kau banyak bicara." Balas Alina, sambil melotot pada Guntur.
"Eheh… Untuk hal itu ya? Mungkin aku akan memberitahukan pada orang tuaku terlebih dahulu, Alina. Bisnis antar negara itu bukan hal yang mudah, apalagi nantinya akan ada perpajakan." Jawab Rano.
"Kamu benar-benar mendadak Alina." Sambung Rani.
"Loh, kalian gak setuju juga gapapa kok, aku hanya menawarkan aja." Balas Alina.
Setelah itu, tahu-tahu jam istirahat telah habis, dan akhirnya mereka kembali ke kelas. Alina belum mendapatkan jawaban pasti dari Rano dan Rani.
Lagipula, pertanyaan Alina pada Rano dan Rani cukup dadakan. Mereka berdua belum bisa menjawabnya, dan akan meminta persetujuan tertentu dari orang tua mereka.
Singkat cerita, jam pulang sekolah telah tiba. Saat perjalanan pulang, Guntur melaporkan apa yang Alina katakan pada Rano dan Rani pada Claude, dan ya seperti yang diharapkan oleh Guntur, Claude ngakak sambil menyetir mobil.
__ADS_1
"Kau meragukanku?" Tanya Alina pada Claude yang masih ngakak di kursi supir.
"Bukan hahah… Lebih baik, kau pelajari dengan benar apa itu bisnis. Bisnis itu gak semudah membalikkan tangan, tanpa pengalaman apapun kau akan mudah dihancurkan. Apalagi ini antar negara, selain akses yang sulit, ini juga terkait pengeluarannya yang nantinya gak akan main-main." Jawab Claude.
"Jadi? Maksudnya aku terlalu muda?"
"Bodoh. Kau itu masih bodoh, kau lebih baik segera merenungi nasibmu yang sebentar lagi akan menjadi mengerikan." Sahut Guntur, sepertinya membentak Alina benar-benar dari hati.
Alina hanya diam, dan tidak menjawab apapun yang Guntur ucapkan padanya.
"Yah, bagaimanapun juga, pemikiran mu cukup bagus, karena udah memikirkan hal seperti itu. Selanjutnya kau hanya perlu lebih giat belajar." Ucap Claude.
Sesampainya di kediaman Agra, Alina lalu menemui ayahnya dan menceritakan segalanya yang terjadi hari ini.
"Masa si Guntur membodoh-bodohkan aku ayah? Jahat banget, kan?" Tanya Alina setelah selesai bercerita.
"Kau yang terlalu lembek, coba berpikirlah lebih panjang lagi, Alina. Claude percaya kau bisa meneruskan kursi yang selama ini aku duduki ini, setidaknya jangan membuatku menyesal nantinya." Jawab Agra.
"Itu artinya ayah menyetujui kalo aku disebut bodoh? Nilai ku di sekolah bagus-bagus lho."
"Kesuksesan gak diukur dari seringnya kau rangking satu, dua, tiga, dan seterusnya. Kesuksesan itu ketika kau bisa mengendalikan apa yang kau miliki, saat ini juga."
"Tidak-tidak, aku gak akan bilang kau dangkal atau mengecewakanku. Sejauh ini, aku bangga padamu, aku hanya ingin kau berkembang, jangan hanya terhenti pada pemikiran tertentu."
"Baik ayah." Jawab Alina lalu kembali ke kamarnya.
Selanjutnya, Guntur memasuki ruangan Agra dengan penuh waspada.
"Kau kenapa lagi?" Tanya Agra pada Guntur.
"Kau menyembunyikan aset milik istrimu, kan? Kau akan mewariskannya pada Alina. Apa aku salah?" Tanya balik Guntur pada Agra yang duduk di meja kerjanya.
"Kalo iya kenapa? Dan darimana kau mengetahuinya?"
"Itu bukanlah hal penting yang harus aku ceritakan padamu, aku meminta satu hal dari aset itu. Bisa?"
"Apa?"
__ADS_1
"Di aset itu, terdapat gelang kaki berbahan emas milik ibuku. Aku dengar, kau mendapatkannya di pelelangan."
Agra lalu segera berdiri, dan mendekati Guntur.
"Kau benar-benar akan menjadi aset Alina, bila kau terus-terusan menunjukkan kehidupanmu." Ucap Agra.
"Ya, dan aku gak peduli hal itu. Aku ingin memberikan barang itu pada kakakku, Inazuma. Seenggaknya aku bisa memberikan satu-satunya harta orang tuaku yang masih bisa kutemukan, pada kakakku itu." Jelas Guntur.
"Bisa, aku bisa memberikannya padamu. Tapi ada sebuah syarat yang harus kau lakukan."
"Apa itu?"
"Guntur, kalo kau emang benar-benar menginginkannya. Maka aku ingin kau, dengan kemampuan otakmu itu, menjaga Alina. Sampai kapanpun itu."
"Artinya aku harus mengabdi pada Alina?"
"Ya, kalo kau mau menikahinya, aku pun gak masalah."
Jawaban Agra itu membuat Guntur agak terdiam sejenak.
"Menikahinya? Maksudnya aku menikah dengan Alina?" Tanya Guntur dengan ekspresi yang berbeda dari sebelum-sebelumnya.
"Kenapa enggak? Anggap aja sebagai balas budimu pada Alina, yang berniat menarik mu dari dunia gelap."
Saat mendengar jawaban Agra itu, membuat Guntur sekali lagi berpikir, apakah hal ini wajar bila terjadi, atau bahkan hanya akan menjadi senjata yang akan membunuhnya perlahan.
Guntur pun lalu keluar dari tempat Agra, dan menemui seseorang di lorong.
"Oh kau ya, pacarnya nona Alina, yang sekarang digadang-gadang menjadi penerus Claude?" Tanya orang yang ditemui Guntur, itu adalah Rudi.
"Mungkin aja. Lagipula, malam-malam begini, ngapain kau duduk di lantai begitu?" Tanya Guntur.
"Dari beberapa hari, atau bahkan beberapa bulan lalu, aku mengerjakan permintaan nona Alina. Dan aku sering mengerjakannya begini, sekarang aku ketagihan duduk di lantai." Jawab Rudi sambil nyengir ke Guntur.
"Heh. Lebih baik kau periksakan psikologi mu, sepertinya kau telah gila." Balas Guntur, lalu meninggalkan Rudi yang duduk di lantai, di lorong kamar yang ada di kediaman Agra itu.
"Aneh bener, ada orang kayak gitu di rumah semegah ini. Kelihatannya masih muda, kasian bener harus menuruti permintaan seorang nona manja yang hanya kerjaannya cuma duduk manis di kamarnya itu." Pikir Guntur sambil berjalan, dan menunjukkan ekspresi tersenyum mengejek.
__ADS_1
-