Preman Cewek

Preman Cewek
PC #02


__ADS_3

Besoknya, saat Alina baru masuk ke dalam kelas ia melihat Guntur yang tertidur di atas mejanya, Alina tidak begitu memperdulikannya, ia segera duduk di bangkunya.


"Selamat pagi," seseorang menyapa Alina, yang ternyata itu adalah Rani. Rani tersenyum pada Alina, Rano yang berada di belakang Rani pun ikut tersenyum pada Alina.


Alina hanya menganggukkan kepalanya, tidak mengerti kenapa tiba-tiba si kembar itu menyapanya, padahal biasanya tidak pernah Alina disapa oleh siapapun.


Si kembar lalu duduk ke tempat duduknya masing-masing, Alina berpikir bahwa si kembar menyapanya karena mereka satu kelompok. Jadi Alina tidak begitu memikirkan sapaan dari Rani itu.


Pandangan Alina lalu melihat ke arah Guntur yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan menatap ke luar jendela, karena tempat duduknya di samping jendela, jadi Guntur agak bebas melihat ke luar sekolah.


Pelajaran jam pertama dan kedua di hari ini adalah materi dalam kelas, pelajaran umum. Seperti biasa, Alina cukup mendengarkan guru yang menjadi pemateri.


Singkat cerita, jam istirahat pun tiba, si kembar bule mengajak Alina untuk pergi ke kantin. Dengan ajakan si kembar itu, seluruh isi kelas mengarahkan pandangannya pada Alina dan si kembar, karena memang bukan hal yang biasa, apalagi yang diajak oleh si kembar adalah Alina.


"Ayo ke kantin, Alina?" Ajak Rani, Alina hanya diam menatapnya, Rani dan Rano hanya tersenyum padanya.


"Dan, siapa satu anggota kelompok kita lainnya?" Tanya Rano, Alina lalu menunjuk ke arah Guntur yang tertidur di atas mejanya.


"Itu siapa?" Tanya Rano.


Alina lalu tanpa mengatakan apapun berjalan mendekati bangku Guntur, diikuti oleh Rani dan Rano. Mereka bertiga lalu menatap Guntur yang sedang tidur di atas mejanya.


Tak selang begitu lama, Guntur lalu perlahan membuka matanya, dan mengangkat kepalanya hingga menjadi posisi duduk sigap.


"Ada apa?" Tanya Guntur dengan muka datarnya, dan lalu menyadari keberadaan Rani dan Rano yang tersenyum padanya.


"Tidak bisakah kau tidak mengganggu tidur siangku?" Sambung Guntur bertanya pada Alina.


Alina lalu mencengkram kerah seragam Guntur, seperti kemarin, dan lalu menariknya. "Setidaknya bicaralah dengan benar saat kau berbicara padaku," ucap Alina.


"Kau lupa perjanjian kita?" Sambung Alina bertanya.


"Aku hanya meminta tolong padamu, kalo pun kau tidak mau, gak usah membantuku. Aku meminta tolong padamu, bukan berarti aku menjadi babu mu." Jawab Guntur, lalu melepaskan cengkraman Alina.

__ADS_1


Rani dan Rano hanya terdiam melihat peristiwa itu, tempat mereka berdiri bergeser sedikit dari sebelumnya, mereka agak menjauh. Dan senyuman yang mereka tunjukkan tadi, perlahan memudar.


"Maafkan kami yang telah ikut campur di dalam urusan kalian." Ucap Rano, dengan ekspresi cemasnya.


Alina dan Guntur lalu melihat ke arah si kembar.


"Kalian sebaiknya hati-hati dengan cewek ini, dia adalah preman yang ditakuti di kota ini." Ucap Guntur.


"Apa maksudmu? Dari kemarin kau menyebutku preman, apa maksudmu?" Tanya Alina.


"Kalo kau bukan preman, lantas kata apa yang cocok untukmu?"


"Aku ini putri seorang mafia, aku adalah generasi penerus dari ayahku." Jawaban Alina, dengan sedikit angkuh.


"Ya terserah, jangan ganggu tidur siangku." Balas Guntur, ia lalu kembali menaruh kepalanya di atas mejanya, dan melanjutkan tidur siangnya.


Seolah menghindar dari obrolan dengan anggota kelompoknya itu, Guntur kembali ke dalam ketenangannya.


"Alina, sebenarnya apa hubunganmu dengan Guntur?" Tanya Rani.


"Sebatas teman dalam satu kelompok." Jawab Alina, dengan suara agak tertahan, sepertinya masih merasa kesal pada Guntur.


Singkat cerita mereka makan di kantin bertiga dalam satu meja, dan tentu ini adalah kali pertama dari seorang Alina untuk makan bersama di kantin dengan teman sekelasnya. Selama Alina bersekolah di SMA, ini benar-benar kali pertama.


Mereka bertiga lalu mengobrolkan tentang tugas kelompok, mereka mulai menyusun beberapa rancangan untuk mengerjakan tugas kelompok itu.


Meski Alina cukup ditakuti di sekolah, namun ditakuti bukan berarti dia tidak bisa menjadi siswi yang pintar. Dari beberapa ujian dan ulangan, Alina hampir memiliki nilai yang sempurna.


Di rumah, selain Alina mengikuti ayahnya untuk urusan yang ekstrim, ia juga cukup senang dalam belajar. Alina bahkan sering kali menghabiskan waktunya berdiam diri di kamar selama beberapa jam, hanya untuk belajar dan banyak membaca.


Memang Alina tidak memiliki prestasi dari apapun, misal kontes, olimpiade, maupun semacamnya, namun ia cukup puas dengan rangkingnya tiap kali ujian.


Setelah berbincang dengan si kembar, Alina akhirnya tahu mereka lebih dari sebelumnya. Rani dan Rano adalah pertukaran pelajar dari negara yang cukup maju, itu juga alasan kenapa mereka fasih dalam bahasa yang digunakan oleh para warga di Kota M ini.

__ADS_1


Alina dan si kembar kembali ke kelas, dan terlihat Guntur sedang berdiri dengan memasukkan kedua tangannya di sakunya, menghadap ke arah luar Jendela.


"Sebenarnya siapa dia?" Tanya Rani pada Alina.


"Iya, auranya sangat misterius. Aku khawatir dan sedikit waspada dengannya." Sambung Rano.


"Benar juga, aku gak tau siapa Guntur sebenarnya. Berulang-kali aku berkeliling di Kota M ini, gak pernah sekalipun aku bertemu dengannya sebelumnya." Pikir Alina.


"Aku juga gak mengetahui siapa dia." Jawab Alina pada si kembar.


Alina dan si kembar mendekati Guntur, dan berdiri di belakangnya. Guntur tidak bergeming sedikitpun, dia tidak seolah mematung, benar-benar tidak bergerak.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Alina, dengan nada yang agak tinggi pada Guntur.


"Kau gak perlu menanyakan hal itu," jawab Guntur lalu sedikit membalikkan badan, untuk menatap Alina, "Kalian, ya? Kalian gak perlu tau apa yang kulakukan." Sambung Guntur seperti biasa dengan ekspresi datarnya.


"Kau ini anak mana?" Tanya Alina.


"Kita hanya sebatas teman dalam satu kelompok, jangan bertanya tentang hal lain selain tugas." Jawab Guntur.


"Apa itu artinya aku gak bisa bertanya tentang personal? Apa kau memiliki kejahatan di hidupmu?" Tanya Alina, dan sepertinya pertanyaannya agak berlebihan.


Guntur lalu mendekati Alina, kali ini ekspresinya cukup mengerikan, selain itu, dia mencekik leher Alina.


"Aku pertegas padamu, jangan menanyakan apapun tentangku. Aku sudah berbaik hati mau ikut kelompokmu, jangan kau anggap aku seperti siswa lain yang takut padamu. Aku gak takut padamu." Ucap Guntur, setelah itu melepaskan tangannya dari leher Alina.


Alina lalu batuk-batuk. Rani dan Rano hanya diam, melihat apa yang baru saja terjadi. Guntur kembali ke tempat duduknya.


Rani dan Rano jadi agak khawatir dengan Alina, "Apa kejadian ini harus dilaporkan ke dewan guru Alina?" Tanya Rani sambil mengelus punggung Alina yang masih kesusahan bernafas.


Alina lalu duduk di bangkunya, tanpa menjawab apapun ucapan Rani, dia hanya menggelengkan kepalanya saat Rani bertanya.


-

__ADS_1


__ADS_2