Preman Cewek

Preman Cewek
PC #11


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Guntur saat pergelangan tangannya digenggam kuat oleh Alina, dan ditarik oleh Alina.


Alina terus menariknya tanpa memperdulikan ucapan dan pertanyaan Guntur, Alina menariknya hingga ruang kelas.


Alina lalu menghela nafas panjang, "Sebaiknya aku gak membiarkanmu diapa-apakan oleh Claude. Terlebih lagi, ini di wilayah sekolahan." Ucap Alina pada Guntur.


"Aku gak akan bermacam-macam dengannya. Lagipula, kemana kakakku pergi?" Tanya Guntur.


"Mengantar dan menjemputku sekolah bukanlah tugasnya, kemarin karena Claude ada pekerjaan lain, makanya Ina menggantikannya." Jawab Alina.


"Apakah ia benar-benar gak ingin bertemu denganku?" Tanya Guntur, kali ini nada bicaranya agak turun.


Alina tidak mungkin menceritakan tentang Ina yang menangisi Guntur kemarin, karena mungkin Ina sendiri juga tidak ingin terlihat lemah di hadapan Guntur.


"Emangnya, apa yang akan kau lakukan pada kakakmu? Meminta maaf padanya? Atau membuatnya merasakan kesedihan lagi? tanya Alina agak serius.


"Lagipula, apa yang ingin kau mintai maaf dari Ina? Membunuh orang tuamu? Dari awal, membunuh bukanlah hal yang bisa dimaafkan oleh siapapun, apa lagi yang kau bunuh adalah orang tuamu." Sambung Alina, seolah menceramahi Guntur.


Belum sempat Guntur menjawab pertanyaan itu, beberapa siswa segera masuk ke dalam kelas, karena bel masuk sekolah telah berbunyi.


Guntur dan Alina segera duduk di tempat duduknya masing-masing.


Sehari di sekolah ini tidak ada perbincangan apapun lagi antara Guntur dan Alina, hingga tibalah waktu pulang sekolah, dimana lagi-lagi Guntur dan Claude saling bertatapan di depan gerbang sekolah.


Alina, Rani dan Rano hanya terdiam melihat mereka.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Rano pada Alina.


"Menurutmu? Mereka bertemu di pekerjaan mereka sebelumnya, dan sepertinya urusan mereka belum selesai." Jawab Alina.


Dan ya, Alina sebenarnya menyuruh Rano dan Rani untuk segera pulang, namun mereka menolaknya karena penasaran hal apa yang akan terjadi selanjutnya.


Di sisi lain…


"Aku ingin kau bergabung dengan organisasi Agra, apa kau mau?" Tanya Claude.


"Aku menolak," jawab singkat Guntur, menunjukkan ekspresi penuh dendam.


"Jangan bilang, kau adalah orang yang memberitahukan Alina tentang masa lalu ku?" Sambung Guntur bertanya.


"Kalo iya kenapa? Banyak orang di 'lembah hitam' yang mengetahui hal itu." Jawab Claude.


-


[Fun Fact]


Lembah hitam \= Menggambarkan dunia gelap atau dunia yang kotor di sekitar masyarakat.

__ADS_1


-


"Aku ingin bertanya padamu, ajudan Agra. Apa yang akan terjadi kalo Alina terbunuh?" Tanya Guntur.


"Aku akan mencari orang yang membunuhnya."


"Apa yang kau lakukan setelahnya?"


"Mencincangnya hingga tak bersisa. Kenapa kau menanyakan hal itu?"


"Apa yang akan terjadi bila Alina membunuh?"


"Kau ini pura-pura bodoh atau apa? Hal itu gak mungkin terjadi, kalaupun terjadi, dan alasan pembunuhannya gak jelas, aku akan melaporkannya pada Agra."


"Maka laporkanlah, aku adalah orang yang dibunuh Alina, dalam beberapa hal."


Ekspresi Claude yang tadinya agak santai, kali ini berubah menjadi serius menatap Guntur.


"Apa maksudmu?" Tanya Claude.


"Ia membunuh harapanku untuk bertemu dengan kakakku." Jawab Guntur, yang ternyata adalah hal sepele.


Claude lalu santai lagi.


"Oh itu, aku yang meminta Ina untuk gak bertemu denganmu. Lagipula aku juga yang mengajak Ina menjadi karyawan di kediaman Agra," jawab Claude.


"Kita sudahi obrolan ini. Kalo kau ingin bertemu dengan kakakmu, maka masuklah ke organisasi Agra. Kau akan bertemu dengannya setiap hari." Sambung Claude, dan segera pergi beranjak menuju mobilnya.


"Pikirannya seolah terhalang sesuatu, sepertinya bertemu lagi dengan kakaknya membuatnya bimbang." Ucap Claude pada Alina, di tengah perjalanan saat menyetir.


"Lalu, apakah kau benar-benar berniat mengajaknya bergabung?"


"Alina, sebaiknya kau segera mempelajari tentang urusan ayahmu, kau akan segera menggantikannya. Ayahmu sudah terlalu tua untuk memimpin keorganisasian." Jawab Claude.


Singkat cerita mereka sampai di kediaman Agra.


Beberapa waktu kemudian, setelah Alina mengganti seragamnya, Alina duduk di sofa dan menghadap TV, ia mulai merasa bosan dengan kesehariannya.


"Apa kau setiap hari hanya menonton TV, Alina?" Tanya Ina.


"Ya, gak ada hal lain yang aku kerjakan. Semua diurus oleh para karyawan, dan aku gak diizinkan untuk membantu apapun," jawab Alina.


"Apa kau sedang istirahat?" Sambung Alina bertanya pada Ina, Ina pun mengiyakan Alina.


Alina lalu menyuruh Ina untuk duduk di sampingnya, menonton TV bersama. Walaupun memang hanya menonton TV, dan hanya sedikit berbincang.


"Apa Guntur di sekolah memiliki banyak teman? Ataukah ia seorang penyendiri?" Tanya Ina.

__ADS_1


"Jangankan teman, ia hanya tidur saat di kelas, dan sangat jarang untuk mengobrol. Terlebih lagi, sebenarnya banyak tugas yang mengharuskan para siswa berkelompok. Ia sangat jarang mengerjakan tugas seperti itu, terakhir aku berkelompok dengannya dan dia membuat kelompokku mendapatkan nilai teratas." Jelas Alina, dan masih fokus ke TV.


"Menurutmu apa mungkin ia menjadi temanmu?"


"Harapanmu terlalu banyak untukku Ina, aku juga sebelumnya gak punya teman. Aku mengenal Rano dan Rani sekitar sebulan yang lalu."


"Oh ya? Tapi sepertinya kalian cukup dekat ya?"


"Mungkin karena aku sebenernya merasa kesepian di sekolah, makanya aku berusaha agar aku tetap berteman dengan mereka."


Setelah obrolan itu, Alina dan Ina tak lagi berbincang, hanya keheningan yang ada di antara mereka. Tak lama setelah itu Ina pergi meninggalkan Alina, untuk melakukan pekerjaan lainnya lagi.


Alina yang bosan, pun berniat menemui ayahnya di ruang kerjanya.


"Ayah, apa kau sedang sibuk?" Tanya Alina pada ayahnya ketika baru memasuki ruangan ayahnya.


"Alina? Gak sibuk juga, aku sedang mengerjakan beberapa hal. Ada apa?" Tanya ayahnya balik pada Alina.


"Gak ada, aku hanya sedang merasa bosan. Apa ayah gak punya beberapa tugas untuk keliling kota?"


"Ada sih, tapi sebentar lagi malam tiba. Apa kau yakin?"


"Kemana emangnya ayah?"


"Aku ingin membeli beberapa perlengkapan ringan untuk rumah, kipas angin dan kompor."


"Hah?"


"Kalo kau gak mau, ya nanti biarkan Claude dan beberapa orang untuk melakukannya."


"Apa aku pergi sendirian?"


"Terserah kau mau mengajak siapa."


"Aku akan mengajak Ina, ayah."


"Ya, mintalah uang cash di Claude." Suruh ayahnya, dan Alina pun segera akan menemui Ina dan Claude.


Kesana-kemari Ina berjalan-jalan di kediamannya itu. Ia sempat bertemu dengan seseorang yang pernah ia suruh sebelumnya, Rudi.


"Rudi? Ngapain kau duduk termenung di lantai seperti ini?" Tanya Alina pada Rudi yang sepertinya memiliki masalah hidupnya.


"Oh nona Alina. Maafkan aku, aku terlalu capek untuk memenuhi permintaan nona." Jawab Rudi.


"Permintaanku? Oh yang menyelidiki seluruh siswa di SMAN ya? Wah kau benar-benar serius banget ya mengerjakan permintaanku itu? Baiklah saat kau menyelesaikannya, aku akan memberikan beberapa hal padamu."


"Oh ya? Apa itu nona?"

__ADS_1


"Kejutan buatmu." Jawab Alina dengan tersenyum pada Rudi, walaupun Rudi merasa senyuman Alina itu agak sedikit mengerikan.


-


__ADS_2