
Karena para siswa-siswi yang biasanya segan menatap Alina, kali ini mata mereka tertuju pada Alina yang berjalan dengan Guntur.
"Tatapan mereka semua sangat menyiksaku." Celetuk Guntur, saat ia dan Alina berjalan di lorong kelas.
"Kau pikir hanya menyiksamu? Itu juga menyiksaku, brengsek." Balas Alina, terkesan ngegas ke Guntur.
Akhirnya mereka saling mendiamkan satu sama lain, dan berusaha tidak peduli hingga mereka sampai di kelas mereka. Diantara Alina dan Guntur, tidak ada obrolan apapun lagi.
Saat Alina baru duduk di bangkunya, Rani lalu mendekatinya.
"Cie… Hihi… Pasangan baru ya?" Tanya Rani sedikit terkekeh kecil.
"Kau ini, temannya baru sembuh total malah ikut-ikutan ngegosip gitu. Minimal beri aku selamat atas kesehatanku yang kembali normal ini dong." Jawab Alina.
"Iya-iya…" Balas Rani lalu disambung nya dengan mengucapkan selamat pada Alina atas kesehatannya. Setelah itu, Rani bertanya pada Alina, kenapa ia bisa bersama Guntur pagi ini.
"Guntur bergabung dengan organisasi Agra, mulai dari beberapa hari yang lalu. Dan ya, karena ia akan sering berhubungan dengan ayahku, ayahku meminta ia untuk tinggal di kediaman Agra." Jelas Alina.
"Fiuuu~ Tinggal se-atap nih jadinya? Haha." Tanya Rano yang tiba-tiba mendekat ke Alina dan Rani sambil bersiul.
"Kau ini ikut-ikutan juga, Rano. Males ah ngobrol sama kalian." Jawab Alina, yang malah membuat Rani dan Rano tertawa.
Pelajaran pun segera dimulai, seperti biasanya, pelajaran hari ini juga tidak ada hal yang terjadi ketika pelajaran tengah berlangsung.
Jam istirahat pun tiba, seperti biasa Alina, Rano dan Rani pergi ke kantin untuk membeli makanan, namun kali ini Guntur dengan inisiatifnya sendiri mengikuti mereka bertiga.
Dan setelah mereka berempat duduk di meja rang sama, Guntur lalu menaruh kepalanya diatas meja dan seperti biasa, ia akan memejamkan mata, entah untuk tidur atau hanya sekadar menutup mata.
"Tumben ikutan ke kantin?" Tanya Alina pada Guntur.
"Yah gapapa kali, Alina. Sesekali haha." Sahut Rano menjawab pertanyaan Alina itu.
"Ckk… Kalo bukan karena Claude, aku juga gak bakal kemari." Jawab Guntur, terkesan cuek.
__ADS_1
"Apa iya?" Tanya Rani.
Guntur lalu mengangkat kepalanya, dan melihat ke arah Rani dengan tatapan kosongnya seperti biasa.
"Kenapa?" Rano panik, dikiranya Guntur marah atau semacamnya pada pertanyaan Rani tadi.
Guntur tersenyum tipis lalu tiba-tiba menunjuk pada kalung yang dipakai Alina, sebuah kalung emas bermata liontin permata biru yang Guntur berikan sebelumnya.
Rani dan Rano lalu menatap hal yang ditunjuk Guntur itu, karena mereka tidak mengerti maksud Guntur, mereka hanya menatap liontin itu.
"Oh ini… Ini aku diberi seseorang sebelumnya, bagus gak?" Tanya Alina pada Rani dan Rano, Guntur lalu kembali menaruh kepalanya dan memejamkan matanya.
Alina disini seolah mengerti dengan isyarat Guntur, untuk mengalihkan pembicaraan.
"Lebih peka lah kalian dengan apa yang baru dari teman kalian." Celetuk Guntur setelah itu.
Rani dan Rano pun akhirnya penasaran dengan liontin biru yang indah itu. Alina sengaja tidak memberitahukan kepada mereka kalau liontin itu diberikan oleh Guntur, Alina berpikir kalau Guntur sedang menjalankan tugasnya dan sedang tidak ingin diganggu.
"Itu pastinya mahal banget, ya kan Alina?" Tanya Rani.
"Benar juga. Tapi itu beneran bagus banget lho Alina."
"Iya Rani. Aku ingin bertanya, apa kalian berdua memiliki sesuatu hal yang sangat berharga?" Tanya Alina lagi, pada Rani dan Rano.
"Hmm… Kalo barang pemberian orang lain sebenarnya aku dan Rano jarang diberi sesuatu oleh orang lain, palingan diberi oleh orang tua kami." Jawab Rani.
"Ya begitulah. Tapi kalo buatku, sesuatu hal berharga yang sampai saat ini aku sukai adalah perasaan hangat dari orang-orang yang ada di sekitarku. Kurasa itu adalah hal yang bagus." Sambung Rano.
"Sesuatu yang berharga, itu sebenarnya adalah sesuatu yang gak memiliki bentuk. Selama kau gak bisa mendeskripsikan sesuatu, itu berarti hal itu adalah berharga. Waktu, perasaan, ingatan masa lalu, itu adalah hal yang benar-benar berharga. Kau mungkin aja gak akan mendapatkan hal itu untuk kedua kalinya." Sahut Guntur, masih dengan posisi yang sama.
"Menurutku itu ada benarnya, terutama tentang waktu." Balas Rano.
"Apa kalian berpikiran sama, karena kalian sama-sama cowok?" Tanya Rani.
__ADS_1
"Mana bisa gitu, mereka berpikir begitu karena pastinya mereka memiliki ingatan atau bahkan kenangan yang tidak mengenakkan. Apa aku salah?" Tanya balik Alina, kali ini dengan semangat.
Guntur lagi-lagi mengangkat kepalanya, dan mulai bicara dengan normal.
"Saat kau merasa sebuah barang adalah hal yang bisa dianggap penting, maka kau akan kehilangannya dengan mudah. Namun, bila kita ambil contoh waktu, ia gak bisa kita ulangi. Saat kau bermain asyik dengan teman-temanmu hari ini, besoknya kau bermain untuk kedua kalinya, kau gak akan merasakan perasaan dan suasana yang sama seperti sebelumnya. Hal itu adalah sesuatu yang pasti dialami manusia." Jelas Guntur panjang lebar kali tinggi.
Rani dan Rano hanya diam dengan penjelasan Guntur itu, sedangkan Alina ngakak.
"Kenapa?" Tanya Guntur.
"Hahah… Gak usah terlalu serius juga kali. Kita lagi ngomongin hal sederhana lho." Jawab Alina.
"Biarkan aku membenarkan pemikiran kalian yang kusut itu. Aku gak menyukai orang yang berpikiran sederhana, dan gak mementingkan esensi apapun." Balas Guntur, masih dengan ekspresi datarnya.
"Rano, Rani… Beginilah cara berpikir seorang penyendiri, ia merasa benar sendiri dan gak ingin disalahkan. Hahah…" Ucap Alina pada Rano dan Rani, mereka hanya nyengir saat Alina bilang seperti itu.
"Emangnya aku salah?" Tanya Guntur lagi.
"Gak kok. Benar semua yang kau ucapkan tadi, tapi aku, Rani dan Rano ini mungkin belum mampu mengimbangi cara berpikirmu. Bawalah santai, saat berbicara dengan kami." Jawab Alina, kali ini tersenyum manis pada Guntur.
"Yaya… Intinya, sesuatu yang berharga itu adalah sesuatu yang gak bisa ditolak ukur dengan barang apapun." Ucap Guntur, lalu akhirnya Rani dan Rano tersenyum ragu padanya.
"Kenapa lagi?" Tanya Guntur pada Rano dan Rani.
"Ah enggak, aku sejujurnya gak paham. Kamu ini ramah atau sebaliknya." Jawab Rano.
"Aku bukan keduanya." Jawab Guntur dengan cepat, membuat Rano terdiam.
Alina lalu menggapai bahu Guntur, dan menepuknya.
"Jangan membuat khawatir Rani dan Rano, mereka belum mengenalmu. Maksudnya mereka belum tau harus bersikap seperti apa saat ngobrol denganmu." Ucap Alina setelahnya.
"Hah? Aku udah berusaha mengimbangi kalian, tapi kalian malah gak paham? Kalian ini lemot atau bagaimana? Benar-benar gak peka." Balas Guntur.
__ADS_1
"Liat? Beginilah, intinya kalo ngobrol dengan Guntur apa adanya aja. Dia emang gak jelas karakternya, bawa santai aja." Sahut Alina, memberitahukan pada Rano dan Rani.
-