
"Apa alasanmu melakukannya, selain karena itu adalah pekerjaanmu?" Tanya Alina.
"Tidak ada alasan yang lebih. Hanya saja, saat aku melakukannya bukan berarti aku mau melakukannya, kan? Maksudku, siapa sih yang mau membunuh orang tuanya sendiri." Jawab Guntur, kali ini ia duduk menghadap Alina.
"Bisakah berhenti bekerja sebagai pembunuh?"
"Kenapa bertanya seperti itu? Apa urusannya denganmu?"
"Aku gak pernah membunuh orang secara langsung seperti yang kau lakukan, mungkin dengan harta yang ayahku dapat, itu juga hartanya orang lain yang lebih membutuhkan. Memang, gak ada hubungannya denganku, tentang pekerjaanmu itu, tapi… Yah, udahlah…"
"Mungkin aku akan berhenti, saat aku menemukan sesuatu yang selama ini aku inginkan."
"Oh ya? Apa yang kau inginkan itu?"
"Itu rahasia. Biarpun kita sangat akrab dan makin dekat, aku gak akan memberitahukan hal ini." Jawab Guntur, lalu berdiri dan pergi ke kamar mandi.
Saat itu Alina lalu berpikiran, kenapa ia bisa tiba-tiba ngobrol panjang dengan Guntur. Padahal, Guntur yang Alina kenal adalah siswa yang cukup pendiam, dan jarang bicara.
Setelah dari kamar mandi, Guntur lalu duduk lagi di samping Alina, dan memejamkan matanya lagi dengan menyandar pada kursi.
"Entah apapun nanti yang akan terjadi antara kita, aku gak masalah. Kurasa, saat ini orang yang paling dekat denganku adalah kau, Alina. Jangan pernah ceritakan kepribadianku pada siapapun." Ucap Guntur yang telah memejamkan matanya.
Alina hanya diam menatapi Guntur, dengan berpikir bahwa Guntur sedang akan memanfaatkan Alina untuk berbagai kemungkinan di masa mendatang.
Mereka berdua saling diam masing-masing z seperti sebelumnya. Beberapa jam terlewati, hingga petang pun tiba.
Saat petang tiba, Claude datang ke kamar inap Alina, sedangkan Guntur segera berpamitan pada Alina untuk pulang.
"Kalo udah baikan, segera masuk ke sekolah. Hanya hari ini aku nemeninnya, besok udah gak." Ucap Guntur.
"Ya-ya… Makasih." Jawab Alina.
Guntur lalu segera keluar dan pergi dari kamar inap Alina, Claude langsung duduk di kursi yang sepanjang hari dipakai Guntur tidur.
"Yah ditinggal pulang nih sama pacarnya." Ucap Claude sambil senyum-senyum ngejek pada Alina.
"Rudi ya?" Tanya balik Alina sambil nyengir, Claude lalu mengangguk.
"Padahal cuma ngerjain dia hahaha." Sambung Alina sambil terkekeh.
"Oh ya, kalo emang mau pulang bilang aja, udah boleh pulang juga kok. Keadaan di kediaman Agra juga udah membaik."
__ADS_1
"Di rumah nanti pada banyak yang ke kamarku, jadi aku bakal susah istirahat kalo pulang. Mending disini adem dan damai."
"Alina, kau udah paham kah ama si Guntur?"
"Kurang lebih, kenapa?"
"Apa menurutmu kalo aku benar-benar mengajaknya masuk ke organisasi Agra? Apa mungkin kau akan menolaknya?"
'Hmm… Bagaimana bila nanti kau mengajaknya masuk, dan dia menggantikan posisimu?"
"Posisi ajudan? Heh itu gak mungkin, kalo pun ia akan berada di posisi ajudan, itu berarti kepemimpinannya bukan Agra lagi, tapi kau, Alina. Apa aku salah?"
"Claude, aku ingin hal itu kau realisasikan!" Teriak Alina dengan penuh semangat.
"Wah-wah kalem, pacarannya bohongan kan? Kenapa semangat banget?" Tanya Claude pada Alina.
"Ya, karena tangan Guntur penuh darah, aku ingin membersihkan darah di tangannya perlahan." Jawab Alina.
-
"Penuh darah", disini bisa diartikan sebagai seorang pembunuh.
-
"Kalo aku ingin membantu, apakah itu berarti aku harus izin pada siapapun yang ingin ku bantu? Beberapa keadaan mungkin perlu, tapi untuk hal ini, kurasa lebih baik aku membantunya diam-diam." Jelas Alina.
"Kalo begitu, biarkan aku sedikit turun tangan untuk memenuhi permintaanmu itu. Aku akan keluar sebentar, untuk sedikit melakukan pergerakan pada Guntur. Ah dan juga, tenang aja, aku gak akan menyakitinya, bahkan aku gak akan menyentuhnya." Balas Claude lalu keluar dari kamar Alina.
Beberapa menit kemudian, Ina masuk ke dalam kamar Alina.
"Malam yang cerah, Alina. Kau bisa melihat bulan purnama di luar jendela." Ucap Ina saat masuk, dan membuka tirai pada jendela yang ada di kamar Alina.
Alina ingat apa yang Rudi katakan sebelumnya, dan Alina akan berusaha membuat Ina tidak merasa bersalah lagi, karena luka pada Alina.
"Lihatlah, sang purnama begitu indah malam ini. Bukankah ini pertanda yang baik?" Tanya Ina lagi, kali ini ia tersenyum pada Alina.
"Ina, aku punya permintaan yang egois padamu. Apa kau mau mendengarnya?" Tanya balik Alina, sambil membalas senyuman Ina.
Ina lalu duduk di kursi yang dipakai Claude, dan Guntur sebelumnya.
"Permintaan seperti apa?"
__ADS_1
"Aku tau perbedaan usia antara kita, tapi aku ingin kau menemaniku kedepannya. Kurasa Claude harus lebih memikirkan keluarganya juga, dia terlalu sering berada dalam peristiwa apapun di organisasi Agra." Jawab Alina.
"Apa itu artinya kau ingin aku mengabdi padamu?"
"Gak harus begitu juga sih, kalo kau mengabdi padaku aku takut gak bisa membuat hidupmu makmur. Yang jelas aku hanya ingin kau untuk gak mengkhianatiku apapun yang terjadi nantinya, mengingatkan kesalahanku, dan ya lain sebagainya."
"Hidupku gak senyaman kehidupanmu, Alina. Alasanku tetap hidup sampai sekarang, adalah karena keputusasaan yang entah sampai kapan aku rasakan."
"Maka biarkan aku menjadi alasanmu untuk tetap hidup."
"Apa kau yakin dengan itu, Alina?"
"Ya~ Aku mungkin sedih mengatakan ini, tapi ayahku semakin hari semakin renta, apapun bisa terjadi padanya. Cepat atau lambat, aku akan menggantikannya sebagai pemimpin organisasi Agra."
"Setelah lulus SMA, kau harus kuliah di universitas. Setelah wisuda dari perkuliahan, barulah kau bisa sepenuhnya menjalankan keorganisasian milik ayahmu. Sebaiknya gunakan waktumu untuk terus mempelajari hal-hal yang nantinya kau butuhkan. Itu saranku yang pertama, selanjutnya aku akan mendampingimu sebagaimana penasehat yang selalu mendampingi raja." Jawab Ina dengan bangga, yang membuat Alina tertawa kecil.
"Haha… Gak usah terlalu serius Ina."
Beberapa saat kemudian, setelah mereka ngobrol sekitar 30-40 menitan, Claude kembali dengan senyumannya yang nampak bahagia.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Tanya Ina pada Claude.
"Yah~" Jawaban Claude yang tidak menjawab apapun, ia lalu menunjuk ke HP Alina.
"Heh, apa? Apa jawabanmu? Kenapa senyum-senyum? Lagipula, darimana aja kau, bukannya kalo malam kau harus menemani Alinam" Tanya Ina lagi.
*Ting… Terdengar suara notifikasi HP Alina.
Alina lalu mengeceknya, dan ternyata…
"Apa? Kenapa Alina? Apa yang sedang kalian rencanakan?" Tanya Ina, kali ini merasa panik karena tidak tahu apa-apa.
"Hah?!" Kaget Alina saat membaca pesan yang baru saja masuk ke HP-nya.
"Ini beneran, Claude?" Tanya Alina pada Claude, dengan senyum berseri-seri.
Claude lalu mengangguk-angguk, Ina hanya diam menatap keduanya yang terlihat punya niatan tertentu.
"Guntur barusan mengirimkan pesan padaku, bahwa ia akan masuk ke organisasi Agra juga." Ucap Alina pada Ina, yang membuat Ina terkejut dan terdiam.
-
__ADS_1