
Beberapa cowok itu lalu bercengkrama dengan cowok yang sebelumnya berduaan dengan Rani. Dan Rani hanya diam menatap mereka satu persatu.
"Menurutmu apa yang akan mereka lakukan pada Rani?" Tanya Rano pada Guntur.
Guntur hanya diam saja, dan melanjutkan langkahnya mendekati tempat Rani berada. Diikuti oleh Rano dan Rudi di belakangnya.
"Entah aku yang terlalu banyak berpikir, atau mungkin firasatku benar, kalo Rani sedang dalam bahaya." Pikir Guntur, kali ini mempercepat langkahnya.
"Kenapa tiba-tiba?" Tanya Rano.
Rudi yang berada di belakang mereka berdua, pun juga mempercepat langkahnya.
Benar saja, para cowok-cowok itu termasuk cowok yang sebelumnya bersama Rani, tiba-tiba mengerubungi Rani, dan salah seorang di antara cowok-cowok itu mengeluarkan pistol.
Entah apa yang mereka ancam pada Rani, tapi Rani tampaknya sedang ketakutan. Guntur yang melihat itu tentu tidak akan tinggal diam, Rudi yang sebelumnya telah berjalan di hadapan Guntur pun tidak akan tinggal diam.
Saat Rudi akan mengambil pistol di tas kecilnya ia kaget, lantaran pistolnya telah tiada, dan tiba-tiba Guntur telah memegang pistol dan dari jarak yang masih lumayan, ia menembak kepala orang yang menodongkan pistol pada Rani.
Cowok yang ditembak oleh Guntur itu langsung tumbang, dengan banyak darah. Rani tampak panik, Rano terdiam, dan tidak melanjutkan langkahnya.
Guntur dan Rudi lari ke arah Rani yang dikelilingi cowok-cowok itu, dan mulai menghajar mereka. Guntur benar-benar seperti mesin pembunuh, ia tak gentar sedikitpun dalam menghajar mereka, menembak mereka hingga tak tersisa, apalagi kabur.
Setelah kejadian itu semua, Rani dan Rano sepertinya sangat syok. Karena semua cowok-cowok yang mengelilingi Rani sebelumnya tumbang semua, dan telah bersimbah darah di tanah.
Guntur lalu mengembalikan pistol Rudi, dan lalu Rano mendekati Rani, untuk menenangkannya karena syok melihat pertumpahan darah.
Rano memeluk kuat Rani di dadanya.
"Rudi, laporkan hal ini pada Alina." Pinta Guntur pada Rudi, dengan tatapan kosongnya.
Rudi lalu memfoto semua korban Guntur itu, dan lalu mengirimkan hasil jepretannya pada Alina.
"Tenangkan dia dulu, aku akan bertanya padanya nanti saat ia tenang," ucap Guntur pada Rano, "Lalu, suruh Ina menjemput. Bawa mereka ke kediaman Agra." Sambung Guntur pada Rudi.
Singkat cerita setelah itu semua, mereka semua berada di kediaman Agra semuanya. Dan duduk di ruang tamu yang cukup luas.
__ADS_1
Alina menenangkan Rani dengan memeluknya.
"Hal ini bisa jadi trauma yang mendalam, terutama untuk Rani. Seharusnya kau jangan terlalu gegabah." Ucap Alina.
"Ini adalah pilihanku untuk menyelamatkannya, dia adalah temanmu. Apa kau ingin temanmu mati?" Tanya balik Guntur pada Alina yang masih memeluk Rani.
"A-anu… Lalu, apa yang akan terjadi pada jasad mereka?" Tanya Rano, rasa cemas tergambar di wajahnya.
"Yang jelas, mereka akan dikuburkan semuanya," jawab Alina, "Dan juga Guntur, bukan berarti aku ingin temanku mati, masalahnya kau berada di ruang publik. Orang-orang bisa melihat pergerakan mu dengan jelas, kau akan dalam masalah bila hal itu terjadi." Sambung Alina pada Guntur.
"Nona Alina, mohon maaf sebelumnya, aku menyela. Aku sendiri bahkan gak paham tentang ini, tapi tuan muda Guntur ini bergerak tepat saat gak ada seorangpun di sana. Padahal sebelumnya agak ramai tempat itu." Sahut Rudi.
"Oh ya? Apa yang sebenarnya terjadi, Guntur?" Tanya Alina pada Guntur.
"Kah pikir aku membunuh tanpa memiliki pengalaman apapun? Kurasa kau salah, aku adalah pembunuh nomor satu, di dunia." Jawab Guntur.
"Ada-ada aja, berhenti berbuat, jelaskan padaku."
"Haaah~" Guntur menghela nafas, "Gak terjadi hal yang gimana-gimana, hanya teknik membaca situasi. Pengalamanku gak akan membuat tindakanku salah, aku yakin dengan itu semua." Sambung Guntur.
Ina datang dengan beberapa gelas teh hangat, tangannya gemetar.
"Sebrutal itu ya, seorang pembunuh itu?" Tanya Ina.
"Itu mungkin hanya sekian persen kasus pembunuhan Guntur, aku yakin dia jauh lebih brutal daripada itu." Jawab Alina.
"Apa kamu gak masalah, kalo aku dan Rani tau ini semua, Guntur?" Tanya Rano pada Guntur yang baru saja meneguk teh hangat dari kakaknya.
"Gak masalah, mungkin." Jawab Guntur, membuat Rano agak ragu.
Mereka sedikit berbincang setelah itu, sampai akhirnya Rani sudah cukup tenang dan mulailah Alina menanyakan pada Rani, tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Me-mereka menyuruhku untuk memberikan informasi apapun tentangmu, Alina. Mereka mengancamku, kalo aku gak mau mengikuti perintah mereka, mereka akan membunuhku." Jelas Rani, tentang kejadian saat ia ditodong pistol sebelumnya.
"Berarti mereka punya masalah dengan Agra, bukan cuma kau Alina. Kemungkinan paling mungkin, adalah karena mereka tau bahwa kau adalah penerus dari Agra." Sambung Guntur.
__ADS_1
"Berarti, ada organisasi yang ingin menghancurkan Agra? Bukankah ini hal yang wajar, seharusnya?" Tanya Alina.
"Wajar kalo organisasi itu bodoh, tapi kalo organisasi itu pintar, mereka akan bekerjasama dengan Agra. Gak sedikit juga kan, organisasi-organisasi lainnya bekerjasama dengan Agra? Mereka itu termasuk organisasi pintar, selebihnya kalo mereka memanfaatkan kekuasaan Agra, itu juga salah satu bukti mereka pintar." Jelas Guntur.
"Sebelum aku pergi, aku sempat memfoto pergelangan mereka, dan ini lambang organisasi mereka." Sahut Rudi, menunjukkan foto di hpnya pada Alina dan Guntur.
"Organisasi ini… Ini adalah organisasi dari pasar gelap, tapi kenapa cowok yang sebelumnya bersama Rani memiliki lambang yang berbeda?" Tanya Alina, saat selesai melihat foto dari Rudi.
"Itu artinya, cowok yang sebelumnya dengan Rani, itu sama sepertiku. Seorang pembunuh bayaran, dan organisasinya pasti gak ada sangkut-pautnya dengan cowok Rani itu." Jawab Guntur.
"Sejauh ini, opini itu paling masuk akal. Baiklah, Rudi…" Belum selesai Alina berbicara, Guntur lalu menghentikan Alina.
"Stop menyuruh Rudi, beri ia istirahat. Biar aku yang melakukan sesuatu." Ucap Guntur.
"Hah kenapa?" Tanya Alina.
"Diam aja. Kau pikir aja, apa gak gila lama-lama kalo Rudi terus yang bekerja. Beri dia hari libur." Jawab Guntur, dan akhirnya Alina mengiyakan yang diucapkan oleh Guntur itu.
Rudi akhirnya mendapatkan libur selama seminggu, walaupun pada Akhirnya Rudi hanya ingin libur selama 3 hari.
Malam itu, Rano dan Rani tidak diizinkan untuk pulang oleh Guntur, mereka berdua disuruh untuk bermalam di kediaman Agra.
Alina dan Guntur duduk di meja yang ada di balkon, setelah makan malam, seperti sebelumnya.
"Apa yang selanjutnya akan terjadi? Apa kau telah memprediksinya?" Tanya Alina pada Guntur, yang duduk di hadapannya.
"Kalo aja aku bukan anggota Agra, aku paling males kalo punya kegiatan semacam ini. Lebih baik aku tidur di kamarku, berdiam diri seharian." Jawab Guntur, dengan ekspresi lesunya.
"Aelah…" Balas Alina.
"Begitulah, lagipula aku sekarang salah satu bagian di Agra. Kau berjanji akan membunuhku kan suatu saat nanti, dan juga karena kau berkata akan menyelamatkanku, kata kakakku sih."
"Yaya… Seenggaknya, dengan kejadian ini semua, berarti kita gak bisa bersantai-santai lagi. Bukan Agra yang terancam, tapi orang-orang terdekat. Dan itu artinya, bisa aja Ina yang terancam kan?" Tanya Alina, membuat Guntur terkejut.
"Benar juga!" Balas Guntur, dengan semangatnya, dan menggebrak meja dengan kedua tangannya.
__ADS_1
-