
"Aku bahkan gak kepikiran kesimpulan sederhana seperti yang Guntur jelaskan. Apa-apa dia itu? Apakah kedepannya, kalo aku semakin mengenal pribadinya, maka aku akan makin ketakutan dengan kemampuannya yang belum aku ketahui?" Alina berpikir dalam lamunannya.
"Alina? Kenapa kamu?" Rani masih berusaha menyadarkan Alina dari lamunannya.
"Eh ya? Ya… Kurasa aku agak terkejut dengan apa yang dilakukan Guntur." Jawab Alina.
"Apa kamu benar-benar gak mengenalinya?" Tanya Rano pada Alina.
Alina hanya mengangguk, tak lama setelah itu Alina mengajak si kembar beranjak pergi dari kantin, kembali ke kelas.
Guntur terlihat seperti biasa, tidur di mejanya. Alina, Rani dan Rano kembali ke bangkunya masing-masing.
"Aku penasaran dengan isi otak Guntur sekarang. Kira-kira apa yang ia pikirkan bila saat mengerjakan tugas tadi?" Pikir Alina, sambil menatap Guntur yang sedang tertidur dengan serius.
Jam pulang sekolah tiba, saat Alina keluar dari gedung sekolah, ia melihat Guntur masuk ke sebuah mobil hitam, dengan kaca gelap, sangat misterius.
"Kenapa aku malah penasaran dengan kehidupannya sekarang? Ckk… Bisa-bisanya, udahlah pulang aja." Pikir Alina.
Singkat cerita, sesampainya di rumah. Alina lalu mengobrol dengan salah satu bawahan ayahnya.
"Ada apa nona muda? Kenapa tiba-tiba ingin mengobrol denganku?" Tanya bawahannya.
"Aku sedang ada masalah, Rudi," jawab Alina, membuat orang yang dipanggilnya Rudi itu seketika bersikap panik.
"Tenang, bukan berarti aku dalam bahaya. Aku punya masalah pribadi, dan aku memintamu untuk menolongku dalam beberapa hal." Sambung Alina.
"Ayahku pernah berkata, kalo kau adalah seorang bawahan yang pintar dalam mencari informasi tertentu. Aku ingin kau cari tahu, tentang semua siswa-siswi yang ada di SMAN 1." Pinta Alina.
"Semua? Maksud nona, semuanya?"
"Iya semuanya, apakah permintaanku memberatkanmu? Padahal ayahku cukup membanggakanmu padaku."
"Wah, aku sangat berterimakasih karena telah membanggakan Tuan Agra. Aku bisa saja melakukannya, namun aku tidak menjanjikan akan segera mendapatkan hasil. Mengingat SMAN 1 bukanlah sekolah dengan jumlah siswa yang kecil, aku pastinya membutuhkan waktu yang cukup panjang." Jelas Rudi.
"Benar juga, tapi itu satu-satunya cara yang paling akurat untuk mengungkap siapa Guntur ini, dan pastinya akan menjadi informasi yang berbobot untuk ayah." Pikir Alina.
__ADS_1
"Baiklah, kau dibebastugaskan dari segala tugas, hanya permintaanku ini yang akan kau jalani. Walaupun akan lama, tapi aku ingin kau segera menyelesaikannya." Pinta Alina lagi pada Rudi, Rudi lalu mengiyakan dan segera meninggalkan ruangan.
Tak lama setelah itu, Agra, ayah dari Alina memasuki ruangan yang sama, Alina masih berada di sana.
"Ada apa?" Tanyanya, Alina lalu menjelaskan apa yang ingin ia lakukan, untuk mengetahui jati diri Guntur tentunya.
"Jadi, kau melihatnya naik mobil misterius?" Tanya ayahnya, ketika mereka duduk di sofa dan saling berhadapan.
"Ya, aku gak sempet memotret plat nomor mobilnya." Jawab Alina.
"Kau akan merepotkan Rudi dengan permintaan seperti itu, sebaiknya jangan terlalu gegabah. Setidaknya, saat ini kita masih punya waktu satu setengah tahun, untuk mengetahui segalanya."
"Tadi dia mulai ikut nimbrung dengan kelompok, ayah. Saat itu aku tercengang akan satu hal, dia memiliki pemikiran sederhana untuk menyelesaikan tugas kami. Aku terkejut akan hal itu, padahal ia kerjaannya hanya tiduran di kelas."
"Pikiranku sedang buntu, aku benar-benar gak bisa berpikir panjang dari ceritamu itu." Ucap ayahnya, sambil memegang kepalanya dengan dua tangannya.
"Apakah kau memiliki masalah, ayah?" Tanya Alina.
"Bukan masalah besar, namun masalah-masalah kecil yang datang bertubi-tubi. Beberapa kelompok mafia bawahan organisasi kita telah melepaskan diri, dan ya mereka ingin membentuk organisasi lain selain menjadi mafia. Dan itu cukup merepotkan bagi kita" jelas ayahnya, lalu ayahnya berdiri ingin pergi dari ruangan itu.
"Ku harap kau menyelesaikan masalahmu sendiri, agar gak membebaniku." Sambung ayahnya, Alina pun mengiyakan.
"Ada apa Tasya?" Tanya Alina.
Tasya lalu menodongkan pisau pada Alina, "Maafkan aku nona muda, tapi aku harus membunuhmu." Ucap Tasya, berlari pada Alina dengan tangan yang gemetar menodongkan pisau.
Yang Tasya tidak ketahui adalah, bahwa Alina sebenarnya mempunyai teknik beladiri.
Alina dengan mudah menghindari serangan Tasya, Alina lalu mengambil pisau dari tangan Tasya. Tasya dengan tangan penuh gemetar, ia menatap pada Alina, yang menatapnya sinis sambil memegang pisau yang sebelumnya ia bawa.
"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Alina, terasa hawa ingin membunuh dari Alina.
"A-aku…" Belum selesai menjawab, Tasya sudah terjatuh berlutut dan menangis.
"Maafkan aku nona muda." Ucap Tasya setelah itu.
__ADS_1
Alina balik menodongkan pisau ke arah muka Tasya, "Katakan sejujurnya padaku, siapa yang menyuruhmu?" Tanya Alina.
Tasya hanya diam, dengan penuh tangisan di wajahnya.
Alina lalu menghela nafas panjang, setelah itu menancapkan pisau yang ia pegang ke meja yang ada di dekatnya.
Alina lalu menekuk satu lututnya untuk menyetarakan pandangannya dengan Tasya yang berlutut di lantai. Alina lalu menaikkan dagu Tasya, agar pandangan Tasya tertuju pada mata Alina.
"Kau bekerja padaku untuk membantu ekonomi keluargamu, aku membayarmu. Dan sekarang apa yang kau lakukan?" Tanya Alina.
Tasya masih saja diam, Alina lalu berdiri dengan angkuhnya, dan mengatakan bahwa ia memecat Tasya saat itu juga.
Malamnya, setelah Tasya dipecat, Alina lalu mengobrol lagi dnegan ayahnya.
"Bisa-bisanya hal seperti itu bisa terjadi di kediaman kita," ucap ayahnya, setelah Alina bercerita tentang apa yang dilakukan Tasya.
"Aku benar-benar terlalu banyak berpikir, sepertinya aku harus mengistirahatkan tubuh dan pikiranku untuk beberapa hari." Sambung ayahnya.
"Silahkan, aku akan berusaha menghandle apa yang terjadi di organisasi kita." Ucap Alina dengan semangat.
"Apa-apaan kau ini? Aku akan menugaskan Claude untuk hal ini, kau ngapain mau ikut campur urusan ini?"
"Maka aku akan menemani ajudan ayah, si Claude itu." Jawab Alina, masih dengan jawaban penuh semangat.
Claude, ajudan pribadi Agra. Dia adalah mantan seorang intelijen negara.
Claude ikut masuk ke obrolan, "Kenapa mencariku?" Tanyanya.
"Aku ingin mengistirahatkan badan dan pikiranku, gantikan aku untuk menghandle segala urusan yang ada di keanggotaan." Pinta Agra pada Claude.
"Aku nolak sih, mending nona muda yang menggantikanmu. Aku akan mendampinginya." Jawab Claude.
"Kau menolak permintaanku?" Tanya Agra tegas pada Claude.
"Sesekali percayalah pada Alina, semua pemikiranmu sebagai pemimpin sudah terlalu tua, biarkan Alina belajar menjadi penerus," jawab Claude dengan santai.
__ADS_1
"Lagipula, selama ini aku menjadi ajudan mu karena aku ingin melihat putrimu bersinar. Apa kau tidak menginginkan hal itu?" Sambung Claude bertanya, Agra hanya bisa diam.
-