Preman Cewek

Preman Cewek
PC #15


__ADS_3

"Si-siapa ini nona?" Tanya Rudi menunjuk pada Guntur dengan ekspresi wajah yang tegang.


"Menurutmu?" Tanya balik Alina pada Rudi.


"Pacarnya nona muda?"


"Hmmm… Sepertinya bakal seru kalo aku ngejahilin Rudi hehe…" Pikir Alina dengan licik.


"Iya loh, masak kau gak tau sih, Rudi? Wah kukira kau sangat mengenalku. Bahkan aku punya pacar aja kau gak tau, hadehhh~" Jawab Alina sambil nyengir pada Rudi.


"Maafkan aku nona, aku terlalu sibuk dengan permintaan nona yang sebelumnya, sampai-sampai gak sadar kalau nona sudah punya pacar, maafkan aku." Jawab Rudi, lalu mulai mengambil jajanannya yang ia jatuhkan sebelumnya.


Rudi lalu berdiri di samping ranjang Alina, dan menaruh jajanan yang ia bawa, di atas meja dekat ranjang Alina.


"Maaf kalo aku mengganggu waktu kalian," ucap Rudi.


"Apa keadaan nona sudah membaik? Apa masih ada bagian yang sakit?" Sambung Rudi bertanya.


"Aku dari sebelum-sebelumnya emang udah gak merasakan sakit kok di lukanya. Kejadiannya berlangsung begitu cepat, aku gak sempat merasakan sakit, saat sampai di rumah sakit pun aku bangun-bangun udah gak sakit. Cuma saat tertembak waktu itu hanya panas aja di bagian yang tertembak." Jelas Alina.


"Nona ini cukup kuat ya menahan sakit, tapi kedepannya nona harus lebih berwaspada. Aku tau dalam kejadian ini, nona yang ditemani oleh Ina gak akan menyalahkan Ina, dan juga mungkin saat Ina datang kemari ia tampak biasa-biasa aja. Namun, saat Ina bekerja di kediaman, ia seringkali termenung sendirian."


"Informasimu sangat membantuku, Rudi. Dalam beberapa hari ini, Ina cukup sedikit mengobrol denganku, ekspresinya mungkin biasa-biasa aja sama seperti yang kau bilang, tapi aku gak tau kalo ia merasa bersalah. Aku sangat berterimakasih pada informasimu itu, aku akan menghiburnya lagi." Balas Alina dengan senyuman.


Beberapa saat kemudian, Rudi berpamitan, ia berkata kalo gak mau mengganggu waktu berpacaran Alina dan cowoknya, padahal Alina hanya menjahili Rudi.


Setelah Rudi keluar…


"Bisa-bisanya kau mengatakan aku adalah pacarmu pada bawahanmu." Ucap Guntur, masih memejamkan matanya.


"Selain karena aku menjahilinya, itu juga agar dia gak bertanya lebih lanjut tentangmu. Lagipula aku gak begitu mengenalmu, kalo semisal Rudi bertanya tentangmu." Jawab Alina, sambil memberikan sekantong jajanan yang Rudi bawa tadi pada Guntur.


"Bisa juga kau bohongi dia tentangku, kan? Kenapa harus bilang aku pacarmu?"


"Ya, kebohongan yang menyingkat waktu lebih baik, daripada kebohongan yang terlalu bertele-tele, karena itu akan merepotkanku." Alina lalu mengulurkan lidahnya mengejek pada Guntur.


"Terserah, lalu ini apa?"


"Jajanan yang dibawa Rudi."


"Terus kenapa? Minta bukain?"

__ADS_1


"Enggak, makan aja kalo mau."


"Oh baiklah."


Tepat jam 09.30 dokter dan beberapa perawat masuk untuk cek harian pada luka Alina.


"Ini siapanya ya?" Tanya dokternya pada Guntur yang duduk di samping Alina.


"Em… Aku pacarnya dok." Jawab Guntur.


"Oh mas pacar, mohon izin dulu ya, mau cek lukanya Alina dulu." Balas dokter lalu Guntur berdiri dari duduknya, dan menganggukkan kepalanya, mengiyakan dokter.


Beberapa menit setelah dokter mengecek luka Alina, dokter dan perawatnya lalu keluar dari kamar inap Alina.


Alina ngakak tiba-tiba.


"Kenapa?" Tanya Guntur.


"Aku kan cuma berniat menjahili Rudi, buka semua orang yang aku temui. Ngapain kau ngaku jadi pacarku hahaha…" Jawab Alina masih ngakak.


"Oalah kirain. Ya udahlah ya, gak ada ruginya juga buatku." Ucap Guntur, lalu duduk kembali dan memejamkan matanya lagi.


"Nggak juga, aku emang mau ketemu aja. Dan seperti yang kubilang sebelumnya, di tempat ini suasananya tenang." Jawab Guntur.


"Elaah~ pinter kali kau ngelesnya."


"Ya~ Biarkan aku menemanimu seharian ini. Gak masalah?" Tanya Guntur, mengagetkan Alina.


"Lah? Kenapa tiba-tiba tanya gitu?"


"Suasana di sini tenang, aku butuh ketenangan ini."


"Gak, aku gak mau percaya. Katakan padaku alasanmu yang sebenarnya."


"Kau ini kebanyakan berbohong, akhirnya kau jadi susah untuk percaya dengan orang lain. Alasanku emang cuma itu, bukan karena kakakku, juga bukan alasan tertentu."


"Baiklah, kalo gitu aku akan beritahu pada Ina untuk gak datang hari ini." Ucap Alina lalu mengirim pesan pada Ina agar tidak datang hari ini, karena Guntur menggantikannya.


Alina masih gak percaya dengan Guntur, ia memikirkan beberapa hal yang kemungkinan menjadi alasan tertentu Guntur.


Pertama, Alina berpikir bahwa Guntur ingin bertemu dengan seseorang yang dekat dengan Alina, bisa jadi itu Ina, Claude, atau bahkan ayahnya yaitu Agra.

__ADS_1


Kedua, Alina berpikir kalau Guntur sengaja menjauhkan dirinya dari kejaran polisi, karena polisi sedang melakukan investigasi.


Ketiga, Alina berpikir kalau Guntur khawatir dengannya, walaupun itu emang satu pemikiran Alina yang gak Alina sangka bisa berpikir begitu.


Tapi ya, terlepas dari itu semua, sejauh ini Alina dan Guntur sibuk dengan dirinya sendiri, Alina kesana kemari sendiri, makan pun ia menyiapkannya sendiri. Sedangkan Guntur hanya tertidur di atas kursi.


Singkat cerita, jam telah menunjukkan pukul kurang lebih 14.00. Alina mulai bosan dengan nonton tv.


"Guntur, kau bisa mendengarkan ku kan? Aku bosan tau, nonton tv mulu dari tadi." Ucap Alina pada Guntur yang masih memejamkan matanya.


"Tidur aja." Jawab Guntur.


"Kau ini tidur mulu kerjaannya, bantuin sesekali bikin makan gitu."


"Bikin bubur instan aja, tinggal kasih air dan panasin, apa susahnya." Jawab Guntur, masih memejamkan matanya.


"Tau gitu tadi biar Ina yang menemaniku, dari kau yang hanya tidur."


"Ya~"


Karena Alina mulai kesal dengan Guntur, Alina pun memutuskan untuk tidur di ranjangnya itu. Dan walaupun sebenarnya ia gak bisa tidur, karena punya pikiran, "Gimana kalo Guntur macem-macem?"


Alina terus kepikiran itu, ia hanya memejamkan matanya tanpa bisa tidur sama sekali.


"Kalo gak bisa tidur jangan dipaksakan. Ngomong aja, nanti aku jawab." Ucap Guntur, dan ya ia gak bergeming dari jam 10 tadi, ia hanya tidur.


Entah tidur atau tidak, tapi setiap kali Alina bertanya Guntur yang memejamkan matanya terus menjawabi pertanyaan yang ditanyakan Alina.


"Guntur, apa aku udah boleh bertanya sesuatu?"


"Apa?"


"Pembunuhan orang tuamu, apa kau mau menceritakannya padaku? Maksudku tentang alasanmu melakukannya. Eh kalo gak mau cerita gapapa, jangan marah."


Guntur lalu perlahan membuka matanya, dengan mata sayu ia menjawab pertanyaan Alina itu.


"Kau bertanya ini secara mendadak… Tapi ya, harus kuakui, aku dan kau sudah agak dekat, dibandingkan saat awal kita bertemu. Kurasa aku bisa sedikit menceritakan ini padamu…" ucap Guntur, ia lalu melirik ke arah Alina.


"Aku membunuh mereka, karena itu adalah tugas yang harus ku kerjakan. Dan kau tau, mereka adalah dua orang pertama yang aku bunuh." Sambung Guntur, sedikit tersenyum.


-

__ADS_1


__ADS_2