
Tak lama setelah itu, Alina segera mengambil tasnya, dan segera beranjak dari kelas, Guntur mengikutinya untuk bertemu dengan Ina setelah ini.
"Apa nantinya kau benar-benar akan membunuhku?" Tanya Guntur, saat ia dan Alina berjalan di lorong sekolah, perjalanan menuju halaman depan sekolah.
"Tentu saja. Itu kesepakatan kita, kan? Itu artinya, kau harus bertahan dimanapun kau berada, kau gak boleh mati kecuali dibunuh olehku." Jawab Alina, yang berjalan di depan Guntur.
"Sebenarnya apa keuntungan yang kau terima, saat kau bersepakat untuk membunuhku?" Tanya Guntur.
"Sebenarnya, ada sesuatu hal lain yang harus kau lakukan padaku. Saat aku akan membunuhmu nanti."
"Apa?"
"Membunuhku."
"Jangan bercanda, aku yang memintamu membunuhku. Kenapa aku harus membunuhmu juga?"
"Guntur, aku akan menjelaskan tentang hal ini lain waktu. Yang jelas, hal itu bisa aja terjadi. Apalagi, aku diharuskan untuk memimpin keorganisasian milik ayahku." Jawab Alina, nada bicaranya perlahan mulai turun.
"Kau gak menginginkan hal itu?"
"Aku menginginkan dan menerima hal itu, tapi bukan itu alasanku ingin mati. Setelah aku mendengar sedikit ceritamu dari Ina, aku ingin segera mati bersamamu."
"Apa? Kau sedang merayuku?"
"Merayu? Kau pikir aku mencintaimu atau semacamnya? Hanya karena aku ingin mati bersamamu juga?" tanya Alina berbalik badan, dan berjalan mundur. Menghadap Guntur.
"Yang jelas, kita akan saling membunuh nantinya." Sambung Alina.
"Ya apapun yang kau mau, asal kau benar-benar membunuhku." Jawab Guntur.
Singkat cerita, saat mereka sampai di depan gerbang sekolah, Ina datang dengan mobil yang sama seperti pagi tadi, tapi kali ini dia datang sendirian.
"Alina, Claude memintaku untuk segera pulang." Ucap Ina dari dalam mobil pada Alina, dan hanya membuka kaca mobil.
"Ina. Aku meminta maaf padamu, atas semua yang kulakukan selama ini." Ucap Guntur.
"Cepatlah, Claude menunggumu Alina." Ucap Ina, Alina yang tidak ingin merusak suasana hati dari mereka berdua, segera Alina masuk ke dalam mobil, dan dengan tanpa mengucap apapun, mobil yang dikendarai Ina segera melaju.
__ADS_1
Di tengah perjalanan, Alina melihat Ina yang menyetir mobil dengan ekspresi tegang.
"Keluarkan aja, aku gak masalah." Ucap Alina, benar saja tiba-tiba air mata Ina mulai mengalir keluar dari matanya.
"Ternyata, dia udah tumbuh besar." Celetuk Ina, dengan senyum tipis di wajahnya, dibaluti air mata yang masih mengalir.
"Kenapa kau gak mau mengobrol, bahkan gak mau menatap wajahnya?" Tanya Alina.
"Aku gak sanggup, aku akan menangis, aku akan… Yah, maafkan aku, aku akan hentikan pembicaraan ini." Jawab Ina.
Alina setelah itu menceritakan tentang Guntur yang dihajar oleh seseorang hari ini, lalu Alina mengatakan juga kalau hari ini dipulangkan lebih awal karena orang yang menghajar Guntur tadi.
Alina juga menceritakan kehebatannya dalam menangani orang itu dengan kemampuan beladiri yang ia miliki.
"Oh, punya kemampuan beladiri. Pantes aja, Claude bilang kalo kau itu gak butuh pendamping tertentu dalam keseharianmu. Hebat sih." Ina menunjukkan rasa kagumnya, saat mendengarkan Alina bercerita.
"Aku jadi penasaran, sebanyak apa Claude menceritakan tentangku? Kenapa kau seolah-olah mengetahui apapun,dan itu bersumber dari Claude." Tanya Alina, kali ini ia sedikit kesal dengan pengetahuan Ina.
"Claude berkata kalo ia akan menceritakan lebih banyak lagi, kalo aku masih mau melanjutkan pekerjaan di kediaman bos besar."
"Itu artinya, kau akan terus mendapatkan informasi tentangku dari Claude setiap harinya?"
"Kau… Kau ingin berusaha memberiku service, seolah-olah kau ibuku, kan? Kau merasa kasihan padaku yang gak pernah punya ibu, kan?" Tanya Alina, dan Ina hanya tersenyum, sepertinya tebakan Alina benar kali ini.
Sesampainya di kediaman Alina, Ina segera memarkirkan mobilnya.
"Apa kau memiliki hubungan spesial dengan adikku itu?" Tanya Ina, saat mereka masih berdiri di halaman depan.
"Kurasa… Ya kurasa memilikinya, namun bukan dalam artian asmara ya. Ini hubungan yang aneh sih, sebenarnya. Kami menjanjikan sesuatu yang dibutuhkan masing-masing dari kami." Jelas Alina.
"Apa kau gak bisa menyebutkan hal itu?"
"Bisa, tapi aku ingin untuk kau gak memberitahukan hal ini pada siapapun ya? Ikuti aku ke kamarku, Ina. Aku akan bercerita." Jawab Alina, dan mereka lalu pergi ke kamar Alina.
Sesampainya di kamar Alina, segera Alina ganti seragam dengan baju sehari-hari dan lalu mulai bercerita tentang hubungan apa yang dijalani oleh Alina dan Guntur.
"Hubungan untuk saling membunuh?!" tanya Ina kaget, setelah Alina menjelaskan hubungannya dengan Guntur.
__ADS_1
"Kenapa ada perjanjian seperti itu. Yah mungkin wajar bila itu hanya Guntur, mungkin karena ia menyesali perbuatannya. Tapi kenapa kau ingin mati juga?" Sambung Ina.
"Ada beberapa hal yang mendasari semua itu, tapi aku gak bisa menjelaskan. Begitu juga dengan Guntur, ia gak tau alasan dibalik keinginanku untuk mati." Jawab Alina.
"Kau serius dengan hal ini? Apakah Claude atau ayahmu tau?"
"Mereka gak tau, dan juga aku memintamu untuk gak memberitahukannya pada siapapun. Dan ya, aku akan berharap suatu saat aku dan Guntur saling mengurungkan niat, dan meneruskan hidup." Jelas Alina.
Setelah itu Alina segera menyuruh Ina keluar dari kamarnya, Ina pun segera keluar dan melakukan pekerjaannya di kediaman Agra itu.
Keesokannya, Guntur terlihat sedang menunggu Alina di depan gerbang, berharap Ina yang mengantar Alina, namun ternyata yang mengantar Alina pagi ini adalah Claude.
"Oh." Ucap Claude, melihat sosok Guntur yang ia targetkan untuk menjadi bawahannya.
"Kenapa?" Tanya Alina.
"Aku melihat wajahnya untuk kedua kalinya. Sebelumnya aku bertemu dengannya, matanya terlihat kosong layaknya orang mati. Kali ini, aku melihatnya lagi, tapi matanya seolah mengharapkan sesuatu." Jawab Claude, masih di dalam mobil dan menatap ke arah Guntur.
"Mungkin ia berharap bertemu kakaknya lagi, kemarin aku diantar oleh Ina, dan ia bertemu dengan Guntur."
"Oh pantas saja." Ucap Claude, lalu keluar dari mobil, begitu juga dengan Alina.
Claude lalu mendekati Guntur dengan berjalan angkuh, dan saling bertatapan. Alina di belakang Claude.
"Apa kau masih mengenalku?" Tanya Claude.
"Intelijen negara, Claude." Jawab Guntur, ekspresinya seketika menatap sinis pada Claude.
"Nope. Itu pekerjaanku dulu, saat ini aku adalah ajudan dari organisasi mafia Agra." Jawab Claude dengan tersenyum samar pada Guntur.
"Ajudan?"
"Ya. Apa yang kau tunggu? Kakakmu? Heh, apa kau masih punya hati untuk menemui kakakmu?" Tanya Guntur.
"Bukan urusanmu!" Jawab Guntur agak membentak.
Alina lalu menengahi mereka, karena merasa akan terjadi hal yang tidak diinginkan kalau dibiarkan. Alina lalu menyuruh Claude untuk segera pergi dan menarik Guntur masuk gerbang dan segera masuk ke gedung sekolah.
__ADS_1
-