
"Kenapa kalian merekrut dia? Apa kalian sengaja membuatku trauma?" Tanya Ina dengan muka sedih dan lesu.
"Aku tau ini adalah berita yang menyesakkan untukmu, tapi aku ingin membersihkan tangan Guntur yang penuh dengan darah itu." Jawab Alina.
Ina tanpa bertanya apapun lagi, ia lalu segera meninggalkan kamar inap Alina. Claude lalu menyusulnya, sedangkan Alina tetap berada di kamar inapnya.
Ina terhenti di tempat duduk yang ada di ruang tunggu, ia duduk menunduk dengan air mata yang mengalir deras.
Claude lalu duduk di sebelahnya.
"Kenapa kau menangisi hal seperti ini? Kau hanya akan membuat hati Alina berantakan." Ucap Claude.
"Bu-bukannya… Bukannya aku gak suka dengan adikku itu, tapi… Tapi, keputusan kalian terlalu mendadak. Pikiran dan hatiku gak se-tenang dirimu, Claude. Aku juga orang yang mudah… Mudah terbawa emosi dalam diri, gak seperti Alina yang mudah mengendalikan emosinya." Jawab Ina, sambil menangis tersedu-sedu.
"Kau pikir aku dulu seperti sekarang? Aku pernah bercerita padamu tentang diriku, kan? Siapa yang mengubahku menjadi se-tenang sekarang, jawabannya adalah organisasi Agra. Alina hanya ingin menyelamatkan adikmu."
Ina hanya bisa menangis, dan terus menangis. Hingga, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.
"Kak Ina. Aku berjanji padamu, aku gak akan mengganggu kehidupanmu untuk kedua kalinya. Kau bebas menghukumku, apapun itu. Saat ini, aku hanya ingin tahu tentang arah kehidupan Alina, yang membuatku tertarik padanya." Ucap orang itu, yang ternyata adalah Guntur.
Guntur sambil menaruh tangannya di bahu Ina, ia juga jongkok di depan Ina.
"Aku bahkan gak punya wajah lagi kalo di hadapanmu. Biarkanlah, hidupku kosong untuk selamanya." Sambung Guntur.
"Aku… Aku berjanji pada Alina, untuk gak mengkhianatinya apapun yang terjadi," balas Ina, lalu mengangkat pandangannya dan menatap Guntur dengan serius, "Maka katakan padaku, tujuanmu menyetujui ajakan Claude untuk bergabung pada Agra?" Sambung Ina bertanya.
"Sebelum itu, Ina kembalilah ke kamar inap. Aku yakin Alina sedang kacau pikirannya, karena kau pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun." Ucap Claude, dan Ina pun segera mengusap sisa-sisa air matanya.
Ia berdiri dari duduknya, dan segera berlari ke ruang inap Alina.
"Jadi, ngapain kau balik lagi?" Tanya Claude pada Guntur.
"Karena kau tadi bilang kakakku pastinya dateng kesini, ya aku balik. Lagipula, cepat atau lambat kakakku akan tau kalo aku akan menjadi anggota Agra." Jawab Guntur.
Claude dan Guntur sama-sama memasang wajah yang datar.
"Lalu? Kau kemari mau bertemu dengan Ina doang?"
__ADS_1
"Gak juga," jawab Guntur, lalu mengeluarkan sebuah barang dari tas punggungnya, "Berikan barang ini pada Alina, kau mungkin gak akan tau arti dari barang ini, Alina mungkin juga belum akan mengerti, tapi suatu saat dia akan mengerti. Berikan ini padanya." Sambung Guntur sambil memberikan sebuah liontin pada Claude.
"Kenapa kau punya permata biru yang indah seperti ini? Kenapa kau berikan pada Alina?"
"Ya~ Berikan aja padanya." Jawab singkat Guntur, dan ia lalu segera pergi dari rumah sakit.
Dan yang pastinya, Claude akan kembali ke kamar inap Alina. Terlihat Alina dan Ina sedang menangis di dalam pelukan mereka.
Alina dan Ina terlihat seperti anak-anak kecil yang menangis bersama, dan berpelukan.
"Jadi Ina, apa kau membuka hati untuk membiarkan adikmu bergabung?" Tanya Claude.
"Iya lah!" Jawab Ina dengan penuh semangat.
"Lah? Gimana sih, habis nangis bisa-bisanya langsung semangat gitu?" Tanya Claude lagi, Alina juga dilihat Claude dengan 'pandangan yang rendah'.
"Katanya bahunya tertembak, bisa-bisanya berpelukan lama gitu." Sambung Claude nyeletuk.
Setelah keadaan stabil, akhirnya Alina menjelaskan dengan cermat dan detail, kenapa ia merekrut Guntur untuk masuk ke Agra. Selain itu, Claude juga memberikan titipan yang diberikan Guntur untuk Alina.
"Kenapa Ina?" Tanya Alina pada Ina.
"Di tradisi keluargaku dulu, memberikan liontin atau perhiasan yang mahal, itu berarti ajakan untuk nikah lho." Jawaban Ina yang membuat Alina dan Claude kaget.
"Lah? Heeeeeee~" Balas Alina sangat-sangat terkejut.
-
Singkat cerita, beberapa hari setelah itu Alina akhirnya kembali bersekolah seperti biasanya. Yang berbeda, adalah kali ini ia berangkat ke sekolah dengan Guntur.
"Kenapa juga aku harus berangkat sekolah bareng Alina." Ucap Guntur, yang duduk di kursi penumpang bersebelahan dengan Alina.
Claude yang menyentir mobil hanya terkekeh-kekeh kecil melihat pertengkaran Alina dan Guntur.
"Kau pikir kenapa lagi, kalo bukan perintah dari ayahku." Jawab Alina.
Keduanya saling membuang muka, saling membelakangi pandangan mereka, melihat ke arah luar jendela mobil.
__ADS_1
"Kau kenapa waktu itu tiba-tiba ngasih liontin ke Alina, Guntur?" Tanya Claude yang duduk menyetir di depan Guntur.
"Emangnya kenapa?" Tanya balik Guntur pada Claude.
"Kata Ina itu berarti adalah ajakan menikah." Jawab Guntur.
"Oalah, kakakku bisa-bisanya… Ya, itu tradisi di keluargaku dulu. Tapi, bukan berarti memberi liontin waktu itu bukan berarti mengajak nikah Alina, kan Alina?"
"Mana ku tau kau pikir ajalah sendiri." Jawab Alina cuek.
"Kalian ini, gak di kediaman, gak di sekolah pasti bakal berantem terus. Sebenarnya kalian ini ada masalah pribadi masing-masing apa gimana sih?" Tanya Claude.
"Siapa sih yang gak kesel ama cowok yang mukanya kayak dia ini? Yang ada para cewek jijik dengan mukanya." Jawab Alina, sambil mengejek Guntur.
"Mulut tuh dijaga, mulut kok kayak… Ah gak jadi deh." Balas Guntur.
"Kayak apa? Kau tuh kebanyakan bunuh orang, makanya gak punya hati. Emang mati hati dan perasaan kau ini." Terdengar Alina benar-benar kesal kali ini.
Tak lama setelah itu, mereka tiba di depan gerbang sekolah. Tiba-tiba ada yang membukakan pintu mobil untuk Alina dan Guntur, saat mereka turun betapa kagetnya mereka.
Claude ikutan turun dan lalu teriak dengan keras dan tegas.
"Kita sambut!! Pasangan muda dari Agra, pasangan yang sangat romantis! Idola banyak hubungan dari luar sana. Nona muda Alina, dan Tuan muda Guntur!!" Ucap Claude dengan keras hingga pandangan para siswa-siswi pagi itu tertuju pada Alina dan Guntur.
Alina dan Guntur tampak kaget dan geram dengan apa yang diucapkan Claude.
Di sisi lain…
"Wah mengejutkan sekali, baru masuk sekolah tau-tau udah jadi pasangan aja dua orang itu haha." Ucap Rano pada Rani, yang melihat Alina dan Guntur turun dari mobil, dari kejauhan.
"Hihi… Bukankah mereka dari awal memang cocok, kukira mereka gak akur, ternyata kita yang gak peka dengan hubungan mereka hihi." Jawab Rani senyum-senyum dan tertawa kecil.
Akhirnya, Alina dan Guntur pun gak bisa membantah teriakan Claude tadi, mereka segera masuk ke dalam gedung sekolah, dan berharap tidak akan menjadi masalah besar.
Tapi itu cuma menjadi harapan mereka doang, karena…
-
__ADS_1