Preman Cewek

Preman Cewek
PC #07


__ADS_3

"Menyukai? Hm… Tentu ada orang aku sukai, ayahku." Jawab Alina, mengecewakan ekspektasi Rani dan Rano.


"Ya udahlah, sepertinya kamu emang gak paham Alina." Ucap Rani.


Singkat cerita, jam pulang tiba dan Claude menjemput Alina hari ini. Ia datang dengan mengendarai mobil mewah, diikuti dengan beberapa mobil lain, yang sepertinya itu adalah bawahan Agra.


Saat Claude turun dari mobil, semua orang menatapnya. Meski cukup berumur, Claude masih tetap saja keren.


Alina menyadari kedatangan Claude. Saat Alina mendekat, Claude lalu berbisik padanya.


"Hari ini, bos besar mulai menugaskan mu." Bisiknya pada Alina.


Alina memahaminya, maksud Claude adalah menggantikan Agra sebagai pemimpin organisasi untuk sementara.


Claude pun lalu menyuruh Alina masuk ke dalam mobil, agar segera pulang.


"Aku gak melihatnya?" Tanya Claude di tengah perjalanan, sambil menyetir mobil. Merujuk bertanya tentang Guntur.


"Guntur selalu pulang dijemput, entah oleh siapa. Mobilnya memiliki kaca yang gelap hingga gak kelihatan yang menyetir mobilnya." Jelas Alina.


"Oh baiklah." Jawab Claude.


-


Beberapa hari setelah itu.


"Huaaaa~" Alina meregangkan otot, "Akhirnya tugas kelompoknya selesai juga. Makasih Rani, Rano." Ucap Alina pada Rani dan Rano, ketika mereka bertiga mengobrol di kantin.


"Benar-benar gak bisa dipungkiri, kita mendapatkan nilai tertinggi haha." Balas Rano.


"Tapi, Alina tugas ini sudah selesai. Apa artinya kita gak bisa makan bareng waktu istirahat lagi?" Tanya Rani dengan muka agak sedih.


"Lihat kondisinya dulu ya, aku agak sedikit sibuk. Jadi, waktu istirahat aku mungkin saja bisa sudah pulang duluan." Jawab Alina.


"Lalu, apa perlu kita berterimakasih pada Guntur? Mau bagaimanapun juga, dia anggota kelompok kita, yang kurasa tanpa kesimpulan yang ia berikan kemarin-kemarin, kita gak akan meraih nilai tertinggi ini." Tanya Rano.


"Ya, sebenarnya itu sudah sepatutnya kita lakukan. Tapi, sudah tiga hari Guntur gak masuk sekolah." Jawab Rani.


"Sebenarnya kemana ya dia?" Tanya Rano mengarahkan pandangannya pada Alina.


"Aku gak punya informasi apapun tentang itu, aku juga gak… Yah, kurasa kita akan berterimakasih pada Guntur bersama-sama saat Guntur hadir sekolah." Jawab Alina, dengan senyumannya yang tampak dibaluti kesedihan.


Hari demi hari dilalui Alina, ia mengerjakan tugas ayahnya kesana-kemari, dengan penuh semangat dan tanggung jawab. Ia ditemani oleh Claude, sebagai pemberi nasehat, dan juga tangan kanan Alina.

__ADS_1


Agra cukup senang dengan kinerja Alina, ia juga merasakan bahwa Alina mulai memiliki potensi yang besar.


Suatu hari, Alina jatuh sakit karena terlalu banyak bekerja, dan kurang istirahat. Rani dan Rano berniat menjenguknya, walaupun mereka takut dengan orang-orang yang ada di rumah Alina, seperti yang pernah Alina ceritakan pada mereka.


Rani dan Rano diizinkan masuk, dan ditemani oleh Claude menemui Alina di kamarnya. Dan akhirnya di kamar Alina ada empat orang, Alina, Claude dan si kembar.


"Kamu udah agak baikan Alina?" Tanya Rani.


"Ya… Uhuk… Mungkin besok atau lusa, aku sudah bisa masuk ke kelas." Jawab Alina yang duduk di atas kasurnya.


"Semoga lekas sembuh." Ucap Rani.


"Oh ya, ngomong-ngomong… Kamu sadar gak Alina, kalo Guntur udah dua Minggu gak masuk sekolah. Kira-kira kemana ya?" Tanya Rano.


"Maafkan aku Rani, Rano. Aku terlalu fokus dengan pekerjaan, aku gak mengingat hal lain. Dan juga, aku benar-benar belum mengerti Guntur." Jawab Alina, setelah itu ia batuk.


Beberapa menit kemudian, Rani dan Rano berpamitan pada Alina, dan segera meninggalkan kediaman Alina itu.


Setelah itu tersisa Claude dan Alina di kamarnya Alina itu.


"Kemana anak itu pergi, menurutmu?" Tanya Claude pada Alina.


"Aku harus jujur dengan apa yang pernah dikatakan Guntur sebelumnya." Pikir Alina.


"Saat aku dan dia baru saja ngobrol, dia menyuruhku untuk membunuhnya. Aku gak menolaknya, namun aku menundanya sampai hari kelulusan nanti. Mungkinkah dia bunuh diri atau semacamnya?" Jawab Alina lalu bertanya lagi.


Alina pun hanya terdiam, setelah itu ia lalu mulai tidur.


Besok lusanya Alina masuk ke sekolah, Rani dan Rano cukup senang dengan sehatnya Alina. Mereka lalu banyak mengobrol hari itu.


"Apa keluarga kalian sudah baik-baik saja? Kalian pernah bercerita kalo keluarga kalian sedang mengalami krisis ekonomi, kan?" Tanya Alina.


"Ya, bersyukurnya mereka sekarang sudah gak keteteran masalah lagi." Jawab Rani, dengan senyumannya.


"Bagus deh." Jawab Alina.


Hari berlalu begitu saja… Entah mengapa, Alina merasakan ada sesuatu yang kurang, apalagi ayahnya sudah kembali bekerja, Alina benar-benar sedang tidak memiliki jadwal apapun.


Alina berbaring di kasurnya, membuka HP-nya dan hanya mengecek sosial medianya. Benar-benar bosan, itu yang dirasakan Alina, padahal sebulan sebelumnya ia gak pernah interaksi dengan siapapun, dan tidak membuatnya sampai bosan seperti saat ini.


"Apa karena aku kehilangan sesuatu ya? Tapi aku gak memiliki sesuatu yang berharga, kan?" Pikir Alina.


Lalu Alina duduk di meja yang ada di dalam kamarnya, ia menatap pada cermin di hadapannya. Cukup kaget dengan muka nya sendiri, yang menunjukkan ekspresi sedih, apalagi ia mempunyai kantung mata.

__ADS_1


"Mengerikan, siapa orang ini!" Ucap Alina melihat wajahnya itu.


"Sebenarnya apa sih yang terjadi padaku?" Tanya Alina monolog, dan mulai menata riasan wajahnya.


"Apakah karena Guntur? Tapi gak mungkin juga, kan?" Ucap Alina masih monolog, sambil menata wajahnya itu.


Setelah selesai memperbaiki wajahnya, ia lalu mulai jalan-jalan di kediamannya itu. Seperti biasa, orang-orang yang ada di sana akan menghormatinya.


Hingga…


"Loh kamu siapa?" Tanya Alina pada seorang wanita, memakai seragam dapur kediaman Alina.


"Kamu baru?" Sambung Alina yang kurang lebih sudah hafal dengan para karyawan yang berada di kediamannya.


"Iya…" Jawabnya, muka datarnya mengingatkan Alina pada Guntur.


"Oh baiklah, namamu siapa?" Tanya Alina selanjutnya.


"Inazuma, biasanya dipanggil Ina." Jawabnya.


"Alina, dia adalah kakak dari orang yang selalu kau pedulikan di sekolah." Ucap Claude yang tiba-tiba ada di belakang Alina.


"Hah? Siapa?" Tanya Alina.


"Guntur." Jawab Claude.


-


[Fun Fact]


Guntur dari bahasa Indonesia yang kurang lebih artinya petir.


Inazuma dari bahasa Jepang yang kurang lebih artinya kilat.


-


"Aku merekrutnya pada kediaman kita untuk membantuku dalam beberapa hal. Dan juga Ina, Alina ini adalah anak dari bos besar, lebih sopanlah padanya." Sambung Claude.


"Iya, Claude." Jawab Ina.


"Tunggu. Lalu, dimana Guntur saat ini? Dia telah berminggu-minggu gak masuk sekolah." Tanya Alina pada Ina.


"Kalo aku tahu anak itu dimana, maka aku akan membunuhnya segera." Jawab Ina.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Alina, setelah itu gak berselang lama Alina mengingat hal yang pernah dikatakan Claude, yaitu bahwa Guntur adalah pembunuh orangtuanya.


-


__ADS_2