Preman Cewek

Preman Cewek
PC #20


__ADS_3

Keesokannya di sekolah, lagi-lagi Guntur ikut nimbrung di kantin, dan kali ini dia tidak tidur di meja lagi.


"Aku dalam masalah besar." Celetuk Guntur tiba-tiba, membuat perhatian Alina, Rano dan Rani untuk menatapnya.


"Hah?! Kenapa tiba-tiba?" Tanya Alina, yang cukup jarang mendengar Guntur berbicara dengan nada yang berbeda.


"Ada apa?" Tanya Rano juga.


"Aku terlalu memikirkan masa lalu ku, hingga aku lupa memikirkan apa yang akan aku lakukan di masa depan ku. Saat aku bercerita hal ini pada ayahnya Alina, ternyata…" Jawaban Guntur belum selesai, tiba-tiba ia berhenti bicara.


"Hm? Kurasa… Aku akan memilih jalan agak gak normal yang disebutkan Agra itu." Sambung Guntur.


"Sebenarnya apa sih yang ingin kau katakan?" Tanya Alina pada Guntur.


"Ayahku mengharapkanku untuk menikahimu." Jawab Guntur, spontan dan gak berekspresi apapun.


Rano dan Rani cukup kaget dengan jawaban itu, mereka berdua juga cukup tertarik dengan hal yang diucapkan Guntur itu.


"Lalu-lalu?" Tanya Rani penuh semangat.


"Ckk… Tunggu dulu, kau ini bukan seseorang yang gak akan mengambil suatu keputusan, tanpa ada pamrih, ya kan? Apa mau mu?" Tanya Alina, kali ini tatapannya serius pada Guntur.


"Aku? Mau ku? Aku menginginkanmu." Jawab Guntur.


Alina lalu menghela nafas, "Entahlah, aku menyesal menanyakan hal ini." Ucap Alina setelah itu.


"Kenapa tiba-tiba mengharapkan menikah dengan Alina?" Tanya Rano dengan tenang, berusaha tidak nampak girang, padahal hatinya bersemangat seperti yang dirasakan Rani.


"Kau menyimak ceritaku tadi gak sih? Kubilang aku sedang memikirkan masa depanku, dan aku bercerita ini pada ayahnya Alina. Dan dari beberapa saran, ini adalah saran yang paling manusiawi." Jawab Guntur, padahal…


Guntur sebenarnya memanfaatkan perasaan antusias dari Rano dan Rani, agar terus membuat Alina merasa makin tidak bisa melepaskan Guntur dengan tanpa alasan apapun.


Guntur akan menceritakan siasatnya pada Alina, saat pulang sekolah nanti, untuk saat ini ia berusaha membuat Alina menjalankan tugasnya sebagai korban yang terpancing.


Sedangkan, Rano dan Rani hanya akan menjadi pendukung korban ini.


"Apa kamu gak bisa menjelaskan lebih detail, Guntur?" Tanya Rano.


Guntur lalu tidak sengaja mengeluarkan mata seriusnya dalam sekian detik, dan Alina menyadari gerakan mata Guntur itu, Alina sepertinya akan salah paham dengan siasat Guntur ini.

__ADS_1


"Rani, Rano…" Sahut Alina tiba-tiba, dan lalu merangkul bahu Guntur, "Sebenarnya aku yang meminta ayahku untuk memberinya saran itu." Sambungnya, dengan nada yang agak sedih.


"Bodoh, dungu, biadab, brengsek!!! Kau merusak suasana yang telah aku bangun!" Pikir Guntur sangat kesal pada Alina.


Rano dan Rani, keduanya lalu tersenyum lebar saat Alina bilang begitu.


Guntur lalu menghela nafas panjang, "Bisa-bisanya." Ucap Guntur pelan.


"Kenapa Guntur?" Tanya Rani.


"Gapapa." Jawab Guntur.


Singkat cerita, sepulang sekolah setelah Guntur menjelaskan siasatnya, dan juga ia menceritakan tentang obrolan dengan Agra semalam, tentang gelang kaki ibunya. Ia dan Alina malah adu omong di dalam mobil, seperti biasa, Claude hanya duduk menyetir sambil mengawasi dua pemuda-pemudi ini yang berantemnya musiman.


"Kau kenapa gak bilang sebelumnya kalo begitu cerita aslinya! Emang gak bisa ya bicara ama aku? Aku bukan cewek yang suka umbar-umbar rahasia!" Teriak Alina, membentak Guntur.


"Halah… Mending kau mati tengelam, dan gak usah muncul lagi. Biar abis di makan ikan-ikan! Orang kok kepo banget ama masalah orang lain." Jawab Guntur.


"Orang lain? Kau itu orang spes… Gak jadi." Balas Alina, lalu berhenti bicara, menutup mulutnya dengan satu tangannya.


-


Ehem pertanda apa nih?


-


Claude yang menyadari ucapan Alina sebelumnya hanya tersenyum mendengarnya, dan ya ia makin antusias dengan hubungan anak-anak muda yang ia bawa itu.


Sesampainya di kediaman, Alina lalu pergi ke kamar Ina, mengetuk-ngetuk kamarnya dengan tegas, karena masih terbawa emosi terhadap Guntur tadi.


"Iya-iya… Kau kenapa lagi?" Tanya Ina saat membuka pintu, dan melihat Alina dengan ekspresi muka yang seolah bilang 'menyebalkan!'.


"Guntur, dia menyalahkan ku di semua hal." Jawab Alina.


"Semua?" Tanya Ina lagi, kali ini sedikit penasaran.


Alina lalu disuruh masuk ke kamar Ina, dan lalu ia menceritakan semua hal yang Guntur lakukan padanya, termasuk tentang Guntur yang habis berbicara dengan ayahnya Alina.


"Guntur, bicara dengan ayahmu? Untuk apa?" Tanya Ina.

__ADS_1


"Eh… Eee… Itu…" Alina takut menjawab, karena Ia diberitahu oleh Guntur untuk tidak memberitahukan kepada Ina, kalau akan memberikan barang peninggalan ibunya pada Ina, "Sesuatu terkait pekerjaan gitu sih katanya." Sambung Alina.


"Yakin? Tapi kok bisa sampe membahas pernikahan? Itu berarti ada sesuatu yang lain dong?" Tanya Ina, benar-benar penasaran dengan isi pembicaraannya.


"Pokoknya, aku gak tau hal ini secara jelas, tapi kurang lebih itu yang Guntur ceritakan padaku." Jawab Alina.


"Dan kau menolaknya?"


"Bukannya aku menolak, Ina. Hanya saja, aku sedang gak bisa banyak berpikir tentang hal itu. Sebelumnya aku kesal karena ia gak memberitahukan padaku tentang apa yang ingin ia lakukan, sekarang aku kesal terhadap diriku sendiri."


"Dirimu sendiri?"


"Ina, kurasa kau bisa mendengarkan hal ini, aku menganggap Guntur sebagai cowok yang berbeda dari yang lainnya."


"Oalah… Tapi sayangnya, aku gak begitu peduli. Kau mau kencan, pacaran, tunangan, atau nikah sekali pun dengannya aku gak akan peduli."


"Hah? Kenapa gak peduli?"


"Karena gak ada untungnya untukku, kecuali aku mendapatkan sesuatu dari hal itu, maka aku akan sedikit peduli."


"Ina-ina… Yaudah deh, aku pergi aja." Ucap Alina, keluar tanpa basa basi lagi.


Beberapa menit kemudian, saat Ina sedang menyeruput teh di depan jendela kamarnya sambil melihat ke arah luar kamarnya, tiba-tiba…


"Kak! Kakak! Ooiii!!" Suara Guntur, terdengar sedang mengetuk-ngetuk pintu Ina.


Ina pun segera membukakan pintunya.


"Apa lagi? Barusan ceweknya merusak moodku, sekarang si cowok, mau ngapain?" Tanya Ina pada Guntur.


"Mau ngobrol."


"Gak. Pergi kau dari kamarku, untuk hari ini Alina dan Guntur, gak boleh dekat-dekat dengan kamarku!" Ucap Ina dengan nada kesal, dan segera menutup pintu kamarnya keras-keras.


"Bos Agra bisa-bisanya berpikiran untuk membuat mereka menikah, aku gak bisa bayangin gimana anak mereka nanti. Bisa-bisa buka manusia yang jadi anak mereka, iblis pun kemungkinan akan terlahir menjadi anak mereka." Pikir Ina, kesal dan penuh amarah pada Alina dan Guntur.


"Tapi aku senang, mereka berdua perlahan sifatnya membaik." Ucap Ina, kali ini ia monolog dan tersenyum sendirian.


Ina lalu kembali ke tempatnya sebelumnya, ia ingin menikmati tehnya. Tapi, terdengar suara Alina dan Guntur yang menggelegar, lagi-lagi merusak suasana nyaman yang dimiliki Ina saat ini.

__ADS_1


Ina pun berdiri, dan segera beranjak menuju suara mereka berantem…


-


__ADS_2