Preman Cewek

Preman Cewek
PC #12


__ADS_3

Setelah beberapa menit kemudian, Alina meminta uang pada Claude, dan telah keluar dari rumah dengan Ina. Alina dan Ina keluar tanpa kendaraan, karena niat Alina memang untuk jalan-jalan.


"Ina, apa kau cukup mengenal tata kota, di Kota M ini?" Tanya Alina.


"Belum, Claude hanya memberitahu tempat-tempat penting yang berhubungan dengan pekerjaanku. Jangan bilang kau pun gak banyak tau?"


"Bukan begitu, aku tau kok. Aku hanya bertanya, kalo pun kamu gak tau aku bisa sedikit-banyak mengenalkan mu nantinya. Tujuan kita saat ini memesan barang-barang yang ayahku suruh."


Mereka terus berjalan di trotoar, sambil Alina mengenalkan beberapa bangunan pada Ina. Ina hanya mengiyakan dan terus mengikuti arahan Alina.


Banyak kendaraan lalu-lalang di samping mereka.


Alina lalu berhenti di depan sebuah warung makan, "Kita berhenti di sini terlebih dahulu." Ucap Alina.


"Bukankah lebih baik segera menyelesaikan apa yang bos besar suruh terlebih dahulu?" Tanya Ina.


"Heh, meskipun aku gak tau perasaanmu sekarang, aku cukup tau kalo kau capek, ya kan? Kita istirahat dulu." Jawab Alina, lalu segera masuk ke warung makan itu.


Setelah masuk ke dalam warung, segera mereka memesan makanan dan minuman. Duduk santai, menatapi interior yang ada di warung itu, karena suasananya cukup autentik.


"Kau baru pertama kali datang kemari?" Tanya Ina.


"Iya. Sebenarnya udah lama pengen ke sini, tapi belum sempet." Jawab Alina, masih menatap interior di warung itu, satu persatu.


Tiba-tiba, ada seorang pria dengan setelan jas yang rapi, dan berkacamata hitam masuk ke dalam warung itu, dan menodongkan pistol ke penjaga kasir.


"Suruh bos mu datang." Ucap pria itu pada penjaga kasir.


Sang penjaga kasir pun lalu segera menelepon seseorang dengan HP-nya, sepertinya benar-benar menelepon bosnya.


"Siapa sih? Ganggu aja." Ucap Alina.


Saat Alina baru menyadari ada yang mau macam-macam dengan karyawan yang ada di warung itu, Alina langsung berdiri.

__ADS_1


"Hei, kenapa kau berdiri?" Tanya Ina.


Tanpa memperdulikan pertanyaan dari Ina, Alina langsung mendatangi pria itu. Pria itu lalu mengalihkan perhatiannya dari penjaga kasir ke Alina.


"Kau ini siapa? Kenapa mengusik warung ini?" Tanya Alina.


Pria itu tidak menjawab pertanyaan Alina, ia lalu mengarahkan todongan pistolnya ke Alina. Tanpa pikir panjang pria itu lalu menembakkannya pada Alina.


Tembakan pertama berhasil Alina hindari, namun disayangkan tembakan kedua mengenai bahu Alina. Dan akhirnya, saat Alina terjatuh darahnya becururan di lantai. Pria itu segara pergi dengan tergesa-gesa.


Alina pingsan, dan tidak mengetahui apapun setelah tertembak, saat ia bangun, tau-tau ia sudah terbaring di ranjang rumah sakit.


Disisi lain, Ina merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Alina yang saat itu keluar bersamanya. Claude dan Ina duduk di ruang tunggu, sedangkan Alina yang masih lemas di atas ranjang rumah sakit, ia didampingi oleh ayahnya.


"Maafkan aku, aku gak bisa melindungi Alina." Ucap Ina pada Claude, yang duduk mengepalkan tangannya, dengan perasaan penuh emosi.


"Tidak. Kau emang bukan orang yang ditempatkan untuk bertarung atau turun di medan tempur, ini bukan salahmu, sedikitpun bukan. Jelaskan padaku, ciri-ciri orang yang menembak Alina." Balas Claude, terdengar dari suaranya yang penuh amarah, ditambah lagi ia menunjukkan ekspresi yang amat teramat serius.


Ina lalu menyebutkan ciri-ciri orang yang menembak Alina, setelah itu Claude lalu berdiri dari duduknya, dan masuk ke ruangan Alina berada.


"Tidak, kau tidak diizinkan untuk pergi sendirian. Aku memiliki rencana tertentu. Dia dari organisasi tertentu, Alina berkata orang itu memiliki tanda organisasi di lengannya." Jawab Agra.


"Aku cukup emosi kali ini."


"Claude, kenapa kau begitu marah? Aku gak mati kok." Sahut Alina dengan senyum, di atas ranjang.


"Tapi bahu mu jadi cedera, aku harus segera menghabisi orang yang membuatmu celaka." Jawab Claude dengan tegas.


"Bisa sembuh kok. Udahlah, yang penting orang itu gak ngerusuh di warung itu." Balas Alina, lalu ia berusaha mendudukkan badannya.


Setelah beberapa perbincangan, Claude pun menurunkan emosinya, dan kembali ke ruang tunggu, duduk di samping Ina lagi. Kali ini dengan perasaan yang dipaksakan untuk tenang, tak lagi emosi seperti sebelumnya.


"Haaah~" Claude menghela nafas panjang, sambil menghadapkan kepalanya ke atas, "Itulah kenapa aku mengikuti Agra dan anaknya, mereka bukan pendendam." Sambung Claude.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Ina.


"Sebelum aku bergabung dengan Agra, aku adalah orang yang sangat pendendam. Dengan bergabung dengannya, perlahan sifat pendendam ku bisa aku kendalikan. Kali ini Alina, dia menunjukkan sifatnya yang mirip dengan ayahnya." Jelas Claude, menurunkan pandangannya, dan duduk secara normal.


"Apa itu artinya, meskipun kau berubah drastis dibawah naungan Agra, kau gak menyesalinya?"


"Para preman jalanan menunjukkan kehebatannya dengan kekuatan, dan kebanyakan menggunakan cara kekerasan. Di organisasi Agra, kami mengakui bahwa kekuatan itu juga dibutuhkan, namun sangat dilarang oleh Agra untuk memakai cara kekerasan. Di organisasi ini, kami mengaku sebagai mafia yang bermoral, kami lebih mementingkan ideologis."


"Maksudnya kalian berbeda dengan para preman jalanan?"


"Kekuatan preman jalanan adalah otot, tenaga dan sebagainya. Agra memperkuat organisasinya dengan uang dan pemikiran yang logis."


Malam itu, menjadi malam yang agak panjang bagi Alina, ia hanya terbaring di atas ranjang rumah sakit, walaupun sebenarnya ia tidak mendapati luka yang serius, namun cukup membuat huru-hara di kediaman Agra.


Agra dan Claude pun pulang untuk menenangkan orang-orang yang ada di kediaman Agra. Sekali lagi, Ina dimintai untuk menemani Alina.


"Maafkan aku Alina." Ucap Ina yang duduk di samping ranjang Alina.


"Gak apa-apa. Kau kan emang bukan jadi pelindungku, kau itu dimintai untuk menemaniku. Jadi bukan salahmu kok. Aku aja yang gak baca situasi tadi." Jawab Alina sambil tersenyum ada Ina, agar Alina tidak merasa bersalah.


.


"Apakah Rano dan Rani akan kau beritahu kejadian ini?" Tanya Ina, setelah beberapa obrolan.


"Kurasa cepat atau lambat mereka akan mengetahuinya, meskipun aku gak beritahu. Tapi pastinya nanti Claude meminta perizinan dari guru di sekolah, dan pastinya harus menjelaskan detailnya. Dan pastinya, akan tersebar dengan cepat berita ini." Jawab Alina.


Dan benar saja, keesokannya ada orang yang menjenguk Alina ke rumah sakit, walaupun tidak terduga sih. Bukannya Rano dan Rani, yang menjenguk Alina adalah Guntur seorang.


Guntur datang membawa buah tangan, dan kebetulan yang menemani di kamar rumah sakit saat ini adalah Claude bukan Ina.


Claude lalu keluar dari kamar inap, di kamar itu hanya ada Alina yang duduk di atas ranjang, dan Guntur yang duduk di kursi.


"Kau berharap bertemu dengan Ina?" Tanya Alina.

__ADS_1


"Gak juga, aku emang berniat menjenguk mu. Aku gak berharap ada kakakku atau siapapun. Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu juga." Jawab Guntur, duduk dengan santai dan kedua tangan di dalam saku, seperti biasa.


-


__ADS_2