PUJAKU Mayang

PUJAKU Mayang
Awal Jumpa


__ADS_3

Tanggal lima belas maret aku bertemu dengannya, manusia terindah dengan senyumannya yang sanggup membuatku melupakan dunia. Membuat perasaan sangat yakin, dia manusia yang terpilih oleh tuhan untuk menyemat segala bentuk keindahan alam semesta pada raut wajahnya.


Aulia Rizkiya saat itu dia memperkenalkan dirinya, sebagai ketua di sebuah perkumpulan para seniman. Wanita itu lebih suka dipanggil Aulia entah alasannya apa, tetapi aku setuju namanya terdengar simpel dan indah.


Kuperkirakan tinggi badannya sekitar seratus enam puluh centimeter. Menurutku dia memiliki tinggi badan ideal wanita pada Umumnya tak hanya wajahnya saja lekuk tubuh pun sangat menggoda dan indah.


"Kontrol isi kepalaku tuhan."


Keahliannya di bidang seni amat banyak menurutku, tak hanya seni lukis dia juga ahli di bidang sastra dunia literasi, semua karya tulisnya mampu menyampaikan rasa darinya kepada para pembaca. Dia sangat hebat, terlebih lagi puisi-puisi yang dia unggah di channel YouTube-nya.


Banyak sekali unggahan puisi di channel Youtube-nya yang sekaligus ia bacakan, yah dia membuat konten musikalisasi puisi. Suaranya memang sangat indah untuk membacakan syair, terlebih lagi saat dia bernyanyi suaranya bisa membiusku saat itu juga.


Selain memperhatikan kelebihan yang ada padanya, aku juga mencari tahu kekurangan yang ada. Alhasil aku tidak menemukan kekurangan apapun yang ada pada Aulia dan kata cinta memang buta saat itu benar-benar kurasakan.


Sifat yang dia miliki juga tak kalah indahnya selain ramah dan periang, dia juga sangat baik hati selalu membantu para seniman lain yang membutuhkan bantuannya, 'seseorang tolong beritahu dimana letak kekurangan yang ada padanya.'


Ah iya sampai lupa, aku belum memperkenalkan diriku saking antusiasnya bercerita tentang dia, wanita yang dulu memenuhi hatiku dengan warna merah muda. Namaku adalah Arez Surya Dilaga, seorang lelaki biasa yang sangat mencintai dunia seni. Aku menyukai Hampir semua jenis karya seni rupa, tulisan, seni musik bahkan seni beladiri. Terlebih lagi seni karya tuhan yang satu ini, Aulia Rizkiya, karya terindah tuhan yang selalu berada di sekitarku.


Aku tidak pernah mengukur tinggi badan tetapi saat masih SMA aku memiliki tinggi badan sekitar seratus enam puluh delapan centimeter. Dan saat mengikuti perkumpulan seniman mungkin kurang lebih sekitar seratus tujuh puluh centimeter, dan berat badanku mungkin lima puluh sembilan kilogram mungkin, entah lah aku jarang memperhatikan prihal itu.


Karena perhatikanku saat itu hanya tertuju pada dia, Aulia Rizkiya wanita terindah yang selalu menjadi pusat perhatian segalaku.


Pada saat ingin menghirup udara segar yang menyejukan, aku berada di sekitarnya dan terasa segar udara yang terhembus dari nafasnya.


Tak perlu jauh-jauh lagi berjalan mengitari samudra, jika matanya saja mempu mewakilkan keindahan hamparan lautan yang tak berujung.


Memanjakan mata dengan selalu menatap indahnya tubuhmu, yang elok lebih menyegarkan dari hamparan bebukitan pegunungan.


Sejuk sorot matamu pula meneduhkan, bagai awan yang selalu menahan terik nya mentari. Lembut suaramu bagai angin yang berhembus pelan membisikan kata yang mendebarkan dada.


******


Hingga tiba suatu saat di hari itu untuk pertama kali aku bertegur sapa dengannya.


"Kak Aulia, lagi santai gak?"


Mendengar suaraku seketika ia berdiri dan menghadapkan wajahnya.


"Iya kenapa, Rez?"


Suaranya merambat halus sampai tak hanya menggetarkan gendang telinga, hatiku pun ikut bergetar. Pastinya satu senyuman manis tak akan lupa ia selipkan di bibir tipisnya. Mata yang bersinar seperti percikan air di tengah pantulan rembulan malam, sangat jernih bola mata itu hingga aku tak berdaya, hanya terdiam tanpa melanjutkan kalimat.

__ADS_1


"Arez?"


Dia mengetahui namaku dan menyebutkannya dengan sempurna, dengan nada intonasi yang pas juga merdu pula.


"Arez, kenapa?"


"Ah iya maaf, bisakah kakak membantuku mengkoreksi beberapa tanda baca di naskahku? Sepertinya ada beberapa yang kurang pas, tapi aku tidak tahu harus bagaimana."


"Emm, aku bantu sebisaku ya. Coba perlihatkan naskahnya," kata Aulia sembari perlahan mendekatiku.


Si cantikku menyebutnya, kurasa itu sapaan yang pantas.


Dia seperti bidadari lepas dari kodratnya dan berbaur, berlenggak dengan bebas.


Aku bahkan bukan jaka tarub yang hanya bisa mencuri selendang nawang wulan.


Apakah ada cara untukku mencuri hanya sekedar perhatianmu, agar bisa terus terarah kepadaku.


*****


Aku sungguh takjub pada wanita yang sempurna tiada celah ini, begitu teliti dia memeriksa hasil kerjaku, dengan cermat dan cerdas dia memberiku solusi dalam semua kesulitan yang kualami saat hendak mengerjakan naskah cerita.


Tak hanya cantik dan indah, dia juga cerdas dan cermat dalam mengkoreksi kesalahan yang ada pada naskahku, hingga saat memeriksa hasil koreksi Aulia semua kejanggalan di naskahku terasa hilang. Rupanya ada beberapa kata yang ia ganti karena kurang pas penempatannya.


"Astaga, kak Aulia tidak usah meminta maaf. Aku justru berterimakasih karena sudah menyempurnakan bahasa di naskahku yang kurang tepat."


"Bener nih kamu gak keberatan? Soalnya ada beberapa kata di naskahmu yang kurang tepat, seperti penempatan namun dan tetapi. Mungkin kapan-kapan aku akan menerangkannya kepadamu."


Mendengar perkataannya itu membuatku sangat senang, perkataan yang mengandung maksud untuk berjumpa lebih khusus di antara aku dan dia di lain waktu. Namun aku sedikit ragu terhadap arti dari perkataannya hingga menanyakan sekali lagi maksud dari ucapan Aulia.


"Maksudnya lain kali kita berbincang lagi mengenai hal ini?"


"Hem tentu saja, jika kamu serius ingin mendalami lagi dunia tulisan."


Tanpa banyak bicara lagi tentu aku mau, wanita yang selama ini hanya bisa kupandangi dari kejauhan menyempatkan dirinya untuk memberi sedikit ilmu, padahal aku tahu jadwalnya yang sangat sibuk.


"Kalau begitu, sabtu sore pukul tujuh aku tunggu di cafe dekat perempatan jalan depan sana. Kebetulan sabtu pagi aku ada acara di dekat sana," kata Aulia mengatur jadwal pertemuan kami di tengah rutinitasnya.


Aku hanya tersenyum sambil mengangguk, merespon tawaran dari Aulia. Dia pun akhirnya pergi meninggalkanku yang masih terdiam kaku, sembari berusaha meyakinkan diriku bahwa perbincangan tadi bukanlah hanya sekedar ilusi yang tercipta akibat dari terlalu lama menyendiri.


"Dasar jones."

__ADS_1


*****


Saat itu pagi terasa lebih indah beberapa persen entah apa penyebabnya, tetapi bayang wajah Aulia terutama senyuman tipis yang manis itu selalu terbayang olehku. Pada malam saat hendak terlelap dalam tidur, senyuman Aulia terlebih dahulu menyapa dalam lamunan, dan saat terbangun pun bayang wajahnya kembali hadir.


Hal istimewa kemarin sore membuat bersemangat di pagi ini, rasanya ingin segera menghabiskan waktu hari ini dan segera menyambut sabtu sore. Waktu yang dijanjikan Aulia untuk bertemu berdua saja. Andai bisa ingin aku skip saja hari ini.


Biarpun besok adalah hari yang kutunggu-tunggu tetapi hari ini tetap akan sepesial, Karena ternyata dari sekian banyaknya orang yang berkumpul di komunitas ini Aulia mengetahui namaku. Sedikit merasa berbangga diri tidak apa-apa lah, aku anggap sebagai motivasi saja.


Pukul tujuh tiga puluh pagi aku tiba di aula tempat yang sering digunakan para seniman kampus untuk berkumpul. Suasana masih sangat sepi belum nampak adanya tanda-tanda kehidupan di tempat ini.


Kulihat di sekeliling tempat ada beberapa kanvas yang sudah terpasang di penyangga kayu lukisan, beberapa kanvas sudah ada sketsa kasar terlihat seperti wajah seseorang yang belum jadi. Hal itu memberiku inspirasi saat itu untuk menggambar wajah seseorang, jangan di tanya siapa tentu saja si tokoh utama dalam hidupku kala itu Aulia.


Kulukiskan matamu bagai telaga berhiaskan pantulan rembulan di tengah malam. Tenang dan menyejukan.


Kuukir bibirmu setipis bulan sabit yang melengkung indah, bercahaya dan membuatku terlupa pada dunia.


Namun jelas, sebuah kanvas tak akan layak menjadi tempat sketsa wajah jelita. Indah wajahmu hanya dapat kulukiskan dalam jiwa.


Teduh wajahmu hanya dapat di gambarkan dengan keindahan lautan yang meneduhkan. Melukiskan wajahmu dengan diksi hanya


*****


"Ekhem ... cie wajah siapa tuh?"


"Aulia," jawabku dengan mata yang masih saja menatap kanvas saat itu tanpa tau siapa orang yang bertanya.


"Aku?" katanya, dan saat aku berbalik kebelakang ternyata orang itu adalah Aulia, sosok yang sedari tadi kulukiskan di atas kanvas. Jangan ditanya lagi saat itu sungguh aku sangat terkejut.


"Aa-aulia? Sejak kapan kamu di situ?" tanyaku sambil terbata-bata karena terkejut. Tak kusangka Aulia berada di ruang aula, Karena sebelumnya aku mengetahui Aulia setiap hari jumat sering mengadakan kelas kepenulisan untuk para penulis pemula.


"Emm sejak kamu menggambar mata di kanvas itu aku sudah berada tepat di belakangmu."


Keheningan terjadi untuk beberapa saat kala itu, sungguh aku sangat tidak menyangka kejadian seperti ini bisa terjadi, adegan yang biasanya hanya kutonton di ftv pagi, sekarang benar-benar terjadi kepadaku.


"Bukannya kak Aulia ada kelas kepenulisan ya? Ini hari jumat kan?"


"Haha, udah, Rez, kamu gak usah kaku gitu kenapa panik banget? Dan satu lagi, jangan panggil aku kakak kamu itu lebih tua dari aku, malah harusnya aku yang panggil kamu kakak!" kata Aulia sambil sedikit mentertawakanku yang gelagapan.


"Haha, iya benar juga harusnya aku yang dipanggil kakak. Tapi kan ini sebagai formalitas doang karena kamu itu senior di sini." kataku sambil menertawakan diriku sendiri.


"Iya sih tapi kan ... ya udah lah gak apa-apa lagi pula memang wajar nya seperti itu, biar bisa lebih saling menghormati."

__ADS_1


"Jika aku memanggil namamu saja bagai mana?"


"Tentu saja boleh itu membuatku lebih nyaman saat berbicara denganmu."


__ADS_2